Ilustrasi dari Hipwee.

Tuhan, Aku Tak Ingin Menikah Dini

Sudah berapa jam ia mematri diri di mushola kecil yang terpetak dalam bangunan pesantren Nurul Huda. Ia larut dalam lantunan kalam-kalam-nya. Ia memilih tempat dipojok kiri tepat bawah rak mushaf Al-Qur’an. Ia duduk manis menghadap kiblat. Matanya terpejam, sementara mulutnya terus menggumamkan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Sesekali ia menghentikan bacaannya ketika beberapa santri masuk ruang dengan mengucapkan salam. Ia menjawab salam lalu kembali melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, dengan diawali basmalah. Wajahnya tampak begitu menyedihkan. Terkadang pula beberapa tetesan air mata keluar dari kedua sudut matanya.

Tubuh mungilnya senantiasa lengket dengan lantai tersebut. Ia meninggalkan tempatnya hanya untuk rutinitas seperti para santri lainnya. Misalnya makan, minum, mandi, berjamaah, serta kegiatan rutin ngaji kitab ala pesantren. Ia juga akan kembali ke kamar paling akhir. Ketika mushola telah sepi dan para santri telah lengap dalam tidurnya. Seperti biasa diatas pukul 12:00 malam.

Aku mendekat saat ia benar-benar tak mampu menahan deras cucuran airmata yang senantiasa membasahi pipinya.

“Zi…, Kamu baik-baik saja kan? Sudah lewat pukul 12:00. Ayolah kembali ke kamar. Kamu harus istirahat! Bukankah kamu sudah mempersiapkan setoran hafalanmu untuk esok hari? aku yakin kamu pasti sudah hafal, sekarang waktunya istirahat Zi.”

“Aku belum selesaikan murojaahku Say…, Sehari harus 10 Juz. Aku tak akan istirahat sebelum murojaah lebih dari 10 juz.”

“Apa? 10 Juz? Itu benar-benar menguras pikiranmu Zi …, bukan hanya murojaah saja yang harus kau lakukan disini. Kamu juga harus belajar kitab, menghafal Nadzom-nadzom yang tak terhitung jumlahnya. Belum lagi banyak tugas sekolah diluar pondok.”

Tiba-tiba air mata itu tampak semakin deras membasahi pipinya. Ia tak mampu lagi menahan kenyataan yang dialaminya. Memang benar, ia tak bisa memilih untuk fokus dalam salah satu bidang. Karena antara keinginan, keadaan, serta tuntutan yang membuat Fauziyah harus membagi dirinya ketiga bidang tersebut. Dengan suara lirihnya ia membuka suara lagi.

“Aku hanya butuh fokus Say, tolong tinggalkan aku sendiri.”

Aku beranjak pergi meninggalkan Fauziyah yang masih tenang dan berpegang teguh untuk menjaga hafalannya serta berazam ingin segera menghatamkan 30 juz bil Ghaib. Ia kembali ke kamarnya. Lalu segera memejamkan kedua matanya serta berdoa.

***

Entah ada yang terlihat aneh dari Fauziyah belakangan ini. dari sikapnya yang seolah memaksakan diri untuk lebih rajin dari biasanya. Beberapa kali aku tanyai, tapi ia masih saja belum berani untuk cerita. Hingga aku menjumpai keadaan ia ketika menangis tersedu-sedu dihadapaan Ummi.

“Ummi, Zia enggak mau segera nikah dulu. Zia masih terlalu muda, ingin bisa mengkhatamkan Al-Qur’an dan lanjut sekolah di perguruan tinggi.” Ujarnya dalam sesenggukan.

“Ini amanah dari Ibumu, Zia. Satu minggu lagi calon suamimu akan datang kesini untuk meminta restu Abah dalam persetujuan memintamu menikah di bulan depan.”

“Tolong Zia Ummi. Apa Ummi ridlo jika Zia tidak selesai mengkhatamkan Al-Qur’an sebelum waktunya mati? Zia tak ingin seperti itu Ummi. Zia lebih memilih mati sekarang daripada menikah dalam keadaaan belum mengkhatamkan hafalan Al-Qur’an Zia.”

“Baiklah, Ummi dan Abah usahakan mencari alasan bijak supaya kamu tetap disini hingga selesai hafalan Al-Qur’annya.”

“Terimakasih Ummi.”

Aku sangat terkejut mendengar kabar ini. sungguh sangatlah berat bagi Fauziyah. Dia yang dulu selalu memotivasiku untuk menggapai cita-cita setinggi mungkin untuk membahagiakan orang tua sebelum berkeluarga. Akan tetapi, masa depan yang diimpikannya seolah menjadi suram sebab tak sesuai dengan kenyataan yang tengah dihadapi.

Tepat satu tahun setelah aku lulus dari pondok dan pergi merantau untuk lanjut kuliah di Jawa Tengah, aku baru mendapati undangan bahwa Fauziyah akan menikah setelah bulan Romadlan. Aku sempat terkejut karenanya. Bukan sebab menikah yang terlalu cepat, akan tetapi masa penundaan satu tahun yang dulu sangat tidak mungkin terjadi.

Aku sempatkan waktu untuk menghadiri pernikahaannya. Bahkan ia rela menantiku hingga waktu sudah larut malam karena memang aku tidak diperbolehkan orang tua berpergian seorang diri.

Alhamdulillah, akhirnya kamu datang juga, Say. Aku berpikir kamu tidak bisa hadir. Barusaja aku melepas gaun dan dandanku yang semakin lama terasa berat dan pusing. Eh, belum selesai pakai kerudung biasa, kamunya datang.”

Aku memeluknya erat dengan mata haru. “Ini kamu Fauziyah benar?” tanyaku ragu.

“Iya dong, ini Fauziyah sahabatmu.”

“Aku enggak nyangka akhirnya suamimu rela menunggu hingga hafalan Al-Qur’anmu khatam. Kamu bahagia kan, Zia?” tanyaku dengan rasa haru yang luar biasa.

Insyaallah jika ini jalan yang terbaik untuk Ayah dan Ibu, Zia berusaha bahagia, Say. Zia minta doanya ya. Zia masih berat untuk pisah sama Ayah dan Ibu. Karena Zia harus tinggal sama suami di Surabaya.”

“Pasti kamu bisa menjalani semuanya dengan tabah, Zi. Semoga semuanya membawa keberkahan dalam kehidupanmu.”

“Jika aku boleh jujur, aku ingin sepertimu, bisa kuliah dan banyak teman di sana. Bisa puas dengan usia muda. Sedangkan aku sudah mempunyai kewajiban untuk mengurus keluarga.” Timpalnya dengan nada menurun, sedih.

Semua sudah ada jatahnya. Bahkan segala kesuksesan pun tidak hanya diukur dari seberapa tinggi ia sekolah. Meskipun itu menjadi salah satu jalan pintasnya. Akan tetapi kesuksesan dalam membangun keluarga itu juga bisa menjadi prestasi bagi mereka yang menjalani nikah dalam usia muda.

Maka, cara merealisasikan mimpi pun masih banyak cara dan jalan selama kita masih menjadi manusia yang tak pernah putus asa dalam berusaha. Never give up. Allah with us.

Oleh: Sayyidatina A.

Tinggalkan Balasan