Ternyata, Inilah Rahasia “Ya” yang Penuh Makna. Kamu Sudah Tahu?

Siapa yang belum pernah mengucapkan kata “Ya” selama hidupnya? Namun berapa orang yang menyadari bahwa kata ini merupakan kata yang sangat bersejarah di dalam kehidupan setiap anak manusia?

Bahkan kata ini juga akan menjadi bagian dari percakapan dua golongan Bani Adam di masa depan. Sangat penting untuk dihayati dan direnungkan, ayat-ayat yang menampilkan ucapan manusia menyebutkan kata “Ya” di dalam Al-Quran.

Kata “Iya” di dalam Al-Quran sekurang-kurangnya disebutkan sebanyak 26 kali. Paling banyak menggunakan kata Balâ. Ada pula yang menggunakan kata Naam, berjumlah sekitar empat ayat. Dua kata ini sama-sama bisa diartikan dengan Ya di dalam bahasa kita, namun dalam konteks tertentu digunakan dengan maksud yang berbeda.

Apabila seseorang ditanya:  Apakah Anda tidak mau makan? Lalu dia menjawab: Balâ, maka maknanya adalah: Ya, saya mau makan. Namun sebaliknya, bila orang tersebut menjawab: Naam, maka itu berarti: Ya, saya tidak mau makan.

Satu Kata Penentu

Seberapa penting kata “Ya” dalam kehidupan kita? Ayat Al-Quran yang mengabarkan penyebutan paling kuno dari kata ini dalam sejarah umat manusia berikut ini akan menjawabnya. Allah Yang Mahaluhur berfirman:

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhan kalian?”

Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, atau agar kamu tidak mengatakan:

“Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?” (Makna Surat 7: 172-173)

Ayat ini merekam perkataan “Ya” paling tua yang diabadikan Al-Quran, di dalam kisah persaksian sangat sakral antara Allah dengan para hamba-Nya. Ayat ini mengabarkan bahwa setiap bayi yang dilahirkan telah terikat persaksian abadi dengan-Nya.

Setiap mereka pernah ditanya, bahkan sebelum mereka mengenal rahim ibunya, apakah mereka mengakui Allah sebagai Rabbnya? Mereka semua menjawab: “Ya.”

Jawaban itu tertanam di dalam jiwa setiap manusia; tertancap kokoh laksana chip yang menyatu dalam setiap relung jasad insan. Sekuat apapun manusia yang lahir ke bumi ini mengingkarinya, dia tidak bisa melepaskan kata “Ya” yang pernah diujarkannya di hadapan Tuhan.

Maka kita menyaksikan bahwa jiwa setiap manusia pasti dialiri naluri beragama, fitrah berketuhanan Yang Maha Esa, baik diakui maupun diingkarinya. Tidak seorang pun, bahkan seorang ateis sekalipun, yang mampu menanggalkannya.

Persaksian ini sangat penting. Kepentingannya terlihat jelas di dalam ayat di atas. Allah menjadikan persaksian itu sebagai dasar untuk menjatuhkan sanksi yang berat bagi manusia yang menjalani kehidupan di dunia dengan mengingkari-Nya.

Tidak ada alasan yang akan Dia terima untuk membenarkan segala sikap manusia yang tidak menyertakan-Nya. Karenanya, perkataan “Ya” yang pernah kita ucapkan ini sudah seharusnya menjadi salah satu pedoman utama dalam mengucapkan kata-kata “Ya” lainnya selama di dunia.

Penghayatan kita terhadap kata “Ya” di atas akan sangat menentukan nasib kita kelak. Jika ucapan dan tingkah laku kita selaras dengan persaksian ini, insya Allah hidup kita aman. Namun jika sebaliknya, maka ayat berikut patut menjadi bahan renungan.

Satu Kata yang Mengandung Penyesalan

Allah berfirman (yang maknanya):

“dan para penghuni surga menyeru para penghuni neraka: “Sesungguhnya kami sungguh-sungguh telah memperoleh apa yang Tuhan kami janjikan kepada kami. Lalu apakah kalian juga sungguh-sungguh telah memperoleh apa yang Tuhan kalian janjikan?”

Mereka (penduduk neraka) menjawab: “Ya.”

Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu: “Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim.” (Makna Surat al-Araf ayat 44)

Ayat di atas menggambarkan dialog penghuni surga dan penghuni neraka yang mendebarkan. Para penghuni surga dengan penuh kebanggaan menyatakan kepada para penghuni neraka bahwa janji Allah untuk mereka telah dipenuhi dan telah mereka dapatkan.

Lalu mereka bertanya, apakah para penghuni neraka juga telah mendapatkan hal yang sama? Apakah janji Allah kepada mereka juga telah terpenuhi dan telah mereka dapatkan?

Pernyataan dan pertanyaan sepanjang itu hanya dijawab dengan satu kata saja oleh penghuni neraka: “Ya.” Mereka tidak memiliki jawaban lain. Mengapa? Kita bisa menangkap kesan penyesalan di dalam jawaban mereka yang pendek itu.

Tidak hanya penyesalan, melainkan juga campuran antara kesedihan, kepedihan, kesengsaraan, dan keputusasaan. Bagaimana tidak, sedangkan mereka telah merasakan balasan Tuhan atas kezaliman mereka. Dan itu akan mereka rasakan sepanjang masa.

Kita patut belajar, siapakah mereka ini? Ayat selanjutnya menerangkan tiga sifat yang menyebabkan mereka menghuni neraka. Pertama, menghalang-halangi manusia menempuh jalan Allah yang lurus. Kedua, menghendaki jalan Allah menjadi bengkok.

Maksudnya adalah, sebagaimana diterangkan oleh Imam Syaukani di dalam kitab Fathul Qadir, berusaha untuk membuat manusia lari keluar dari jalan Allah dan mempropagandakan bahwa jalan Allah bukanlah kebenaran bahwa tidak ada kebenaran di dalamnya; dan ketiga, mengingkari adanya akhirat.

Sebuah Pelajaran Berharga

Sudah sepatutnya kita belajar dari dialog dua golongan di atas, dan berusaha meniru perkataan “Ya” yang diperintahkan oleh Allah Nabi terakhir-Nya di dunia. Perhatikan makna ayat yang mulia berikut ini.

“Apakah apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah serta menjadi tulang belulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan (kembali)? Dan apakah bapak-bapak kami yang telah terdahulu (akan dibangkitkan pula)?” Katakanlah: “Ya, dan kalian akan terhina.” (Makna Surat ash-Shaffat ayat 16-18)

Ayat ini mengandung pelajaran yang sangat berharga. Kita bisa menangkap teladan penting dalam menjawab keraguan orang-orang yang tidak mempercayai hari kebangkitan. Mereka merasa heran tentang hari kebangkitan. Mustahil orang mati bisa dihidupkan kembali. Mereka berpikir, daging dan tulang-belulang yang telah lapuk menjadi tanah mustahil dikembalikan ke bentuknya semula dan diberi nyawa.

Mereka lupa bahwa mereka dahulunya juga adalah makhluk tak bernyawa. Tidak hanya tak bernyawa, bahkan mereka dahulu tidak ada. Lalu Allah memberi mereka nyawa. Jika dari ketiadaan saja Allah mampu menciptakan dan menghidupkan mereka, apalagi untuk menghidupkan mereka kembali. Tentu sangat mudah bagi Allah. Karenanya Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk menjawab pertanyaan mereka dengan “Ya”.

Kita sebagai umat beliau dituntut untuk memiliki sikap yang serupa. Bersikap tegas terhadap orang-orang yang ragu terhadap akhirat. Satu kata “Ya” yang bisa menghindarkan orang yang melakukannya dari mengucapkan perkataan serupa di neraka. Maka mulai sekarang kita patut berhati-hati dalam mengucapkan kata yang satu ini.

Oleh: Shofhi Amhar.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan