Ilustrasi dari Alicdn.

Hari ini aku bahagia bukan main, setelah berkali-kali –aku tidak menghitung tepat jumlahnya– mendapatkan panggilan kerja akhirnya aku lolos hingga tahap wawancara kedua. Saking semangatnya, aku datang dua jam lebih awal. Sebelumnya, aku pernah terlambat datang ke sebuah test tertulis hingga tak diizinkan mengikutinya. Padahal hanya terlambat 15 menit. Dari situ aku kapok dan selalu bergegas untuk datang lebih awal supaya tak melewatkan kesempatan mengikuti test kerja.

Dua jam menunggu, akhirnya aku sudah duduk bersama lima orang lain. Kami ditemani oleh seorang perempuan cantik yang duduk di meja depan. Sebelum dimulai, ia sempat menyapa kami dan memperkenakan dirinya sebagai salah satu staf HRD bernama Dian. Mulailah satu orang dari kami dipanggil.

“Satria Yanuar, silakan masuk ke ruangan sebelah kiri.” Staf HRD tadi memberi arahan.

Pria berbadan tinggi yang mengenakan kemeja biru muda segera masuk ke ruangan yang dimaksud. Sekitar hampir setengah jam, akhirnya pria pertama keluar dari ruang wawancara. Staf HRD lalu membuka berkas, bersiap memanggil giliran selanjutnya.

“Putri Ramadhani, silakan masuk ke ruang wawancara di sebelah kiri.”

Aku sedikit merapikan kemejaku, kubetulkan jilbab sambil berdiri dan berjalan ke arah ruangan wawancara. Aku bingung, perempuan yang duduk di pojok kanan juga berjalan ke arah yang sama. Kami saling pandang. Staf HRD yang melihat kemudian mengulangi panggilannya dengan nada bertanya, “Putri Ramadhani?”

“Iya Mbak, saya Putri Ramadhani.” Kujawab dengan halus

“Loh, nama saya juga Putri Ramadhani.” Kata gadis itu.

“Sebentar, di sini hanya ada satu Putri Ramadhani. Boleh saya pinjam berkasnya dulu?” Mbak Dian menjawab, berusaha untuk menjelaskan. 

Setelah meneliti berkas kami, ia tampak kebingungan.

“Saya perlu ke ruangan wawancara untuk memastikan. Mohon ditunggu ya, Mbak Putri.” Dengan senyum manis, ia meminta kami menunggu. Aku dan Putri duduk kembali. Ah, aneh sekali menyebut nama sendiri!

Tak lama Mbak Dian kembali dengan membawa map hijau muda.

“Mbak Putri Ramadhani, ini berkas yang ada di dalam. Silakan dilihat, ini milik siapa?” Mbak Dian bertanya sambil menyodorkan berkas yang dibawa.

Aku dan Putri membuka, terlihat pas foto dan dokumen yang bukan milikku.

“Oh, ini milik saya.” Kata Putri yang bukan aku.

“Silakan masuk, Mbak. Jangan lupa bawa berkasnya,” Mbak Dian memberikan berkas kepada Putri. Putri segera berjalan dan masuk ke ruang wawancara.

“Mohon maaf Mbak Putri, ternyata ada kesalahan. Admin kami keliru. Karena ada dua nama Putri, dia kira keduanya harus dihubungi. Mohon maaf sekali, ini murni kekeliruan kami. Untuk wawancara hari ini, kami hanya meloloskan lima orang saja.” Dengan nada halus, ia sedikit menjelaskan. Aku bingung menjawab. Kutarik napas panjang dan memohon izin untuk pulang.

“Sekali lagi, mohon maaf… “ Kata Mbak Dian.

Aku sudah tidak peduli. Aku malu, meskipun hanya empat orang yang menyaksikan peristiwa ini. Mulai kurasakan kemarahan. Entah pada siapa. Aku berjalan cepat menuju halte.

***

Emosiku teraduk, rasanya tidak ada tempat yang nyaman. Apalagi di halte. Harus menunggu di antara orang-orang yang cerita sana-sini, bertanya hendak ke mana atau dari mana. Kenapa orang-orang di kota ini ingin tahu urusan orang lain, sih. Memangnya apa pentingnya aku ini dari mana? Haruskah aku ceritakan bahwa aku baru saja melewati peristiwa memalukan? Ya Allah, aku ingin segera sampai rumah dan mengurung diri seharian. Menyembunyikan wajahku dari orang-orang.

Bus datang cukup lama setelah aku menunggu, aku masuk dan ternyata kursi sudah penuh. Aku berdiri dengan mata menatap ke luar jendela. Sepertinya, siapa pun yang melihatku akan tahu bahwa ada bara menyala dalam hatiku. Ia tergambar di wajahku yang tidak sedikit pun mengumbar senyum. Sampai ada seorang Bapak yang duduk di kursi samping tempat berdiriku, menawarkan kursinya. Tanpa pikir panjang atau basa-basi menolak, aku duduk saja. Aku juga sampai lupa berterimakasih.

Tapi aku kemudian jadi kesal, lantaran si Bapak ini ternyata cerewet. Awalnya, ia bertanya selayaknya orang berbasa-basi. Aku sempat menjawab beberapa pertanyaannya, bahkan terkesan seperti wawancara karena aku tak menimpali dengan pertanyaan kepadanya. Sambil sedikit tersenyum ia juga bertanya, “Sudah nikah belum, Dik?”

“Belum.” Aku menjawab singkat. Kesal betul. Apa perlu aku ceritakan juga aku pernah dua kali gagal ta’aruf? Sekali lagi aku membatin ‘haruskah semua orang tahu urusanku?’

“Wah, jangan lama-lama sendiri. Segera saja, Dik. Nikah itu ibadah dan siapa tahu rezeki adik bekerja bisa didapat setelah menikah.” Katanya menasihatiku.

Aku hanya senyum kecut. Pesan itu mungkin akan segera keluar dari telinga kiriku, berlalu saja. Beruntung, segera bus sampai ke halte tempat Bapak berjenggot tipis itu turun.

Belum sampai bus melanjutkan perjalanan, aku tidak sengaja menendang sebuah kardus di bawah kursi yang kududuki. Sebentar kupikir, lalu kuambil dan segera turun mengejar Bapak tadi. Untung saja, dia belum berjalan jauh. Ternyata betul, itu memang bawaannya yang tertinggal. Ia beberapa kali mengucapkan terima kasih. Aku hanya menjawab sekenanya dan segera berlari untuk kembali naik bus. Sebetulnya aku suuzon dengan Bapak tadi, jangan-jangan ia bawa bom atau barang berbahaya, makanya kukembalikan dengan segera. Takut nanti aku yang dituduh, kalau tiba-tiba kardus itu digeledah dan isinya memang benar barang berbahaya.

Bus berjalan pelan melanjutkan perjalanan. Kutepis pikiranku soal kejadian hari ini. Semoga semua ini tidak menyakitiku terlalu lama. Azan dzuhur berkumandang tepat ketika aku membuka pintu rumah. Tidak ada orang karena orangtuaku sedang bekerja dan adikku pasti belum pulang kuliah. Segera setelah menunaikan salat dzuhur, aku tidur dengan mengunci kamarku.

***

Sebulan berselang, aku tak kunjung mendapatkan panggilan wawancara lain. Sedih. Berapa lama lagi aku harus menganggur? Aku sudah sakit hati, belum lama hubunganku tidak disetujui dengan orangtua teman dekatku. Alasannya, orangtuanya ingin punya menantu yang mandiri. Tidak bergantung pada suaminya kalau nanti menikah. Gugurlah aku sebagai calon menantu. Kuputuskan untuk mengakhiri hubungan kami.  

Aku memang sedikit sudah terbiasa dengan kegagalan test kerja, demikian dengan hubunganku yang tidak juga menemui keberhasilan. Setelah tidak mendapat restu dengan hubunganku, aku menyerahkan biodata kepada seorang ustaz. Dibantu sahabatku yang berhasil menemukan jodohnya dari ustaz tersebut. Besar harapanku untuk bernasib sama. Meskipun ternyata, dua kali aku gagal berta’aruf. Entah, sepertinya ikhwan yang pertama tidak cocok denganku karena belum berjilbab lebar. Sementara yang kedua, aku yang memilih mundur karena orangtuaku tidak menyetujui dengan alasan usia. Ikhwan tersebut tiga tahun lebih muda dariku.

Aku putus asa. Apa aku terlalu banyak berbuat dosa? Aku berdoa sambil menangis. Memohon diberikan kesempatan untuk bekerja, siapa tahu aku bertemu jodoh di tempat kerja. Jadi aku bisa dapat dua hal yang kutunggu selama ini.

***

Handphone-ku berdering, kudapati sebuah pesan dari istri ustaz yang kutitipkan biodataku kepadanya. Aku akan dikenalkan dengan seorang ikhwan, ia setahun lebih tua. Aku menyetujui dan dikirimlah biodatanya untuk kubaca. Lega, orangtuaku menyetujuinya dan aku berkenalan lebih lanjut. Dalam waktu tak lebih dari lima hari, semua komunikasi lancar. Ia tidak mempermasalahkan jilbabku yang kurang lebar. Tak juga menuntutku bekerja. Aku terkejut dengan waktu yang sangat singkat, ia memutuskan datang membawa orang tuanya seminggu kemudian. Memang benar apa yang dikatakan orang, kalau jodoh pasti dipermudah.

Aku sungguh terkejut menyaksikan seorang laki-laki berjenggot mengenakan batik, ia duduk di hadapanku. Segera kuingat Bapak yang pernah se-bus denganku. Ternyata, ia adalah Ayah dari Firman, calon suamiku. Segera kutahu ia bernama Pak Ihsan. Pak Ihsan dengan raut gembira bercerita tentang pertemuan kami kepada orangtuaku. Katanya, ia terkesan dengan kebaikanku mengembalikan barangnya. Ia bilang, ia bersyukur akhirnya putra pertamanya akan segera menikah.

Ya Allah, aku malu. Seandainya beliau tahu prasangkaku. Kalau aku jujur, apakah beliau tetap menerimaku sebagai menantu? Aku betul-betul malu. Tapi aku berjanji, aku akan meminta maaf dan berkata jujur kepada beliau nanti.

Oleh: Hapsari TM.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: