GEDUNG UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) siang itu mendadak ramai. Pengurus beberapa UKM berkumpul untuk mempersiapkan acara display bagi mahasiswa baru. Mereka berkelompok sesuai dengan UKM masing-masing. Tercatat ada lima macam UKM di fakultasku. Ada yang bergerak di bidang kesenian tradisional, musik, teater, paduan suara, dan juga pecinta alam.

Aku sebagai pengurus UKM musik, ikut sibuk juga kala itu. Enggak cuma sibuk fisik, sibuk hati juga ternyata. Penyebabnya apalagi kalau bukan masalah cowok. Baru sekali itu ada seorang cowok yang bener-bener memikat hatiku. Namanya Ilham. Ketua UKM pecinta alam.

Setahun aktif di UKM, baru sekali aku bertemu dengannya. Itu pun secara enggak sengaja. Tepatnya ya ketika kami berkumpul di gedung UKM buat mempersiapkan kegiatan display itu. Meskipun berbeda kegiatan, tapi karena acara digelar bareng-bareng akhirnya kami harus kerjasama juga. Dari situlah aku mulai mengenal sosoknya.

Ilham ini tipe cowok perfectionist dan multtalent. Sebagai anak PA ternyata dia punya jiwa kepemimpinan yang lebih daripada yang lain. Mungkin sudah terlatih ketika ada kegiatan pendakian. Dalam event kali ini kami, para pengurus UKM sefakultas sepakat memilih dia sebagai ketua. Ternyata itu bukan keputusan yang salah. Dia jago banget mengatur segala persiapan. Aku yang ditugaskan sebagai sekretaris sempat pontang-panting mengikuti kinerjanya yang serba gerak cepat dan harus sempurna.

Lelahku terbayar oleh perhatiannya yang luar biasa. Enggak cuma buat aku sih sebenarnya. Beberapa teman sesama pengurus pun merasakan hal yang tidak jauh berbeda dengan yang aku rasakan. Namun, aku merasa ada perhatiannya yang berbeda. Atau mungkin karena seringnya kami berkomunikasi sehingga aku yang kepedean, merasa mendapat perhatian lebih darinya. Entahlah.

Yang jelas, setiap pagi dini hari, selalu saja ada pesan masuk ke gadget-ku. Ajakan untuk salat Tahajud darinya seperti alarm yang selalu membangunkanku. Belum lagi kalau matahari sudah setinggi tombak, ajakan untuk salat Dhuha juga sering kuterima. Kalau pas enggak bareng, ya lewat pesan. Lain cerita ketika lagi bareng, tentu saja ajakannya secara lisan. Nah, kalau sudah seperti ini kasusnya, aku yang jarang jamaah di musala kampus, mau enggak mau, ikutan salat dhuha juga akhirnya.

Ada kejadian yang bener-bener enggak aku kira. Ini terjadi seminggu sebelum acara display UKM digelar. Pukul 21:00 ada pesan masuk yang membuatku kaget setengah mati.

Rhein, besok siang, bisa nemenin aku makan siang enggak? Di warung bakso depan kampus aja. Ada hal penting mau aku omongin sama Kamu.

Hampir lima belas menit pesan itu aku baca saja. Entah kenapa ada perasaan senang menerima ajakan tersebut, tapi ada rasa ragu juga dalam hati. Jadinya, aku sedetik senyum, sedetik berikutnya cemberut, atau manyun gitu lah. Ah berlebihan ini. Biarin. Kenyataan kok.

Saat suasana hatiku mendadak berubah menjadi seperti permen Nano-Nano (asem, gurih, pedes, seger) eh ada pesan masuk lagi.

Ini bukan koran woy, dibaca doang! Dibales dong, ah. Ha-ha-ha.

Aku kaget membaca pesan tersebut, segera kuketik balasan untuknya.

(+) Oke. Besok langsung ketemu di TKP aja ya, Mas.

(-) Siplah! J

Hanya itulah balasan darinya. Kalian tahu apa yang terjadi padaku malam itu? Aku tidak bisa memejamkan mata hampir semalaman. Pikiranku sibuk memprediksi, apa gerangan yang akan terjadi besok siang.

Selama ini, dalam rangka mempersiapkan acara display UKM, belum sekalipun dia mengajakku makan berdua. Saat ada kesempatan untuk makan, selalu kami lakukan bersama pengurus yang lain. Pikiranku sungguh kacau. Segenap pertanyaan muncul di kepala, memenuhi ruang pikir dan ruang perasaan dalam hatiku.

***

Seperti hari-hari yang lalu, ajakan salat Tahajud membangunkanku. Belum sampai dua jam mataku bisa terpejam, aku harus terbangun karena pesan darinya. Aku yang biasanya bangun paling awal pukul setengah enam, semenjak kenal dengan dirinya kini mulai bisa bangun lebih awal. Bahkan salat Tahajud pun sedikit demi sedikit mulai aku lakukan.

Selesai melaksanakan salat dua rakaat, aku kembali ke pulau kapuk yang selalu setia menemaniku. Padanya aku bercerita tentang kerisauan hatiku. Jam masih menunjukkan pukul 03:00, tapi mataku enggan terpejam. Ajakan makan siang nanti benar-benar membuyarkan logika dan kesadaranku. Pesan darinya kubaca berulang kali, seperti ingin meyakinkan diri, benarkah itu pesan darinya?

Pagi itu, aku ingin membuat kejutan. Jika biasanya dia yang mengirim pesan tentang keutamaan salat dua rakaat sebelum Subuh, pagi itu, aku yang mengirimkan pesan tersebut.

Dua rakaat sebelum salat Subuh, lebih baik dari dunia seisinya. So, cepetan ambil air wudu terus, laksankan, ya. J

Mataku terus memandang layar gadget yang kugenggam. Hampir lima belas menit aku terus mengamatinya. Aduh, kok enggak ada balasan. Apa aku ngirimnya kepagian, ya? Atau, mungkin, dia enggak suka aku gantian mengirim pesan yang biasa dia kirimkan. Huft.

Aku mendadak terjangkit penyakit baru, galau akut berkepanjangan. Galau, jangan-jangan dia marah. Risau, jangan-jangan dia enggak suka aku sok-sokan mengirim pesan ajakan salat. Berbagai pikiran buruk tentangnya tiba-tiba datang menerorku. Sampai iqamah terdengar dari masjid, tetap enggak ada balasan masuk. Aku benar-benar resah pagi itu.

Aku merasa dipermainkannya. Semalam dia mengajakku makan bersama. Di sepertiga akhir malam, ajakan untuk salat tahajud masih aku terima. Namun, saat aku bermaksud baik padanya, tidak ada respon sama sekali. Dibaca pun enggak. Kuputuskan untuk salat sunat dua rakaat, baru aku tunaikan salat Subuh. Parahnya, dalam salat tersebut, aku masih saja memikirkannya. Astagfirullahalaziim.

Selesai salat Subuh, aku kembali bermalas-malasan. Padahal, di dapur, ibu sudah sibuk mempersiapkan sarapan untuk bapak, adik, dan juga aku tentunya. Layar gadget menunjukkan pesan darinya yang aku terima semalam. Berulang kali aku usapkan jempolku sembari membaca pesan darinya itu. Entah sudah berapa kali aku membaca pesan ajakan makan tersebut. Layar gadget-ku hanya naik turun seperti perasaanku yang dibuat bingung olehnya.

Dia memang jago membuatku klepek-klepek. Saat penyakit galauku hampir mencapai klimaksnya, ada sebuah panggilan WhatsApp masuk. Tampak dalam layar tersebut foto seorang cowok tinggi besar dan ganteng tentunya. Sebuah nama yang dari semalam mengacaukan pikiranku, tertera bersama foto tersebut di layar gadget-ku.

Mas Ilham nelepon?

Aku ragu dan tidak percaya dia meneleponku. Nada deringku sudah berbunyi dua kali. Namun, aku belum berani menjawab panggilannya. Entah dari mana aku punya nyali, tiba-tiba jempolku memberanikan diri mengusap layar untuk menerima panggilannya.

Enggak sampai lima menit kami ngobrol lewat telepon. Awalnya hanya basa-basi. Kemudian agak serius menanyakan draft skenario untuk display UKM nanti. Tahukah kalian perasanku waktu itu? Aku sampai bingung bagaimana menggambarkannya. Sebel, senang, terkejut, kikuk, mmm … kalian enggak bakal tahu deh kalau enggak di posisiku.

***

Tepat pukul 12:30 selepas menunaikan salat Zuhur berjamaah di musala kampus, aku segera meluncur ke warung bakso tempatku janjian makan siang bersamanya. Sengaja aku enggak bareng ke sana bersamanya, agar tidak ada kecurigaan dari teman-temanku. Aku masih malu jika ada teman yang tahu, aku makan siang bersamanya.

Sepuluh menit aku hanya duduk di motor menantikannya. Kulihat layar gadget berkali-kali, enggak ada pesan masuk. Aku mulai curiga, jangan-jangan dia cuma mau ngerjain aku. Sungguh tega kalau sampai beneran dia mengerjaiku. Saat kecamuk mengamuk di kepalaku, ada sebuah pesan masuk.

Rhein, kamu pesen makanan dulu, ya. Aku lagi diminta menghadap Pak Dekan. Sebentar doang kok. Tar aku nyusul. Oh, iya, baksonya seperti biasanya, ya. Makasih.

Aku beneran sebel. Kali ini cukup satu rasa yang muncul, sebel. Beneran. Namun, meski sebel, entah kenapa aku akhirnya masuk juga ke warung bakso langganan kami tersebut. Aku pesan dua porsi bakso. Satu porsi untukku, satu porsi bakso kuah tanpa pangsit, tanpa micin, tapi ada ekstra bakso goreng, untuknya. Aku hafal menu baksonya karena sudah sering makan bersama teman-teman.

Tepat ketika dua porsi bakso dihidangkan di hadapanku, dia datang dengan tergopoh-gopoh.

Sorry telat. Udah lama nunggunya?”

“Enggak, kok. Baru aja nyampe. Ini baksonya juga baru aja datang. Eh mau minum apa, Mas?”

“Es teh, aja. Kamu?”

“Aku jeruk anget.”

“Oke, aku pesenin aja.” Dia berjalan menuju tempat pemesanan minuman.

Enggak lama berselang datanglah minuman yang kami pesan. Kami menghabiskan bakso diiringi obrolan yang masih terkesan basa-basi. Dia mulai cerita lebih serius saat bakso sudah enggak bersisa.

“Tadi Pak Dekan minta draft yang aku minta tadi pagi. Udah dibawa?”

“Udah. Nih.” Aku menyodorkan draft skenario yang dimintanya.

“Nanti kamu ikut menghadap Pak Dekan, ya, Rhein. Biar nanti kalau ditanya detail skenarionya, kamu yang jelasin ke Pak Dekan.”

“Heem. Nanti aku ikut, bisa kok. Eh, Mas, kenapa semalam ngajak makan ke sini?”

“Oh iya, jadi inget. Sorry. Mmm … gini. Tapi jangan marah, ya. Di acara display UKM besok kan, tim rencananya mau diseragamin. Wearpack-nya udah ada. Terus pengurus yang cewek semua pakai jilbab. Nah, kebetulan kamu doang yang enggak pake. Ini sorry banget, kalau misal buat acara besok kamu pakai jilbab gimana?”

“Walah, kirain mau bahas apaan kamu tuh, Mas. Kalau masalah itu sih beres. Aku juga kepikiran begitu sebenarnya. Makasih malah udah dikasih dukungan meski enggak sengaja, he-he-he.”

Awalnya aku berpikir enggak masalah nanti tampil tanpa jilbab. Namun, ternyata ketua tim menyuruhku untuk memakainya. Merasa mendapat perhatian khusus, aku pun mantap untuk berjilbab. Minimal ketika acara display UKM nanti. Setelahnya, bisa dipikir nanti-nanti. Toh berjilbab kan enggak bisa dipaksakan.

***

Banyak yang memuji saat aku memakai jilbab. Enggak ketinggalan Ilham. Senyumnya tampak mengembang ketika melihatku berbusana muslimah seperti anggota tim lainnya. Dua jempolnya mengarah kepadaku, saat kami beraksi menyajikan kebolehan di acara display UKM. Sukses. Mahasiswa baru berhasil kami buat terkesima dengan berbagai aksi.

Sayang, kesuksesan acara tersebut enggak diikuti kesuksesan hatiku. Aku yang sudah mulai bisa lebih dekat kepada Allah melalui ajakan-ajakannya, kini hampir kembali ke jurang keterpurukan. Pascakegiatan display UKM, Ilham enggak pernah lagi berkomunikasi denganku. Semua ajakan kebaikannya enggak pernah lagi kuterima. Dia menghilang bak ditelan bumi.

Kucoba menghubunginya, tapi nomornya sudah enggak aktif. Aku mulai nglokro lagi. Semangat untuk Tahajud, Dhuha, tadarus kini aku rasakan mulai padam. Jilbab pun kini aku enggan memakainya lagi.

Buat apa aku ngelakuin semua ini. Toh dia udah enggak merhatiin aku lagi. Sia-sia saja aku ngelakuin semua ini. Aku sempat berpikir untuk berhenti melakukan semua amalan yang kuperoleh darinya.

Mungkin semua yang dilakukannya dulu adalah dalam rangka memotivasiku sebagai rekan kerjanya di tim. Kini saat aku sudah enggak bekerjasama lagi dengannya, semua sirna pula. Ya Allah, aku salah, selama ini ingin berubah bukan karena-Mu. Aku bersyukur akhirnya menyadari kesalahanku. Kini, aku sedang berusaha untuk hijrah karena cinta-Mu, bukan karena cinta makhluk-Mu.

***

Oleh: Wawan Murwantara.

Ilustrasinya dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: