cara belajar hidup yang tepat

Tentang Sabar dan Batasan-Batasannya

Sejatinya, sabar tak mengenal batas. Kita saja yang lalu mengatakan, “Sabar sih iya, tapi sampai kapan, suatu hari juga mentok pada batasnya.”

Di al-Qur’an itu, ada dua model pengajaran sabar.

Pertama, jika kita disakiti orang, didzalimi, bersabar dan memaafkan jauh lebih mulia di mata Allah ketimbang melakukan pembalasan, termasuk atas nama qishas. Ayatnya banyak ini.

Kedua, setahu saya ayatnya ada dua yang sejenis ini, “Apakah engkau menyangka akan mendapat surga Allah padahal Allah belum mengetahui perjuangan kalian dan juga kesabaran kalian.”

Tentu maksud “Allah belum mengetahui” tidak bermakna tekstual, sebab Allah bahkan tahu apa yang terbetik dalam hati.

Ia seyogianya kita maknai ketakterbatasan sabar itu. Bahwa apa yang telah kita sebut kesabaran, boleh jadi “belum dilihat” oleh Allah sebagai kesabaran. Setebal apa pun, sejauh apa pun kita telah memancangkannya.

Ini pertanda adanya dorongan dari Allah kepada kita untuk luas seluasnya dalam hal sabar, sampai tak kelihatan lagi batasnya saking luasnya.

Lalu, kita saja yang menjadikannya berbatas. Kita membangun tembok pembatas kesabaran itu dengan bata-bata hawa nafsu. Betul, gelombang hawa nafsulah sejatinya yang menyebabkan kita memiliki batasan sabar.

Entah itu kita sebut martabat, hak, kebenaran, atau apa sajalah.

Semua tembok yang bersumber dari hawa nafsu itu hanya akan membuahkan keburukan (su’). Sebab hawa nafsu adalah sumber segala keburukan. Surat Yunus bilang, sesungguhnya hawa nafsu menyeru kepada keburukan.

Semakin tebal dan julang tembok pembatas sabar kita, ia sejajar dengan semakin tebal dan julang pulalah hawa nafsu yang menggelegaki jiwa kita. Maka kita merasa sangat sempit, makin sempit dan sesak, justru karena kitalah yang menggencet diri sendiri dengan tembok-tembok hawa nafsu itu. Kita lah yang membuat hidup kita sendiri sesak sendiri. Sungguh aneh ….

Di tempat seluas apa pun, jika kita tengah diam-diaman, marah-marahan sama orang lain akibat kita menggelorakan hawa nafsu, sungguh tempat itu jadi terasa sesak dan sempit. Keluasan hidup tidak dimiliki oleh mereka yang mengobarkan hawa nafsu.

Sebaliknya, semua jadi luas dan jembar dan ringan bila tembok-tembok itu tak dibangun. Tiadanya pembatas pada dirinya menyebabkannya mampu memandang keluasan jagat raya ini dengan sangat leluasa. Kesabaran yang tak berbatas, dengan kata lain, adalah kunci bagi kejembaran hidup kita.

Dan, untuk bisa begini, untuk senantiasa mampu menumbangkan hawa nafsu, hanya iman yang haq belaka yang mampu menjadi fondasinya. Tidak yang lainnya, termasuk asas rasionalitas dan bahkan kemanusiaan.

Hanya iman mutlak kepada-Nya bahwa segala apa pun yang terjadi, termasuk yang menuntut kesabaran hebat, adalah hanya mungkin terjadi atas izin-Nya untuk terjadi. Sebab semua atas izin-Nya, dan kita iman mutlak pada-Nya, lantas alasan logis apa gerangan yang membenarkan kita untuk berkeberatan lagi?

Logis bila para salik berkata, “Orang yang telah meraih kelezatan iman, maka dunia seisinya telah sepenuhnya berada dalam genggamannya.”

Oleh: Edi Ah Iyubenu.

Ilustrasi dari sini.

Tinggalkan Balasan