Tidak Minder Meski Hidup di Keluarga Kurang Mampu

Siapa sih yang mau hidup dibawah kesengsaraan ekonomi. Ini kisah nyata kehidupan saya pribadi yang saya alami selama 8 tahun hidup di keluarga yang kurang mampu.

Mungkin ada dari kalian yang juga mengalami hal serupa? Saya sendiri mengalaminya mulai dari kecil. Saat saya kecil, saya sudah ditinggalkan ayah, saya tidak tahu siapa ayah saya, dari mana dia berasal dan seperti apa wajahnya?

Pada masa kecil, saya mau makan saja masih kekurangan, lauk juga tidak ada. Mungkin ada yang bertanya kenapa tidak masak telur? Jangankan telur, saya dan keluarga saya ingin makan telur aja kalau tetangga ada hajatan.

Namun, cara mensyukuri hidup di keluarga yang kurang mampu ialah menerima apa adanya (trimo ing pandum). Ini yang pertama, bersyukur atas apa yang kita terima. Bersyukur atas segala kekurangan ekonomi keluarga dan bersyukur atas nikmat Allah swt yang diberikan kepada keluarga kita sekarang, esok atau yang akan datang.                

Jika kalian bisa makan nasi uduk, bagi saya itu sudah luar biasa. Kenapa? Karena kehidupan saya dulu, lauk paling enak itu gorengan sama sayur, itu pun beli. Sering sekali saya makan tanpa lauk tapi pakai kelapa parut. Ya saya tetap bersyukur karena masih ada makanan untuk dimakan.

Seperti contoh dari kehidupan saya, saat Simbah saya pergi ke ladang dan saya baru saja pulang sekolah SD, di meja maka hanya ada nasi. Di situ saya melihat kelapa yang sudah dibelah tempurungnya, saya ambil parutan dan langsung saja saya parut kelapa tersebut di atas nasi dan langsung saya makan tanpa pikir panjang.

Yang kedua apa adanya, menjadi seseorang yang baik menurut saya pribadi yaitu dengan apa adanya bukan adanya apa. Maksudnya menjadi seseorang yang apa adanya itu apa yang ada di dalam diri kita itulah yang ditunjukan, bukannya merekayasa kehidupan kita dan diunggul-unggulkan padahal kita serba kekurangan, tapi diluar kita bicaranya waow. Maka dari itu kita belajar menjalani hidup apa adanya tidak usah dilebih-lebihkan menganai diri kita sendiri.

Berpenampilan juga apa adanya, saya dulu SD sampai SMP, sepatu saya paling mahal hanya 50.000 saja. Coba bayangkan dengan uang segitu dapat sepatu apa dan kuat berapa lama? Padahal teman saya yang lain sepatu paling murah 200.000. Tapi saya tetap apa adanya saja, buat apa minder dan malu atas kekurangan kita?

Yang ketiga menikmati kekurangan, yang namanya kehidupan ya paling tidak kita bisa menikmatinya, jika kita tidak bisa menikmatinya, kita sendiri yang akan kesusahan. Kenapa? Sebab dalam kehidupan pasti ada yang kurang mampu dan ada yang sangat kaya, jika kita menjadi keluarga yang kaya, oke tidak masalah. Tapi jika kita malah sebaliknya, pasti banyak yang mengeluh, makanannya tidak enak, uangnya kekurangan, motor tidak punya.

Maka dari itu, kita nikmati jalan yang sudah diatur oleh Allah swt. Ada pepatah yang mengatakan bahwa kehidupan itu seperti roda yang berputar, terkadang di bawah terkadang di atas, dan terkadang pula di bawah terus karena roda macet. Itu sebagai gambaran kita agar kita bisa menikmati kehidupan.

Jangan pernah berkecil hati atas kekurangan keluarga kita, selalu berdoa kepada Allah swt insyaallah dengan doa yang tulus setiap waktunya Allah swt akan mengabulkan doa kita.

Sedikit cerita tentang pengalaman, saya pernah menginginkan HP Oppo dan itu susah banget seperti impian yang tak dapat digapai. Saya sempat bicara kepada kakak saya, “Saya kalau bisa beli hp saya ingin syukuran.”

Ternyata bagi kakak saya, itu salah dan kakak menjawabnya dengan berkata, “Harusnya kamu syukuran dulu baru dapat HP.” Kalau dipikir-pikir bener juga. Saya coba amalkan kata-kata kakak saya tadi dan hasilnya luar biasa.

Seminggu setelah saya mencoba syukuran sebelum beli HP, eh tiba-tiba teman kerja saya dengan senang hati meminjami uang kepada saya. Saya tidak menyebutkan nominal, tapi uangnya cukup besar sehingga saya bisa membeli HP impian saya itu.

Keempat belajar memahami keadaan. Di dalam keadaan apa pun di dalam keluarga yang kaya maupun kurang mampu, kita harus bisa memahami keadaan tersebut. Nah terus gimana jika kita mempunyai keinginan? Karena kahanan ekonomi di keluarga kita serba kekurangan, maka dari itu kita sebisa mungkin menahan keinginan kita itu sampai kita bisa bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri.

Seperti saya yang masa SMP dan SMA sangat menginginkan sepatu yang enak dipakai, jaket yang bagus dan itu semua terpendam selama 6 tahun. Tapi pada saat saya lulus SMA dan mendapatkan penghasilan sendiri. Nah di situ saya balaskan ‘dendam’ saya untuk mendapatkan jaket dan sepatu yang sangat saya impikan. Di sisi lain saya jadi bisa membelikan pakaian buat ibu dan Simbah.

Jadi jangan pernah iri dengan apa yang dimiliki teman kita yang kaya, sedangkan kita berasal dari keluarga kurang mampu. Saya ingat banget weling (nasihat) Simbah, “Kalau jalan, hadaplah ke bawah, jangan ke atas.”

Maksudnya kalau jalan tidak tersandung dan terjatuh. Jika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari ya biar kita tidak iri dengan teman yang memiliki semuanya. Kita pun terpengaruh oleh kemewahan teman yang membuat kita ingin memilikinya juga dan memaksa ibu kita membelikannya dalam keadaan yang kurang mampu. Itu kalau menurut saya pribadi seperti itu. Bagaimana menurut kamu?

Oleh: N. Yudhi S.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan