Dia datang ke ruangan saya siang itu sesuai panggilan, tepat di jam istirahat pertama. Tubuhnya yang kecil dan pendek muncul di depan pintu, selepas beberapakali ketukan yang dia buat saya sambut. Di hadapan saya dia berdiri kikuk, kedua tangannya tersilang di depan perut. Saya melayangkan seutas senyum dan sebuah anggukan saat mempersilakannya duduk.

“Apa kabar, Mas Ilyas?” Sapa saya kemudian menyalakan alat perekam suara.

“Baik, Bu.” Sempat bola matanya menatap saya dalam waktu singkat hingga akhirnya kepalanya menunduk.

Saya seringkali menebak-nebak perasaan mereka yang datang ke ruangan saya untuk pertama kalinya. Merasa sial ketika menyadari gosip-gosip yang beredar menjelaskan bahwa saya menakutkan. Siswa/i yang saya panggil akan mendapatkan hukuman-hukuman. Anak yang menginjakan kaki di ruangan saya ialah anak nakal atau bermasalah.

Begitu, pemahaman mereka sekilas tentang saya yang entah mereka dapat dari mana. Padahal, sudah saya jelaskan berkali-kali peranan saya di lingkungan sekolah dan mati-matian bersikap ramah serta terbuka ketika melakukan bimbingan klasikal.

“Ilyas tahu kenapa ibu panggil?”

Dia menggeleng, dengan kepala yang menunduk makin dalam.

“Ilyas, saya kenal kakakmu dengan baik, Kak Danu. Dia bercerita banyak tentang kamu dari semasa kamu sekolah dasar hingga saat ini. Persoalan-persoalan kamu, dan meminta bantuan ibu tentang hal itu. Jadi, ibu di sini untuk Ilyas, agar Ilyas dapat kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik. Sebab dua hari yang lalu kamu membolos karena diejek pendek, kecil, dan bodoh oleh siswa lain. Begitu informasi yang ibu dapat. Apa itu benar?”

Kini kepalanya mengangguk, masih bersetia dengan bahasa tubuh dalam berkomunikasi.

“Mungkinkah ejekan itu melukai perasaanmu? Coba ceritakan ….”

“Iya. Saya merasa minder dan malas sekolah. Mereka benar, saya bodoh. Itu yang saya rasakan.”

Kepala saya mengangguk-angguk, berusaha menunjukan bahwa saya memahaminya.

“Ilyas, sungguh betapa tidak adilnya Tuhan jika benar dia menciptakanmu dalam keadaan bodoh, bukan? Atau menurut kamu Tuhan itu memang tidak adil?”

“Adil, Bu.”

“Jika kamu memang yakin bahwa Tuhan itu adil, kamu juga harus percaya bahwa Tuhan menciptakan setiap makhluknya dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tidak ada orang bodoh, Ilyas. Semua orang pandai. Pintar dalam bidangnya masing-masing. Kamu hanya perlu menemukan potensimu. Kemudian menggali potensimu itu dan menjadi ahli di bidangmu.

Ibu tahu di kelas dua ini Ilyas dipindah dari kelas A ke kelas B. Yang Ilyas perlu pahami, pindah ke kelas B bukan akhir dari segalanya. Ilyas masih bisa sekolah di sini, masih bisa belajar. Ilyas hanya perlu bekerja lebih keras dari sebelumnya. Anak-anak yang berada di kelas A saat ini bukan berarti mereka jenius, Yas. Bisa jadi perbedaan kamu dan mereka hanya terletak pada bagaimana kalian memanajemen waktu belajar kalian. Mereka yang lebih giat, lebih tekun, dan sungguh-sungguh. Menurut kamu, apa selama satu tahun teakhir kamu telah mengusahakan yang terbaik untuk kenaikan kelas?”

“Belum, Bu.”

Dia menatap saya dan terpapar perasaan menyesal di manik matanya yang sayu dan sendu.

“Untuk soal tubuhmu yang kecil dan pendek, kamu tidak perlu khawatir. Sekarang berapa usiamu?”

“Empat belas tahun.”

“Nah, masih muda kok. Cowok itu pertumbuhannya mentok di usia delapan belas tahun, berbeda dengan wanita yang pertumbuhannya mentok di usia enam belas tahun. Tenang, kamu masih bisa tumbuh tinggi dan lebih berisi.

Teman ibu dulu sewaktu SMP juga pendek kayak kamu, bahkan tubuhnya lebih kurus lagi, tapi selepas SMA dia jadi lebih tinggi daripada ibu juga beberapa teman cowok satu kelas SMP dahulu.

Jadi, ketika orang lain mengejekmu, tak perlulah kamu dengarkan. Biar mereka mengejek, dan kamu sibuk menemukan potensimu. Mereka masih mengejek, kamu sedang menggali potensimu. Mereka terus saja mengejek, dan kamu sudah mahir dalam bidangmu.”

Sebelum dia merasa muak dan bosan bersama saya, terkurung di ruangan ini, mendengarkan kalimat-kalimat yang saya sendiri tidak bisa memastikan apakah akan dia ingat selepas ke luar dari ruangan ini atau tidak, apalagi untuk direnungkannya.

Karena sejatinya, saya tidak pernah melambungkan harapan terlalu tinggi bahwa selepas seseorang menemui saya, dia akan memikirkan apa-apa yang telah kami diskusikan kemudian menentukan sebuah pilihan. Menggunakan tempo yang lambat saya sampaikan padanya bagaimana menjadi orang yang tidak hanya pandai tetapi juga berprestasi.

Menurut Barus dalam salah satu buku bimbingan karakternya kita memerlukan beberapa tahapan-tahapan yang di antaranya:

Kenali Potensimu

Semua orang harus tahu apakah kita berbakat di bidang akademik, seni, olah raga, atau  pekerjaan tertentu. Kita bisa mulai bertanya pada diri sendiri, “Apa potensiku yang utama?”

Tumbuhkan dan Miliki Passion

Passion (gairah/cinta) adalah minat atau kegemaran yang menggebu-gebu pada suatu hal. Dengan passion, orang akan cenderung  lebih termotivasi dan tidak mudah menyerah. Dia akan senantiasa menggeluti bidang yang ia cintai.

Cari Model dan Mentor

Carilah model atau contoh yang tepat yang dapat menginspirasi dan menyalurkan kekuatan positif dalam diri kita hingga kita tanpa pernah merasa takut terus berjuang. Kita juga memerlukan mentor atau pelatih yang akan membantu kita dalam menekuni suatu bidang yang menjadi potensi kita agar terwujudnya prestasi.

Tak kalah penting dari mentor adalah lingkungan yang mendukung. Cari komunitas atau lingkungan yang akan membantu mengembangkan potensi diri. Dalam komunitas tersebut kita bisa saling berbagi, menyemangati, bertukar pikiran dan pengalaman.

Kerja Keras

Latihan, latihan, dan latihan. Terus kembangkan potensi yang sudah ditemukan. Potensi tersebut harus terus diasah atau jika tidak hanya akan terkubur dalam diri.

Spiritual

Terakhir yaitu doa dan ibadah yang menjadi penting dalam langkah kita mengoptimalkan potensi dan meraih prestasi. Prestasi itu tidak ada artinya dalam hidup jika tidak diiringi oleh budi pekerti atau moral yang baik.

***

Selepas saya mengoceh panjang lebar, dia pun pergi meninggalkan saya sendirian. Saya yang kemudian teringat kata-kata Pak Feriawan—seorang pekerja sosial di sebuah panti jompo, agar tidak terlalu bermimpi bahwa kata-kata dapat mengubah sifat atau perilaku seseorang.  

Terlalu ngimpi, katanya.

Tetapi biarlah saya kali ini berbaik sangka bahwa apa-apa yang saya sampaikan dapat menjadi kalimat-kalimat positif yang akan menetap di alam bawah sadarnya, yang barangkali belum pernah dia dengar dari orang lain.

Oleh: Nunuk Priyati.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: