AKU mengenal beliau sudah lama, hampir sepuluh tahun. Dulu, pertama kenal dari lomba guru. Dari perkenalan di ajang lomba tersebut, kami menjadi akrab. Meskipun waktu itu, beliau bertugas di Gunung Kidul dan aku di Bantul. Tidak hanya sekali kami bertemu di momen bergengsi tersebut, lomba tingkat nasional.

Saking akrabnya, aku tahu makna di balik namanya yang unik. Ramea Agus Purnomo. Ramea? Terdengar unik? Mungkin bagi orang Jawa, kata Ramea atau Rameo sedikit familiar. Nah, pokoknya nama itu unik. Kata Pak Agus, cara mendapatkan nama tersebut agak lucu. Ah, besok saja aku cerita tentang asal usul nama tersebut.

Beberapa kali, aku dan Pak Agus menjadi finalis dan diundang ke Bogor atau Jakarta. Namun sayangnya, beliau lebih sering menang kalau dibandingkan denganku. Dalam bidang yang sama dan event yang sama, beliau selalu di atasku. Selangkah lebih maju dan lebih keren, tentunya. Sementara aku hanya anak kemarin sore, yang baru masuk dalam kancah lomba karya ilmiah. Jiah.

Ide beliau selalu inovatif dan bahasa Inggrisnya di atas rata-rata. Jadi wajar kalau beliau sering juara. Sementara aku hanya juara harapan. Harapan juara, tepatnya. Ha..ha. Biarin. Semua butuh proses, tidak bisa ujug-ujug sukses dan juara, kan? Pokoknya No Pain No Gain.

***

Waktu pun berlalu dan aku mendengar Pak Agus pindah ke Bantul. Beliau sudah cukup lama mengajar di Gunung Kidul, meski rumahnya ada di Bantul. Akhirnya Beliau minta untuk mutasi antar kabupaten dan ditempatkan di SMPN 3 Jetis.

Di sekolah itu pun beliau masih aktif menulis dan menjadi juara (lagi). Hingga akhirnya, petualangan dalam lomba guru pun terhenti. Beliau melamar menjadi pengawas dan diterima. Yes, pesaingku berkurang 1. Ha ha. Jahat saya ya? Just kidding. Memang beliau berkeinginan menjadi seorang pengawas.

Mungkin bagi beliau menjadi pohon yang rindang itu lebih baik daripada menjadi pohon yang tinggi menjulang. Jadi kalau menjadi juara dan berprestasi tinggi itu hanya untuk diri sendiri tetapi kalau bermanfaat itu bisa untuk orang banyak. Dan itu beliau lakukan.

Setelah dilantik dan menjadi pengawas mata pelajaran bahasa Inggris, beliau melakukan banyak gebrakan. Salah satu gebrakan beliau adalah meringkas dan menyederhanakan administrasi guru yang banyak dan rumit. Beliau juga membagikan administrasi tersebut kepada para guru dengan cuma-cuma.

Sebenarnya para guru dimudahkan dan difasilitasi oleh Pak Agus. Siapa pun yang meminta bantuan, beliau selalu welcome. Pantaslah, nama beliau dikenal di seluruh kabupaten, bahkan provinsi Yogyakarta. Tidak hanya itu perubahan yang terjadi. Pak Agus pun mengumpulkan orang-orang terbaik dan mau maju serta berkembang di group WA Innovative Teachers.

Group yang terdiri dari berbagai latar belakang guru. Ada guru bahasa Inggris, guru bahasa Indonesia, guru bahasa Jawa, guru Penjaskes dan lain sebagainya. Di group itu pun beliau memberikan motivasi dan bimbingan agar guru Bantul maju. Masih kuingat waktu pertama kali anggota group Innovative Teacher bertemu di Gedung Pengawas.

“Pak, ini nanti snack-nya gimana?” tanyaku.

“Sudah. Tidak usah dipikir,” jawab Beliau.

“Apa perlu ditarik iuran?”

“Jangan. Teman-teman datang saja, saya sudah senang.”

Betul saja. Pertemuan tersebut gratis. Snack dan minum dibiayai Pak Agus. Tidak cukup itu, Pak Agus juga yang mengisi acara tersebut. Meskipun aku juga diminta untuk sharing kalau pernah meraih juara. Dan seorang teman, yang pernah juara karya ilmiah juga diminta bercerita di depan anggota Innovative Teacher.

Lama-lama bergabung di group WA tersebut membuatku tidak betah. Sebab para anggota sangat pasif. Hanya beberapa saja, kalau tidak mau disebut 4 orang, yang aktif menulis dan berkarya. Yang lainnya tidak banyak kemajuan dan cenderung masa bodoh. Aku sangat kecewa dengan hal ini.

Aku pun mengirim sebuah WA kepada Pak Agus, sebagai pendirinya.

“Pak, kalau saya keluar dari group WA Innovative Teacher gimana ya?”

Weh, Lha situ itu sebagai inspirator dan penggerak kok malah keluar. Mestinya saya yang merasa gagal. Namun diemong saja teman-teman.”

Mendengar jawaban Pak Agus aku jadi malu. Beliau begitu sabar meladeni teman-teman, sementara aku selalu ingin cepat-cepat berhasil. Lalu kuurungkan niat untuk keluar dari group tersebut. Aku tetap bertahan meskipun group itu tidak ada aktivitas. Paling banter, aku yang membagikan info lomba.

Pelan dan pasti, group WA Innovative Teacher membuahkan hasil. Ada dua orang anggota, lolos lomba novel bahasa Jawa. Ada 1 guru yang menang juara 1 Olimpiade Guru Nasional (OGN), 1 orang lagi lomba menulis buku bacaan tingkat nasional dan lain-lain.

Satu per satu anggota mulai menunjukkan taringnya. Mungkin teman-teman yang berhasil itu menghubungi Pak Agus secara pribadi. Sebab masih ada yang malu-malu muncul di group WA. Atau bisa juga datang ke rumah dan konsultasi tentang karya. Jangan tanya berapa biayanya sebab Pak Agus tidak pernah pasang tarif untuk pembimbingan seperti itu. Pure, murni tanpa biaya.

Pembimbingan di luar jam tugas menjadi pengawas sering Pak Agus lakukan dengan sukarela. Bahkan aku pernah mengadakan workshop guru dengan beliau. Beliau membimbing dan turun tangan langsung.

Bayangkan, seorang pengawas guru mau berbaur dengan para guru dan menjadi event organiser.

Pada waktu itu, aku sebagai ketua kegiatan dan beliau sebagai pembina. Jangan bayangkan bahwa pembina itu duduk manis dan tanda tangan. Tidak seperti itu. Beliau turun langsung. Pas H-1 beliau datang ke gedung yang akan digunakan untuk workshop. Untuk apa? Tentu bukan sekadar memeriksa tempat. Bukan.

Beliau ikut memasang spanduk dan juga layar LCD. Bahkan layar dan LCD pinjam punya beliau. Pak Agus mau lho bawa layar dan LCD dari rumah dan dibawa ke gedung pertemuan tersebut. Pada waktu itu panitia cuma lima orang; aku, Bu Atin, Bu Ani, Pak Moko dan Pak Agus.

Menurutku, lima orang saja bisa jalan. Sebab semua di-support oleh Pak Agus. Bahkan beliau mau menghadap kepala dinas bersamaku. Sebab waktu itu, acara perlu dibuka oleh kepala dinas. Konon katanya kalau kepala dinas ikut datang maka peserta akan banyak. Apalagi kalau nanti diberikan sertifikat dengan tanda tangan kepala dinas. Wow, menjadi daya tarik yang luar biasa.

Maka beliau dengan sukacita mendampingiku. Betapa dekatnya aku dengan beliau. Serasa tidak ada jarak. Perjuangan Pak Agus tidak sampai di situ. Pas hari H beliau juga ikut ngisi acara. Sesuai dengan pamflet yang disebarkan, pembicaranya adalah penulis artikel di surat kabar lokal dan Pak Agus. Beliau sebagai narasumber pembelajaran yang inovatif.

Sebagai PNS golongan IVd, beliau layak sebagai inspirasi dan teladan. Karya inovatifnya banyak dan semua dibagikan dengan ikhlas. Tidak ada yang ditutupi atau disimpan untuk dirinya sendiri. Semua pengetahuan dan waktu serta tenaga, siap dicurahkan untuk para guru tanpa perhitungan. Seumur-umur baru kali ini mendapatkan seorang pengawas guru mau all out berjuang.

Pak Agus memang multitalenta. Tidak hanya menjadi nara sumber, beliau juga menjadi penerima tamu di workshop tersebut. Belum pernah tercatat dalam sejarah pendidikan di Indonesia, seorang pengawas menjadi among tamu dan merangkap menjadi nara sumber. Sebab itu tampak ora wangon (tidak pantas) dan tentu narasumber biasanya gengsi kalau ikut mengurusi kepanitiaan.

Saat workshop tiba, peserta cukup banyak. Hampir seratus guru yang datang. Kebanyakan guru TK/SD/SMP/SMA dari Bantul. Namun ada juga guru yang berasal dari Sleman dan Kulon Progo. Kegiatan workshop tersebut sangat sukses. Semua berjalan dengan lancar dan tertib. Acara, konsumsi, tempat dan fasilitas semua terlayani dengan baik. Bahkan ada yang menghendaki untuk dilaksanakan lagi dengan tema yang berbeda.

Saat acara selesai, Pak Agus tidak langsung pulang. Beliau juga ikut memberesi semua peralatan yang kami bawa. Termasuk beliau ikut menurunkan backdrop. Semua beliau lakukan tanpa menggerutu. Kemudian beliau masukkan satu per satu peralatan yang beliau bawa ke dalam mobil. Akhirnya, kami pun pulang setelah semua beres dan bersih.

Perjuangan hari itu tidak akan kulupakan. Beberapa hari kemudian, kami mengadakan pertemuan untuk pembubaran panitia. Pak Agus pun kami undang sebab beliau juga bagian utama dari panitia workshop. Ada beberapa laba yang kami terima namun Pak Agus tidak mau menerima. Saran beliau disimpan saja, siapa tahu nanti panitia mengadakan workshop lagi.

Baiklah Pak, terimakasih untuk inspirasinya. Bekerja tanpa pamrih tanpa batas sampai tuntas. Kami doakan bapak sehat selalu, berkarya selalu dan terus semangat membimbing kami dalam bekerja.

Oleh: Jack Sulistya.

Ilustrasi dari sini.

 

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: