Mbah Dar, begitulah orang-orang memanggilnya. Seorang duda yang rambutnya sudah memutih sempurna. Aku baru mengenal beliau beberapa bulan yang lalu. Bukan terpaksa mengenalnya karena sebuah tugas, melainkan beliau pemilik kontrakan yang tengah kutempati.

Laki-laki berusia senja itu adalah seorang purna TNI yang berasal dari Trenggalek. Beliau memutuskan menetap di Malang, selain karena tugas (dulu), Mbah Dar juga tak ingin jauh dari pusara istrinya.

Oh, iya, jika kalian berkunjung ke Malang dan singgah di Bandulan, kalian pasti tak akan mengira keadaan tempat ini dulunya. Sebelum tahun 1981 daerah ini tak lain hanya sebuah hutan berawa yang digunakan anggota TNI AD untuk latihan militer. Sungguh jauh berbeda dengan Bandulan saat ini yang menjadi salah satu jalan poros di kota Malang.

Ingin tahu bagaimana Bandulan tempo dulu dan peran Mbah Dar untuk desa ini? Silakan baca tuntas sedikit coretan sederhanaku ini.

***

“Dulu, desa ini namanya Sumbersari. Tetapi, ada juga yang bilang Sumber Alur. Kami dulu latihan militernya di sini. Di Barat sana ada pohon besar sekali yang tidak bisa ditebang. Ada sumber air di bawahnya. Itu sebabnya orang-orang menyebut desa ini Sumber Alur. Kalau di Timur sana pohon-pohon sama rawa,” terang Mbah Dar pagi itu mengenalkan Bandulan tempo dulu.

Aku bergeming dan terus menyimak dengan seksama laki-laki beruban itu mendongeng. Walau sebenarnya tenggorokan sudah gatal, ingin melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang tersendat di sana.

“Dulu, tanggal 05-02-1981 turun surat perizinan penggunaan lahan yang diberikan anggota Korem 083 untuk TNI AD. Surat itu isinya hanya tentang pembagian dan izin pemakaian tanah saja. Baru pada tahun 1982, tepatnya tanggal 30 Desember turun surat tentang izin dan perjanjian pembangunan rumah pribadi.”

Aku sengaja bungkam dan hanya mengangguk-angguk menanggapi cerita Mbah Dar. Aura bahagia terpancar di wajahnya yang keriput dimakan usia. Ya, mungkin beliau bahagia bisa menceritakan sejarah terbangunnya daerah ini padaku, anak kemarin sore yang tidak tahu apa-apa. He-he-he.

Aku terus mengikuti langkahnya menyusuri setiap gang yang ada. Mendengarkan ceritanya tentang bangunan-bangunan sekolah mulai dari TK sampai SMP, pabrik dan kantor PEBABRI. Lalu, kami berhenti di depan sebuah masjid. Beliau mengajakku berkeliling sesaat sebelum beristirahat di teras rumah Allah itu.

“Buatku masjid ini penuh kenangan. Tidak mudah membangunnya,” ujar Mbah Dar. Wajahnya tampak sedikit murung.

“Maksud Mbah Dar …?”  tanyaku menggantung.

Laki-laki tua berbadan tinggi dan kurus itu menarik napas dalam. Untuk beberapa saat terdiam dan hanya memandangi bagian dalam masjid yang bersih dan rapi. Rasa penasaranku kian memuncak tentang campur tangannya dalam pembangunan masjid ini. Ya, kata beberapa ibu-ibu Mbah Dar memiliki peran penting, ada juga yang bilang laki-laki beruban itu adalah penggagas berdirinya rumah Allah ini.

Dulu, saat turun surat pembagian lahan dan perizinan pembangunan rumah pribadi, daerah ini akan dihuni kurang lebih 400 KK (Kepala Keluarga). Plus sekolah TK, SD, SMP, pabrik dan kantor PEBABRI. Tetapi, satu yang tidak ada dalam daftar, yakni tempat ibadah.

“Jangankan masuk daftar calon bangunan, lahannya saja enggak disediakan. Lah, terus bagaimana hidup warga bisa seimbang? Apa iya, warganya cuma sekolah-kerja, kerja-sekolah? Kan, jadi njomplang. Warga hanya akan sibuk dengan urusan dunia dan lupa sama penciptanya. Bahaya.”

Aku mengangguk, membenarkan ucapan Mbah Dar. “Terus gimana bisa mendirikan masjid ini, Mbah? Katanya tidak ada jatah lahan untuk rumah ibadah?” Kulontarkan pertanyaan karena sudah tak kuasa bungkam.

Mbah Dar kembali berkisah. Pada tahun 1983 hutan yang awalnya dijadikan tempat latihan militer TNI AD itu resmi menjadi sebuah perkampungan. Saat itu, Mbah Dar dipercaya untuk menjadi ketua Rt pertama. Dari kegelisahan yang beliau rasakan lahirlah sebuah inisiatif untuk mengadakan musyawarah bersama warga.

“Sebelum musyawarah dengan warga, aku minta pendapat istri kalau pengin membeli berberapa meter tanah warga–sesama TNI untuk dijadikan musala. Alhamdulillah istri mendukung dan bersedia membantu dengan memberikan tabungannya.”

Diam-diam rasa kagum terhadap almarhum istri Mbah Dar menguar dalam hatiku. “Apa warga setuju dengan niat dan keinginan Mbah Dar?” tanyaku semakin penasaran dengan ceritanya. Secara logika, niat baik itu tidak selalu disambut baik oleh orang lain.

“Enggak. Ibaratnya ada 10 orang yang hadir malam itu, cuma dua orang yang setuju dan mendukungku. Kan, jatah lahan kita enggak luas, kira-kira cuma 5 x 7 meter, jadi mereka keberatan kalau harus berkurang beberapa meter.”

Aku membayangkan bagaimana kecewanya Mbah Dar dalam musyawarah malam itu. Apalagi status beliau sebagai ketua Rt. Mungkin, kalau aku yang ada di posisi beliau, aku langsung pulang dan nangis. Atau, marah kepada warga karena melawan, tidak setuju dengan usul ketua Rt mereka.

Tetapi, apa yang dilakukan Mbah Dar membuatku tercengang. Dari hati ke hati beliau menyakinkan warga yang tidak lain adalah teman-teman TNI AD-nya. Beliau mengatakan akan membeli berapa pun tanah yang warga ajukan. Mbah Dar juga meyakinkan warga, untuk pembangunan musala akan ditanggungnya sendiri.

Laki-laki tua itu semakin membuatku tercengang. Sudah mengeluarkan uang untuk beli lahan, pembangunannya juga ditanggung sendiri tanpa memberatkan warga. Masyaallah.

“Aku mikirnya gini, aku bukan orang pintar–ahli agama, tapi aku gak pengin orang-orang di sekitarku lupa sama yang ngasih kehidupan. Meskipun bukan orang yang berilmu, tapi aku pengin bisa jadi orang yang bermanfaat untuk orang lain,” jelas Mbah Dar.

Aku setuju dengan apa yang beliau katakan. Aku juga pernah membaca sebuah artikel bahwa untuk bermanfaat bagi orang lain itu tidak harus berupa materi. Tidak pula menunggu harus berilmu (pintar) dulu. Berbuat baik juga sebaiknya jangan ditunda.

Beliau mengajakku pulang, dan cerita pun tetap mengalir sepanjang perjalanan. Hasil dari musyawarah malam itu akhirnya membuahkan hasil. Ya, meskipun hanya empat orang yang setuju menjual tanahnya untuk dibangun musala kecil dan sederhana. Dulu musala itu cuma berukuran 5 x 5 meter.

Sesampainya kami di rumah Mbah Dar, beliau menujukkan beberapa foto yang sudut-sudutnya sudah rusak. Beberapa lembar foto juga sudah tidak jelas lagi. Katanya itu foto yang diambil saat musyawarah warga, beberapa lembar potret warga saat kerja bakti membangun musala itu.

Mbah Dar juga bilang, tidak mudah mengajak mereka untuk gotong royong. Ada saja alasannya. Ada yang capek habis kerja, ada yang punya acara keluarga, dan alasan lain yang digunakan untuk tidak turun tangan gotong royong.

Tetapi, purna TNI asli Trenggalek itu tidak putus asa. Selain dibantu oleh beberapa teman dekatnya, sang istri tercinta juga ikut turun tangan. Berkat kebulatan niat, keuletan dan kesabaran akhirnya rumah ibadah itu berdiri dan diberi nama Musala Roudhotul Jannah. Musala pertama di Desa Sumbersari.

“Musalanya memang sudah berdiri, meskipun jelek. Tapi, yo, ngono (ya, gitu), sepi. Di antara kami enggak ada yang berani jadi imam. Sedang aku sendiri, ya, enggak tahu banyak tentang agama. Selama ini salat ya salat saja, ngaji yo sak isone (ngaji ya sebisanya),” ujar Mbah Dar sambil membolak-balik selembar foto.

“Ada yang azan, Mbah?” tanyaku spontan.

“Aku yang azan. Habis azan ya salat sendiri,” jawabnya singkat.

Aku membayangkan bagaimana perasaan Mbah Dar kala itu. Dari lahan sampai pembangunan tidak memberatkan warga sama sekali. Tinggal menggunakan saja masih tidak mau. Aku membalik selembar foto yang ada coretan huruf latin.

“Itu foto waktu pengajian pertama. Aku manggil Imam/ Yai dari luar. Ya, mau gimana lagi, mau kuimami sendiri enggak bisa. Jadi aku putuskan mendatangkan imam dari luar dan keluar dana lagi untuk mancing warga. Alhamdulillah atas bantuan Yai Abdul, pelan-pelan warga berkenan datang ke musala untuk berjamaah. Sejak saat itu, ya sampai sekarang, seminggu dua kali pasti ada Imam dari luar yang datang.” terang Mbah Dar.

“Oh, ya, Mbah … tadi kan tulisannya itu Masjid Roudhotul Jannah. Bukan musala. Terus bangunannya juga besar dan bagus. Apa untuk renovasinya juga modal Mbah sendiri?”

Laki-laki itu menggeleng. Beliau menyerahkan beberapa lembar kertas bermatrei kepadaku. Aku mengangguk-angguk sambil terus memahami tulisan bertinta hitam itu. Ada surat penghibahan, ada surat perjanjian, dan surat lainnya yang aku tidak paham.

Salah satu surat bermatrei itu menjawab pertanyaanku tadi. Di atas kertas putih kekuningan itu tertulis bahwa ‘Bapak Amari (almarhum) telah menghibahkan tanahnya seluas 5 x 7 meter, untuk dijadikan rumah ibadah, Musala Roudhotul Jannah Sumbersari’.

Lagi dan lagi, Mbah Dar dan istrinya menggunakan tabungan mereka untuk mencicil merenovasi musala itu. Beliau dan istri sampai rela setiap hari makan dengan lauk garam yang ditabur di atas nasi hangat. Dari keuletan, kesabaran mereka, terketuklah hati beberapa warga yang akhirnya turut andil dalam pembangunan rumah ibadah itu.

Dari hasil sedekah hamba Allah dan beberapa material sumbangan desa lain, musala sederhana itu kini menjadi masjid yang megah dan indah. Tidak hanya bangunannya yang maju, jamaahnya juga membludak, dari anak kecil sampai orang tua. Setiap azan berkumandang, berbondong-bondong mereka menuju rumah Allah untuk melipatgandakan pahala.

“Kalau lihat jamaah di masjid sekarang ini, rasanya senang bukan kepalang. Dulu memang sempat putus asa waktu musala baru berdiri. Sudah azan sendiri, salat juga sendiri. Alhamdulillah almarhum istri selalu mendukung. Oh, iya, yang ngajar ngaji sekarang itu temannya istriku. Istrinya Pak Amari yang tanahnya dihibahkan untuk awal perluasan musala.” Terlihat aura bahagia kembali terpancar di wajah laki-laki berusia senja itu tatkala mengenang istrinya.

“Semua orang pasti pengin bisa bermanfaat untuk orang lain. Sayangnya mereka masih banyak mengulur waktu dan menunggu. Alhamdulillah, meskipun bukan orang berilmu dan berharta aku bisa menyumbangkan tenaga untuk mendirikan rumah ibadah pertama di desa ini. Jangan disamakan dengan masjid-masjid lainnya yang modal awalnya tebal, ya? He-he-he.”

Sembari membereskan surat-surat dan foto di meja, dalam hati aku membenarkan ucapan Mbah Dar. Mengulur niat baik itu tidak baik. Untuk bisa bermanfaat bagi orang lain juga tidak perlu menunggu kaya, pintar, atau memiliki kekuasaan. Jangan sampai keduluan ajal datang menjemput, sebab panjang pendeknya umur seseorang hanya Allah yang tahu.

Semoga disisa usia Mbah Dar selalu dikaruniani kesehatan, kebahagian dan keberkahan. Dan, semoga kelak dipertemukan dengan istri tercinta di surga-Nya. Aamiin

***

Oleh: Isti Syarifah.

Ilustrasinya dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: