Zi, buka Facebookmu sekarang. Penting.

Aku mengerut ketika menerima pesan Whatsapp dari Indah, sahabat baikku. Tumben, pikirku, biasanya dia yang sering menegur supaya aku enggak buka Facebook terus. Segera kuketik balasan untuk Indah.

Zila: Tumben. Ada apa memangnya?

Indah: Aku enggak bisa jelasin. Kamu buka aja sendiri. ASAP.

Makin bingunglah aku. Indah ini bukan tipe orang yang terburu-buru, kecuali ada keadaan gawat darurat. Dia juga paling illfeel jika bersangkutan dengan media sosial. Bukan berarti dia enggak punya akun, hanya saja dia malas membuka akunnya kalau bukan hal mendesak. Berbeda denganku yang selalu aktif karena punya bisnis online. Jadi, kalau Indah mulai menyuruhku membuka media sosial secara buru-buru, pasti ada sesuatu yang amat genting dan mengguncang dunia persilatan.

Tanpa membalas pesan Indah, aku langsung login ke akun Facebook milikku dan melihat seluruh postingan di beranda. Enggak ada yang aneh atau sesuatu yang heboh. Kotak pesanku kosong, pemberitahuan, dan permintaan pertemanan juga kosong. Apanya yang penting, sih?

Zila: Enggak ada apa-apa di  Facebookku. Ada apa, sih?

Indah: Udah scroll linimasamu?

Zila: Udah. Enggak ada apa-apa, tuh.

Indah: Coba refresh dan buka lagi. Penting.

Zila: Kalau penting banget, kenapa kamu enggak kasih tahu langsung, Ndah? Penasaran tahu.

Indah: Aku takut salah. Jadi, mending kamu lihat sendiri.

Aku menggerutu dalam hati melihat balasan Indah. Tapi tak urung, kubuka lagi akun Facebook dan merefresh halamannya. Supaya lebih yakin, kurefresh lima kali lalu mulai melakukan scrolling di linimasa. Sebuah postingan menyita perhatianku. Merasa tidak yakin, aku merefresh lagi. Postingan itu masih ada, dengan nama akun yang sangat kukenal. Isinya sebuah video. Meskipun caption dalam postingan itu cukup jelas, aku merasa harus memastikan dulu dengan membuka videonya.

Dengan hati berdebar dan tangan yang mendadak menjadi dingin, kuklik video itu.

Bismillahirrahmanirrahim

Dengan izin Allah SWT, kami mengundang sahabat semua untuk hadir di pernikahan kami:

Khairul Iskandar dan Eni Hidayati

Akad nikah: 5 Januari 2019

Walimah: 6 Januari 2019

Di  rumah mempelai wanita: Jl. Cokroaminoto 19, Medan.

Aku memutar video dua kali. Isinya tetap sama. Tubuhku lemas seketika. Dia menandai beberapa teman, tapi tidak menandaiku. Pantas saja tidak ada pemberitahuan untukku. Dengan tangan yang masih bergetar, aku menekan tombol panggil ke Indah.

“Halo, assalamu’alaikum?”

“Wa’alaikummussalam. Indah, ini beneran?”

Kudengar Indah menghela napasnya berat. Aku ingin menangis, tapi tidak bisa. Kupandangi layar laptop yang menayangkan video undangan pernikahan itu untuk ke sekian kalinya.

***

Khairul Iskandar adalah teman satu SMAku. Kami saling mengenal, tapi tidak pernah satu kelas. Hanya pernah satu organisasi dan beberapa kali satu tim saat mengikuti lomba yang mewakili organisasi dan sekolah. Kami juga tidak dekat. Hanya beberapa kali mengobrol masalah teknis perlombaan, atau sekadar menyapa. Paling banter, kami diskusi soal meminjam tenda untuk mengikuti perkemahan di sekolah seberang. Selebihnya nihil.

Intinya, aku dan Khairul itu tidak dekat saat SMA. Dia nyambung kuliah di mana, ambil jurusan apa, aku juga tidak tahu. Tidak peduli, lebih tepatnya. Bahkan, bisa dibilang aku sudah lupa sama dia kalau bukan karena dia muncul di grup alumni SMA di Whatsapp.

***

Dan memang, di grup alumni SMA itulah semua cerita ini berawal. Waktu itu, aku ingat sekali, sore-sore ponselku berdenting berisi pesan pemberitahuan bahwa aku diundang masuk ke grup alumni. Kubuka grup itu dan membaca beberapa chat dari beberapa teman SMA yang satu angkatan denganku. Rata-rata menanyakan kabar dan rasa kangen. Aku sendiri memilih menjadi silent reader, karena memang kurang suka berinteraksi melalui chat jika hanya sekadar untuk basa-basi.

Namun, salah seorang teman mengetag namaku untuk menanyakan kabar. Aku menjawab dengan basa-basi seadanya. Baik, Alhamdulillah. Kamu apa kabar? Semua pertanyaan mereka aku jawab, sampai sebuah pesan pribadi masuk.

Khairul Iskandar: Assalamu’alaikum. Apa kabar, teman lama?

Saat itu aku mengerutkan kening heran melihat pesan yang dikirimkan Khairul. Tumben. Ah, mungkin cuma ingin tahu kabar saja, pikirku saat itu. Jadi, aku membalas pesan itu dengan kata-kata seadanya.

Zila: Wa’alaikumussalam. Alhamdulillah, baik. Kamu apa kabar?

Khairul Iskandar: Alhamdulillah, saya baik juga. Sudah kerja di mana kamu sekarang?

Zila: Masih di rumah.

Dan mengalirlah percakapan kami bagai sungai Asahan. Meliuk, berbelok, dan berarus deras. Tanpa diduga, pembicaraan kami lebih panjang dari biasanya, meskipun aku hanya membalasnya sepatah dua kata. Dia menanyakan aktivitasku di salah satu komunitas hijrah cabang kabupaten. Belakangan ini, aku memang aktif mengikuti kajian di salah satu komunitas hijrah. Beberapa kali aku mendapat undangan dari taging di media sosial. Mungkin dari sanalah Khairul tahu aktivitasku.

Awalnya, aku merasa biasa saja dengan semua chat darinya. Hanya kuanggap sebagai sapaan dari teman lama yang membahas nostalgia masa lalu. Chat hari itu juga hanya berakhir sampai di situ saja. Tidak kuperpanjang lagi, sebab maghrib sudah menjelang. Aku mengingat setiap detail yang terjadi waktu pertama kali menjalin komunikasi.

Beberapa hari kemudian, setelah chat terakhir darinya tidak kubalas, dia mengirim pesan lagi. Kali ini tidak ada basa-basi seperti minggu lalu, dia malah langsung to the point mengungkapkan segala kegiatannya selama ini. Mulai dari kegiatan kuliahnya, pekerjaan paruh waktu, kegiatan organisasi dan segala macam yang membuatku keheranan dan menebak-nebak kenapa mendadak laki-laki jadi curhat? Tapi, semua itu terjawab ketika dia mengetikan sebuah pesan yang membuat jantungku berdebar lebih kencang.

Khairul Iskandar: Nanti, setelah saya selesai ujian, saya mau datang ke rumah kamu dan menemui keluarga kamu. Silahturahmi.

Bagiku pribadi, apalagi mengingat keaktifannya di salah satu komunitas dakwah, makna datang ke rumah itu pasti sudah lebih dari sekadar datang terus ketemu keluargaku. Tak pelak tanganku menjadi dingin dan bertanya-tanya. Apakah dia sedang melamarku?

Zila: Maksudnya?

Khairul Iskandar: Iya, saya mau ke rumah kamu. Rumah kamu masih yang lama, kan?

Zila: Masih.

Khairul Iskandar: Tunggu saya selesai ujian akhir, ya.

Aku kebingungan ingin membalas apa, jadi aku membiarkan chat itu terbaca tanpa membalasnya. Tapi, justru dia sendiri yang mengalihkan percakapan. Mendadak aku jadi canggung dan membalas dengan sepatah-dua patah kata. Aktivitas chatingpun berhenti di sana.

***

Keesokan harinya, aku cerita pada Indah yang kukenal sejak SMP soal chat dari Khairul. Sebabnya jelas, aku tidak ingin salah langkah menanggapinya. Ketika Indah membaca isi chat, dia tersenyum malu-malu sambil menoel pipiku dengan lagak menggoda.

“Cie, sahabatku yang ini hampir sold out.”

Sold out apaan, sih? Ini aku bingung, maksudnya apa. Aku takut salah langkah.”

“Bukannya maksudnya jelas? Dia mau melamar kamu, tahu?”

“Masa, sih?” tanyaku gugup. Indah tertawa kecil sambil mencubit pipiku.

“Ya terus, maksudnya apa mau menemui kamu setelah ujian akhir di rumahmu?”

Aku merengut, mencari-cari alasan yang masuk akal. “Mungkin, mau silaturahmi aja? Dia bilangnya juga mau silaturahmi.”

“Silaturahmi sambil ketemu keluargamu?” Indah tersenyum lagi, lalu menggenggam tanganku lembut. “Kalau kamu yakin dan siap, enggak apa-apa juga, kan? Kenalan aja dulu. Pelan-pelan. Tapi, jangan sampai pacaran atau HTS-an. Apalagi pacaran berkedok ta’aruf kayak yang dilakukan kids zaman jigeum. Intinya, kenalinya secara hati-hati, oke?”

***

Sepulang dari ketemuan dengan Indah, aku langsung membuka linimasa media sosial milik Khairul. Kupikir, Indah ada betulnya juga. Kenapa enggak coba kenali dulu? Sosial media jadi sasaran utamaku karena zaman sekarang, katanya sifat dan kepribadian seseorang bisa ketahuan dari aktivitas media sosialnya.

Jika statusnya suka memaki, artinya orang kasar. Kalau terlalu banyak memosting kata bijak, artinya sedang pencitraan. Kalau rajin mengomentari kasus yang sedang trending dengan logika enggak masuk akal, artinya nyinyir dan pengangguran.

Syukurlah, Khairul tidak memosting apapun yang aneh. Profilnya juga sederhana dan hanya sesekali mengunggah foto-foto tanpa caption. Ini artinya, si Khairul tidak lebay, alay, dan apapun bahasa milenials yang buruk-buruk. Satu poin untuk Khairul. Setidaknya, dia bukan orang yang kurang kerjaan dan suka menghabiskan waktu di media sosial.

***

Setelah mengungkapkan keinginan untuk datang ke rumah lepas ujian akhir, intensitas chating antara aku dan Khairul tidak serta merta meningkat. Biasa saja dan tidak berlebihan. Malah kadang, bertukar pesan setiap dua minggu. Ini juga untuk menjaga diri dari hubungan berlebihan antara lelaki dan perempuan.

Dalam percakapan kami yang super jarang tersebut, Khairul juga banyak membicarakan hal-hal pribadi yang dilakukannya. Bercerita tentang teman-teman, kuliah, dan banyak bertanya soalku dan visi-misiku ke depan. Aku menjawabnya dengan jujur dan terus terang. Ini membuatku agak tenang dan mulai berharap lebih.

***

Beberapa bulan berselang, aku mendapat kesibukan baru yang membuatku agak meninggalkan ponsel. Diterima sebagai copywriter membuat aku lebih banyak beraktivitas di laptop, ketimbang ponsel. Intensitas chating dengan Khairul juga semakin berkurang, karena dia juga sedang sibuk. Meskipun begitu, kami masih saling mengintip di status Whatsapp.

Hingga beberapa minggu kemudian, aku sadar bahwa dia tidak lagi terlihat mengintip di status Whatsapp. Aku bingung. Sebegitu sibukkah sampai tidak membuat aplikasi chating itu? Mungkin saja, soalnya akhir tahun biasanya banyak pekerjaan yang menumpuk. Seperti kerjaanku yang dikejar setoran.

Aku tidak ingin cerewet dan banyak bertanya, apalagi sampai curiga dia memblokir atau menghapus nomorku. Enggak mungkinlah, begitu pikirku. Toh, di pembicaraan terakhir, kami masih membahas soal kedatangannya ke rumahku dan tidak bertengkar. Jadi, mana mungkin aku diblokir, kan?

***

Dan sampailah hari di mana Indah menelepon dan mengabarkan soal Khairul menyebar undangan di Facebook. Aku masih tergugu tidak percaya. Kenapa bisa? Meskipun berusaha memungkiri, tapi aku merasakan kecewa dan perasaan sedih yang tidak bisa digambarkan. Hatiku rasanya kebas dan mati rasa. Siang itu juga, aku meluncur ke rumah Indah.

Indah membuka pintu dan hal pertama yang kudapat adalah tatapan prihatin. Dia menyuruhku langsung masuk ke kamarnya untuk memulai sesi curhat. Sambil duduk di tempat tidur, aku mengulangi pertanyaan kepada Indah.

“Indah, ini beneran? Bukan prank akhir tahun, kan?”

Indah mengerutkan kening mendengar pertanyaanku. “Ini beneran. Bentar, deh, aku mau tanya. Kalian masih chating selama ini?”

“Beberapa minggu ini enggak. Kira-kira, sebulan, deh. Dia juga enggak muncul di story WA, aku kira cuma sibuk biasa aja. Makanya aku kaget banget dia tiba-tiba nyebar undangan.”

“Kamu tahu kenapa dia tiba-tiba nikah?”

Aku menggigit bibir, mengangguk enggan. “Kata temennya yang satu kos sama dia, sebenernya dia sudah lama ta’arufan sama calonnya. Tapi, sempat tersendat gitu. Setelah beberapa bulan, mereka bertemu lagi.”

Indah menghela napas, “Kamu udah kadung berharap sama dia, ya?”

Aku langsung merona dan malu-malu mengangguk. “Tapi untungnya, aku belum bilang ke Ibu. Kalau udah bilang, pasti Ibu sedih banget.”

“Iya, juga. Tapi kamu gimana?”

“Ini yang mau aku tanyain ke kamu? Aku mesti gimana? Aku kecewa banget, loh, Ndah. Sakit hati juga, terus kayak yang percaya enggak percaya. Aku pengen nangis, tapi enggak bisa. Aku harus gimana, Ndah?”

Indah beringsut mendekati dan memelukku. Dia mengelus punggungku lembut. “Yang sabar, Zil. Kamu selalu minta yang terbaik sama Allah, kan? Si Khairul ini, bukan yang terbaik buatmu, makanya dijauhkan Allah,” kata Indah lembut. “Kalau memang enggak jodoh, mau gimana lagi? Mungkin kita marah dan kecewa, tapi bagaimanapun, ini kasih kamu gambaran kayak mana sifat asli Khairul, kan? Mungkin dia orang baik, tapi jelas sikap plin-plannya itu enggak cocok sama kamu. Iya, kan?”

Aku tersenyum untuk pertama kalinya sejak melihat video undangan pernikahan itu.

“Lagian bentar lagi, tuh, tahun baru. Jangan muram gitu, dong. Tahun baru kudu ceria, biar punya nasib baik.”

“Apaan, sih.” Kupukul pelan bahu Indah yang sudah terkikik. “Tapi rasanya masih sedih dan kecewa, loh, Ndah.”

“Ya namanya kamu manusia, bukan robot, Zila Sayang. Ya, wajarlah kalau kecewa. Nikmati aja prosesnya. Enggak mungkin kamu langsung fine, kan? Pasti mengalami fase sedih dulu, kecewa dulu, baru moving on. Yang penting kamu ikhlas melepas dia.”

Aku makin melebarkan senyuman. Benar juga. Enggak masalah kalau aku kecewa sekarang, yang penting nanti aku akan moving on dan enggak berlarut-larut. Aku mengingat-ingat tanggal walimah Khairul dan calon istrinya, sekaligus berusaha mengingat alamat pesta.

Aku akan datang, pasti. Toh, dia bukan jodohku dan bukan yang terbaik untukku. Aku harus ikhlas melepasnya menjemput kebahagiaannya sendiri.

***

Oleh: Dina Pertiwi.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: