“Itu suara mobil Bu Inong, Ka. Aku berangkat sekarang aja deh.”

Tadinya aku masih mau duduk-duduk, setidaknya sampai pisang goreng buatan Mama habis kulahap. Namun, kedatangan Bu Inong selalu berhasil mengusir bisikan–nanti saja–di telingaku. Bisikan yang dampaknya melebihi suara teriakan Mama. Apalagi, saat Mama membangunkanku dari tidur.

Bu Inong itu sahabat Mama. Mereka bersahabat sejak Mama melahirkan Kak Riska, kakakku yang cantik nan lemah lembut itu. Kata psikolog, persahabatan yang berumur lebih dari 10 tahun akan langgeng sampai maut memisahkan. Aku pun meyakini itu akan terjadi pada persahabatan mereka.

Terlebih, keduanya sudah berencana menjodohkan kakakku dengan anak bungsu Bu Inong, Ardan. Rencana ini akan turut mengekalkan hubungan dua emak-emak aktif ini. Namun, rencana ini tak membuatku cukup antusias. Bukan karena aku menentang perjodohan dua insan itu. Tapi ini karena Bu Inong.

Entah apa sebabnya, aku merasa ada jarak antara aku dan Bu Inong. Dia lebih sering memberiku saran ini dan itu. “Indah, kamu itu anak gadis, jangan keluar rumah terus, nanti kamu item, nanti kamu kena pengaruh jelek, nanti kamu …” Tapi, untuk urusan ngobrol, jalan-jalan, makan bareng, ia lebih sering memilih kakak daripada aku. Bu Inong memang suka sosok anak yang lembut, tapi bukan berarti anak berkarakter sepertiku itu tidak baik.

Karena itulah aku tidak terlalu menyukainya. Bahkan aku pernah mengubah namanya jadi “Bu Jenong”. Tapi itu dulu, waktu aku masih kecil. Saat aku tidak bisa mengelak dari kehadirannya. Beranjak dewasa, aku mulai bisa memilih aktivitasku sendiri. Sejak saat itu aku jadi tidak terlalu sering berinteraksi dengannya.

Lain cerita dengan Ardan. Dia teman bermainku sejak kami masih sama-sama balita. Akulah yang mengajarinya memanjat pohon, trik menang main kelereng, nyetir motor, makan bakwan dengan taburan kaldu ayam dan banyak lagi. Ardan memang anaknya pemalu, berkebalikan denganku yang kata Mama over confident. Kami pun bersahabat sampai usia remaja. Lebih tepatnya sampai Ardan dijodohkan dengan Kak Riska. Entah kenapa sejak saat itu ada rentang jarak di antara kami.

***

 “Ndah … kira-kira Kak Riska mau nggak sih dijodohin sama Ardan?”

Tiba-tiba Mama nanya sesuatu yang menurutku tak perlu dipertanyakan lagi. Apalagi yang Mama ragukan dari “kesepakatan” yang sudah diulang-ulang dalam semua percakapan keluarga kami?

“Loh, Mama ko nanya begitu? Memangnya kenapa, Ma?”

Bagiku, Kak Riska itu memang jodohnya Ardan. Meski kakakku dua tahun lebih tua, karakter mereka itu seperti botol dan tutupnya, pas! Ditambah lagi kegigihan Bu Inong menjadikan Kak Riska menantunya. Bukan hanya keluarga kami yang “merestui” rencana ini, tapi juga segenap warga RT, RW, bahkan semesta juga turut mendukung. He-he-he

“Nggak apa-apa, Ndah. Biasa, Mama kadang kepikiran aja.”

Kepikirannya seorang ibu bukan hal yang bisa digampangkan begitu saja. Mama memang sering seperti itu. Kadang Mama tiba-tiba merasa insecure dengan sesuatu. Meski tak jarang, itu adalah firasat yang paling akurat dan terbukti kebenarannya.

Ah, sudahlah. Sampai sekarang pun aku melihat segalanya masih berjalan baik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan berlebihan. Pun Kak Riska juga tak pernah mengeluh pada kami. Bertahun-tahun disematkan  namanya sebagai calon istri Ardan, Kak Riska tak pernah sekali pun menyatakan keberatan.

***

Gempa berkekuatan 7,5 SR mengguncang Palu

Kabar bencana bukan hanya mengagetkan keluargaku, tapi juga akan membuat Mama was-was berkali lipat. Bagaimana tidak, di saat seperti inilah, aku akan merajuk untuk mendapatkan restunya berangkat ke lokasi bencana.

“Ma, ada panggilan kemanusiaan. Indah izin ke Palu ya, Ma? Mama cantik, Mama baik deh.” Sambil melingkarkan tanganku di lengan Mama, aku berubah jadi anak manja yang tatapan matanya mengandung rayuan maut.

“Dek, itu kan parah di sana. Mama ngeri Dek lihat beritanya. Mana ada penjarahan. Duh, Mama nggak mau kepikiran terus nanti.”

“Ayolah, Ma … Kan Indah ke sana sama lembaga, Ma.“ Belum selesai aku merajuk, Papa tiba-tiba mendatangi kami.

“Ma … Memangnya apa yang harus Mama khawatirkan? Semuanya kan sudah diatur sama Allah. Biarlah Indah ambil perannya jadi manusia bermanfaat. Ya, lewat ini, jadi relawan. Kalau Mama kan ambil perannya jadi bidadari Papa. Jadi ibu dari dua anak yang cantik dan baik hatinya. Ya kan, Ma?” Sungguh apa yang baru saja kudengar adalah rayuan terbaik Papa. Dan rayuan itu membuat Mama beringsut, malu-malu dan memerah pipinya.

“Ah, Papaaaaaaa. Bisa banget ih. Emang Si Indah udah nyuap Papa pake apa sih?”

“Oh … Itu rahasia kami, Ma.” Kami pun akhirnya tertawa bersama, hingga akhirnya aku mendapatkan izin dari keduanya.

Keesokannya aku berangkat ke Palu bersama tim relawan Dompet Dhuafa. Sejak tergabung menjadi relawan, ini sudah kali ketiga aku terjun ke lokasi bencana. Pertama, gempa Cianjur awal 2018, lalu gempa Lombok Agustus 2018 dan sekarang gempa dan tsunami Palu.

Kali ini aku diminta untuk support tim PFA (Psychological First Aid). Tugas dari tim ini adalah membantu mengurangi trauma para korban bencana. Tak bisa dipungkiri, kejadian bencana yang mendadak, memakan banyak korban jiwa dan menyebabkan kerusakan berpotensi mengguncang jiwa para penyintas bencana. Jika tidak ditangani segera, ini bisa memicu stres dan gangguang jiwa penderitanya.

“Ndah, kamu sama Iyut jemput tim PFA dari pusat ya.” Komando lapangan memberi tugas kepada masing-masing relawan setelah briefing.

Sesampainya di Bandara Sis Al-Jufrie, Palu, aku dikejutkan dengan sosok yang melempar senyum ke arahku.

“Assalamu’alaikum, Ndah.”

“Wa’alaikumsalam, Dan. Lho, ko kamu ada di sini?”

Aku bertemu Ardan. Dia salah satu tim relawan psikolog yang kami jemput. Belum tuntas penasaranku reda, Kak Iyut langsung mengarahkan kami bergegas masuk ke mobil. Di sepanjang jalan aku pun tak bisa banyak bicara dengan Ardan. Kami sibuk diskusi tentang kondisi lapangan, posko, pengungsi dan hal-hal terkait aktivitas respon bencana.

Sesampainya di Posko Sigi, Tim PFA langsung bersiap menyapa para pengungsi. Baru kali ini aku melihat Ardan di lokasi yang tidak pernah kubayangkan. Aku tahu dia lulusan Psikologi, tapi aku tidak pernah tahu dia mau terjun ke lokasi bencana seperti ini. Aku jadi ingat, Bu Inong sering wanti-wanti kalau aku ke lokasi bencana. Apa Bu Inong sekarang sudah berubah pikiran? Atau Ardan yang mulai berani melawan Ibunya? Aku begitu penasaran, ingin mendengar langsung darinya.

Langit di Kota Sigi bertabur abu-abu, mendung membawa serta tiupan angin yang menggoyahkan tenda-tenda pengungsi. Ardan pun segera memulai aksinya, mengajak anak-anak bermain, bercerita, tertawa bersama. Sosok yang kulihat, rasanya bukan Ardan yang kukenal. Ardan yang pendiam dan pemalu berubah jadi sosok yang kuat dan ceria.

***

Tiga hari kemudian

Hari ini Ardan sudah harus pulang. Selama tiga hari ini, kami seperti sedang reuni. Banyak cerita yang terungkap. Semua hal yang kami simpan di rentang jarak tercurah di sela aktivitas kami sebagai relawan. Rasanya seperti punya sahabat baru dengan wajah lama. Persahabatan kami pun tersegarkan kembali.

“Hati-hati ya Ndah, tetap jaga kesehatan. Jangan banyak minum es, banyakin air putih. Kalau tidur dipake sleeping bagnya.” Pesan Ardan sebelum meninggalkan Palu.

“Iya … Iya … Berasa ada Bu Inong di sini, deh. He-he-he.”

Tujuh hari kemudian

Hari ini aku kembali ke rumah. Tugasku di posko digantikan relawan yang lain. Lega rasanya sudah mencurahkan semua tenaga dan pikiran untuk membantu orang lain. Kini, PR selanjutnya adalah mengurus toko onlineku yang sempat terbengkalai.

Aku sudah sampai di rumah. Kulihat mobil Bu Inong sudah di depan pagar. Pasti aku akan ditanya ini itu. Mau gimana lagi, aku nggak bisa ke mana-mana.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam.”

Ternyata bukan hanya Bu Inong, ada Ardan dan kakaknya juga di rumah kami. Mereka semua tersenyum kepadaku. Bahkan Bu Inong juga mengembangkan senyum manis dan menyambutku dengan pelukan hangat. Rasanya ada yang aneh, kataku dalam hati.

Mama langsung menyuruhku mandi. Mereka seakan sedang menungguku. Mereka sangat mencurigakan.

“Sini, Ndah, duduk.” Papa memintaku duduk di sofa, di antara mereka semua yang sudah duduk rapi.

Setelah berbasa-basi dan berbincang tentang aktivitasku dan Ardan di Palu, Papa memasang mimik serius.

“Jadi gini, Ndah, ini Bu Inong dan keluarga di sini bersama Ardan bermaksud untuk melamar kamu.”

Seketika aku merasa ada gempa lokal di pikiran dan hatiku. Kenapa bisa jadi begini? Ardan melamarku? Bagaimana dengan Kak Riska? Apa yang sudah terjadi?

Dan semua pertanyaan itu terjawab dengan kejujuran Kak Riska, pengakuan Ardan, pelukan Bu Inong, firasat Mama dan petuah Papa. Kak Riska akhirnya bilang bahwa selama ini dia tidak menyukai Ardan. Dia menyembunyikan perasaannya karena takut melukai hati kami. Ardan pun sama. Dia bahkan sudah menyukaiku sejak lama.

Sepulang dari Palu, Ardan memutuskan untuk memberitahu Ibunya dan keluargaku. Bagi Mamaku, ini adalah jawaban dari keraguannya. Bagi Papaku, ini adalah takdir Allah yang indah. Papa selalu bisa melihat segala sesuatu dari segi positifnya. Bagi Bu Inong, ini mengejutkan, tapi kebahagiaan anaknya tetap nomor satu. Dia menerima ini semua dengan lapang dada.

“Bismillah … Jika Mama dan Papa juga sudah setuju, Indah juga menerima lamaran ini. Tapi, Indah minta satu hal, tolong terima Indah apa adanya, insyaallah Indah akan lakukan yang terbaik untuk jadi istri Ardan.”

Kalimat itu terucap, mengikuti perintah dari hati. Aku ingin melepas semua riuh “kekecewaan” yang pernah singgah menggangguku. Aku ingin menuntaskannya di awal. Perasaan diperlakukan berbeda oleh Bu Inong, prasangka burukku selama ini dan sekaligus aku ingin berkata, “Kelak, jangan bandingkan aku dengan Kak Riska.”

Aku berusaha tetap tenang setelah mengucapkannya, meski hatiku bergetar hebat. Lalu kulihat ekspresi Ardan dan Bu Inong di depanku. Mereka semua tersenyum dan Ardan pun mengangguk pelan, tapi begitu yakin. Ah, lega sekali rasanya.

Pertemuan sakral ini pun berakhir dengan pelukan erat antara aku dan Bu Inong. Aku membisik kalimat ini di telinganya, “Bu, maafkan Indah ya selama ini kurang baik sama Ibu.” Ia pun membalasnya, “Ndah, Ibu itu sayang banget sama kamu. Ibu juga minta maaf ya, Ndah.”

***

Oleh: Mariana Suci Swastika.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: