Aku baru lima hari kembali ke Jogja. Kota ini masih sama seperti ketika kutinggalkan, sebulan lalu. Ramah dan tak pernah gagal menciptakan rindu. Tak heran jika dikenal dengan kota berhati nyaman. Aku sudah menghabiskan lebih dari lima tahun di sini. Banyak hal yang tak bisa kulepaskan dari Jogja. Dia salah satunya—Mas Rahmad. Meski sahabat-sahabat tidak ada yang mendukung hubunganku dengan dia, aku masih mempertahankannya. Bahkan meskipun dia bilang kami tak mempunyai tujuan, aku tetap bertahan. Kadang terbesit keinginan untuk merelakan. Namun selalu kalah dengan rasa tak tega setelah melihat senyumnya.

***

Sudah setahun aku mengenal laki-laki berlesung pipi itu. Saat aku masuk kuliah pascasarjana pada hari pertama. Perkenalan kami tak terlalu istimewa. Aku tak pernah membayangkan akan berpacaran dengannya. Karena waktu itu aku masih memiliki kekasih. Baru satu bulan kami menjalin hubungan, aku putus dengan pacarku. Di sinilah Mas Rahmad mulai masuk. Move on-ku terasa lebih mudah dengan datangnya dia. Tidak ada tantangan yang cukup berarti pada awal hubungan kami. Sahabat-sahabatku juga tadinya baik-baik saja.

Namun satu per satu teman-teman menjauhiku. Mereka mulai meragukan keseriusan Mas Rahmad. Prasangka mereka menguat, ketika tanpa alasan Mas Rahmad memutuskan hubungan kami. Lebih menyedihkan lagi, itu bertepatan dengan kondisi keluargaku yang memburuk. Ayah sakit lumayan parah. Aku harus merawatnya kurang lebih dua minggu di Malaysia. Semester kemarin, hampir kuputuskan cuti kuliah kalau saja Ayah belum sembuh dalam satu bulan. Lalu, setelah Ayah kembali seperti semula, aku balik ke Jogja. Anehnya, Mas Rahmad datang lagi, dengan alasan yang kata teman-teman, tak masuk akal. Lucunya lagi, aku menerima dia kembali dengan tangan terbuka.

Aku tidak pernah protes dengan sikap Mas Rahmad. Walaupun ia sering marah untuk hal-hal kecil. Terkadang hingga menghinaku. Tetapi aku selalu memaafkannya. Pernah waktu aku tidur di indekos Kak Bita—sahabatku—ada seorang teman yang men-share fotoku zaman SMA di grup kelas kami. Aku tak tahu ia mendapatkan fotoku dari mana. Foto itu juga tidak terlalu buruk menurutku. Hanya terlihat culun memang. Entah mengapa, Mas Rahmad tersulut karenanya. Ia mengirim pesan penuh kemarahan.

Kan sudah kubilang! Jangan bikin malu! Apa sih yang bisa kubanggain dari kamu?

Dalam kondisi seperti itu, aku tak mengerti apa salahku. Aku hanya bisa menangis di hadapan sahabatku. Sedangkan dia takkan mau menjawab telepon. Berhari-hari tak ada kabar. Kemudian datang lagi seperti tak pernah terjadi apa-apa. Aku tak berani bertanya mengapa. Kehilangan dia adalah hal yang paling kutakutkan. Dia selalu saja begitu. Datang dan pergi sesuka hati. Barangkali itu yang membuat sahabat-sahabatku kesal. Kak Bita salah satunya. Sudah beberapa lama ini, ia menjaga jarak denganku. Memang aku yang salah. Aku melupakan janjiku padanya demi Mas Rahmad yang mendadak minta ditemani. Padahal kami tengah bertengkar waktu itu. Sekarang, setelah berbulan-bulan Kak Bita ngambek tak mau lagi menjadi teman curhatku, tiba-tiba dia menelpon dan ingin bertemu.

Assalamu’alaikum, ada apa, Kak?” sapaku pada penelpon di seberang sana.

Wa’alaikumussalam, Ira dimana? Sudah di Jogja?” sahut Kak Bita.

“Sudah lima hari, Kak. Sekarang lagi di pameran budaya sama Tania. Kakak bukannya di Karanganyar?”

“Ini baru turun dari kereta. Oke, aku menyusul kalian. Assalamu’alaikum.” jawab Kak Bita sebelum menutup panggilan.

Tampaknya ada hal penting yang ingin ia bicarakan. Kak Bita tidak suka dengan acara-acara semacam ini. Mana mungkin mau menyusul kalau tak ada niat lain. Ah … apa yang akan disampaikannya? Aku sedikit penasaran. Tiga puluh menit kemudian Kak Bita bergabung bersama aku dan Tania. Ia minta ditemani makan sepulang dari pameran. Tak salah lagi. Ada sesuatu yang ingin diceritakan Kak Bita. Intuisiku mengatakan, ini tentang Mas Rahmad.

Kami meninggalkan pameran setelah satu jam berkeliling. Kak Bita mengajak makan di warung dekat jembatan Sayyidan. Suasananya lumayan sepi. Hanya ada dua orang yang menikmati makanannya tak jauh dari meja kami. Jadi kami merasa lebih leluasa berbincang.

“Kapan Humaira sampai di Jogja?” Kak Bita membuka pembicaraan.

“Hari Selasa kemarin, Kak. Kakak kenapa kok tiba-tiba mengajak bertemu? Pasti ada yang penting,” selidikku curiga.

“Emm … iya, ada yang mau aku omongin.”

“Tentang? Mas Rahmad, kah?” tanyaku lagi.

“Iya. Peka banget kamu kalau tentang dia, ya?”

“Kalian serius banget, sih?” Tania menyahut percakapan kami.

“Memang perlu keseriusan Tan. Mau jadi bahan candaan orang terus?” Kak Bita melirikku.

“Ada apa sih, Kak? Jangan buat penasaran deh!” desakku.

“Kamu masih pacaran dengan Mas Rahmad, Ra? Untuk sementara, Tania jadi pendengar dulu, ya!”

Tania mengangguk pelan dan beralih ke makanan yang ia pesan.

“Masih, kami baik-baik saja walaupun sudah hampir seminggu dia enggak ada kabar.” kataku.

“Masih seperti itu ya, kalian? Sebenarnya, orang seperti apa sih yang kamu harapkan jadi imam, Ra?”

“Ya pastinya yang bisa membimbing Ira menjadi lebih baik lagi, Kak.” Jelasku.

“Spesifik Ra! Misal, dia yang enggak pernah absen sholat jamaah di masjid, yang penghasilannya minimal lima juta perbulan, bisa baca Qur’an, dan lain-lain.” Kak Bita menjabarkan.

“Yang ilmu agamanya lebih baik dariku, sholatnya enggak bolong-bolong, lebih dewasa, enggak ganjen ke cewek lain, serius sama aku, bisa menjaga kepercayaanku, apa lagi ya? Kurasa itu yang terpenting, Kak.”

“Oke, semua itu ada di Mas Rahmad? Dia enggak pernah meninggalkan sholat? Dia dewasa, enggak suka tebar pesona ke cewek-cewek?” Kak Bita tersenyum kecut.

Aku menggeleng lemah. Aku menyadari bahwa kriteria itu tidak ada pada Mas Rahmad.

“Emm … dan satu lagi, dia serius sama kamu?” kalimat Kak Bita terdengar seperti ejekan di telingaku.

“Kakak tahu sendiri tentang ini tanpa kujawab.”

Ia menghela napas, “Mau sampai kapan kamu seperti ini? Apa yang kamu beratkan dari seorang Rahmad, Ra? Coba deh, sekali-kali kamu merenung, benar dia yang kamu mau menjadi jodohmu?”

“Kak, ada apa sebenarnya? Kenapa Kakak mendadak membicarakan ini? Bukannya Kakak sudah enggak mau mendengar aku bercerita tentang dia lagi? Pasti ada sesuatu yang Kakak sembunyikan.”

“Iya, memang ada sesuatu. Tetapi maaf, aku tidak bisa mengatakannya. Benar katamu, aku sudah tidak mau ikut campur lagi. Toh, nasihatku enggak pernah mbok gubris. Jadi sekarang, aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan. Aku tak berharap kamu menerima saranku. Keputusannya terserah padamu. Tetapi semoga kamu sadar, jodoh atau bukan, tidak diukur dari seberapa lama kalian berpacaran. Dan, buat apa menghabiskan waktu untuk orang yang tak pernah ingin menjadi jodohmu. Itu saja, sih.” Jelas Kak Bita.

“Kakak benar-benar enggak mau memberitahu alasannya?” tanyaku lagi.

“Enggak. Kita ngobrolin yang lain ya, sekarang!” ia mengalihkan pembicaraan.

Kami melanjutkan obrolan hingga hampir dua jam. Tetapi bukan lagi mengenai Mas Rahmad. Kak Bita orang yang sangat berkomitmen pada kata-katanya. Aku memohon sampai bosan juga tak akan membuatnya membuka mulut.

**

Keesokan harinya aku mantap untuk meminta putus pada Mas Rahmad. Ini pertama kali aku yang mengakhiri hubungan. Entah apa yang membuatku begitu berani. Tetapi setelah semalam berpikir dan berdoa, rasanya ini saat yang tepat. Kak Bita betul, apa yang kuharapkan dari Mas Rahmad? Dia bahkan tak pernah menjanjikan ujung dari hubungan kami. Hari-hari bersamanya hanya tentang menemani makan, mendengarnya mengeluh tentang pekerjaan, jalan-jalan, itu saja. Mau sampai kapan? Aku meraih ponselku. Segera kuhubungi Mas Rahmad via video whatsapp.

“Halo … ngapain sih, ganggu aku jam segini, Dik?”

“Aku mau ngomong penting, Mas.”

“Apa? Ngomong aja langsung!”

“Oke. Aku pingin kita putus, Mas. Kita jalani kehidupan masing-masing!” ucapku tanpa berbasa-basi.

“Hahaha … serius nih? Enggak nyesel?” responnya sambil bercanda.

“Beneran. Semoga Mas Rahmad mendapatkan jodoh terbaik dan aku juga. Aamiin.”

“Okelah, terserah kamu.” Ucapnya enteng.

“Ya sudah, Mas. Makasih waktunya. Assalamu’alaikum.” Kuakhiri video call kami.

Aku heran, bagaimana mungkin dia tak bertanya kenapa aku mengakhiri hubungan? Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa ia meresponku dengan cengengesan? Pertanyaan demi pertanyaan muncul di pikiran.  Semuanya semakin mencurigakan. Mulai dari Kak Bita yang membujuk putus dengan cara halus, dia yang menanggapi keinginan putusku sambil tertawa, apa ini?

Di tengah rasa bingung yang semakin menjadi, aku menghubungi Tita. Mungkin dia bisa menemaniku jalan-jalan. Sekadar menghibur diri karena patah hati.

Assalamu’alaikum, ada apa Beb?” ia mengangkat teleponku.

wa’alaikuksalam, Bebeb di mana? Temani aku makan, yuk!” ajakku padanya.

“Kok tumben? Enggak sama Bang Rahmad?”

“Aku putus sama dia, Beb. Baru saja.” Suaraku melemah.

“Ooh, sudah diberitahu Kak Bita ya?”

Bebeb tahu? Ada apa sih, sebenarnya? Kak Bita enggak cerita apa-apa, cuma tiba-tiba bertanya seperti sedang couching ke aku gitu.” Aku kaget ternyata Tita pun mengetahui apa yang tidak kuketahui.

“Wah, jadi Kak Bita enggak bilang sebabnya? Astaghfirullah … itu orang. Gini loh Ra, sekitar seminggu yang lalu, aku, Iin dan Kak Bita ketemu. Kami ngobrol seperti biasa. Nah, Kak Bita mikirnya kalian udah enggak pacaran, dia keceplosan bilang Rahmad sudah melamar mahasiswi S3 UGM dan akan menikah satu bulan lagi. Aku enggak tahu dia tahu dari mana. Kak Bita langsung tutup mulut saat sadar salah bicara.” Tita menjelaskan dengan sabar.

Astaghfirullah …” aku tak dapat menahan tangis. Jadi ini alasan dia sama sekali tak peduli dengan alasanku meminta putus? Ya Allah … bodohnya aku.

Beb? Halo…? Kamu enggak apa-apa kan, Ra?” tanya Tita khawatir.

“Eh … i iyaa Beb enggak apa-apa, tak tutup teleponnya ya, Beb. Besok-besok saja kita jalannya. Assalamu’alaikum.” Ucapku sembari berusaha menyembunyikan kesedihan.

Aku merebahkan tubuhku di kasur. Airmata terus menetes tanpa bisa kukontrol. Apa yang mesti kulakukan sekarang, Ya Rabb? Aku ingin marah padanya tetapi tidak bisa. Yang tersisa antara aku dan dia tinggallah kenangan. Kini statusku bukan lagi pacarnya melainkan mantan kekasih.

Ya Allah … inikah hukuman untukku yang selama ini mengabaikan-Mu? Atau ini bentuk kasih sayang-Mu yang tak ingin aku semakin tersesat? Apapun itu, aku ingin mendekat pada-Mu Ya Rabbi. Maafkan aku, maaf Ya Allah … aku tak akan mengulangnya lagi. Mencintai orang yang jelas-jelas tidak Engkau ridai.

Oleh: Fitri Ayu Mustika.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: