Pesanku gak dibalas, tapi sudah dibaca. Hem … Apa aku salah mengirim untaian selamat ulang tahun untuk Abi? Ah, kurasa tidak. Tapi mengapa Abi tak merespon sama sekali?

Esok harinya ….

Sudah sarapan?

Pesan masuk dari Abi. Dengan gesit aku melihatnya. Ahhh, ya. Tetap saja tanpa respon. Selalu bertanya sudah makan apa belum, hiks.

Begitulah Abi. Lelaki pendiam yang cukup sulit untuk mengungkapkan kata-kata. Jangankan kata-kata, dalam bentuk tulisan saja selalu singkat.

Tapi, ada hal lain yang menjadi ciri khas Abi, yakni sikap perhatiannya. Rutin setiap hari selama aku di perantauan, Abi selalu mengirim pesan seperti itu, Sudah makan belum? Sudah sarapan belum? Sampai hafal aku ini jika mendapat pesan masuk dari Abi.

***

Liburan kuliah telah usai, saatnya aku kembali ke perantauan. Ibu membantu menata barang bawaanku. Abi mempersiapkan diri untuk mengantar ke stasiun.

“Loh, Bi. Kok bawa tas segala. Mau sekalian pergi ke mana?” tanya Ibu.

“Ya, ngantar anakmu ini.”

“Ngantar sampai stasiun saja, kan? Ngapain bawa tas ransel?”

“Sampai pondoknya sana.”

Aku terkejut mendengar percakapan tersebut, tumben sekali Abi mau ngantar sampai pondokku. Padahal biasanya hanya di stasiun saja.

“Lah, ngapain diantar?” tanyaku.

“Emang gak boleh?”

Ah, kalau sudah seperti ini, aku bingung mau bilang apa. Seperti itulah Abi. Terkadang aneh, sering sekali berbaik hati tanpa diminta. Hihi.

“Iya, kok tumben gitu abimu mau ngantar sampai sana,” sahut Ibu.

“Kasihan dia, sendiri, bawa barang banyak.”

Aku ketawa ya Allah, mendengar pengakuan Abi kasihan sama aku. Sudah berapa tahun jal aku merantau, pulang pergi sendiri menjadi kebiasaan. Meski barang bawaan banyak pun selama tanganku masih bisa membawa, Abi membiarkan. Lah, ini, nganter aku alasannya kasihan. Hihi, aku jadi geli.

Abi, Abi. Aku hanya geleng-geleng sambil nyengir.

“Eh, sebentar, kan, aku sudah pesan tiket kereta beberapa hari yang lalu. Hanya satu tiket, nah Abi kapan pesannya?”

“Abi naik bus saja. Neng naik kereta. Nanti tunggu di terminal Solo.”

“Heh, ya Allah. Serius? Gak usah diantar saja napa. Aku berani sendiri. Gini kan sama saja Abi terpisah. Malah lebih cepat aku sampainya daripada Abi nanti.”

“Ya, gak apa-apa. Setidaknya koper Abi yang bawain. Kalau gitu, tak ke terminal duluan, ya. Nanti Neng dianter Ibu ke stasiun.”

“Baiklah.”

Tiba-tiba aku teringat tiket kereta yang tersimpan di dompet yang baru dibelikan Abi. Eh, ini juga tumben loh, ya. Abi membelikan dompet kulit untukku. Padahal aku gak minta, dan gak biasa pakai dompet. Hihi.

“Bu, tahu dompet yang baru dibelikan Abi kemarin?”

“Bukannya sudah Neng simpan?”

“Lupa, aku taruh mana.”

“Coba dicari dulu. Kalau gak ketemu sekarang, ya besok kalau ketemu Ibu paketin.”

“Yah, masalahnya tuh tiket kereta aku taruh di dompet. Gimana dong kalau hilang.”

Aku mulai gelisah, pun dengan Ibu turut gelisah. Aku dan Ibu saling mencari dompet tersebut. Haslinya nihil! Dompet tidak ada.

“Apa jangan-jangan tersimpan di koper?” tanya Ibu.

“Duh, benar-benar gak ingat aku, Bu. kalau di koper, jelas sudah ikut terbawa Abi dong.”

“Cepat telepon Abimu. Suruh tunggu di terminal!”

Aku telepon berkali-kali tak ada jawaban. Aku kirim pesan pun belum terbaca. Aku tahu, pasti ini karena posisi Abi masih mengendarai motornya.

“Ndak diangkat, Bu. Pesan pun belum dibaca. Haduh, gimana ya?”

“Ya sudah, kita segera berangkat ke terminal dulu ngejar Abi.”

Dengan gesit Ibu bersiap mengendarai motornya. Aku terus menatap layar ponsel, berharap Abi segera membalas pesanku. Berkali-kali Ibu bertanya apa sudah ada balasan dari Abi. Dan jawabanku pun masih sama, “belum ada”.

Hatiku belum tenang, meski bisa saja jika aku tidak mendapatkan tiket kereta, aku naik bus saja. Tapi, jelas mustahil satu bus dengan Abi kalau memang Abi sudah berangkat lebih dulu. Artinya malah aku yang merepotkan Abi. Karena Abi sampai duluan dan nunggu aku di terminal Solo.

Sesampainya di terminal. Aku langsung turun dari motor dan berlari ke lorong-lorong tempat pemberhentian bus. Aku melihat Abi sudah melangkah ke pintu bagian belakang Bus.

“Abi, tunggu, jangan berangkat dulu!”

Beberapa orang heboh, lalu memberi tahu Abi kalau ada yang manggil. Abi kembali turun sambil menenteng koper. Sedangkan bus nyaris jalan. Untungnya Abi tidak terjatuh.

“Ya Allah, kenapa ke terminal? Jam berapa ini? Keretanya mau berangkat, loh!”

“Nah, justru itu. Tiket keretanya gak ada di rumah. Sepertinya ada di dompet kemarin. Coba cek di koper, barangkali dompet ada di koper,” ucapku di antara napas tersenggal-senggal.

Astaghfirullah. Pelupa!”

Heh, aku nyengir lagi. Sembari mengatur napas yang belum teratur.

“Nah, ini kan dompetnya?”

“Iya, dompet ini. Taraa, alhamdulillah, akhirnya masih rezeki.” Aku menarik secarik kertas dari dompet.

“Makanya lain kali simpan di tempat yang aman!”

“Bukannya dompet yang dibelikan Abi ini aman?”

Abi melongo, terlihat bingung mau jawab apa. Aku hanya meliriknya.

“Ya sudah cepat pergi ke stasiun sana! Hati-hati.”

Aku berlalu sambil cengengesan. Ibuku geleng-geleng kepala sembari mengucap hamdalah ketika melihatku mengangkat secarik kertas—tiket kereta.

***

Aku baru sadar, bahwa selama di perantauan, Abi lah yang sering sekali menemuiku. Meski sekadar mampir sehari, menjenguk tanpa menginap, atau mengantar kembali ke tanah rantau.

Abi adalah orang pertama yang selalu mendukungku, saat Ibu berat hati untuk menyutujui keputusanku. Seperti izin untuk merantau ini, Ibu awalnya melarang. Dan Abi selalu menjawab seperti ini, “Anaknya mau mencari ilmu kok dilarang.”

Jika sudah begitu, Ibu tak berani menahan langkahku lagi. Aku merasa punya seorang pembela abadi. Pada saat beberapa keputusanku dilarang oleh Ibu, sedangkan Abi lebih mudah menyetujui, aku masih bisa berjalan dengan keputusan tersebut. Yang terpenting bagi Abi adalah bukan jalan keburukan yang aku pilih.

Pernah juga saat Ibu tahu tentang pernyataan Paman yang mengharapkanku untuk menetap di Jogja dulu sesudah lulus, tidak terburu-buru pulang kampung. Ibuku nangis tersedu-sedu saat telepon. Macam-macam kekhawatiran yang ada di benak Ibu. Mulai dari khawatir kalau aku tak lagi sayang keluarga, tak mau lagi tinggal di kampung dan sebagainya. Padahal pernyataan Paman hanyalah saran. Belum tentu aku menurutinya kecuali mendapat izin Abi dan Ibu.

Aku cerita kepada Abi. Justru Abi malah tertawa.

“Sebenarnya semua itu bukan yang dipermasalahkan ibumu kok. Hanya satu saja sebenarnya.”

“Apa?”

“Ibu hanya khawatir kalau Neng nanti berjodoh dengan orang Jogja, lalu tak pernah pulang kampung lagi karena sudah betah tinggal di kota.”

“Ya Allah.” Aku pun menyusul tawa ringan Abi di ujung telepon.

“Sudahlah, gak apa-apa. Lanjutkan dulu aktivitasmu. Gak usah terburu pulang kampung. Masih banyak pengalaman di luar yang perlu dipelajari,” tutur Abi. Aku lega mendengarnya.

Bahkan, dari hal sepele pun, Abi menjadi jalan keluar dari belenggu yang menjeratku—karena Ibu. Ibu sering sekali melarang, jangankan ingin pergi ke kota, jalan-jalan dan sebagainya, ke rumah teman pun harus memohon berkali-kali supaya dapat izin Ibu.

Di sini lah Abi bertindak, “Nanti aku antar.”

Aku senang sekali kalau ada Abi. Ibu pasti tidak melarang lagi. Jadi, ketika aku pergi ke rumah teman, ingin pergi ke kota, atau sekadar jalan-jalan, ada Abi yang selalu menemani.

Mungkin sebagian teman memandang aneh, yaa. Aku sudah besar, ketika pulang ke rumah, pergi ke mana-mana masih saja diantar Abi. Tapi bagaimana lagi, daripada tidak mendapat izin Ibu. Abi pun tidak keberatan. Kalau pun tidak mendapat izin Ibu dan Abi sedang sibuk, tentu aku tidak jadi pergi.

Abi tak perlu banyak kata-kata manis dariku. Aku tahu, yang Abi butuhkan hanyalah bukti untuk bersikap rajin dan berjuang keras. Sebab, begitulah kebiasaan yang dilakukannya. Abi memang tipe lelaki pejuang dan tak banyak bicara.

Aku tahu, meski secuil perjuanganku tak ada sebenih biji jagung dari perjuangan Abi selama ini. Karena Abi adalah pejuang yang tak kenal lelah, meski mengalami kegagalan, Abi langsung bangkit. Tidak berlama-lama dalam penyesalan karena keterpurukan.

Demi mencari nafkah, Abi pernah mempertaruhkan nyawanya. Saat kecelakaan dahsyat kala itu. Motor hancur remuk, gigi tanggal, dan beberapa goresan luka di tubuhnya. Syukur alhamdulillah, Allah masih menyelamatkan nyawa Abi. Saat truk besar menabrak, tubuh Abi terpeleset di pinggir jalan. Sedangkan motor dan barang bawaannya masih di tengah jalan, hancur dilindas truk besar.

Andai aku sudah besar, andai aku lelaki, aku ingin selalu menemani Abi, aku ingin merasakan jerih payah bersamanya. Aku ingin melindungi Abi sebisanya. Aku ingin Abi istirahat dari aktivitas padatnya di luar rumah. Tapi, semua itu masih mustahil untuk aku lakukan.

Abi selalu mengatakan bahwa aku harus mencari ilmu yang banyak, sekolah yang tinggi, cari banyak pengalaman dan tidak menyia-nyiakan masa mudaku. Abi meyakinkan, jangan khawatir masalah biaya sekolah, Abi pasti bisa membiayai semuanya. Tapi aku ingin belajar mandiri, setidaknya meringankan beban Abi. Aku mulai mengejar prestasi di SMA supaya mendapatkan beasiswa. Meski aku tahu, bahwa beasiswa dari sekolah swasta itu tak seberapa.

Rambut Abi mulai beruban, tapi semangatnya tak pernah surut. Gelora perjuangannya selalu menyala. Tak peduli seberapa besar badai yang menimpa. Abi tetap berdiri tegak untuk melawannya.

Bahkan hingga sekarang, jika aku ingin curhat dan tak ada wadahnya selain Allah, aku curhat ke Abi. Dan Abi selalu membalas dengan jawaban “yang sabar saja”. Cukup itu jawabannya. Itulah mengapa terkadang aku berani curhat ke Abi. Meluapkan emosi batin yang tak tersampaikan.

Terimakasih, Bi, atas kasih sayangmu selama ini.

Oleh: Sayyidatina Az-Zahra.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: