“Biodata yang ada di atas printer itu milik Ken? Masa’, suami lebih muda dari istrinya?” celetuk ibu sambil jalan melawatiku begitu saja tanpa ekspresi. Aku diam. Kaget mendengar pertanyaan ibu pagi itu. Aku tidak melanjutkan aktivitas menyapuku di ruang tamu, hanya memandang punggung ibu yang semakin manjauh ke luar rumah. Menjauh, semakin jauh. Lalu menghilang.

Seketika aku berlari ke kamar mencari kertas di atas printer yang ibu maksud. Tanganku agak bergetar ketika mengambil kertas ukuran A4 itu, biodata milik Ken yang beberapa menit lalu aku cetak. Otakku mulai berputar-putar dengan berbagai kemungkinan, meliarkan prasangka-prasangka, juga kekhawatiran yang berlebihan.

“Oh Alloh, kenapa aku lupa menyimpannya. Ibu harusnya bertemu dengan dia terlebih dahulu. Ini terlalu cepat.”

“Ken, Ibu baru saja tau jika kamu lebih muda dariku. Lengkap sudah.” Kalimat itu ku ketik lalu ku kirim untuk Ken, setelah aku mampu mengusai kekacauan hati yang sepertinya aku buat sendiri.

Entah mengapa kali ini aku merasa lebih khawatir. Bagaimana tidak? Otakku dengan cepat memanggil kembali obrolan ringan dengan ibu sekitar 6 tahun yang lalu. “Besok kalau cari calon suami yang usianya lebih tua, biar lebih dewasa. Bisa ngemong.”  Ditambah lagi saat teroris mulai naik daun dengan celana cingkrang dan jenggotnya. Ibu mulai ikut sibuk menambah daftar syarat untuk calon menantunya.

Entah kabar baik atau kabar buruk, semua syarat ‘terlarang’ itu, ada pada Ken.

Berkali-kali aku cek telepon genggam warna biru milikku, meskipun aku tau itu sia-sia sebab tak ada bunyi penanda sms masuk. Ah sial, benar rupanya, menunggu itu harap dan cemas! Waktu terasa begitu lama.

“Beep beep beep. Beep beep.” Segera ku buka kotak pesan. Ken!

“Jika jodoh, biar Alloh yang memudahkan.”

Tuhan, ya Alimu ya Rahman ya Rahim .

Aku semakin bimbang dalam merapal doa. Dia yang namanya pernah aku ‘coret’ dari daftar teka-teki takdir, mengapa sekarang seolah terjebak dalam takdir. Aku mencoba menahan air mata yang mulai memburamkan pandangan. Ada keharuan yang mulai tercipta entah karena apa.

“Ken, boleh nggak kalau jenggotnya dirapiin banyak? Celana yang dipake juga jangan terlalu cingkrang. Bukan berpura-pura, seenggaknya biar diterima untuk pertama kalinya.” Celetukku saat ia berencana menemui orangtuaku.

Ia tersenyum.

Hari yang direncanakan tiba jua. Dan beginilah hidup, penuh dengan kejutan. Ken datang dengan penampilan tanpa adanya perubahan. Aku agak shock. Harapan mulai berubah warna menjadi kepesimisan. “Tiket akan hangus.” Batinku.

Astaghfirullah, kenapa aku khawatir berlebih. Bukankah semua teka-teki ini milikNya. Kali ini rapalan doaku bukan karena makhlukNya siapa, tapi tentang keberkahanNya.

Aku menyerahkan sepenuhnya teka-teki takdir ini pada Dzat yang Maha Mengetahui seluruh perkara. Berpasrah dalam doa, “Duhai Alloh, jika ia jodoh hamba. Baik untuk kehidupan dunia dan akherat masing-masing kami. Baik untuk anak keturunan kami. Memberi kebaikan untuk semesta beserta isinya maka mudahkanlah. Berkahilah. Mudahkanlah kami. Berkahilah kami.”

Aku semakin pesimis. Tidak ada pembahasan tentang Ken setelah kedatangannya hari itu. Berhari-hari hingga pernyataan bapak membuatku keki dan kembali dikejutkan oleh teka-teki takdir, “Bapak dan Ibu tresna lan nresnani. Sekarang tinggal kamu gimana? Karena kalian yang akan menjalaninya.”

“Eh? Tapi Ken, kan …”

Ndhuk, Ken baik, cerdas, sholeh. Rasulullah pun lebih muda dari Khatidjah.” timpal ibu, tersenyum.

Aku terdiam. Tak percaya. Sesaat kemudian aku berlari memeluk ibu, juga bapak.

“Ee … anak ingusan ibu bapak sudah besar. Sudah akan jadi istri orang. Hahahaa. Berkah selalu, Ndhuk ...”

Oleh: Yulia Hartoyo.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: