“Adara …,” seketika lamunanku terusik. Aku pun menoleh ke arah datangnya suara itu.

“Ibu …, ada apa bu?” tanyaku sambil menatap wajah wanita yang rambutnya sudah mulai memutih itu.

Sejak kematian ayah satu tahun yang lalu, aku hanya tinggal berdua dengan ibu. Kakakku sendiri sudah menikah dan tinggal bersama istrinya di Bandung. Ibu sangat berperan penting dalam hidupku, terutama setelah kecelakaan itu. Aku sangat terpukul dan frustasi setelah dokter memvonis kakiku lumpuh total.

Aku tidak punya semangat hidup. Bahkan gelar Sarjana Desain pun aku anggurkan, karena aku hanya bisa jadi penghuni kursi roda ini. Semangatku sedikit demi sedikit kembali. Semua itu berkat ibu yang tidak pernah lelah menyemangatiku dan mengajariku tentang arti bersyukur.

“Ada Mas Banyu di luar. Dia datang bersama kedua orang tuanya,” aku kaget bukan kepalang mendengar perkataan ibu.

“Banyu? Banyu teman kuliahku dulu, bu? Aku berusaha menebak-nebak, karena seingatku aku hanya punya satu teman yang bernama Banyu, yaitu teman kuliahku dulu.

“Iya … ayukk keluar. Kasian, sudah lama menunggu,” ajak ibu sambil mendorong kursi rodaku.

Aku hanya bisa mengangguk dan membiarkan ibu mendorong kursi rodaku. Ibu membawaku ke ruang depan.

Aku bersalaman dengan kedua orang tuanya sambil memperkenalkan diri. Mereka tersenyum kepadaku dan aku biarkan ibunya menggenggam erat tanganku. Aku bisa merasakan kehangatan keluarga ini walaupun baru pertama kali bertemu. Sama halnya pada saat aku berkenalan dengan Banyu dulu.

Dia sosok laki-laki yang humble dan ramah. Selama 4 tahun dia sudah menjadi sosok teman yang luar biasa. Dia sering membantuku dalam banyak hal. Bagiku dia seperti sosok ayah yang selalu melindungi anaknya.

Hari ini, aku dibuat kaget dengan kedatangannya. Selama satu tahun aku tidak bertemu dengannya. Dia seperti menghilang di telan bumi, dan sekarang dia ada di sini secara tiba-tiba.

Ibu pun akhirnya bercerita, ibunya Banyu itu ternyata teman ibu dulu sewaktu SMA. Banyu juga tidak pernah cerita soal hal ini, karena ternyata dia juga baru tahu sekitar 2 bulan yang lalu. Ibu sudah cerita banyak hal kepada ibunya Banyu tentang keadaanku sekarang. Pantas saja Banyu tidak kaget saat melihat kondisiku yang hanya bisa terpaku diatas kursi roda ini.

“Maksud kedatangan kami ke sini, yang pertama adalah silaturahmi dengan keluarga ibu, yang kedua kami ingin melamar Adara untuk anak kami, Banyu,” jelas ayahnya mengutarakan maksud kedatangan mereka.

Sontak aku kaget dibuatnya. Aku menunduk. Hati dan pikiranku seketika dibuat kacau dengan pernyataan ayahnya Banyu.

“Terima kasih sekali bapak dan ibu sudah berkenan silaturahmi di gubug kami. Dan untuk maksud yang kedua, saya serahkan semua kepada Adara, karena dia nantinya yang akan menjalaninya,” ucap ibu sambil meremas lembut tanganku.

“Bagaimana nak Adara? Apa kamu bersedia menjadi istri Banyu?” Pertanyaan itu membuatku tertunduk. Jujur saja aku belum mempunyai jawaban untuk pertanyaan itu.

Aku sangat kaget dengan semua ini. Ibu tidak pernah cerita apapun sebelumnya. Bahkan ibu juga tidak pernah cerita soal Banyu. Memang dulu Banyu sering main ke rumah bersama teman-teman saat kami masih kuliah. Setelah kami lulus kuliah, aku tidak pernah tahu di mana rimbanya. Dan sekarang, dia tiba-tiba datang untuk melamarku. Aku merasa seperti mimpi di siang bolong.

“Bolehkah saya berbicara empat mata dengan Banyu?” tanyaku pelan.

Akhirnya Banyu membawaku keluar ruangan setelah kedua orang tuanya mengijinkan aku berbicara dengannya. Dia mendorong kursi rodaku ke arah taman di belakang rumah. Di sana luas dan banyak tanaman menyejukkan mata, dengan harapan aku bisa berpikir jernih dan mengambil keputusan yang tepat.

Banyu berhenti tepat di depan kursi ayunan yang terbuat dari kayu. Dia duduk di kursi itu dan menghadap ke arahku. Hatiku berdebar tidak karuan, karena aku belum pernah menghadapi situasi seperti ini sebelumnya.

“Sekarang kita sudah di sini, bicaralah dan sampaikan semua yang ingin kamu sampaikan,” tatapan matanya begitu teduh. Rasanya aku tidak ingin berpaling, tetapi aku tidak ingin terlena dengan tatapan itu. Segera aku mengalihkan pandanganku.

“Setelah lulus kuliah, satu tahun yang lalu, aku tidak pernah tahu di mana keberadaanmu, dan sekarang? Kamu datang bersama kedua orang tuamu untuk melamarku. Jujur, aku kaget dan tidak menyangka. Apa semua ini bukti belas kasianmu padaku atas apa yang menimpaku?” Aku masih tidak berani menatap matanya.

“Semua ini tidak seperti yang kamu pikirkan, Dara. Aku harap kamu tidak salah menilai,” jelasnya dengan sangat tenang.

Suasana seketika hening. Aku pandangi bunga Cosmos yang berjejer di dekat kolam ikan. Warna kuningnya seakan bisa mengalihkan pikiranku sejenak.

Banyu memang bukan orang asing bagiku. Empat tahun bersamanya membuatku hafal betul dengan sifat baik dan buruknya dia. Laki-laki yang penuh perhatian dengan semua teman-temannya, tidak terkecuali aku.

Dia tipe laki-laki yang tenang dan tidak emosional. Bisa dikatakan, Banyu bisa menguasai dirinya sendiri dengan baik. Dia pun bisa menjadi pendengar yang baik untuk teman-temannya.

“Aku ingin kamu mengurungkan niatmu itu,” jawabku pelan sambil menundukkan kepala. Aku tidak sanggup melihat wajah yang penuh harap itu.

“Kenapa, Dara? Apa niatku tuk menikahimu itu sesuatu yang salah?” Dia menatap mataku dengan tajam, seakan berusaha meyakinkan hatiku bahwa dia serius dengan apa yang sudah diniatkannya.

“Kamu lihat keadaanku sekarang. Aku sekarang pesakitan, aku lumpuh seumur hidup! Aku tidak mau menjadi beban seumur hidupmu!” Tak kuasa air mata pun menetes dengan derasnya.

Diambil sapu tangan berwarna abu dari dalam sakunya dan diberikannya kepadaku. Aku usap air mataku sambil kuhirup aroma woody yang muncul dari sapu tangan itu, membuat pikiranku kembali tenang.

Banyu terus meyakinkan hatiku bahwa dia benar serius ingin menikahiku. Dia tidak peduli bagaimana keadaanku saat ini. Diberikannya sebuah kotak berwarna merah jambu yang sudah dihias sedemikian cantiknya. Aku tidak menyangka dia bisa bersikap romantis seperti itu.

Aku buka pelan dan kutemukan sebuah album foto di dalamnya. Album itu berisi foto-fotoku yang dia ambil secara candid. Melihat semua itu aku seperti napak tilas, mengingat kenangan semasa kuliah dulu. Aku yang masih bisa berjalan ke mana pun aku suka. Tidak seperti sekarang ini, aku menjadi majikan kursi roda ini.

Aku buka halaman demi halaman album itu. Aku merasa lucu melihat foto-fotoku yang aku sendiri tidak tahu kapan Banyu mengambil semua itu. Sampailah aku pada halaman terakhir di album itu. Mataku terbelalak membaca tulisan yang ada di halaman terakhir itu:

Aku mencintai ketidaksempurnaanmu.

Jika aku tahu kau sempurna, maka aku tidak pantas mencintaimu, karena aku tidak sempurna.

Will you marry me?

Seketika air mata mengalir deras di pipiku, aku tidak bisa berkata-kata lagi. Laki-laki di depanku ini benar-benar menunjukkan keseriusannya. Dia tidak peduli bagaimana keadaanku sekarang. Dia tetap ingin menikah denganku.

Selama 4 tahun belajar di kampus yang sama, dia tidak pernah sekali pun mengutarakan perasaannya kepadaku. Melihat foto-fotoku itu, aku bisa melihat kesabarannya dalam menungguku. Menunggu waktu yang tepat untuk mengutarakan perasaannya kepadaku.

“Aku sudah lama menunggu kesempatan ini. Lima tahun aku membiarkan perasaan ini bersemayam di hatiku. Apa kamu tega membiarkannya terhempas begitu saja? Aku tidak peduli kondisimu sekarang seperti apa, yang aku tahu hatimu masih seperti yang dulu,” Dia tertunduk, seakan pasrah dengan apa pun keputusanku nanti.

“Iya, aku mau.” Jawabku sambil menahan air mata yang sebentar lagi akan tumpah.

Banyu tampak bahagia sekali. Diucapkannya hamdallah berkali-kali, sebagai rasa syukur kepada Allah atas kemudahan jalan yang diberikan. Aku yakin dia adalah laki-laki terbaik yang Allah berikan untukku, yang mencintai dan menerimaku apa adanya tak lepas dari ketidaksempurnaanku ini.

Oleh: Ari Madega.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: