Ilustrasi dari Newshub.

Pagi itu aku sudah bersiap-siap untuk mendaftar jadi guru wiyata bakti. Dengan berbekal ijazah D2 PGSD, aku memberanikan diri mendaftar sebuah SDIT di wilayah Godean. Honda Astrea 800 yang dikemudikan kakak iparku melaju lambat ke arah selatan. Motor yang lumayan tua itu menembus hiruk pikuknya keramaian di salah satu kota di Sleman itu.

Dengan membawa persyaratan sesuai yang disebutkan loker di koran kemarin sore, aku memberanikan diri mengetuk pintu ruang guru yang lumayan besar itu.

“Assalamualaikum,” Ucapku.

Dari dalam ruangan ada ibu-ibu yang lumayan muda memakai pakaian gamis membalas sapaanku.

“Wa’alaikumsalam,” Ucap ibu-ibu itu menjawab salamku.

“Mari, silakan masuk. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya ibu itu kepadaku dengan wajah sumringah.

“Begini bu, kemarin saya membaca koran. Sekolah ini membutuhkan guru. Saya bermaksud mendaftar bu” ucapku

“Memang benar kami membutuhkan guru untuk bekerja di tempat kami,”

“Bolehkah saya melihat berkas-berkas yang mbak bawa?”

Aku pun menyerahkan berkas yang aku bawa ke pada ibu itu. Setelah beberapa saat membaca. Ibu itu berkata dengan nada pelan.

“Maaf ya mbak, saya sudah membaca berkas yang mbak bawa. Sekali lagi saya mohon maaf tidak bisa menerima mbak bekerja di sekolah ini, karena kualifikasi pendidikan mbak tidak sesuai. Kami membutuhan kualifikasi S1 sedangkan mbak lulusan D2. Jadi kami mohon maaf tidak bisa menerima mbak bekerja di sini.”

Wajahku sontak berubah memerah mendengar jawaban dari bu guru muda itu. Itulah kali pertama aku melamar pekerjaan yang sekaligus mendapat penolakan.

Dengan berat hati, aku pun menerima keputusan itu. Aku pun pulang mohon pamit kepada ibu muda itu. Selama perjalanan kakak iparku menghiburku. Ia berkata. “Besuk cari lagi sekolah lain yang menerima ijazah D2 Dik.” Aku pun mengangguk dengan ekspresi datar.

Dengan berbekal ijazah D2 PGSD aku melanjutkan misiku untuk melamar pekerjaan lagi. Kali ini aku melamar di sebuah sekolah Muhammadiyah di Kecamatan Sleman. Seperti biasanya, kakak iparku yang selalu mengantarku. Sampai di gerbang sekolah, jantungku sudah berdebar-debar. Sekolah ini tidak mengumumkan kalau membutuhkan guru. Tetapi aku memberanikan diri untuk melamar pekerjaan itu. Aku pun mengetuk pintu sekolah itu.

“Assalamualaikum?” Ucapku

Dari dalam ruangan, muncul seorang bapak-bapak dengan jenggot di lehernya menjawab salamku. “Maaf ada yang bisa saya bantu?” Tanya bapak itu seperti bu guru muda yang aku temui di sekolah sebelumnya.

Aku pun menjelaskan tujuanku datang ke sekolah itu. Setelah tanya jawab panjang lebar. Bapak berjenggot itu pun akhirnya masuk ke dalam ruangan di sebelahnya. Sepuluh menit kemudian, beliau keluar dari ruangan itu. Aku menunggu jawaban dari beliau dengan harap–harap cemas.

“Begini mbak, kebetuan sekolah ini memiliki guru yang pas. Jadi untuk saat ini kami belum membutuhkan tenaga pendidik. Jadi kami mohon maaf tidak bisa menerima mbak untuk bekerja di sini,” ucap bapak itu dengan nada datar.

Aku pun hanya tersenyum getir mendengar jawaban dari bapak berjenggot itu. Aku pun pamit dan mohon diri. Di perjalanan kakak iparku menghiburku. Ia berkata. “Besuk, kita cari lagi sekolah lain yang membutuhkanmu Dik.” Kakak iparku selalu begitu. Menyemangatiku dengan kondisiku yang kurang baik.

Aku pun melanjutkan misiku lagi yaitu melamar pekerjaan. Kali ini aku melamar di sekolah Negeri. Jaraknya sekitar 1 km dari rumah. Berhubung kakak iparku sedang bekerja, ia tidak bisa mengantarku dengan Honda Astrea 800 nya. Aku berjalan kaki untuk sampai ke sekolah itu. Sama seperti sekolah sebelumnya. Sekolah ini tidak mengumumkan kalau membutuhkan guru.

Seperti biasa. Aku mengetuk pintu dan memberi salam. Kali ini bapak-bapak yang wajahnya mirip dengan Prof. B.J. Habibi yang menemuiku. Ternyata beliau adalah Bapak Kepala Sekolah di SD tersebut. Aku pun menjelaskan maksud kedatanganku. Sepertinya beliau tidak memerlukan waktu yang lama untk menjawab maksud kedatanganku.  Ternyata sekolah tersebut kelebihan guru, untuk memindahkan guru ke Sekolah lain saja kesulitan apalagi menerima guru baru. Beliau minta maaf tidak bisa menerima saya untuk bekerja di sekolah tersebut.

Aku pun pulang berjalan kaki dengan langkah gontai. Ini kali ketiga saku ditolak bekerja. Aku pun tidak hilang semangat. Masih ada satu sekolah yang belum kudatangi. Yaitu Sekolah dimana kakekku menjadi anggota komite di sekolah itu.

Dengan modal berkas lamaran dan tentu saja jabatan kakek sebagai anggota komite sekolah, aku pun melamar pekerjaan di Sekolah Dasar yang lumayan dekat dengan tempat tinggal kakekku. Kali ini Bapak kepala Sekolah tidak langsung menjawab. Beliau memberi batasan satu minggu untuk membuat keputusan menerimaku atau tidak. Selama penantian satu minggu aku terus berdoa dan memohon kepada-Nya agar aku bisa mendapatkan pekerjaan yang terbaik dan di tempat yang tepat. Ya Allah aku ingin bekerja. Aku ingin mengamalkan ilmu yang telah kudapatkan sehingga bermanfaat untuk orang lain.  

Satu minggu telah berlalu. Aku pun bertanya kepada kakek, apakah lamaranku di terima sekolah. Dengan nada datar kakek menjawab bahwa aku belum diterima di sekolah tersebut karena sekolah tersebut tidak membutuhkan tenaga pendidik. Guru yang mengajar sudah pas. Aku pun sedih mendengar jawaban dari kakekku. Aku menjalani rutinitasku seperti biasa dengan bosan. Padahal aku gak betah kalau lama-lama di rumah tanpa punya kesibukan.

Ketika aku sudah mulai bosan dengan rutinitas keseharianku, pamanku datang. Ia memberitahukan bahwa sebuah Sekolah Muhammadiyah membutuhkan guru. Seperti ada air dingin nan sejuk mengguyur tubuhku mendengar kata-kata itu keluar dari mulut pamanku. Semoga ini adalah jawaban dari doa-doaku selama ini.

Pagi harinya. Aku diantar paman ke sekolah yang diceritakan pamanku sebelumya. Sekolah itu lumayan jauh dari rumah. Jaraknya sekitar 5 km. Ketika masuk di salah satu ruangan di sekolah itu aku disambut oleh bapak Kepala Sekolah. Beliau membaca berkas lamaran yang aku bawa. Tanpa berpikir panjang. Beliau berkata “Mbak, kamu diterima sebagai guru di sekolah ini, Senin depan kamu sudah bisa bekerja.”

“Alhamdulillah, Ya Allah.” Aku pun mengangguk dengan wajah sumringah.

Terima kasih Ya Allah aku mendapat kesempatan untuk bekerja. Akhirnya doaku selama ini Kau dengar.

Oleh: Nur Hidayati.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: