kisah hafidz quran cilik

Terima Kasih, Ibu. Karenamu, Aku Dekat dengan Al-Quran

Bangun tidur disuruh menghafal, pulang sekolah disuruh menghafal, sore disuruh menghafal, sebelum tidur disuruh menghafal. Seperti itulah kegiatan sehari-hari Aina. Gadis kecil yang baru saja duduk di kelas 2 SD. Ia sudah diajarkan ibunya untuk menghafal Al-Qur’an. Sebagaimana anak kecil, tentunya ia memiliki keinginan untuk bermain, dan aktivitas lainnya.

Akan tetapi, kehidupan Aina yang hanya bersama ibu saja, membuat ia tidak memiliki seseorang yang membelanya. Meski begitu ia sangat menyayangi sang ibu. Tak peduli seberapa padat jadwal sehari-harinya untuk menghafal Al-Quran.

“Bu, Aina merasa iri dengan teman-teman Aina. Mereka setiap hari mengikuti bimbel, apalagi si Al, dia selalu peringkat satu sejak pertama kali sekolah,” lapor Aina dengan manja.

“Sekarang Ibu tanya, apakah Aina mendapatkan nilai jelek meskipun tidak mengikuti bimbel?”

“Tidak begitu jelek sih, Bu. Tapi ada yang jauh lebih bagus nilainya. Setiap pelajaran nilainya 100 terus.”

“Biasanya Aina mendapat peringkat berapa?” tanya ibu lagi.

“Kadang peringkat dua, kadang peringkat tiga.”

“Nah, sudah cukup bagus kan, Aina. Peringkat dua dan tiga itu bukan prestasi yang jelek.”

“Tapi kali ini Aina ingin peringkat satu, Ibu.”

“Ok, dengarkan Ibu ya Aina. Aina boleh mengejar peringkat utama di sekolah. Tapi ada satu syaratnya, Aina tidak boleh meninggalkan hafalannya. Waktunya menghafal harus tetap menghafal ya.”

“Yah, Bu. Mana mugkin? Kalau Aina tidak kuat bagaimana? Apalagi Aina belajar sendiri, tidak ada guru khusus selain ibu,” timpal Aina kurang setuju.

“Aina, kau tahu kan bahwa Al-Qur’an itu berisi doa-doa. Tidak ada yang rugi jika waktu kita habiskan untuk Al-Qur’an. Tidak ada yang perlu disesali jika apa yang kita inginkan di dunia belum tercapai. Berdoalah dengan terus banyak membaca dan menghafal Al-Qur’an. Coba deh buktikan kata-kata Ibu ini nanti ya. Aina tetap menambah hafalan Al-Qur’an setiap harinya. Dan waktu Aina belajar untuk ujian hanya malam saja!”

“Yahhh, Al aja setiap saat belajar, Bu. Sore bimbel, pulang sekolah, sebelum tidur dan sebelum berangkat sekolah, Al selalu diajak belajar sama ibunya. Sama saja nanti Aina tidak bisa mengalahkan Al yang belajarnya sangat banyak setiap hari. Malah tidak hanya ketika ujian saja. Lah Aina? Kalau tidak ujian gak boleh belajar kecuali ada pekerjaan rumah, dan besok mau ujian malah suruh bealajar malam saja,” sergah Aina sedikit kesal.

“Nah, justru itu Aina. Aina buktikan kebenaran kata-kata Ibu tadi. Bandingkan seberapa banyak belajar Aina dan Al setiap hari. Bandingkan seberapa banyak membaca Al-Qur’an antara Aina dan Al. Juga seberapa rajin sholat berjamaah dan sholat sunnah kalian,” tantang ibu mantap.

Kring, kring, kring…, dering telepon berbunyi, sebuah petanda saatnya Aina mengerjakan sholat dluha sebelum pergi ke sekolah. Tanpa diberi intruksi Aina yang baru saja selesai menambah hafalan dan bincang ringan dengan ibu, langsung ke musholla dan memakai mukenahnya. Ia melakukan sholat dluha 4 rokaat dengan dua kali salam seorang diri, lalu ditutup dengan doa sebisanya serta membaca surat Al-Insyirah tiga kali dengan menempelkan tangan kanan di dada kiri.

Untuk sholat dluha, ia tidak bergantung untuk menunggu ibu, berbeda dengan sholat lain yang dia selalu menunggu ibu karena harus jamaah. Terkadang jika ibunya sedang berhalangan, Aina perlu diingatkan ibu untuk pergi ke masjid sholat berjamaah. Seperti itulah didikan sang ibu untuk Aina sejak kecil. Ayah Aina sudah meninggal, sedangkan Kakak Aina sudah belajar di pondok pesantren yang cukup jauh, sehingga rumah hanya berisi Aina dan Ibu saja. Kakak Aina hanya pulang ketika idul fitri dan tahun baru muharram.

Ibu yang sekaligus menjadi ayah bagi Aina, ibu yang setiap hari merawat, mendidik, dan bahkan membesarkan Aina dengan cara apapun yang halal. Prinsip hidupnya hanya satu, percaya bahwa ketika manusia menjaga Al-Qur’an, maka Allah akan menjaganya. Manusia yang merawat betul hafalan Al-Qur’an, maka Allah selalu mencukupi kebutuhannya. Dan semua itu sangat jelas terlihat dari kehidupan Aina dan ibunya.

Ibu Aina yang jelas sudah hafidzah 30 juz, ia tidak memiliki pekerjaan unggul untuk mendapatkan rupiah. Ia hanya sebagai ibu yang memperjual belikan beras. Memang benar, hanya beras saja bisnis kecilnya. Tentunya tidak seramai kios-kios yang banyak menjual barang apapun. Akan tetapi, Ibu Aina selalu yakin dan percaya bahwa Allah selalu mencukupi kebutuhannya.

Ketika Aina pulang sekolah yang tentunya ia merasa letih, ibu selalu menyiapkan segelas air minum dan sepiring nasi. Jika Aina tidak segera memakannya, ibu tak segan-segan menyuapi Aina. Setelah makan siang, Aina disuruh murojaah hafalan lagi didampingi ibu. Seperti itulah kegiatan sehari-harinya.

Malam pertama menyambut ujian, Aina rajin membuka buku-buku sekolah usai murojaah malam hari. Sesekali ia bertanya kepada ibu tentang pelajaran yang tidak dipahami. Ia mencoba mengisi latihan-latihan soal di buku panduannya. Hingga waktu malam mengajaknya terlarut dan tertidur bersama buku-bukunya.

Banyak diantara kehidupan anak-anak sekarang yang mereka susah dibangunkan ketika waktu shubuh. Apalagi anak yang masih duduk di bangku SD. Namun, berbeda dengan kehidupan Aina. Ia selalu dibangunkan ibu ketika adzan shubuh untuk sholat berjamaah, lalu mandi dan baru memulai untuk menambah hafalan. Terkadang Aina merasakan ngantuk, tapi ia tak berani memanjakan ngantuknya demi ibu. Apa yang selalu dia lakukan demi ibu. Karena satu-satunya kebahagiaan adalah senyum bangga ibu.

“Aina, apakah Aina percaya bahwa doa anak sholihah, penghafal Al-Qur’an, ditambah lagi doa anak yatim itu mustajabah?” tanya ibu, Aina menggeleng.

“Itulah mengapa ibu selalu meminta doa dari Aina, doa untuk Aina sendiri, doa untuk Ibu, dan doa untuk semua manusia yang hidup di bumi ini. Maka, jika sekarang Aina benar-benar ingin meraih peringkat satu, berdoalah Aina. Bisa jadi doa Aina lebih mustajabah daripada Ibu. Satu lagi, jangan pelit untuk mendoakan. Doakanlah teman Aina yang sekarang sedang ujian, jangan sampai Aina berdoa ingin peringkat satu, dan Al peringkat setelah Aina saja, itu tidak baik,” jelas ibu panjang lebar.

Aina mengangguk, “Iya, Ibu. Aina percaya sama Ibu,” Aina memeluk tubuh kecil ibunya dan ibu mengecup kening Aina.

***

Satu minggu ujian telah selesai dilaksankan oleh Aina. Aina hanya menanti kabar baik dari Bu Guru. Kabar tentang siapa peraih peringkat satu. Bahkan untuk menanti kabar itu, Aina tidak pernah lelah berdoa meminta kepada Allah setiap usai mengaji dan sholat. Permintaan Aina kali ini ialah ingin menjadi peringkat satu.

Kabar itu diterima dengan penuh kebahagiaan. Allah jelas tidak menolak permintaan gadis kecil sholihah tersebut. Akan tetapi, Aina merasa bahwa yang barusaja didapatkan ternyata kebahagiaan sementara. Sangat sementara dan sebentar saja. Seolah hanya angin lewat yang menyentuh ubun-ubun Aina. Sejak itu ia berbicara kepada ibunya.

“Ibu, Aina bahagia karena keinginan Aina sekarang terwujud, tapi besok Aina tidak ingin peringkat satu lagi.”

“Loh, kenapa tidak ingin lagi, Aina?” tanya ibu terkejut.

“Biarkan Al saja yang peringkat satu, kasihan dia. Al yang waktunya dipenuhi dengan belajar kok kalah dengan Aina yang belajarnya sangat sedikit. Biar Aina fokus ngaji saja sama Ibu.”

Air mata terbendung di kelopak kedua mata ibu. Ibu Aina sama sekali tidak menyangka atas sikap anaknya. Padahal, biasanya jika seorang anak meraih peringkat satu, ia akan berusaha untuk memperjuangkannya. Tapi kini Aina sadar bahwa apa yang diucapkan ibunya dulu benar. Aina berhasil meraih peringkat satu, tak hanya sekadar dari doa dan kesalihannya, tapi juga semangat untuk maju dari Aina. Untuk selanjutnya ia rela meraih peringkat di bawah Al.

“Itulah kejaiban Al-Qur’an yang kamu jaga, Aina.”

Oleh: Sayyidatina A.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan