Ya Allah … mudahkanlah kami dalam mencari rezeki. Jadikanlah tetesan keringat ini sebagai rezeki yang halal. Karuniakan pula kesehatan, dan jauhkan kami dari penyakit yang berbahaya. Begitulah, beberapa permohonan yang kupanjatkan kepada Allah. Tetapi, seperti yang kita tahu, enggak semua yang kita minta pasti dikabulkan. Akan ada salah satu yang Allah tunda untuk mengabulkannya.

Seperti waktu itu, harusnya sebagai pengantin baru aku bisa bersenang-senang seperti teman-teman. Bulan madu ke luar kota atau minimal makan bareng suami di tempat romantis. Sayangnya, aku enggak merasakan itu semua. Hari-hariku sebagai pengantin baru penuh dengan keprihatinan. Aku dan suami terserang kanker (kantung kering).

Begini ceritanya.

Setelah menikah aku memutuskan ikut suami ke Surabaya. Selain dia asli anak ibu kota Jawa Timur, kerjanya memang di sana. Waktu itu suami membawaku ke rumah keluarga besarnya. Rumah tua yang enggak sebesar rumah bapakku di kampung. Dia bilang tempat tinggal itu peninggalan kakek-neneknya, boleh ditempati siapa saja yang belum punya gubuk sendiri. Saat itu ada empat keluarga di sana plus kami jadi lima keluarga. Bisa dibayangkan bagaimana sesaknya.

Aku yang enggak biasa hidup umpel-umpelan merasa kurang nyaman. Mau mandi antre. Dapur satu masaknya sendiri-sendiri, gantian. Enggak pagi, siang, sore, malam selalu ada keributan. Kuutarakan ketidaknyamanan itu pada suami juga orangtua di kampung. Setelah berunding, jalan satu-satunya mecah, aku dan suami akhirnya milih tinggal di kontrakan.

Sebenarnya suami ada rumah sendiri, tapi belum bisa ditempati karena pembangunannya berhenti di tengah jalan. Pembangunan rumah itu berhenti sejak ibu mertua meninggal, 150 hari sebelum kami menikah. Selain itu jarak tempuh ke tempat kerja lumayan jauh, belum ada listrik dan air.

Baru satu minggu aku merasakan sedikit kenyamanan, Allah menurunkan ujian baru. Suami kehilangan pekerjaan dengan alasan terlalu banyak izin, sejak meninggalnya ibu mertua sampai kami menikah.

Ya, mau enggak mau kami harus mulai dari bawah lagi. Benar-benar menempuh hidup baru pokoknya. Selama suami mencari pekerjaan baru, kami harus memperjuangkan hidup dengan uang pesangon. Kukira dengan pengalaman kerja yang suami miliki bisa gampang cari kerja. Nyatanya enggak. Hampir empat bulan perjuangan suami mengikuti tes berujung di meja HRD tanpa panggilan kerja.

Mungkin kalian bertanya, kok cuma modal pesangon untuk bertahan hidup? Memangnya enggak punya tabungan? Uang hasil kondangan, kan, ada?

Untuk tabungan suami enggak akan kuceritakan, sebab akan membuka aib ibu tirinya. Kalau tabunganku sudah kugunakan untuk berbagi bersama adik-adik yatim piatu saat kami menikah. Pada hari spesial itu juga, aku mengadakan istighosah untuk umum. Semua biaya operasional murni dari tabunganku dan hanya ada sedikit sisa. Lalu uang hasil kondangan kami gunakan untuk mengontrak rumah petak.

***

Selama empat bulan kami berjuang bersama mencari kerja tanpa hasil, tibalah aku pada gerbang keputusasaan. Aku pusing saat mendapati uang kami tinggal dua puluh ribu. Bahan makanan habis, hanya ada sisa segelas tepung terigu dan seuprit minyak. Sepeda motor yang menjadi kaki kami ngalor-ngidul juga butuh bensin. Jadwal membayar jasa pengelolahan sampah pula. Allah.

Kepalaku rasanya mau copot saja, bingung mau membagi uang dua puluh ribu. Cari kerja serabutan juga enggak nemu-nemu. Nitip brosur yang isinya melayani privat pelajaran sekolah dan ngaji untuk anak-anak ke saudara suami juga sudah. Pengin banget pulang kampung, mengadu kepada Bapak-Ibu. Terus tinggal sama mereka lagi daripada hidup di kota dengan kengenesan ini.

Ah, tiba-tiba aku terbayang lodeh nangka muda. Biasanya Ibu selalu masak itu dengan porsi banyak kalau pas bokek. Kata Ibu, itu satu-satunya masakan yang awet, enggak habis satu atau dua hari masih bisa jadi belendrang (sayur lodeh yang kuah santannya sudah kering).

Dek … ini, Ibu telepon. Enggak usah cerita kalau kita kehabisan uang, loh, ya,” ujar suami membuyarkan lamunanku tentang lodeh nangka muda.

“Masak opo (apa), Nduk?” tanya Ibu setelah kami bertukar kabar.

Ngesop (masak sup), Bu.” Spontan kujawab pertanyaan Ibu di ujung telepon.

“Enak. Seger,” kata Ibu lagi dan hanya kujawab dengan anggukan kepala meski beliau enggak bisa lihat.

Ya Allah … jangan Kau catat kebohonganku barusan sebagai dosa, Batinku sembari menatap sepiring bakwan, lebih tepatnya tepung goreng karena enggak ada campuran apa-apa. Sebuah maha karya yang baru tercipta dari tanganku untuk mengganjal perut kami. Rasanya ingin sekali kuceritakan keadaan kami kepada Ibu. Tetapi, pesan suami sebelum aku menjawab telepon Ibu, mengingatkan niat awal kami untuk hidup mandiri. Melakoni peran kami tanpa merepotkan siapa pun.

“Kapan wangsul (pulang)? Semua kangen. Minggu depan pada ngumpul di rumah Lik Har, Ika nikah.”

Aku menarik napas dalam, melirik suami yang menungguiku teleponan sama Ibu. “Insyaallah ntar wangsul, Bu. Tapi, enggak janji, ya,” kataku hati-hati.

Krucuk …! Ngrrk …! Aku dan suami saling pandang dan tertawa gara-gara perut kami mulai keroncongan. Sepiring bakwan polosan seolah melambaikan tangan untuk kuhampiri. Gusti, baru kali ini aku harus mengganjal perut dengan tepung goreng, batinku.

“Enak, Dek,” ujar suami yang lebih dulu mencomot gorengan tepung itu. Aku tahu rasanya pasti aneh. “Cobain, burger aja kalah,” lanjutnya menghiburku.

“Hari ini kita bisa makan bakwan gundul buat ngganjal perut. Besok?” tanyaku dengan suara tanpa daya.

“Insyaallah masih bisa makan. Berdoa saja. Eh … tapi besok itu Senin, puasa dong kita.”

“Sahurnya? Bukanya, pakai apa? Bakwan ini?” tanyaku lagi, hampir menangis.

Suami bergeming. Ditariknya kepalaku perlahan ke dalam pelukannya. Aku tahu, pasti dalam hatinya dia meminta maaf karena belum bisa mencukupi kebutuhan kami. Dia juga pasti merasa bersalah kepada orangtuaku karena anak perempuan mereka kelaparan saat membersamainya.

Keindahan masa pengantin baru yang dinikmati teman-teman silih berganti di retina mataku. Seminggu setelah menikah mereka bisa liburan ke luar kota, makan enak di tempat romantis. Sedang aku dan suami harus menyusuri panasnya Surabaya untuk mencari kerja. Menahan lapar dan haus demi untuk membeli map dan foto copy beberapa dokumen.

“Asalamualaikum … Mas Pur ….”

Suami gegas membuka pintu dan menjawab salam. “Nggeh, Pak, ada apa?”

“Ini ada undangan syukuran dari keluarga Pak Yuli. Acaranya bakda magrib.”

Samar kudengar suara seorang laki-laki berkemeja cokelat tua.

“Oh, nggeh, Pak. Matur suwun (terima kasih),” ujar suami sebelum si bapak pergi.

Tanpa membacanya, suami meletakkan lipatan kertas hvs itu di dekat TV. Mungkin dia merasa enggak perlu dibaca, toh tadi si bapak itu bilang acaranya bakda magrib. Tetapi, aku yang penasaran, dan akhirnya kubaca. Mataku berbinar membaca undangan syukuran itu. Ini beda dengan biasanya yang hanya untuk laki-laki. Keluarga Pak Yuli mengundang jamaah tahlil laki dan perempuan barengan.

“Alhamdulillah, nanti kita makan enak, Mas,” kataku semangat sembari menunjukkan selembar undangan itu.

Hushwong diundang syukuran, kok yang dipikir makananya. Enggak ilok (pamali).”

“He-he-he ….” Aku cengengesan. “Ya, kan biasanya gitu. Pasti dikasih makan enak, pulangnya juga dikasih nasi kotak plus jajan pasar,” terangku.

“Iya. Tapi, ya jangan gitu. Kita ke sana niatnya buat silahturamih dan doa bersama. Dapat makan enak itu bonus, sedekahnya yang punya hajat,” jelas suami yang kujawab dengan anggukan.

Terserahlah, siang itu aku sudah kebayang makan malam nanti pakai soto atau rawon. Makanan favorit yang sudah lama kurindukan. Terus pulangnya sudah pasti dikasih nasi kotak dan jajan pasar. Hmmm, nasinya bisa buat sahur, jajannya bisa buat buka besok.

Aku melirik beberapa bakwan gundul di atas piring. Dengan hati yang patah kututup dengan piring lain supaya enggak kelihatan. Bukan membiarkanya mubazir, tapi siang nanti kami masih membutuhkannya lagi. Karena menuju Magrib masih sangat lama. Parah, kan? Iya, parah. Sepiring bakwan tanpa campuran sayur kami gunakan untuk mengganjal perut.

Mbak, ada yang minta anaknya diajari ngaji. Tapi, privat di rumahnya. Bisa? Kalau bisa sebelum Asar ke sini, ya. Orangnya minta jadwal ngaji anaknya selepas Asar. Dibayarnya harian.

Segera kutujukkan SMS itu kepada suami. “Kata Intan ada job, ngajar ngaji deket rumahnya, Mas. Gimana? Dibayarnya harian.”

“Setiap hari?” tanya suami.

Kuketik SMS kepada Intan, saudara sepupu suami.

Tiap hari, tah?

Enggak. Nanti dikasih jadwal sama orangnya. Menyesuaikan jadwal les anaknya yang lain. lumayan, loh, Mbak. Dari jam empat sampai lima, tok, dikasih 40 ribu.

Siap. Insyaallah nanti aku ke sana, balasku lagi.

Alhamdulillah ada setitik harapan buat kami bertahan hidup di kerasnya kota Surabaya. Walaupun enggak setiap hari ngajar dan dapat bayaran, setidaknya ada rupiah yang bisa kuputar. Insyaallah akan ada rezeki lagi dari jalan yang lain.

Dek, aku dapat SMS juga dari Mas Wid. Besok suruh ke tempat dia kerja ketemu bosnya. Ini, katanya kemungkinan besar langsung kerja,” seru suami.

“Alhamdulillah. Semoga besok langsung keterima kerja beneran, ya, Mas. Aamiin.”

Krucuk …! Ngrrrk …! Perutku keroncongan lagi. Di luar suara tik-tok, tik-tok penjual bakso saling bersahutan.

“Mau bakso, Dek?” tanya suami yang ternyata memerhatikan tingkahku.

Aku menggeleng. “Bakwannya masih, kok. Dua puluh ribunya buat isi bensin nanti biar bisa nganter aku ke rumah Intan.”

Segera kuambil piring yang berisi sisa bakwan. Perutku sudah sangat melilit dan enggak bisa ditunda lagi untuk diganjal. Alhamdulillah sekali meskipun hanya gorengan tepung, tapi bisa menolong kami di waktu darurat.

Bersyukur sekali pernah ngenes gara-gara kanker. Dari sana aku dan suami banyak belajar dan lebih berhati-hati dalam menggunakan uang. Tetapi, bukan berarti setelah kanker saat itu kami enggak ngenes lagi. Masih ada kanker lainnya, dan itu (mungkin) akan sering terulang karena memang salah satu ujian dalam sebuah pernikahan.

Ya, terkadang memang kita perlu prihatin untuk lebih bisa bersyukur. Dalam berumah tangga, semakin sering diuji, kita akan semakin sayang kepada pasangan, dan lebih dekat dengan-Nya.

***

Oleh: Isti Syarifah.

Ilustrasinya dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: