Dear, Mantan,

Ketika awal berjumpa denganmu ada yang istimewa. Ada sesuatu yang bergerak di hatiku. Mungkin itu janin cinta yang akan tumbuh menjadi bayi yang menuntut untuk terus menerus diberi makan berupa perhatian dan kebersamaan. Ketika itu aku masih remaja. Mudah terpapar asmara. Atau mungkin juga kau, terlalu mempesona.

Lalu hari-hari itu pun kita jalani bersama. Kita berbagi tempat dan waktu di atas nama cinta. Engkau bilang sayang, aku percaya. Engkau beri seribu kubalas engkau satu juta. Meskipun terlambat kusadari bahwa aku ternyata hanya nomor dua.

Aku tahu betapa besar usahamu kala itu untuk melepaskan diriku yang terlanjur melekat di hari-harimu. Aku ingat betapa gigih, engkau berusaha memisahkan diri dariku yang selalu datang dan datang lagi, tak tahu malu. Aku sadar betul bahwa waktu itu, engkau ingin berpisah denganku.

Bahkan engkau hadirkan sebuah drama, agar aku melangkah meninggalkan apa yang kusebut sebagai kita. Hari itu, usiaku 19 tahun, engkau menulis untuk seorang perempuan cantik di lama facebook miliknya.

Apa perlu kuingatkan, apa bunyinya?

Dek, kenapa kamu tinggalkan aku. Kenapa? Kamu nggak tahu betapa aku cinta sama kamu. Sekarang aku jadi begini. Menjajaki hati demi hati. Semua itu hanya pelarian, Dek. Karena hatiku hanya untukmu. Kembalilah, aku kangen Adek.”

Engkau tahu apa yang kulakukan saat itu?

Aku menangis, menangis teredam karena malu pada teman-teman kerjaku. Aku sakit. Engkau, dengan sengaja menunjukkan maksudmu mendekatiku dan itu membuatku sama sekali tak berharga. Padahal cinta dan debar ini nyata. Rasa ini tulus untukmu. Engkau adalah laki-laki pertama yang mencuri sebagian bahkan hampir seluruh waktuku.

Pun begitu, aku masih terus dan terus berharap padamu. Aku berharap engkau berubah dan mulai menyayangiku. Seiring pengorbanan yang kulakukan. Kendaraanku, gajiku, waktuku tak apa semuanya untukmu. Asalkan aku masih bisa bersamamu.

Aku bodoh? Tidak, aku tidak bodoh karena itulah cinta yang tulus.

Tapi setulus-tulusnya cinta, serela-relanya sayang, pasti ingin juga terbalas yang sama. Engkau pun tahu itu. Dan usahamu menjauhiku berjalan mulus tatkala engkau merantau ke luar kota. Sebagai wanita muda yang terjangkit asmara, siang dan malam selalu kutunggu engkau berkirim kabar berita. Namun yang kudapat hanya hampa dan hampa.

Aku mengutuk diriku sendiri yang terus mengharapkanmu, yang terus saja melukaiku. Meninggalkan jejak luka. Menggoreskan kenangan yang menguras air mata. Engkau, yang dengan sengaja dan sadar mematahkan hati yang segar bugar.

Tahun-tahun berlalu.

Kemarau dan hujan datang bergantian. Menghapus jejak, menghapus luka. Aku telah tumbuh menjadi wanita dewasa. Wanita yang telah berkeluarga. Ya, pada akhirnya hidupku baik-baik saja meski tanpamu. Aku masih bisa menjalani hidup meski tak bersamamu, dan ya, aku bahagia tanpa kehadiranmu. Andai aku tahu pada waktu itu aku hanya butuh sedikit keberanian untuk pergi darimu, mungkin aku takkan terluka terlalu dalam. Tersakiti terlalu lama olehmu.

Ketika sebuah tantangan pajang foto mantan demi sederet angka ribuan di bawah postingan datang, aku tertawa.

Pastinya engkau tahu kan, bahwa telah lama kukubur nama kita di masa lalu. Telah kupastikan bahwa rasa asin masakan yang kusajikan untuk suamiku bukanlah dari air mata mengenangmu. Sudah kupastikan pula bahwa kasih sayang yang kuberikan padanya telah terbebas dari unsur-unsur dirimu. Kuyakinkan bahwa engkau hanyalah sebagian kecil dari besarnya masa lalu. Bahkan sangat kecil.

Jadi jangan engkau cari fotomu di akun facebook milikku. Tak usah engkau berharap aku menggunakannya sebagai foto profil. Jangan engkau tunggu, sampai kapan pun. Karena aku hidup di masa sekarang, dan masa depan. Kini, ada hati-hati yang mesti sama-sama kita jaga kan?

Tak usah sakiti mereka dengan hal tidak penting. Sepakatlah kita untuk saling bergerak maju layaknya benda langit yang memiliki orbitnya masing-masing. Aku tak sudi melukai suami, hanya demi sederet angka yang bahkan tak mendatangkan manfaat apa-apa. Dan kalau pun aku berkesempatan mendapat angka-angka fantastis di bawah postingan, aku berharap itu adalah postingan yang mengajak pada kebaikan. Atau postingan jualanku agar aku tetap bisa menambah koleksi gincu. Lalu jadi cantik dan menarik bagi suamiku, tanpa maksud untuk mencipta sesal di hatimu.

Semua yang sudah berlalu biarlah berlalu.

Dear Mantan,

Kita bukan lagi remaja yang labil dan suka latah ikut-ikutan. Malu sama umur dan uban. Kalau kita logam, mungkin sudah karatan atau andai kita kayu mungkin sudah lumutan. Sudah tidak patut mengikuti hal kekinian. Lebih baik kita berkarya nyata, buktikan bahwa kita bisa jadi manusia yang lebih baik dari versi kita di masa muda.

Oh, iya, kalau masih mau mencari fotomu, mungkin engkau pikir aku bisa berubah pikiran, larilah pada istrimu. Peluk dan minta maaflah padanya. Jangan lupa minta ampun pada Allah Ta’ala. Jangan sampai kita menjadi manusia dzolim yang kerap menoreh luka.

Oleh: Arwen C.T.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: