Selama ini aku percaya bahwa cinta pertama yang tak bertepuk sebelah tangan adalah takdirku.

Hal itu diperkuat dengan adanya dia, Didi, yang bahkan menghubungiku dahulu bahkan saat kami tak bersekolah di SMA yang sama.

Padahal, sebelumnya kami tak pernah akrab. Terakhir kali kami bertemu saat mendaftar SMA, Didi ke sekolah kejuruan yang dipilihnya, aku ke Departemen Pendidikan Kabupaten untuk meminta surat rekomendasi.

Aku memang berencana untuk belajar di luar kabupaten, meninggalkan tanah kelahiran tercinta sementara. Nah, sampai sini saja aku tak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Didi. Cinta pertamaku kala itu kukubur dalam-dalam.

Menjalani kehgiatan belajar di sekoah yang jauh dari keluarga mengajarkanku untuk lebih mandiri. Aku pun hanya mudik seminggu sekali. Semua pikiranku terisi dengan belajar, sekolah, indekos dan keluarga.

Tak pernah terpikir untuk naksir cowok dan memikirkan cinta. Hampir satu tahun aku melupakan sudah si cinta monyetku. Cinta monyet yang kutaksir diam-diam saat sekolah dasar.

Dia beda sekolah denganku, namun kami satu tempat les. Allah menakdirkanku ranking 7 agar aku ikut les dan bertemu dengannya. Dulu aku berpikir seperti itu. Hihihi ….

Namun, karena temanku jugalah, cinta monyetku tersebar. Bocor di satu sekolah saat SMP. Rasa malu, deg-degan plus panas dingin saat harus berpapasan dengannya. Semua rasa aneh menjadi satu.

“Hai Ta!”

Entah mengapa, saat pesantren kilat SMP di bulan Ramadhan, Didi menyapaku di selasar kelas. Aku pun terkesiap, malu dan langsung ngacir. Hahaha ….

Namun hari ini aku lebih malu dan tak menyangka, Didi menghubungiku lewat SMS. Aku menebak, dia pasti mendapatkan nomorku dari sahabatku yang memang saudara sepupunya.

“Halo, Ta. Masih ingat aku nggak? Didi.”

Ups! Hati ini mencelos. Rasanya jantung mau copot saja. Dia yang jadi kenangan yang ingin kukubur saja karena aku juga tak yakin dia punya rasa yang sama denganku, menyapaku duluan. Bahkan setelah beberapa tahun kami tak ketemu. Ada apa ini ya?

“Hai. Iya ingat. Gimana kabar?”

“Baik. Kalau kamu? Eh, sekarang kamu sekolah di SMA Purwokerto ya?”

Seperti itulah awal kedekatan kami. Setelah SMS itu pun, Didi jadi sering menyapaku tiap malam. Aku pun selalu menunggu kabarnya sebelum tidur. Ah, ini indah, aku masih merasa bermimpi.

Hari itu datang. Didi beberapa hari lalu mengajakku untuk bertemu. Kami tak hanya bertemu empat mata. Didi mengajakku ke kebun binatang bareng sahabatku juga dan beberapa teman SMP kami.

Kami berdelapan, ternasuk aku dan Didi, naik mikrobus untuk mencapai tempat wisata tersebut. Didi hanya banyak tersenyum padaku. Tak banyak bicara. Aku pun juga hanya ngobrol dengan sahabatku.

Saat itu kami hanya bahagia saja bisa bertemu lagi. Tak ada momen khusus di pertemuan pertama kami. Namun setelahnya, kami jadi sering bertemu. Tentunya kami tak pernah berdua, selalu ada dua sahabatku di mana kami bersama.

“Ta, kamu mau nggak jadi pacarku?”

Doeng! Apakah merah warna pipiku sekarang? Ah, aku tak tahu. Didi menembakku saat kami akhirnya pergi berdua.

Saat itu aku tak pernah berharap kami jadian. Menjadi temannya yang bisa dekat saja, aku sudah bahagia. Tapi momen ini, ah aku hanya bisa diam. Didi mempersilakanku untuk memikirkan jawabannya. Aku pun setuju.

Akhirnya kami jadian. Dunia kami bagaikan dunia indah. Kebahagiaan yang membuncah, si cinta pertama yang kukira hanya akan menjadi kenangan, benar-benar menjadi pacarku sekarang. Ah, ini masih bermimpikah?

Karena kami beda sekolah, pun sekolah kami berjarak 2 jam perjalanan, hari-hari kami hanya diisi dengan SMS. Menyapanya saat pagi, bertanya apa yang dilakukan, dengan siapa dan di mana menjadi rutinitas kami.

Aku yang memang memiliki banyak teman cowok, akhirnya membuatnya sering cemburu. Setelah semua perasaan indah, aku baru tahu kalau dia posesif. Dia selalu melarangku untuk pergi belajar bersama jika ada teman cowok.

Aku tak boleh banyak ngomong sama temen cowok dan banyak larangan darinya yang akhirnya membuatku sebal. Tapi sesebalnya aku, aku pun menurut juga. Aku tak mau kehilangan dia.

Momen kami berdua seperti hilang rasanya saat kami harus bertengkar karena teman cowok. Sikapnya yang cemburuan sering membuatku tak bisa mengembangkan kualitasku. Larangan-larangan darinya membuatku terbatas dalam pertemanan. Ah, aku harus sabar menghadapinya.

Siang ini aku baru bisa tidur siang. Aku bangun dan berharap ada SMS darinya. Belum sampai cuci muka, aku pun terkejut dengan satu SMS darinya. Bahkan tanpa basa-basi, dia mengirimiku kalimat menyesakkan itu.

“Ta, aku minta maaf ya. Kita break dulu saja. Aku harus belajar untuk kelulusan, kamu pun biar bisa fokus. Nanti, setelah lulus, jika takdir kita bersama lagi, kita bisa bertemu lagi.”

Aku yang masih pusing karena baru saja bangun, membacanya berulang-ulang. Kenapa dia memutuskan hal ini secara sepihak? Apa benar dia benaran mau belajar?

Aku tak percaya ini. Aku yang kesal hanya membalas bahwa aku menyetujui semua permintaannya. Dengan semua sikap posesifnya selama ini dan juga larangan-larangannya, akhirnya hanya seperti ini? Bukankah kita bisa bersama saja hanya untuk kelulusan nanti?

Dan ternyata memang benar semua dugaanku, Didi bukan mau belajar. Seminggu setelah kami putus, dia ternyata menembak adik kelas kami saat SMP.

Aku diberi tahu satu sahabat dekat Didi. Dan aku merasa sakit sekali. Dia yang kupercaya akan menjadi cinta yang menemaniku di usia ini akhirnya hanya bermain-main denganku.

Di titik ini, aku pun merasa dunia runtuh. Aku yang merelakan waktuku kemarin untuk menuruti tuntutan demi tuntutan Didi merasa bahwa aku bodoh. Nyatanya, dia pun gampang saja berpaling dariku.

Bahkan tidak sampai seminggu kami putus. Beberapa minggu, aku terpekur sendiri di kamar. Antara sedih, marah, kecewa dan menyesal.

Namun, setelahnya aku merasa bebas. Tak ada yang harus kuturuti lagi atas permintaan konyol. Kurasa masa remaja ini, beginilah seharusnya. Bebas menentukan mau bagaimana hidup kita tanpa dibayangi tuntutan kekasih konyol macam aku kemarin.

“Nak, besok pulang kan? Nggak kangen Ibu, Bapak, dan adik-adik?”

Aku terkesiap. Ibu mengirimiku SMS. Aku bahkan sudah lupa, kapan terakhir kali aku mudik karena kangen bapak, ibu dan adik-adikku.

Ah, mereka lah yang selalu ada buatku. Ternyata bukan Didi yang ditakdirkan untukku tanpa pamrih, tapi mereka. Keluargaku.

Oleh: Dhita Erdittya.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: