Tanda-Tanda Terseret Perhiasan Dunia

Gemeriap kota—dunia—beserta seluruh kecemerlangan-kecemerlangan yang memijarinya, dari jagat digital, mal, lokasi wisata, perdagangan, pesona pendidikan, seksualitas, apalagi politik dan kekuasaan, semua-muanya oleh al-Qur’an disebut sebagai “perhiasan”, “kesenangan”, “memperdaya”, dan “tipu daya”. Istilah “mata’ul ghurur” dalam surat Ali Imran ayat 185, umpama, “wa mal hayutud dunya illa mata’ul ghurur, dan kehidupan dunia ini tiada lain adalah kesenangan yang memperdayakan” mendedahkan klaim Allah tersebut kepada semua kita dengan amat benderang.

Telah mampukah kita senantiasa, ya senantiasa, meletakkan peringatan Allah tersebut sebagai manhajul hayat atawa way of life dalam keseharian kita, dalam segala bidang yang kita jibakui?

Bolehlah saya tambahkan satu lagi untuk menguatkan peringatan asali tersebut dengan menukil surat an-Nisa ayat 77: “mata’ud dunya qalilun wal akhiratu khairul lilladzinat taqau wa la tudhlamunan fatila, kesenangan dunia ini hanya sedikit (sebentar) dan kehidupan akhirat jauhlah lebih baik (hanya) untuk orang-orang yang bertakwa dan kalian tidak diperdaya sedikit pun di dalamnya.”

Kamu bisa mencari berjubel ayat lain yang senada yang menjelaskan dengan amat kokoh perihal sangat prinsipilnya ajaran mawas diri pada gemeriap dunia seisinya tersebut.

Oh ya, sudahkah kita mampu meletakkan prinsip hidup muslim tersebut sebagai puncak segala lelaku hidup kita?

Ini problemnya.

Disebabkan oleh maujud rawagi kita yang wadag alias lahiriah, jasmani, sudah pasti kita perlu mengasupinya dengan segala kebutuhannya. Mulai makanan bergizi, hunian yang nyaman, kendaraan yang mumpuni, anak istri yang menyenangkan, hingga ranah sosial yang harmonis. Kita yang manusia wadag jelas tak bisa memungkiri kebutuhan-kebutuhan tersebut, yang notabene merupakan bagian dari material duniawi.

Maka menghindari dan meninggalkan jagat duniawi sesungguhnya tidaklah nyambung dengan kenyataan kewadagan kita. Untuk alasan tersebutlah, kita bekerja, misal, atau sekolah, atau bergaul, atau berjalan-jalan, atau beraktivitas sosial-ekonomi-budaya, dan sebagainya.

Cuma persoalannya bagaimana kita meletakkan semua itu (material-duniawi alias mata’ud dunya) bukan sebagai kiblat hidup kita?

Jika kita termasuk golongan orang yang menjadikan itu semua sebagai kiblat, apalagi berhala, maka remuklah prinsip hidup yang bertubi-tubi diingatkan oleh al-Qur’an itu. Dan, risikonya sangat jelas: kita jadi terperdaya oleh kemilau duniawi, kita jadi rabun untuk sekadar membedakan sesuatu yang haram dari halal (apalagi subhat), pun kita jadi sangat takut kepada kekurangan atau kelemahan yang semata bersifat material duniawi.

Itu semua alasan wadag, ragawi.

Nun jauh di atas bentuk lahiriah kita yang berdaging bertulang ini, bersemayam dengan sangat asali bentuk kita yang psikologis, batiniah, rohaniah, spiritual. Ini lawan dari kewadagan, lawan jasmani. Ia tak nampak, tetapi jelas-jelas ada, terasakan, konkret wujud dan pengaruhnya kepada pikiran dan tindakan lahiriah kita.

Alam batin-rohani-spiritual ini adalah “ruh abadi” kita. Ia adalah kesejatian kita, keabadian kita. Ia yang kelak akan dihisab oleh Allah di alam mahsyar, dimintai pertanggungjawaban atas segala pikiran dan perilaku yang telah ditorehkan selama hidup di dunia. Ia pulalah yang akan menuai anugerah keagungan ridha-Nya atau amuk murka-Nya.

Niscaya semua kita telah memahami peta maujud diri tersebut dengan baik. Masalahnya, sudahkah kita menjadikan kesejatian diri (ruh, ruhani) itu sebagai raja, tujuan utama, bagi laju kehidupan wadag kita selama ini?

Dunia seisinya yang semakin cemerlang ini sungguh merupakan perhiasan-perhiasan yang luar biasa tangguh godanya. Dan, tersebab itulah sebagian besar kita gagal membangun “relasi hierarkis” (atas bawah) antara bentuk rohani diri dengan bentuk lahiriah diri. Kita mudah sekali membaliknya padahal kita tahu itu salah dan bertentangan dengan ajaran al-Qur’an: lahiriah dimolekkan, rohaniah diabaikan; kecemerlangan fisik-material diuber siang-malam, kejayaan spiritual dianaktirikan dengan semena-mena seolah tak membutuhkan.

Walhasil, keterbalikan membangun relasi atas-bawah pada bentuk diri sendiri itu menjadikan kita rapuh, ringkih. Sebentar-bentar marah, kecewa, sedih, cemas, takut, khawatir, dan depresi. Sebentar-sebentar merasa kekurangan, kurang banyak, kurang bagus, kurang megah, kurang kondang, kurang menjulang.

Apa kabar rohanimu?

Shalat lima waktu berat sekali untuk tepat waktu, ngaji al-Qur’an tak sempat, apalagi tahajjud, dhuha, dan lebih-lebih tafakkur dan uzlah. Sedekah amatlah sangat berat hati, eman, sayang, nanti berkurang, nanti tertunda lagi mewujudkan keinginan beli motor baru, rumah baru, jalan-jalan ke luar negeri, dan sebangsanya.

Apa kabar rohani yang kerontang?

Labil. Labil adalah dampak nyata dari rohani yang kerontang, yang diabaikan, disepelekan, tak diutamakan, tak dijadikan raja pada diri kita. Hati yang gersang oleh cahaya ruhani adalah sekerat hati yang retak-retak yang sangat mudah didera kerisauan, kesedihan, dan kecemasan.

Wahm, itulah istilah lazimnya: remuk-redamnya hati akibat pudarnya asupan rohani, spiritual, ibadah, tafakkur akan kemahakuasaan Allah Yang Maha Esa.

Wajar, diri yang didera penyakit wahm tersebut tidak jenak pada kedamaian, ketenangan, dan kelembutan. Sebab ia selalu bergelombang, berberahi, berhawa nafsu, berkeinginan menggebu-gebu di hadapan segala kecemerlangan dunia, materi, yang jelas-jelas disebut mata’ul ghurur oleh al-Qur’an.

Jika hatimu mudah sekali resah, gundah, dan gulana, plus waktumu sehari-hari selalu sesak oleh dera hiruk-pikuk duniawi, dan betapa eman sayangnya kamu pada apa-apa yang telah kamu miliki, itu tanda-tanda besar bahwa kamu telah terseret oleh perhiasan dunia.

Jalan terapinya hanya satu: baliklah relasi hierarkismu dengan benar sesuai ajaran al-Qur’an: hati, rohani, spiritual memayungi segala lelaku pikiran dan perbuatanmu sehari-hari.

Wa mal hayutud dunya fil akhirati illa mata’, dan (sungguh) kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (yang sedikit) di hadapan kehidupan akhirat (QS. Ar-Ra’d ayat 26).

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Tinggalkan Balasan