Dulu, selain bercita-cita jadi dancer profesional, aku juga punya cita-cita lain; menjadi seorang guru. Kenapa? Karena Bapak. Cita-cita menjadi guru itu ada sejak aku mengenal huruf dan angka. Setiap aku belajar tidak hanya Ibu yang menemani, tapi Bapak juga. Tidak hanya menemani, ternyata Bapak juga sedang belajar membaca. Sama sepertiku, mengeja huruf satu per satu.

Aku yang masih polos bertanya kenapa kok Bapak bacanya tidak selancar Ibu? Bapak pun mengisahkan masa kecilnya. Kata Bapak, Kakekku itu orangnya nggak memerdulikan masa depan anak-anaknya. Kakek tidak menomer satukan sekolah bukan alasan utama Bapak tidak bisa membaca. Dulu, katanya Bapak bisa baca dan tulis. Sayang, karena kekerasan Kakek, terjadi kefatalan di kepala Bapak. Sejak saat itulah, Bapak menjadi sedikit terganggu. Daya tangkapnya menjadi sangat lemah. Dan akhirnya tidak sekolah.

Impian yang kumiliki berbeda dengan Ibu, wanita itu menginginkanku menjadi pegawai bank. Sedang Bapak, pinginnya aku jadi seorang perawat. Agar bisa membantu dokter menolong orang. Begitulah, aku dan orangtua punya cita-cita yang berbeda. Tapi, impian-impian itu tinggal mimpi semata. Tinggal cerita masa kecil.

***

Menjadi seorang buruh migran sama sekali bukan cita-citaku. Tapi, keadaan membawaku terbang ke sana. Ke negara yang tidak pernah terlintas untuk kusinggahi. Di sana, sekalipun aku menjadi seorang buruh aku tetap bisa menggapai apa yang kucita-citakan; (pernah) menjadi seorang dancer dan melanjutkan sekolah. Aku bisa kuliah dengan hasil keringatku. Dan lagi, aku bisa meringankan beban Bapak dan Ibu.

Mungkin, tanpa merantau aku tidak akan pernah bisa bahasa Canthonese, tidak akan pernah merasakan menjadi seorang peliput berita, staf admin di suatu perusahaan, tidak tahu tempat-tempat indah di Hongkong-Macau-China, dan banyak hal lainnya.

Setelah bertahun lamanya jauh dari keluarga, tiba saatnya aku kembali diantara mereka. Aku kembali dengan pengalaman dan pelajaran yang tidak akan pernah kudapatkan di desa. Aku kembali dengan cita-cita sempat terpendam. Dulu, alasanku melanjutkan kuliah di sana; agar dapat pekerjaan yang lebih baik ketika kembali ke negara sendiri.

Seminggu di rumah, aku langsung mencari pekerjaan. Melamar ke sana-ke sini. Melamar ini dan itu sesuai pengalam yang kumiliki. Bapak-Ibu-Adik dan aku sendiri yakin, dengan ijazah dan pengalaman yang ada aku bisa mendapatkan pekerjaan.

Tapi, nyatanya tidak. Lamaran yang kusebar hanya berakhir dengan penantian tak berujung. Hingga batas waktu yang diberikan Bapak-Ibu aku belum dapat kerja yang pas, aku harus nikah. (Saat itu aku menjadi kasir di salah satu swalayan desa demi uang bensin dan pulsa).

“Tapi habis nikah, aku mau cari kerja lagi, Bu.” Kataku suatu malam.

“Ya, nanti tanyanya sama suamimu, Nduk.”

Tiba saatnya aku pasrah, aku (harus) menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak kukenal. Awalnya terpaksa–menikah tanpa cinta. Tapi, ya sudah, aku terima keputusan mereka, belajar ikhlas melepas apa yang kumau.

Pertemuan pertama hanya sebatas kenalan, seminggu setelahnya langsung dilamar. Tidak lama kemudian nikahan. Dua hari menjelang pernikahan aku mendapat telepon dari salah satu perusahaan yang pernah mewawancaraiku. Tepat pada hari pernikahan, suara di seberang telepon memintaku untuk masuk kerja. Dan, orang itu juga mengatakan nantinya aku akan di tempatkan di kantor cabang, di Jawa Barat.

Allah, lelucon apa ini? Mana mungkin aku masuk kerja di hari pernikahanku? Mana boleh aku ke Jawa Barat sedang suamiku orang Surabaya? Kerjanya juga di Surabaya. Lagi-lagi aku harus melepaskan apa yang selama ini kuperjuangkan. Tidak apa. Inilah saatnya aku belajar ikhlas.

Setelah menikah, aku ikut suami ke Surabaya. Aku masih penasaran dan ingin mengadu ijasah serta pengalamanku di ibukota Jawa Timur ini. Tidak peduli saat itu masih pengatin baru, di bawah terik aku menyebar lamaran, memenuhi panggilan tes dan wawancara.

Tapi, Allah berkehendak lain, aku tidak juga mendapat pekerjaan. Akhirnya kami kembali ke Malang, kebetulan suami pindah kerja di kota kelahiranku. Jarak tempuh dari rumah kami di desa ke tempat kerja suami cukup jauh. Ia harus melakukan perjalanan kurang lebih satu jam dalam keadaan normal.

Bapak kasihan pada suami dan menyarankan untuk kontrak saja. “Cari rumah kecil yang dekat dengan lokasi kerja suamimu saja, Nduk.”

Nggeh, Pak. Bagaimana kata Bapak–Ibu, kami manut.”

***

Setiap hari sendiri mambuat hariku garing. Setelah berunding dengan suami, aku kembali mencari kerja. Memasukkan lamaran kerja sesuai info yang kudapat baik online maupun offline.

“Besok ada walk interview di daerah Rawi Sari. Aku boleh datang, kan, Mas?”

“Di-apa itu? Pabrik atau swalayan?”

Aku menyodorkan hasil pencarian di Google mengenai perusahaan yang akan mengadakan walk interview–sebuah perusahaan ekspor wallet. Alhamdulillah dapat izin.

Aku duduk di meja paling pojok untuk mengisi formulir. Satu per satu peserta berkurang. Aku terakhir dan tabrakan dengan jam istirahat. Masya Allah, semua karyawati dan banyak yang berhijab. Padahal pemilik perusahaannya orang China. Dua hari sebelumnya aku diterima kerja di salah satu swalayan dekat kontrakan, tapi syaratnya harus lepas jilbab. Padahal si pemilik swalayan orang Jawa tulen.

Siang itu aku langsung berhadapan dengan lima orang user. Saat wawancara bahasanya campuran antara bahasa Indonesia dan bahasan Canthonese. Ya, mungkin untuk meyakinkan kalau aku benar-benar pernah di HongKong. Dan yang mewawancaraiku adalah pemilik perusahaan itu sendiri.

Yugo ngotei kiu lei hoi HongKong, lei yiu em yiu a?” tanya Tuan Yoe.

Momandai. Ngo wui hoi.” Jawabku meyakinkan.

“Kamu pernah ke Macau?” Sela perempuan ayu yang tidak lain istrinya.

“Pernah. Saya juga sering mengantar tamu dari Indonesia dan Malay ke sana.”

Ruangan hening. Ya Allah, apa pun hasilnya aku terima dengan hati yang luas. Engkau Maha Tahu yang terbaik untukku.

“Baiklah. Kapan kamu siap kerja?”

Aku terkejut. “Saya diterima, Pak?”

Sepasang owner itu mengangguk hampir bersamaan. Tuan Yoe mengulang pertanyaannya sambil memerhatikan kalender di meja. Ada beberapa tanggal yang sudah dilingkari.

“Kapan pun siap, Pak. Besok juga bisa.”

“Jangan besok,” ujar Bu Bos. “Besok hari Sabtu, kerja hanya setengah hari.”

“Kalau begitu kamu Senin saja sekalian. Nanti kamu cari Bu Eka, ya?” Jelas Pak Yoe.

“Baik, Pak. Terima kasih banyak.”

Aku permisi undur diri dari ruangan. Tak sabar untuk segera pulang. Capek dan lapar yang tadi kurasa hilang sudah. Perjalanan baru akan segera dimulai. Keinginanku untuk bekerja dalam genggaman. Aku tidak sabar untuk segera tiba di rumah dan berbagi kebahagian itu dengan laki-lakiku.

***

Semangat pagiku beda dengan semangat pagi biasanya. Rasanya nggak sabar menunggu jam untuk segera tiba di tempat kerja.

“Mantep beneran kerja di sana, Dek?” selidik suami.

Insyaa Allah mantep, Mas?”

“Kalau nanti posisinya nggak cocok dengan yang sampean lamar gimana, Dek?”

“Ya dilihat nanti, Mas. Tak jalani dulu. Kan semua ada tahapannya.”

“Nanti pulangnya kujemput, Dek. Tunggu di sana saja sampai aku datang. Nanti kutelpon.”

“Siap.”

Ojek online yang kupesan sudah tiba. Kami berangkat kerja bareng tapi arahnya berbeda. Aku tidak banyak berharap, semoga apa yang kami lakukan selau dalam ridha Allah. Penuh berkah. Aku tiba di tempat kerja jam tujuh kurang sepuluh menit, lalu mencari Bu Eka.

 “Mbak Rumi, ya?”

“Benar, Bu.”

“Kemarin ngelamar bagian administrasi? Benar?”

“Iya, Bu. Benar.”

Bu Eka melipat lengan blazernya, rambutnya yang lurus di semir pirang menari terkena kipas angin yang berputar. “Di sini semua karyawan baru harus menjadi operator terlebih dahulu. Maksimal satu minggu sebelum berada di posisi yang dilamar. Kita juga ada jenjang kariernya, kok, jadi jangan khawatir. Karier mengikuti kinerja Mbak Rumi nantinya.” Jelas bu HRD itu panjang.

“Iya, Bu, tidak masalah kalau saya harus menjadi operator dulu.”

Setelah sepakat, Bu Eka mengantarku ke ruang operator yang full AC. Di sana ada banyak meja panjang dengan lampu yang terang di bagian atas dan bawah meja. Beberapa pegawai yang tidak mengenakan jilbab, rambutnya ditutup dengan topi plastik, persis seperti dokter yang akan melakukan operasi terhadap pasien.

Aku duduk di kursi yang ditunjuk Bu Eka. Lumayan lama aku menunggu Mbak Devi datang. Aku sempat ngeri membayangkan Mbak Devi itu pengawas yang galak. Aku takut sendiri kalau tidak bisa bekerja seperti apa yang diajarkan.

Tapi dugaanku salah, Mbak Devi sangat telaten mengajariku cara mencabut bulu yang ada di serat wallet. Tidak boleh putus karena akan sulit untuk dibersihkan ulang. Keadaan sarang wallet juga jangan sampai rusak, karena nilai jualnya bisa anjlok. Baru beberapa jam aku duduk di antara lampu, mataku kabur, kepalaku pusing, mual.

Duh, kenapa ini? Apa karena sinar lampu yang terlalu terang?

Seminggu aku bertahan dengan kepayahan. Mata minusku semakin membuatku tersiksa. Perih, panas, bahkan sering keluar airmata. Apakah aku nyerah? Melepas pekerjaan itu? tidak. Aku terus bertahan dan berusaha bekerja sebaik mungkin.

Aku harus telaten agar pekerjaanku maksimal, dengan begitu aku tidak kesusahan untuk menaiki tangga karier. Sayang, pertarunganku tidak selama yang kuprediksikan. Aku kalah. Empat bulan di sana aku jatuh sakit sampai dua minggu.

Akhirnya aku harus merelakan pekerjaan itu lepas. Suami dan orangtua memintaku untuk berhenti bekerja. Mau bagaimana lagi? Aku harus manut apa kata mereka. Rela dan ikhlas menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.

Di balik ikhlasku, Allah mendatangkan anak-anak SD untuk bimbingan belajar. Selain melayani bimbel pelajaran sekolah, orangtua mereka memintaku untuk membuka kelas mengaji.

Semakin kuyakini, tidak ada usaha yang sia-sia dan tidak ada doa kita yang tidak didengar oleh-Nya. Allah akan mengabulkan apa yang kita langitkan pada waktu yang tepat. Aku tetap menjadi guru sekalipun tidak berdiri di ruang kelas di depan murid. []

Oleh: Isti Syarifah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: