Terima kasih, Tuhan. Engkau Tunjukkan Siapa Dia Sebenarnya

“Mbak, dapet salam dari Gusta,” kata Ica yang berlari-lari kecil di belakangku.

“Oh. Yang kamarnya di depan kamar kita?” tanyaku masih cuek.

Kami baru saja pulang dari pembukaan acara Pekan Olah Raga Provinsi, ketika tiba-tiba aku menerima salam yang dibawa Icha. Karena olah raga yang akan kami ikuti diselenggarakan di luar kota, maka kami menginap di hotel. Persis di depan kamar kami ada kontingen olah raga lain. Dan kebetulan, mereka cowok semua.

“Dijawab apa enggak?” tanya Ica penasaran.

“Waalaikumussalam.”

Aku belum terlalu yakin. Gini hari, mana ada atlet cowok yang enggak pacaran. Model-model seperti Gusta juga paling sudah punya. Elahya. Kan sebatas salam. Kenapa pikiran jadi negatif gini?

“Kamu pilih mana, kita cari tahu, atau aku pura-pura suka sama dia?” tanyaku pada teman sekamar lain.

Saat itu, sekamar ada lima atlet. Semua cewek. Dan di antara kami, hanya aku saja yang predikatnya jomlo. Pasti lah kalau di lingkungan olah raga, jomlo itu bukan hal biasa. Beberapa orang malah merapel pacar. Beberapa ya, bukan semua?

“Jangan-jangan nanti kamu suka beneran sama dia?” selidik teman lain lagi.

Ternyata para cewek cantik kalau sudah kumpul, bahasan enggak jauh-jauh dari cowok. Padahal, ini ada yang sudah lebih pasti. Dua hari lagi kami akan bertanding. Mau bawa apa untuk kabupaten tercinta? Masa pulang kalah, mau bawa pacar? Yang benar saja.

Usiaku memang sudah mature. Demi keamanan dan kenyaman, aku simpan saja bilangannya. Yang jelas sudah wajar jika sudah menikah. Adikku pun sudah ada yang menikah. Tapi, masa aku mau cari pendaping hidup tanpa perencanaan begini? Tapi, aku juga ingat apa yang pernah dikatakan Bapak semasa masih hidup, “Jangan menutup pintu pada orang yang mau mengenalmu.”

Aku tunggu kamu di lobi.

Ada pesan masuk dari Gusta.

Ngapain sih pakai acara ditunggu?

Aku membaca pesan-pesannya. Inti dari menunggunya adalah mau memberikan hadiah padaku. Wah. Ini trik cowok untuk menggaet cewek, atau memang Gusta suka? Tapi, jujur saja, kalau boleh meminta, dia bukan type suami. Type suami yang jadi kriteriaku itu tidak suka misterius-misteriusan. Dia kudu apa adanya dan berani bicara. Bukan via pesan di HP saja.

Aku sedang duduk di atas tempat tidur. Angin AC yang terlalu dingin membuatku menenggelakan diri dalam selimut. Dua teman lain sedang ke luar hotel. Mereka sedang bertemu dengan teman dari kabupaten lain, di hotel yang lain. Aku bertiga dengan Ica, dan satu teman lain.

Permintaan Gusta belum aku iyakan.

HP terus-terusan berbunyi dan memberi tanda bahwa ada pesan masuk. Kulihat sebentar layar mungil itu. Dan sudah bisa ditebak, itu dari Gusta. Kalau model begini, dicuekin justru makin bikin kesal. Sebentar-sebentar HP ku berbunyi, dan pesan-pesan darinya semakin sering masuk.

Baik. Aku turun.

Akhirnya kuberanikan diri juga untuk menemui Gusta.

Kulihat dia sudah menunggu di kursi lebar di depan meja resepsionis. Senyumnya kubalas juga dengan senyum tipis. Di tangannya ada bungkusan. Dia memintaku untuk duduk. Kami pun ngobrol sebatas basa-basi.

Ah. Bukan lah, bukan ini type yang kucari.

Tapi, aku juga kudu sportif, tidak menampakkan rasa tidak suka secara nyata padanya. Setidaknya ini berlaku sampai pertandingan berakhir. Ya kan enggak enak bila satu tim jutek-jutekan?

“Ini hadiah buatmu.”

Gusta menyodorkan bungkusan. Aku menebak-nebak, apa isi bungkusan itu. Beruntung tebak-tebakan sendiri tidak berlangsung lama. Gusta mendadak menerima telepon. Dia meminta izin untuk bicara dengan orang yang meneleponnya.

“Eh, aku dipanggil pelatih,” katanya terdengar gugup.

Sempat bertanya juga dalam hati, kenapa dipanggil pelatih terlihat gugup?

Apa ada masalah? Itu bukan urusanku.

Aku berdiri dan melangkah meninggalkan lobi hotel. Menuju ke kamar, dan segera membuka bungkusan yang diberikan Gusta. Gaun. Hampir saja aku terpekik melihat baju itu. Baju yang menurutku tidak sopan diberikan padaku. Baju dengan ukuran minimalis. Dan sungguh dadaku langsung naik-turun dibuatnya.

“Waaah, ini sih rayuan biar Mbak suka sama dia,” kata Ica.

“Coba dipakai, Mbak.”

“Wuih. Mahal banget ini.”

Teman-teman merubungiku.

Mereka terbelalak melihat label harga yang tertera. Tapi, mataku justru penasaran dan mencaritahu. Semakin detail melihat label itu. Di sana ada logo satu brand yang sangat aku kenali. Bukan brand baju tentu saja, tapi brand sepatu. Kuamati lagi tulisan yang tersisa di label itu. Aku masih bisa membaca meski mungkin Gusta sudah mengupayakan menyobek untuk menghapusnya.

Label itu sudah terlepas dari baju. Biasanya, kalau baju baru kan labelnya dijahitkan atau disatukan dengan baju? Tidak terpisah. Aku mendapat kesimpulan tentang siapa Gusta. Dia bukan sosok yang jujur. Sebab, label yang kutemui adalah label sepatu. Dan nama tokonya juga bukan toko di daerah kami akan bertanding. Itu ada di kabupaten kami. Bisa jadi itu adalah sepatu yang dibeli di rumah, dan labelnya diletakkan dalam baju yang dibelinya di pasar tradisional, kemudian diberikan padaku.

Terima kasih ya Allah.

Aku selamat dari Gusta.

Waspadalah dengan cowok yang semodel dengan Gusta. Menyarangkan curiga pada cowok memang tidak baik, sama tidak baiknya ketika kita terlalu percaya padanya, tanpa tapi. []          

Oleh: K. Mubarokah.

2 thoughts on “Terima kasih, Tuhan. Engkau Tunjukkan Siapa Dia Sebenarnya”

Tinggalkan Balasan