Namaku Daniar, saat ini sedang duduk di salah satu sudut kafe yang terletak di pinggiran kota. Tempat yang menyimpan banyak kenangan. Di tempat ini pertama kali kulihat wanita yang sedang kutunggu. Dia telat tiga puluh menit. Tapi tak apa, bagiku menunggu tak semengerikan yang orang-orang katakan.

***

Namanya Danisa. Mirip dengan namaku. Mungkin kami jodoh, pikirku sesaat setelah kami berkenalan tujuh tahun silam. Di sudut yang sama saat aku sedang menekuri notebook, mencari bahan tugas kuliah. Semester awal membuatku semangat untuk segera menyelasaikan tugas kala itu. Baru jadi mahasiswa. Sosoknya yang asing tiba-tiba muncul dengan tergopoh-gopoh langsung menduduki kursi kosong di seberang mejaku. Jari telunjuknya menempel di bibir, seolah mengisyaratkan agar aku tidak bertanya apa pun dulu.

Sejenak, tangannya menata rambut panjang yang tergerai anggun. Perawakannya manis meskipun tanpa make up tebal. Sesaat kemudian seorang lelaki seumuran ayahku mendekati kami lantas menampakkan wajah garang. Aku semakin bingung dengan dua orang asing yang kini berdiri di depanku.

“Ayah, ini … ini … namanya ….” Matanya mengerling padaku. Entah mengapa aku segera paham.

“Daniar.” Aku menatap ayahnya. Tadi dia bilang ayah, kan. Lalu spontan menyalaminya.

“Daniar? Benar kamu sedang dekat dengan putri saya?”

“Eh, Ehm ….” Aku menatap wanita itu sejenak. Ia mengedipkan mata. “I-iya, om.”

Sejak saat itu, kami dekat. Perkenalan yang mirip dengan adegan-adegan di FTV Indonesia menurutku. Aku selalu berhasil tersenyum mengingatnya. Danisa wanita yang unik, dan ternyata kami satu kampus namun beda jurusan. Ayahnya menjodohkannya dengan salah satu teman lamanya sejak kecil. Namun Danisa tidak setuju. Dia bilang belum ingin memikirkan laki-laki. Bahkan dia memilih untuk menjomblo selama ini, karena takut jika ada yang berani menjadi pacarnya maka ayahnya akan turun tangan dan menghancurkan hubungan mereka. Dengan status jomblo paling tidak ayahnya akan merasa tenang dan menganggap Danisa masih ingin fokus kuliah. Namun entah mengapa dia malah memintaku berpura-pura menjadi teman dekatnya.

Kenyataannya kami memang semakin dekat dan Danisa yang kukenal berbeda dari wanita yang lain. Ia mandiri, realistis, dan selalu berhasil membuatku tertawa. Aku bahagia setiap kami bertemu. Lambat laun perasaan itu tumbuh. Tidak pernah kulihat wanita seanggun dia tetapi tetap berpegang teguh pada kesendirian. Aku menjelma menjadi sahabatnya dan selalu berusaha ada setiap ia butuh sandaran.

Suatu ketika aku mengungkapkan perasaanku padanya. Ia tergelak dan merasa bersalah. Namun yang tak kusangka, ia juga mengatakan bahwa dia juga menyukaiku, nyaman setiap berada di dekatku. Tapi ia takut bahwa hubungan ini akan berakhir sia-sia sebab ayahnya tidak akan menyerah membuatnya jatuh cinta pada putra teman lamanya. Meski status Danisa di mata ayahnya sedang dekat denganku.

Kuyakinkan padanya bahwa aku akan membuat ayahnya percaya bahwa Danisa bahagia bersamaku. Danisa sangat menyayangi ayahnya meski sikap ayahnya perihal jodohnya sangat tidak etis. Ini sudah bukan jaman Siti Nurbaya, ungkapku suatu ketika. Danisa tergelak mendengarnya, tanpa banyak berkomentar.

Tahun demi tahun kami lewati berdua. Menghabiskan waktu bersama sesering mungkin. Menyelesaikan tugas kuliah bersama. Melakukan misi perjalanan ke tempat-tempat baru. Mengukir kenangan demi kenangan yang akan menjadi bumerang di masa depanku sendiri.

Ada keresahan yang menggantung di binar matanya yang tak bisa ia tutupi. Memang selama ini tidak ada masalah bagi ayah Danisa mengetahui kami dekat. Tapi Danisa khawatir bahwa suatu ketika ayahnya akan nekat memisahkan kami.

“Jangan khawatir. Jika kita jodoh, ayah kamu bisa apa?” Kalimatku terdengar angkuh. Tapi kupikir memang benar. Jika dua orang ditakdirkan berjodoh oleh Allah, maka halangan apapun akan terlewati. Tetapi agaknya aku lupa kelanjutan kalimat tersebut, bahwa tak ada yang menjamin kami berjodoh.

Aku sudah merencanakan tentang masa depan. Menjelang wisuda S2-ku sebentar lagi, aku akan melamarnya. Selanjutnya merancang konsep pernikahan. Danisa sangat memimpikan pernikahan simpel dan sederhana namun tak kehilangan khidmatnya. Konsep outdoor akan kami pilih. Invitation card dengan logo D&D sesuai nama kita sudah terbayang di kepala kami berdua.

Aku merasa beruntung sekali akan mempersunting seorang wanita yang hampir sempurna di mataku. Bahkan Danisa mengatakan akan memutuskan mengenakan hijab saat menikah dan seterusnya nanti. Bertambahlah kebahagiaanku. Tuhan Maha Baik telah memilihkan jodoh untukku. Setidaknya semua itu telah siap di depan mata.

Namun suatu sore Danisa mengabarkan bahwa aku tak dapat melangsungkan lamaran di waktu dekat. Ayah Danisa jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit. Semua fokus pada penyembuhan ayah Danisa. Tidak masalah bagiku. Aku dapat menunggu sampai ayahnya membaik. Hampir satu purnama berlalu dan waktu Danisa habis untuk bergantian merawat ayahnya dengan sang ibu. Sesekali aku menjenguk calon mertuaku itu dan semua tampak baik-baik saja.

Dan sore ini tiba-tiba ia mengabarkan melalui telepon tentang keputusan bahwa hubungan kami harus berakhir. Ayahnya tidak menolakku untuk menjadi teman dekat dengan anaknya, tetapi tidak untuk sebuah pernikahan. Ia tak bisa melanggar janji tentang perjodohan Danisa dan anak teman lamanya. Itu permintaan terakhir ayahnya. Kalian sudah bisa menebak apa yang terjadi.

Di tempat ini, kuajak Danisa bertemu. Di tempat kami pertama kali bertemu tujuh tahun yang lalu.

“Maaf aku terlambat. Aku sempat berpikir untuk tidak datang sebab aku tidak akan sanggup mengatakannya langsung padamu, Daniar.” Matanya sembab, ia terlihat berantakan. Danisaku, aku tak akan tega menatapmu seperti ini.

Ia mengeluarkan sebuah kartu dari dalam tas lalu menyerahkannya padaku. Sebuah kartu undangan dengan inisial D&D. Ya Tuhan, bukankah ini impian kami? Lalu apa yang ia tangiskan. Aku menatapnya sejenak sebelum membaca isinya. Kegusaran telah menguasainya. Jantungku serasa ingin lepas saat itu juga. Tulang di seluruh tubuhku seolah mendadak lepas. Lemas. Aku serasa ingin roboh bahkan ingin menangis tak peduli aku lelaki jika tidak ingat bahwa di sekitar kami banyak pengunjung kafe.

D&D memang tertulis di kartu undangan berwarna putih keperakan seperti impian Danisaku. Tetapi bukan namaku yang tertulis di sana. Danisa & Desta.

“Maafkan aku Daniar, aku tidak bisa menolaknya. Maafkan aku. Kelak kita akan paham mengapa Tuhan menakdirkan ini pada kita berdua.”

Kalimat demi kalimat Danisa mengurungkan niatku untuk marah. Tidak pernah terpikir bahwa sore itu menjadi pertemuan terakhir kami dan tempat itu menjadi tempat kami mengakhiri tujuh tahun yang telah kami rajut.

Ikhlas itu tidak semudah saat aku jatuh cinta. Tapi lambat laun kusadari bahwa selama ini aku hanya menjaga jodoh orang lain. Lama waktu yang kami rajut, beribu janji yang telah terucap, seketika gugur tak berjejak. Mungkin, ini salah satu alasan agama kita melarang pacaran sebelum menikah. Patah hati itu juga berat, Dilan.

Oleh:  Annisa Azzahra.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: