Tips Agar Apa pun Inginmu Dipenuhi oleh Allah

Dua tahun lalu, saya berdoa gencar pada Allah agar diberikan jodoh. Alhamdulillah, tercapai.

Sebulan berikutnya doa saya diijabahi lagi, yakni berhasil memiliki kontrakan sendiri dan motor matic yang saya idamkan.

Sekarang saya sedang mengumpulkan uang dengan gigih lagi payah, bekerja keras dengan sepenuh jiwa dan pikiran, tentunya dilingkupi doa-doa yang terus saya senaraikan siang malam, agar saya berhasil memiliki rumah. Semoga tiga tahun ke depan sudah tercapai. Aamiin.

Apakah ini pun akan dipenuhiNya?

Entahlah. Ada segumpal kecemasan sesungguhnya dalam hati saya soal terpenuhinya doa satu ini. Teramat sering saya mendengar atau bahkan menyaksikan langsung banyak pasangan yang sudah sekian lama berumah tangga, malah puluhan tahun, dan belum sukses pula memiliki rumah sendiri. Maklumlah, harga tanah dan material rumah makin menjulang. Semakin menjauh dari jangkauan tangan-tangan yang terbatas. Tapi saya terus saja berdoa, berusaha, berdoa, dan berusaha. Wallahu a’lam gimana buahnya nanti.

Tahun demi tahun berlalu dan impian itu kok rasanya makin terasa sulit saja terjangkau. Harga properti semakin menggila di Jogja, plus inflasi yang terus merangkak, dan kebutuhan hidup yang makin melonjak seiring bertambahnya jumlah dan usia anak.

Duh, gimana ini, ya Allah?

***

Menalar Gusti Allah sudah jelas merupakan pekerjaan yang sia-sia. Memetodekan kemahakuasaan Allah dengan pola apa pun, pendekatan ilmiah apa pun, sungguhlah tiada guna. Tafakkaru fi khalqillah wala tafakkaru fi dzatillah, berpikirlah tentang ciptaan-ciptaan Allah dan janganlah berpikir tentang dzat Allah.

Di ayat lain, kita pun tahu ada peringatan: umpama semua air laut itu dijadikan tinta dan semua pohon di muka bumi ini dijadikan pena, niscaya takkan pernah cukup semua itu untuk menuliskan kemahakuasaan Allah.

Nah, lho.

Makanya, stop memaksakan otak kita yang pas-pasan ini untuk menalar, menjangkau, dan menerjemahkan kemahakuasaan Allah dalam bidang apa pun. Termasuk dalam urusan pengin dipenuhi semua keinginan dan cita-cita kita, termasuk yang paling besar dan berat secara pembiayaan macam memiliki rumah sendiri itu.

Biarkanlah itu “dikerjakan” oleh Allah semata.

Lalu kita?

Cukuplah kita berdoa, berusaha, berdoa, dan berusaha.

Ihwal berusaha, sudah pasti akan sangat beragam jalannya. Entah jadi penulis, jurnalis, pedagang, guru, ustadz, dan sebagainya. Apa pun profesi dan pangkatmu kini, itulah ikhtiarmu. Komitmen saja dengan bidang tersebut, berikanlah seratus persen energi dan perhatianmu. Sudah. Ya, sudah.

Selanjutnya, yang nggak logis, berat, terasa musykil, biarkanlah “dikerjakan” oleh Allah. Buat kita, tak ada lagi kecuali satu hal saja: berdoa.

Persoalannya kini ialah bagaimana supaya doamu diijabah olehNya, “dikerjakan” olehNya, sehingga suatu kelak impian dalam doa itu bisa benar-benar terwujud. Di titik inilah kamu sangat memerlukan “tips” agar doamu cespleng, lalu semua inginmu dikabulkanNya.

Pertama, yakinlah sepenuh iman dan takwa yang haqqa tuqatih bahwa Allah Maha Kuasa atas segala apa pun. Apa pun, tanpa kecuali! Ini perkara hati, keimanan, yang mutlak kudu ditancapkan sekuatnya di dalam jiwa setiap muslim.

Wahai kaum jin dan manusia, jika kalian merasa mampu menjangkau ujung-ujung langit dan bumi, jangkaulah, niscaya kalian takkan mampu menjangkaunya tanpa pertolongan Allah,” begitu tutur surat ar-Rahman ayat 33.

Jadi, bila kamu punya keinginan, cita-cita, apa pun itu, bagaimana pun itu terasa besarnya, yang tidak bertentangan dengan syariat Allah, yakinlah sepenuh keyakinan bahwa dengan pertolongan Allah niscaya itu sangat mudah digapai. Termasuk keinginan memiliki rumah itu, misal.

Kedua, dikabulnya suatu doa sejatinya telah dituturkan oleh Allah secara jelas dalam surat al-Baqarah ayat 186, “ Aku mengabulkan doa orang yang berdoa bila ia berdoa padaKu, maka hendaklah memenuhi (panggilan)-Ku dan beriman kepadaKu.

Mari garisbawahi dua hal prinsip dari tuturan terbuka tersebut: “doa orang yang berdoa bila ia berdoa padaKu” dan “hendaklah memenuhi (panggilan)-Ku”. Prinsip “beriman kepadaKu” tidak perlu diperpanjang sebab telah dimengerti kan di bagian pertama tadi.

Poin “doa orang yang berdoa bila ia berdoa padaKu” mesti kita pahami secara jujur dan mendalam bahwa boleh jadi kita sedang memohon sesuatu pada Allah, tetapi tepat di detik yang sama sejatinya kita tidak sedang memohon kepada Allah.

Kamu mohon diberi rezeki yang lancar, misal, tetapi pada waktu yang sama kamu tak begitu yakin bahwa Allah Maha Kuasa untuk memberimu jalan bagi membanjirnya rezeki tersebut karena kamu merasa hanya pedang online kelas krecek. Itu tamsil bahwa doamu telah dimentahkan olehmu sendiri, bahkan di detik yang sama. Ini anomali. Ketidakkonsistenan antara harapan dan perasaanmu. Jelas ini doa yang gagal.

Maka yakinilah sepenuhnya iman bahwa apa pun doamu, inginmu, Allah pasti sangat Maha Kuasa untuk mewujudkannyam dengan jalan apa pun yang tak bisa diduga-duga oleh nalar rasional manusia.

Poin “hendaklah memenuhi (panggilan)-Ku” seyogianya menjadi mekanisme introspeksi bagi kita apakah selama ini (bukan hanya saat berdoa) kita telah benar-benar “memenuhi panggilan-panggilan Allah” dalam hal menjalankan semua perintahNya dan menjauhi semua laranganNya. Introspeksilah.

Di awal surat Hud (bisa jadi penjelas ayat ini), Allah memerintahkan kita untuk banyak-banyak memohon ampun dan bertaubat padaNya. Entah pada dosa yang kita sadari atau tak kita sadari; entah sebagai ekspresi syukur kita atau menjaga hati dari kekufuran macam desir-desir kesombongan di kala sedang jaya atau mudah urusannya.

Sudahkah kita membingkai semua aktivitas kita sehari-hari, termasuk dalam bekerja, menulis, mencari rezeki, hingga menabung dan mengangankan rumah impian itu dengan taubat-taubat yang terus berderai? Sudahkah kita mengemas semua ungkapan pertaubatan kita atas mahallul khata’ wan nisyan sehari-hari dengan titik-titik air mata karena takut sama azab Allah?

Sudahkah hati kita gemetar lantaran selalu ingat pada: inni akhafu in ‘ashaitu rabbi adzaba yaumin adhim, sungguh aku takut jika aku bermaksiat pada Tuhanku akan ditimpa oleh azab yang besar?

Bila introspeksi ini terus kita lakukan, lazimkan, habitkan, sehari-hari, siang dan malam, dalam keadaan apa pun, ramai atau sendiri, jaya atau susah, niscaya jiwa kita akan selalu terkoneksi pada-Nya, terkendali dari segala goda duniawi yang menggiurkan. Dan tepat dalam mutu jiwa demikianlah, kemahakuasaan Allah akan “bekerja” penuh buat kita. Apa pun, apa pun, apa pun yang kita pintakan kepada Allah, niscaya akan diijabahiNya.

Mari mulai dari melazimkan istighfar kepadaNya.

Oleh: Edi AH Iyubenu

Tinggalkan Balasan