Dua puluh menit di kamar mandi, waktu yang cukup untukku. Enggak lama setelah menutup pintu, handphone berdering, nada panggilan masuk memenuhi ruangan. Kupercepat langkah. Terlihat nama Sekar di sana.

 ‘Ya, Sekar. Kenapa?’

‘Minggu depan ke pantai yuk! Harus bisa pokoknya.’ku sedikit menjauhkan ponsel, cewek itu selalu antusias.

‘Mmm, iya nanti dikabarin ya, sayang.’

‘Oke, itu aja sih. Sampai nanti. Dada….’

Panggilan terputus. Aku mengernyitkan dahi, ya itulah Sekar itu sahabatku sejak SD. Meski Kami sudah enggak satu sekolah lagi bukan berarti persahabatan ini harus terhenti, kan?

Aku menuju lemari untuk memilih baju mana yang bisa kupakai nanti malam. Mata ini seketika berbinar, ternyata masih ada gaun yang belum pernah kukenakan. Jariku mengibaskan pakaian-pakaian yang menghalangi jalannya menuju gaun berwarna merah muda berdesain helter neck. Aku enggak sabar menunggu malam tiba.

***

Waktu bergerak begitu cepat. Namun, senyum manisnya malam itu masih melekat di benakku. Minggu ini cerah. Obrolanku bersama Tomi via telepon belum lama selesai, dia seorang mahasiswa salah satu univeritas swasta di kota ini. Kami kenal melalui jejaring sosial dengan tampilan biru, dengan logo huruf “f” berwarna putih.

Ponsel berdeting tanda pesan masuk. ‘Tari, siap-siap ya…, ingat kan kita hari ini mau ke mana?’

‘Iya Sekar…. Ingat kok, ditunggu.’ Pesan sudah melesat ke nomor Sekar. Kebetulan aku sedang enggak ada acara, dan juga Tomi lagi di luar kota. Jadi hari ini benar-benar quality time bersama sahabatku.

Aku sudah siap dengan jeans dan kaus yang dilengkapi syal di leher. Enggak terlalu buruk. Terdengar deru mobil milik Sekar, aku pun buru-buru melenggang ke luar kamar.

***

Tidak perlu banyak basa-basi. Aku langsung memasuki mobil warna putih miliknya. Perjalanan pun di mulai. Sekar menyalakan radio, diiringi cuap-cuap dari penyiar, diselingi lagu yang sedang naik daun kami bercengkrama. Selalu ada pembahasan seru ketika bertemu dia, mulai dari mantan, deadline tugas, sampai tingkah cowok-cowok di sekolahnya.

“Sekar….” Aku menunjukan sebuah foto di handphone.

“Jadi, kalian sudah jadian nih? Itu kapan? Kok kamu enggak cerita-cerita sih!”

Dia menoleh, menunggu jawaban dariku. “Malam minggu lalu. Ya kali aku anak alay yang apa-apa harus diposting.”

“Cerita ke aku, cerita, bukan posting. Kamu mah bener-bener dah.”

Lagu Sayang miliknya Via Valen terputar di radio, memutuskan percakapan kami, karena lebih menarik untuk menikmati lagu tersebut.

Sayang…, opo koe kerungu jerite atiku?

Terasa ponsel bergetar dari dalam tas, kuraih benda tersebut, ternyata chat dari Tomi, ‘Jangan lupa makan siang ya, Sayang.’ Seketika hatiku berbunga. Hal itu pun diketahui oleh Sekar yang sontak langsung menggoda.

Setelah berbalas pesan dengannya, ponsel kumasukan kembali. Ternyata lagu sudah berganti, dan petunjuk arah pantai sudah mulai terlihat pertanda sudah enggak jauh lagi sampai. Jalanan pun sudah mulai mengecil, karena harus melewati beberapa perkampungan.

Garis horizontal lautan sudah nampak, si pemegang kemudi mencari lokasi parkir yang enggak jauh dari pantai. Mesin mobil dimatikan.

 “Bersiap untuk have fun hari ini?!,” ujarnya bersemangat sambil meletak botol sunblock di kursi.

“Yuhuu…!”

 “Kita keluar,” ajaknya kemudian keluar dari mobil. Aku pun mengangguk, kemudian melakukan hal yang sama.

Suara debur ombak yang menghantam karang terdengar sangat gagah, angin laut mengibarkan rambut-rambut kami. Memasuki pantai, banyak turis yang berbaring di atas tikar pandan yang disewakan oleh penjaga pantai, beberapa anak-anak bermain bola, atau bermain pasir pantai bersama keluarga mereka.

Aku bersama Sekar, berjalan mendekat di bibir pantai, supaya lebih dekat dengan ombak. Setelah mendapatkan tempat yang nyaman, kami pun duduk di atas milyaran butiran pasir putih .

“Eh, ceritain dong gimana dia nembak kamu.”

Pikiranku seketika melayang, “Kamu ingat waktu nelepon ngajak ke pantai minggu lalu?”

Cewek itu mengangguk, “Nah, malamnya, aku diajak makan di tempat yang enggak biasanya, dan diharuskan pake gaun. Selama kami makan, ada band yang yang memainkan lagu-lagu yang romantis, pokoknya masih terbayang deh gimana suana malam itu. Tiba-tiba aja datang orang-orang yang bawa bunga terus dirangkai membentuk kata I LOVE U.”

“Mmm, so sweet….”

Aku menyetujui pernyataannya, kembali menikmati deruh ombak yang berkejar-kejaran, warna langit bagian barat sudah berubah megah dengan warna jingganya.

Tepat di depanku seekor kepiting kecil melintas. Melihatnya berjalan memaksaku untuk mengikuti ke mana arahnya pergi, sampai fokus pandanganku otomatis terganti oleh seseorang sedang duduk enggak jauh di depan sana.

Aku berdiri, berjalan ke arah orang itu untuk memastikan. Mengethaui dibohongi hatiku terasa panas, apalagi melihat dia juga enggak sendirian.  “Oh, jadi ini yang katanya di luar kota?”

Suaraku mampu membuatnya menoleh ke belakang. Rona wajahnya berubah ketika melihatku. Dia buru-buru berdiri, disusul dengan cewek yang sejak tadi bersamanya, “Mmm, Tar! Aku, aku bis….”

Belum selesai kalimatnya, refleks tanganku mendarat dengan keras tepat di pipi lelaki berkumis tipis itu. Membuat bingung cewek yang ada di sampingnya, “Maaf, kamu siapa ya?”

“Kamu yang siapa?!” teriakku meninggikan nada bicara, membuat sedikit kegaduhan di tengah indahnya sunset.

“Saya pacarnya Tomi sejak SMA.”

Kini tubuhku yang membeku mendengar jawaban cewek tersebut. Sekar datang menghampiri, melihat Tomi juga ada di sini membuatnya kaget. Seketika itu tangan Sekar terangkat, tapi aku menahannya. Pipi ini sudah basah oleh air mata yang sudah enggak sanggup lagi menahan perihnya dikhianati.

“Kalau dia pacarmu, tolong ajarkan namanya kesetiaan!” ucapku dengan penuh amarah.

“Dan kamu,” tatapanku pindah ke cowok yang terlihat mati kutu, “Jangan pernah lagi menghubungiku, karena hubungan kita selesai!”

Aku balik badan meninggalkan tempat kejadian, disusul oleh Sekar. Masih terdengar jelas teriakan putus juga dari pacarnya itu. Aku puas mendengarnya.  Dalam hubungan apa pun tidak akan ada toleransi untuk pengkhianatan, kalau pun ada itu untuk manusia pemilik jiwa yang luas.

Oleh: Nurwa R.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: