Tuhan, Maafkan Aku Telah Percaya Padanya

“Aku menyesal Mbak. Nyesal banget, kok bisa ya dia seperti itu?” ucapku membuat Mbak Vira bingung dengan terus menanyakan kenapa. “Aku masih enggak nyangka, Mbak.”

“Iya, ada apa, Mustika? Gimana aku tahu kalau kamu datang-datang langsung begini.”

Aku mengatur napas sejenak. “Aku mutusin Aldo.”

“Hah! Kok bisa sih? Bukannya kamu cinta banget ya sama dia?”

***

Semuanya berawal ketika Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS), saat itu ada senior cowok yang sering membuatku enggak fokus. Sesekali retina mata kami bertemu, dengan cepat juga aku mengalihkannya. Entah aku yang ke-PD-an atau apa, sepertinya dia juga sering memerhatikanku selama PLS berlangsung.

“Pulang arah mana?”

Aku kaget karena dia, senior idamanku itu menghampiriku yang sedang menunggu angkutan lewat. “Emm, ke arah jalan manggis,” jawabku dengan wajah memerah karena malunya.

“Yuk, sekalian,” tawarnya sambil melemparkan pandangan ke arah jok belakang. “Ada helm dua kok,” tambahnya dibumbuhi senyum manis.

‘Ya Allah …. Perasaanku kok jadi gini.’ Bagaikan ada dorongan dari alam bawah sadarku. Aku pun mengangguk, yang berarti menerima tawarannya.

“Oh iya, kamu Mustika kan?” tanyanya di tengah-tengah perjalanan pulang.

“Iya, Kak.”

“Enggak usah pakai Kak. Aldo aja, sama aku santai.”

Tiba-tiba tangannya mengubah posisi spion kiri, sehingga aku bisa melihat keseluruhan wajahnya. ‘Oh, ya ampun ini cowok, lucu banget.’ Saat itulah dia telah membawa separuh hatiku. Dia yang menanamkan bibit rindu yang selalu membuatku ingin terus ketemu dia. Ya, bisa dibilang dialah cinta pertamaku.

***

“Gak usah buru-buru, Tik. Kamu kenal dia juga baru beberapa hari kan?” ujar Mbak Vira setelah aku menceritakan tentang Aldo. Mbak Vira ini sahabat remaja masjid, usia kami beda empat tahun dan berhubung aku enggak punya saudara perempuan, dialah Mbakku saat ini.

“Iya-ya, Mbak. Namanya juga anak muda, wajar dong.”

“Iya deh iya. Tapi jangan nangis loh kalau sakit hati. Haha.”

“Mbak mah gitu.” Aku menggelembungkan pipi, “Dia anaknya baik kok.”

“Aamiin.”

***

Waktu berlalu begitu cepat, rasanya baru kemarin aku ketemu dia saat LPS. Sekarang aku harus mengatur jantung yang berdetak sangat kencang, menahan malu yang enggak terbendungkan. Gimana enggak? Di kantin sekolah, tempat sebagian besar anak-anak kumpul, dan saat itu juga dia ….

“Perhatian teman-teman!” teriakannya mampu mencuri perhatian banyak orang di kantin. Semua mata pun tertuju pada kami. “Ada pengumuman yang harus kusampaikan. Aku Aldo Saputra sangat mencintai Mustika Ayu yang saat ini ada di hadapanku.”

Pipiku langsung memerah, “Aldo apa-apaan sih?” bisikku, tapi hanya dibalas kedipan mata olehnya.

“Sekarang sedang menunggu perasaan darinya, apakah dia juga mempunyai perasaan yang sama terhadapku?” tambahnya dengan suara yang lantang.

Ada rasa haru menyelimuti tubuhku, dia begitu berani menyatakan cintanya. Ramai terdengar teriakan, “Terima … Terima ….” Dengan rona wajahku yang mungkin aneh saat ini saking groginya, aku mengangguk, “Iya, aku juga cinta.”

“Yes!” ujarnya penuh kemenangan, disusul riuh tepuk tangan anak-anak. “Terima kasih teman-teman atas segala perhatian. Silakan melanjutkan aktivitasnnya,” ucapnya lalu duduk.

“Kamu gila tahu ngga?”

“Tapi cinta kan?” Dia menjulurkan lidahnya.

Cinta pertamaku kini menjadi pacar untukku tepat kelas XI. Hari-hariku menjadi lebih berwarna dengan adanya dia di hati ini. Berjalannya waktu, telah banyak mengukir kenangan indah aku dan dia.

Weekend selalu jalan ke suatu tempat, kejutan ulang tahun, dan kejutan-kejutan lainnya. Hubungan ini berjalan pun sampai anniversary ke-2. Saat itu kami sudah lulus SMA dan kuliah di tempat yang berbeda.

“Langgeng juga hubungan kalian ya,” ujar Mbak Vira sambil sibuk mengetik sesuatu di laptopnya.

“Iya, Mbak. Syukurlah.”

“Kapan diseriusin tapi? Sudah dua tahun loh kalian terbungkus ikatan nggak jelas begitu.”

Mbak Vira memang dari dulu paling tegas dalam mengawasiku. “Apaan sih, Mbak. Aku bisa jaga diri kok, tenang aja pokoknya.”

“Bukan gitu, Mustika. Setan itu bisa menghasut kita dari segala arah loh.”

“Iya, Mbak sayang. Sudah, aku pulang dulu ya, siap-siap bentar lagi dijemput dia,” ujarku lalu meninggalkan kamar Mbak Vira.

Yang ditinggal hanya geleng-geleng kepala. Aku tahu apa yang Mbak Vira lakukan semata-mata karena peduli. Tapi, selagi aku dan dia bisa jaga diri enggak ada yang perlu dikhawatirkan kok.

Tanganku digandeng selama berjalan menuju lantai tiga—lokasi bioskop. Hari ini dia ngajakin nonton, karena tepat ada film romantis yang tayang.

“Sayang, enggak kerasa ya sudah dua tahun hubungan kita,” ucapnya menatap dalam mataku.

“Iya, sayang. Makasih ya sudah buat aku nyaman.”

Setelah menunggu sambil sedikit mengenang masa-masa lalu, kami pun masuk studio di mana kami akan nonton. Dia memilih lokasi paling atas, alasannya biar bisa puas menatap layar.

Setengah film diputar, tangannya berani merangkul bahuku, mendekatkan tubuhku ke punggungnya. Deg! Tiba-tiba ada perasaan yang enggak karuan. “Ayolah, enggak ada yang lihat ini,” bisiknya ketika tangannya mau menyentuh bagian berhargaku.

Aku berontak. “Maaf kalau begini ceritanya. Kita selesai. Aku mau putus!” ucapku lalu meninggalkan dia. Aku turun sambil menangis, dia pun menyusul.

“Mustika tunggu!”

Aku justru mempercepat langkahku, begitu di luar studio ternyata dia sampai menggapai bahuku. “Kamu kenapa? Kita kan sudah lama pacaran?”

Aku kaget dengan apa yang diucapkannya, bukan maaf yang kuterima malah kata yang seakan aku yang salah. “Bukan berarti kamu bisa seenaknya! Ternyata pikiranmu sudah kotor. Jangan pernah ikuti aku, atau aku akan teriak!”

Pulangnya aku langsung menuju kamar kamar Mbak Vira sambil menangis.

***

“Sudah-sudah …. Benar yang apa Mbak bilang kan? Pacaran itu enggak baik.”

“Aku menyesal.” Memang selama ini aku salah, terlalu menutup hati untuk menerima nasihat Mbak Vira. Lagian aku percaya kalau cowok itu anak baik-baik. Ternyata ada kebusukan dibalik tampilan manisnya. []

Oleh: Nurwa R.       

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan