Ternyata Jauh dari Orang Tua Itu Sulit

“Bu, Tya pengen sekolah di SMA kabupaten sebelah. Boleh nggak?”

Permintaanku ini tak luput dari gencarnya Omku mengiming-imingi enaknya sekolah di kota. Rumahku berada di suatu kabupaten yang bisa dibilang masih ndeso. Walaupun desa, tapi aku merasa cukup tinggal di sini selama 13 tahun terakhir.

Bukan karena aku bosan hidup di kampung halaman, tapi magnet cerita Om sudah mengisi pikiran anak ndeso ini. Apalagi, calon istri Om pernah bersekolah di sana. Lalu bercerita bagaimana sih enaknya sekolah di sana. Jauh sekali dengan pengalaman yang sudah pernah aku dapat di sekolah sini. Sudah kloplah, aku tertarik.

“Ya, nanti Ibu dan Bapak coba diskusikan ya.”

Ibuku memberi jawaban dan aku pun tinggal pasrah menunggu hasilnya.

Saat bahagiaku pun datang. Ibu memberitahukan bahwa aku boleh memasukkan pendaftaran di sekolah luar kabupaten. Dag dig dug. Kok aku merasa tegang ya? Padahal aku sudah diizinkan. Apa karena aku akhirnya akan tinggal jauh dari orang tua?

Aku yang selalu bergantung kepada Bapak dan Ibu, lalu beberapa hari yang akan datang akan merasakan hidup sementara tanpa mereka.

“Kamu yakin bisa kos, Tya?”

Ibu mencoba meminta keyakinanku lagi. Mungkin dirasanya anak perempuannya ini masih kecil.

“Yakin, Bu. Kan ada Om di sana. Tenang, aku bisa.”

Nilaiku lumayan bagus untuk masuk di sekolah luar kabupaten. Aku merasa siap. Tapi, aku tak tahu, ternyata kesiapan nilaiku itu belum seberapa. Kehidupan kos-kosan itu ternyata berat.

Inilah awalnya aku belajar mandiri. Alhamdulillah, aku akhirnya masuk di sekolah luar kabupaten itu. SMA negeri luar kabupaten, masuk wilayah kota lagi, mimpi aja belum pernah. Namun, kebahagiaanku masuk SMA ini berbanding terbalik dengan kepanikanku menghadapi MOS, di kos lagi.

“Bu, aku dapat jadwal kegiatan MOS dan aturan tiap hari. Ternyata ada tugas-tugasnya. Harus bawa makanan aneh-aneh lagi. Belum disuruh buat prakarya yang sama anehnya. Duh, aku bikinnya gimana?”

Aku menangis di telepon. Saat itu aku belum punya HP. Aku telepon dari wartel (warung telepon) depan kos.

“Kamu kan yang dulu minta sekolah di sana, ya dijalanin. Kalau gak bisa buat, ya sini pulang.”

Apa? Pulang? Perjalanan memang hanya satu jam saja naik bus. Tapi, apa ya cukup waktunya buat mencari bahan-bahan makanan itu. Belum bahan prakarya. Ini sudah sore. Lalu besok aku berangkat gimana? Banyak pikiran memenuhi kepala saat ibu memeberi solusi.

“Gimana, Tya? Mau pulang nggak? Besok minta Bapak antar saja ke sekolah pagi-pagi.”

Ah, Ibu. Tahu saja apa yang aku khawatirkan. Setelah telpon selesai, aku langsung melesat ke kos untuk packing barang lalu pulang. Mumpung angkot oranye belum selesai operasi, aku sudah harus di terminal.

Ternyata, sekolah di luar kabupaten nggak selalu indah seperti yang diceritakan Om. Aku harus berpikir terus setiap ada tugas MOS. Apa ya setiap hari aku harus bolak-balik? Selama seminggu? Duh!

Sampai di rumah, ibu sudah membombardir pertanyaan. Bahan makanannya apa saja? Prakaryanya apa? Sudah tahu beli di mana?

Kujawab belum. Aku sama sekali nggak bisa berpikir harus mengerjakan apa dulu. Tubuh sudah capek “dipelonco” kakak kelas tadi pagi.

Akhirnya semua tugas Ibu yang mengerjakan. Ibu cuma bisa memarahiku yang nggak bisa menghadapi masalah sendiri. Hiks, rasanya sedih. Aku pun akhirnya sedikit-sedikit membantu tugasku yang dikerjakan Ibu.

Lain hari, aku mencoba untuk mengerjakan sendiri tugas MOS. Saat itu, aku pede karena ada teman satu grup yang menawariku ikut berbelanja. Aku yang tidak hafal daerah baru ini menyambutnya dengan riang. Setelah semua bahan terbeli, aku mencoba mengerjakan di kos.

“Bu, aku pinjam kompor buat masak ya?”

Bu kos yang selama ini membiarkan dapurnya dipakai anak kos, dengan senang hati mengizinkan.

“Hati-hati memakai kompornya ya. Nanti langsung dicuci peralatan masaknya.”

“Iya Bu. Makasih banyak.”

Aku langsung bergerilya. Besok, menu makan siangku adalah tumis kangkung 5 cm. Menu yang aneh ya? Kangkung yang dibawa harus memiliki panjang 5 cm. Jadi saat memotongnya, aku harus memakai penggaris agar tepat ukuran.

Dan eng ing eng, aku lupa bahwa aku nggak bisa memasak. Kukira memasak itu gampang. Lima menit, sepuluh menit, dan setengah jam aku di dapur, masakanku belum final.

Ibu aku membutuhkanmu ….

Untungnya, datanglah bala bantuan. Teman satu kosku yang beda sekolah juga akan membuat tugas MOSnya. Dia mau memasak. Lalu aku pun meminta tolong untuk memberi tahu cara memasak kangkung.

Resep pun sudah di tangan.

Lama aku membuatnya. Agak tricky, tapi aku meyugesti diri bahwa aku pasti bisa.

Akhirnya, sayur kangkung pertama kali dimasak sendiri dalam hidupku jadi sudah. Aku bahagia.

Kucicipi, dan hasilnya … mengecewakan. Kangkung masih keras, rasanya hambar. Duh! Besok aku harus makan ini lagi.

“Itulah Tya, kenapa kemarin Ibu bertanya apakah kamu siap ngekos. Kamu memang belum tahu dan pasti kamu keras kepala berpikir kamu pasti bisa.”

Aku merenung sambil tetap mendengarkan suara ibu di ujung telepon.

“Ya, karena kamu sudah memilih, jalanilah. Apa pun itu. Jangan pernah takut bayangan. Belajar saja dari pengalaman ini. Setidaknya kamu jadi tahu bagaimana sulitnya memasak, kan? Hahaha. Siapa suruh nggak mau bantuin Ibu kalau di rumah.”

Ah, Ibu, jadi kangen Ibu. Nanti kalau aku mudik, aku pasti akan membantumu. Aku janji, Bu.

Oleh: Dhita Erdittya.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan