Pribadi Hebat Inilah yang Banyak Dibutuhkan Dunia Kerja

Siapa sih yang tidak ingin disebut hebat? Apalagi kalau banyak yang menyukai. Di kehidupan sehari-hari, terlebih di dunia kerja, menjadi hebat memang bukan sebuah kewajiban. Namun berupaya untuk menjadi orang hebat dan luar biasa merupakan sebuah kebutuhan.

Dalam teori kebutuhan Maslow, aktualisasi diri merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Jadi setiap orang sesungguhnya butuh untuk aktualisasi diri sehingga menjadi pribadi yang hebat dan luar biasa. Namun patokan kehebatan pada setiap orang tentu tidaklah sama. Ada yang standar atau biasa saja, dan ada yang cukup tinggi.

Membuat patokan kehebatan untuk diri sendiri tentu tidak boleh tanggung-tanggung. Kita tidak boleh menjadi pribadi biasa saja, apalagi pribadi layaknya kebanyakan orang. Harus ada satu sisi yang membuat kita bangga dengan diri kita. Dalam hal ini bukan dimaksudkan untuk berbangga diri loh ya. Tetapi lebih menekankan pada pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri sekaligus diterima di dunia kerja. Lalu bagaimana caranya agar kita menjadi pribadi hebat? Yuk kita simak bersama tips berikut ini:

Deket dengan Tuhannya

Siapa pun boleh disebut hebat dengan standar ukuran manusia. Namun tidak akan pernah melebihi kehebatan Allah Sang Pencipta. Oleh karena itu, hal pertama yang harus kita lakukan untuk menjadi pribadi hebat ialah dengan merendahkan diri di hadapan Sang Maha Hebat.

Bukan malah menyombongkan diri dan merasa paling hebat hingga lupa kalau di atas langit masih ada langit. Caranya ialah dengan menjadi hamba yang baik, rajin beribadah serta mengabdi kepada Allah. Di hadapan Allah, tunjukkan kalau kita ini lemah dan Allah Maha Hebat. Dengan begitu Allah akan memberikan kekuatan dan petunjuk kepada kita sehingga menjadi pribadi yang lebih baik. Sehingga tidak akan tampak kesombongan di depan manusia, dan sifat rendah hati sangat disukai oleh orang lain.

Haus akan ilmu

Saat lahir ke dunia, kita tidak memiliki pengetahuan atau ilmu apa pun. Namun seiring dengan belajar, pengetahuan kita terus bertambah. Artinya, modal utama untuk menjadi orang hebat adalah ilmu. Teruslah belajar hingga kita sampai di satu titik, yakni kita benar-benar merasa bodoh dan tidak pernah berhenti belajar.

Ladang ilmu bukan hanya di sekolah, bukan hanya lewat guru. Berguru kepada orang berilmu memang sangat penting. Namun itu tidaklah cukup. Kita dapat mencari tambahan ilmu dari membaca, berbagi pengalaman dengan orang lain, mengamati dan sebagainya. Apalagi Allah sudah menjamin derajat orang yang beriman dan berilmu di sisi Allah. Berarti, tanpa kita kejar kehebatan sekalipun, kalau kita sudah beriman dan haus ilmu, kehebatan akan ikut dengan sendirinya. Sehingga kita bisa tampil menjadi pribadi yang solutif bagi orang lain.

Relasinya banyak

Selain berilmu, memiliki banyak teman juga menjadi modal penting bagi kita dalam menyongsong kehidupan lebih baik. Dengan memiliki banyak teman, kita akan lebih mudah dalam mencari pertolongan ketika membutuhkan.

Bersama teman (terbuka untuk bersinergi), kita juga memiliki lebih banyak kesempatan untuk beramal. Secara tidak langsung, banyaknya teman menunjukkan bahwa kita dibutuhkan dan disukai banyak orang. Meski tidak menutup kemungkinan, orang yang membenci juga tidak mungkin sedikit.

Open mind

Berpikiran terbuka menerima berbagai wawasan. Wawasan dapat berupa pengetahuan, pengalaman pribadi maupun pengalaman yang bersumber dari orang lain. Dengan rajin belajar dan memiliki banyak teman, secara otomatis kita akan memiliki wawasan yang luas.

Belajar memberikan pengetahuan baru. Mencari pengalaman dari orang lain membuat kita memilki pandangan yang lebih luas. Ditambah dengan selalu mengikuti perkembangan informasi terkini. Ketiga hal tersebut akan membuat kita tidak terlihat kudet ketika berbicara dengan orang lain.

Organisator ulung

Kenapa harus organisasi? Karena hanya di organisasi, kita memiliki wadah untuk aktualisasi diri. Organisasi merupakan miniatur kehidupan bermasyarakat. Di organisasi kita bisa berbagi ilmu sekaligus praktik ilmu serta pengalaman.

Di organisasi, kita memiliki wadah untuk menempa diri sehingga memiliki keterampilan tertentu. Semisal keterampilan dalam administrasi, keterampilan komunikasi (berbicara di muka umum), keterampilan memimpin dan lain-lain. Ibarat pepatah, di organisasi kita bisa menyelam sambil minum air. Kita bisa berbagi sekaligus memperoleh banyak hal.

Pribadi yang menghormati sesama

Dalam kehidupan sehari-hari—terlebih di dunia kerja—tidak semua orang dapat melihat keluasan ilmu dan pengalaman kita. Namun semua orang pasti melihat seperti apa tingkah laku kita. Kalau kata orang Madura, percuma punya banyak ilmu bila ilmunya tidak dimanfaatkan. Percuma memiliki ilmu yang luas bila perilakunya buruk. Itu artinya, keluasan ilmu harus diimbangi dengan kemuliaan akhlak.

Salah satu cara menunjukkan perilaku baik kita ialah dengan menghormati sesama. Kita mau menghargai hak-hak orang lain di atas kepentingan diri sendiri. Bila kita sudah menghormati orang lain, orang pun akan menghormati kita. Apa yang kita tanam kepada orang lain, itulah yang akan kita petik. Yang tak kalah penting, dengan sikap saling menghormati, kita telah menunjukkan satu sisi kehebatan kita kepada sesama.

Tidak perhitungan membantu siapa pun

Bila ingin menjadi orang hebat, sekali lagi penulis tegaskan, jangan jadi orang kebanyakan. Jangan menjadi pribadi yang biasa-biasa saja. Gengsi dan perhitungan merupakan salah satu tingkah anak muda biasa-biasa saja. Yang luar biasa ialah kita yang tidak pernah gengsi membantu siapa pun, dan tidak suka perhitungan (tidak mengukur segala sesuatunya dengan uang).

Tantangan ke depan, kita tidak bisa lagi bekerja secara individual. Semua pekerjaan harus bisa kita kerjakan secara tim. Karenanya, saling membantu, kerja tim, dan tidak perhitungan saat membantu orang lain bisa menjadi modal terbaik dalam dunia kerja.

Itulah pra-syarat yang harus kita penuhi agar menjadi pribadi yang hebat. Tanpa mengejar kehebatan sekalipun, tanpa kita harus selalu unjuk diri, kalau poin-poin di atas sudah kita penuhi, Allah akan menaikkan derajat kita. Baik di hadapan Allah maupun di hadapan manusia. Insyaallah. Siap?

Oleh: Gafur Abdullah.

Tinggalkan Balasan