Tangan halus dan suci

T’lah mengangkat tubuh ini

Jiwa raga dan seluruh hidup

Rela dia berikan

Aku mengusap lagi genangan di sudut mata. Mendengarkan lagu Bunda selalu berhasil membuatku haru. Seperti hari-hari yang lalu pun, setiap aku mendengar Melly Goeslaw menyatakan rasa cinta kepada makhluk Tuhan satu itu, air mataku tak terbendung. Dada ini laiknya menahan buncahan. Banyak sekali buncahan perasaan yang ingin keluar dari sana.

Ingin rasanya aku langsung memeluk beliau saat lagu itu diputar. Setiap kata yang terucap dalam lirik, mengingatkanku akan kenangan-kenangan masa lalu.

Pikirku pun melayang …

Ibu adalah sosok tegas yang ngangenin. Walau sebenarnya, saat aku bertemu dengannya secara langsung, rasa canggung yang muncul. tapi di saat aku dan beliau berjauhan, kenangan-kenangan tentang beliau memenuhi otakku.

Energik, aktif, mandiri, dan kuat adalah ingatanku tentangnya. Terkadang memang berasa sekali tekanan saat aku membandingkan diriku dengan Ibu. Kok aku tak seaktif beliau, kok aku tak bisa secemerlang prestasinya, dan beragam ’kok’ pernah menenggelamkanku. Setelah banyak berpikir dan mengalami banyak hal, aku bersyukur. Aku bisa mengenali diriku sendiri dengan baik sembari mengenali Ibu.

Aku ingat, pernah Ibu bercerita di detik-detik kelahiranku. Seorang dokter memvonis bahwa beliau harus segera dioperasi. Setelah sekian lama Ibu merasakan kontraksi yang menyakitkan, akhirnya beliau dirujuk ke rumah sakit oleh bidan yang menangani. “Kamu sulit lahir karena posisi sungsang,” begitu kata Ibu. Kepalaku masih di atas dan kakiku menekuk.

Kedua lutut itu menutupi jalan lahir. Sebelumnya, Bu bidan menyangka bahwa aku adalah kembar. Kedua lututku terlihat seperti dua kepala bayi. Ibu yang terengah-engah menahan rasa sakit sudah tak bisa berpikir. Beliau lebih memilih untuk membawaku ke rumah sakit agar aku tertolong. Padahal, saat itu Bapakku, suami beliau, belum datang.

Jika dipikir lagi, Ibuku sangat keren saat itu. Aku tahu kekerenan itu adalah demi aku. Ibu pasti berjuang agar beliau lahiran normal. Wanita yang melahirkan dengan operasi caesarian biasanya kembali normal dalam waktu lama. Aku saja yang mengalaminya harus memakan waktu 2 hari hanya untuk berjalan dari ranjangku ke kamar mandi.  Itu pun dengan menahan rasa sakit.

Aku paham, Ibu ingin cepat merawatku dengan tangannya. Beliau tak ingin melewatkan waktu menimang dan menyusuiku. Ada sesuatu yang tak kau tahu jika belum menjadi ibu. Rasa bangganya memiliki malaikat kecil bernama buah hati adalah keajaiban. Dari dalam perut ibu, seorang manusia dititipkan Allah. Tumbuh dan terus tumbuh seiring waktu berlalu.

Ah, tak terasa air mataku terus mengucur. Menuliskan cerita-cerita Ibu ini, hanya ada haru dan haru. Hei, siapa sih yang menaruh bawang di sini?

Aku yang lahir di rumah sakit hari itu membuat semua orang gembira. Ibu, Bapak, Mbah Kakung serta Putri, dan semua keluarga. Aku lalu dibawa pulang ke rumah Mbah. Di sanalah aku dirawat.

Aku ingat, ibu juga pernah bercerita tentang masa kecilku. Karena keluarga kami sedang berada dalam kesulitan, ibu selalu punya akal untuk kesehatanku. Biasanya, para bayi akan selalu dimandikan dengan air hangat suam kuku. Merebus airnya dahulu dan saat panas, air akan dicampur dengan air dingin. Taraaa … jadilah air mandiku.

Tapi tidak. Bukan begitu ibuku membuatnya. Sebuah bak besar berisi air akan ibu bawa ke luar halaman. Sinar mentari pagi akan menyapanya.

“Hai bak dan air, hari ini kalian sudah bersiap?” Sang mentari menyapa dari kejauhan.

Bak dan air mengerjap-ngerjapkan ‘matanya’. Mereka mengiyakan. Maka, dimulailah tugas mentari. Menghantarkan kehangatannya ke semua penjuru bumi. Air dalam bak juga salah satunya. Jika air sudah menghangat, Ibu akan sigap memandikanku di dalamnya.

Too good to be my mommy, right? Hehehe.

Masa-masa itu, aku memang tak mengingatnya. Namun, mendengarkan cerita dari Ibu, membuatku bisa membayangkan seperti apa saat itu. Walau jujur, saat aku mendengarnya pertama kali, tak seantusias sekarang ini. Saat aku sudah punya bayi.

Selain bak dan air hangat, Ibu juga bercerita saat aku terperosok ke dalam tanaman salak. Punggung dan pantatku terkena duri. Aku menangis sejadi-jadinya. Ibu hanya bisa memarahiku karena penyesalannya tak bisa menjagaku. Ya, saat itu aku sudah punya adik. Aku mengikuti Ibu ke kebun. Ibu menggendong adikku dan tak tahu aku sudah berada di belakangnya.

Hihihi. Jika teringat lagi kejadian itu, aku rasanya ingin tertawa sejadi-jadinya. Ah, dasar bocah kecil ini. Kok bisa-bisanya jatuh di duri-duri tanaman salak. Rasanya tak ingat, bagaimana sakitnya saat itu. Ibulah yang mencabuti satu per satu duri yang tertancap. Hiii, ngilu juga membayangkannya.

Setelah remaja, hubungan kami terasa renggang. Ibu yang menjadi guru sekolah dasar, lebih banyak mengurus pekerjaannya. Beliau juga mengambil S-1 Pendidikan Sejarah. Semakin sibuklah beliau, semakin jarang kami bercengkerama. Aku berada dalam masa puber. Aku pun lebih nyaman bersama teman-temanku.

Aku ingat, di mana Ibu selalu melarangku keluar pagi saat libur. Ya, aku dulu bertemu pujaan hati saat subuh menyapa. Sudah jadi kebiasaan remaja di desaku bertemu teman dan teman dekat (ehem!) saat lari pagi.

Aku yang bandel, tetap saja mendapatkan berbagai cara agar bisa keluar rumah. Entah kenapa, rasanya sesak tinggal di rumah saat itu. Hanya diceramahi dan tak pernah didengar pendapatku. Tiap pagi di hari libur adalah masa perangku dengan Ibu. Trikku adalah mengunci pintu kamar dari dalam agar tarikan gembok dari luar tak berfungsi. Ya, pintu kamarku memang bisa digembok dari luar dan ini trik Ibu agar aku tidak bisa kabur. Hahaha.

Puncak perang kami adalah pada suatu pagi di masa lalu. Aku kabur karena sudah janjian dengan teman dekatku. Kami memang sudah biasa meninggalkan pesan SMS di malam hari untuk bertemu di depan terminal. Nantinya, kami akan lari pagi dari sana sampai desa tetangga.

Kali ini, Ibu tak lagi melarangku keluar. Namun, hal lain yang lebih memalukanku. Ibu dan juga Bapakku mengikuti kami diam-diam dengan mobil. Bak detektif jadi-jadian, Ibu mengamati kami dari belakang. Lalu, saat keadaan sepi. Ibu turun dan menyeretku pulang!

“Pulang!” Wajah Ibu semakin garang dan aku pun tak berani menatapnya lagi. Temanku hanya nyengir-nyengir tak karuan dan meminta maaf. Sedetik kemudian pergi meninggalkan suasana perang ini. Di dalam mobil, aku diceramahi habis-habisan.

“Kalau nyari pacar tuh yang selevel dong. Lihat status sosial mereka. Kamu juga jadi suka membantah dan bla bla bla.” Aku hanya mendengarkan dengan pasif. Saat itu, rasa marahku terendap. Aku hanya bisa melemparkan rasa cuek. Tak terima dengan semua alasan Ibu, tapi aku tak bisa juga mengelak.

Hubunganku dengan teman dekat tadi kandas beberapa lama setelahnya. Aku tak tahu sih alasan pastinya apa. Mungkin dia takut sama Ibu, atau mungkin ada hal lain yang membuatnya tiba-tiba memutuskanku. Ah, entahlah. Saat itu, aku juga tidak bisa berbuat banyak.

Ya, saat itu Ibu memiliki pengalaman mengasuh remaja pertama kalinya. Betapa kalutnya beliau jika aku menjadi nakal. Tapi, zaman itu tak sehebat sekarang dalam mencari info parenting. Ilmu pengasuhan turun temurunlah yang menjadi jurus beliau.

Membentak, mengancam, menyakiti dengan kata-kata adalah hal yang orangtuaku bisa lakukan. Demi anak-anaknya, demi masa depan aku dan adik-adikku. Ya, aku pernah mengalami rasa tak terima dengan semua pengasuhan mereka.

Sebenarnya, hubungan kami baik-baik saja. Hanya saja ada beberapa sifat kami yang sama. Keras kepala. Jadi, saat aku tak terima tentang apa yang Ibu lakukan kepadaku, di sisi lain Ibu pun merasa semua itu demi aku. Tak ada yang mau mengalah dan mendahului untuk saling memahami.

Hanya saja, semakin dewasa, aku selalu tercerahkan dari pengalaman banyak orang dengan para ibunya. Tak jarang sih, rasa iri dan dengki menyelimuti diri saat mereka membicarakan tentang kebaikan ibu masing-masing. Merasa bahwa, kok ibuku tidak sebaik ibu mereka. Lalu ada masa terpuruk lalu menyalahkan orang lain. Menyalahkan Ibu yang dulu mengasuhku dengan tak becus. Astaghfirullah.

Oh, Bunda

Ada dan tiada dirimu

Kan selalu ada di dalam hatiku

Lirik lagu Bunda terakhir adalah bagian paling menyayat. Tiada dirimu, adalah kalimat yang membuatku luluh. Memang, apa jadinya aku kalau tidak ada Ibu? Kenapa aku sangat sombong selama ini? Kenapa aku hanya mementingkan perasaanku saja?

Setelah kupikir-pikir, sebenarnya aku dan Ibu adalah dua orang perempuan yang sama-sama tersakiti. Ya, kami tersakiti dengan cara kami memperlakukan satu sama lain. Hanya saja, aku tak mau terus menerus seperti ini. Ibu adalah orang yang selalu ada untukku, bahkan di saat aku jatuh dan tenggelam.

Ibulah yang selalu memaafkanku meski sebenarnya beliau pun sangat terluka atas beragam kesalahanku. Ibulah yang selalu mengalah saat aku meminta dimengerti oleh semua pilihan hidupku. Bahwa Ibu adalah orang yang menguatkanku dengan semua kata-kata nyelekit-nya. Menyadarkanku bahwa aku tak bisa menyandarkan kepala di bahu beliau selamanya.

Maafkan atas semua salahku, kenakalanku, sikap burukku, bantahanku, rasa marahku dan banyak lagi yang tak bisa kusebutkan, ya Bu? Maaf banget ….

Aku sayang Ibu.

Oleh: Dhita Erdittya.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: