Ilustrasi dari deweezz.

Takzim Kepada Guru, Kunci Mendapat Ilmu yang Berkah

Bima adalah putra Pandhu yang terkenal sangat hormat kepada gurunya, Resi Durna. Saking hormatnya, dalam dunia pewayangan Jawa Bima memanggil Resi Durna dengan sebutan Bapak. Rasa hormatnya tidak hanya manis di bibir saja, sangat lebih dari itu, takzimnya ia tunjukkan dengan tindakan nyata. Bima tak akan rela apabila Sang Guru ada yang menyakiti. Ia akan menjadi garda terdepan dalam membela “Bapaknya” itu.

Kisah Bima dalam lakon karangan Banyu Suci Perwitasari adalah bukti nyata takzimnya seorang murid kepada guru.  Meskipun ada beragam versi tentang lakon tersebut, namun inti ceritanya adalah tetap pada Bima sebagai tokoh utamanya. Ada versi yang menilai Durna sebagai pihak yang mendukung Kurawa dan bermaksud mencelakai Bima dengan akal bulusnya. Ada pula versi lain yang menyatakan bahwa segala kejadian yang dialami Bima adalah atas petunjuk Durna sebagai guru yang mencintai muridnya, seperti anaknya sendiri.

Kiranya itulah gambaran betapa takzim kepada guru, akan sangat membawa berkah bagi seorang murid. Adakah dalam dunia nyata kisah serupa lakon Bima tersebut? Simak kisah berikut ini.

Diceritakan bahwa di sebuah pesantren yang terletak di daerah Jawa Timur ada seorang santri dari Lampung. Sebut saja namanya Ahmad. Di pesantren tersebut ia dikenal dengan nama Kang Mad. Konon Kang Mad ini sangat terkenal di kalangan para santri. Bahkan di lingkungan “njeron beteng” pesantren pun Kang Mad ini dikenal cukup dekat.

Dua alasan klasik seseorang akan banyak dikenal orang lain adalah karena menonjol dalam arti positif, yang kedua menonjol dalam arti negatif. Kang Mad dalam hal ini memiliki keduanya. Meski dalam hal negatif sebenarnya bukan sebuah keniscayaan, tergantung paradigma kita memaknainya.

Ya, Kang Mad ini termasuk santri senior (sudah lama masa nyatrinya). Bukan karena tingginya semangat menuntut ilmu (belajar) namun, lebih kepada lambannya Kang Mad menerima ajaran-ajaran Pak Kyai. Maaf, Kang Mad ini memang terkenal sebagai santri yang agak bebal, sulit menerima ilmu dari gurunya. Menonjol dalam arti negatif? Terserah bagaimana kalian menilainya.

Yang jelas, Kang Mad ini orangnya baik hati dan memiliki takzim yang luar biasa kepada gurunya. Bagaimana tidak? Misalnya saja saat santri lain sedang sorogan dengan Pak Kyai ia malah diberi tugas membersihkan rumput di halaman pesantren. Saat para santri setor hafalan kitab, Kang Mad malah menyapu masjid sekaligus mengepel lantainya. Dan masih banyak hal lainnya.

Apakah Kang Mas dihukum karena bebalnya? Bukan.

Sama sekali bukan. Kang Mad memang tidak mampu untuk melakukan aktivitas layaknya santri lainnya. Pak Kyai tahu itu. Maka beliau pun selalu tahu dan paham bagaimana membekali Kang Mad.

Kisah menarik dari Kang Mad adalah ketika ia diperintahkan mengisi bak air di kamar mandi oleh Pak Kyai.

“Kang, kolahe diangsu ya!” perintah Pak Kyai.

“Sendika Pak Kyai,” jawab Kang Mad sambil menunduk.

Mulailah Kang Mad mengisi bak air tersebut. Dari setelah shalat ashar, sampai hampir maghrib Kang Mad melakukan tugasnya dengan penuh semangat. Saat santri lain belajar kitab, belajar nahwu, sorof, Kang Mad masih saja “ngangsu kolah”. Entah apa yang dipikirkan Kang Mad, tampungan air yang sudah penuh masih saja ia isi dengan air dari timba.

Entah sudah berapa ratus ember air ia tuangkan ke dalam bak mandi itu. Air sudah luber tiada henti, namun Kang Mad belum juga menghentikan pekerjaannya. Ia baru berhenti ketika Pak Kyai hendak mengambil air wudlu persiapan salat maghrib.

“Lho Kang, durung leren ta? Wis kang, sekarang ayo siap-siap salat maghrib,” kata Pak Kyai menghentikan Kang Mad dengan wajah sedikit menyesal. Pak Kyai sadar beliau lupa memerintahkan Kang Mad untuk berhenti mengisi bak air ketika sudah penuh.

“Sendika Pak Kyai,” jawab Kang Mad sopan.

 Berhentilah Kang Mad dari aktivitas “ngangsu kolah”.

Itulah salah satu istimewanya Kang Mad. Begitu takzim kepada guru. Mungkin dalam pandangan mata yang lain perilaku Kang Mad ini akan dikatakan konyol atau kolot atau apalah. Namun satu niatnya yaitu takzim kepada guru. Menurut kepada perintah guru, asal bukan hal yang melanggar syariat.

Sampai suatu ketika pada tahun ke 13 Kang Mad nyantri, ia hendak pamit pulang, untuk mukim, alias tidak mondok lagi. Pak Kyai dan keluarga, seluruh santri merasa kehilangan sosok Kang Mad yang bersahaja dan lugu, namun memiliki sesuatu yang jarang dimiliki orang lain, takzim kepada guru.

Pak Kyai mendoakan semoga Kang Mad dapat mengamalkan seluruh ilmu di kampungnya nanti. Bahkan Pak Kyai mendoakan semoga Kang Mad dapat mendirikan pesantren, memiliki santri yang banyak, dan menjadi kyai besar yang bermanfaat bagi umat.

Sampai di kampung halamannya Kang Mad tidak segera melaksanakan perintah gurunya untuk membuka pesantren. Berpikir saja tidak, apalagi akan melaksanakan perintah gurunya. Kang Mad merasa tidak mampu untuk mengasuh pesantren. Namun, predikat santri yang terlanjur melekat pada dirinya membuat masyarakat akhirnya berduyun-duyun berguru dengan sendirinya kepada Kang Mad.

Tidak perlu waktu lama, puluhan anak muda menyatakan diri untuk nyantri kepada Kang Mad. Kang Mad harusnya bahagia, tetapi ia malah bingung atau bahasa anak jaman now adalah galau. Galau karena ia tidak akan bisa mengajar kitab sebagaimana permintaan para santrinya.

Di tengah kegalauannya, Kang Mad memutuskan sowan kepada gurunya di Jawa Timur. Sampai di tempat gurunya Kang Mad malah ditertawakan. Tertawa tanda bangga dan senang. Doa Pak Kyai dikabulkan. Kang Mad memiliki santri yang artinya itu adalah cikal bakal pesantren. Pak Kyai pun menyambut keluh kesah Kang Mad dengan santai.

“Tidak usah bingung Kang. Serahkan saja tugas mengajar kitab, nahwu, sorof, dll kepada santri seniormu. Di antara mereka tentu sudah ada yang bisa. Kamu tinggal memerintah saja semua sudah bakal jalan,” terang Pak Kyai.

“Sendika Pak Kyai,” jawab Kang Mad seperti biasanya. Tak ada ragu dalam dirinya lagi. Nasihat Pak Kyai membuatnya yakin akan mampu ia jalani.

Sampai segitu saja usaha Kang Mad mengobati kegalauannya. Ia lalu kembali ke kampung halamannya melaksanakan perintah gurunya. Bagaimana hasilnya? Tepat sekali. Perintah Pak Kyai dilaksanakan dengan baik. Santri senior mengajar santri yang junior.

Pelan namun pasti cikal bakal pesantren itu mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan. Santri terus berdatangan. Kang Mad tetap tidak mengajarkan kitab sebagaimana Pak Kyainya. Kang Mad yang mulai dipanggil Pak Kyai oleh santrinya masih saja “ngangsu kolah”, ngepel lantai, menyapu, memberihkan rumput di kala santrinya belajar. Tidak disangka segala aktivitas Kang Mad menjadi pembelajaran nyata bagi santri yang setiap waktu melihat aktivitas Kyainya.

Para santri sangat takzim kepada Kyai Mad. Aktivitas belajar yang diampu oleh para santri senior berlangung dengan baik. Hal langka dan semakin sulit ditemukan saat ini. Takzim atau hormat kepada guru. Di kalangan pendidikan formal rasa hormat kepada guru bahkan sangat memprihatinkan. Terlalu sering media kita memberitakan penganiayaan siswa kepada gurunya. Sopan santun dari siwa kepada guru pun semakin luntur.

Semoga para siswa, para santri dapat meniru sikap takzim Kang Mad kepada gurunya. Aamiin.

Oleh: Wawan Murwantara.

Tinggalkan Balasan