Kalian pernah kenal laki-laki/perempuan yang suka berdakwah di media sosial? Laki-laki/perempuan seperti ini biasa disebut ikhwan/akhwat.

Padahal sebenarnya akhwat dan ikhwan itu artinya saudara perempuan dan laki-laki. Kaum ikhwan/akhwat suka menebar petuah-petuah agama di akunnya. Tapi tidak semua sih, ada juga yang memang tidak suka terlalu eksis di media sosial.

Dalam pandangan masyarakat, ikhwan/akhwat itu adalah seorang laki-laki/perempuan yang amat menjaga setiap jengkal pergaulannya dengan lawan jenis.

Kaum ikhwan tahu caranya menjaga diri dan kehormatan perempuan, begitu sebaliknya. Karena mereka bukanlah orang biasa suka menebar pesona. Mereka tahu caranya menjaga hati dan pandangan dari apa yang belum menjadi haknya.

Lalu, ikhwan-ikhwan yang kalian kenal sudah seperti itukah? Mereka suka chat nggak?

Chatnya berisi bertanya kabar, menanyakan sedang apa, atau sibuk apa. Akhwat mengira mungkin ada hal penting sehingga membalasnya. Namun lama-kelamaan pembicaraan mengarah pada hal yang tidak penting. Inginnya menyudahi, namun si ikhwan tetap saja menggiring pada pembicaraan yang dipaksakan untuk menjadi penting, misalnya membicarakan tentang agama.

Berada di posisi ini membuat perempuan tertarik untuk menanggapi setiap chatnya. Berdiskusi tentang agama memang baik, namun sayangnya hal ini disalahgunakan kebanyakan ikhwan untuk mendekati perempuan.

Cara berdiskusi pun sebenarnya bukan dengan chatting secara bebas antara laki-laki dan perempuan. Ditakutkan setan secara halus masuk dalam chatting. Di situlah nanti mulai ada rasa kagum, ketertarikan, bahkan rasa ketergantungan.

Sehari tidak menanyakan kabar rasanya hambar. Sehari tidak bertegur sapa rasanya ada yang tak biasa. Laki-laki seperti ini mengemas dirinya begitu apik sekali. Membuka chatting dengan salam, mengingatkan sholat dan ibadah lainnya, serta mendiskusikan perihal agama.

Siapa perempuan yang tidak tertarik dengan laki-laki seperti ini?

Pasti hati perempuan akan tersihir olehnya. Apalagi perempuan yang mengalami ini baru saja hijrah. Dia akan menyambut ikhwan dengan sukacita karena berkeinginan untuk belajar agama lebih mendalam.

Sebagai seorang ikhwan yang lebih paham tentang agama, seharusnya dia mencarikan teman perempuan lain untuk menemani dan mengajari perempuan ini dalam masa hijrah, bukan malah dia sendiri yang mendekati.

Banyak ikhwan anti pacaran namun dia ramai mengirim pesan-pesan untuk perempuan. Lalu apa bedanya dengan laki-laki di luar sana?

Kalau sebenarnya sama-sama tidak bisa menjaga batas pergaulan dengan lawan jenis. Bermaksiat itu bukan hanya tentang bersentuhan kulit antara orang yang bukan mahram, namun bagaimana satu sama lain tidak bisa menjaga hati dan pandangannya.

Para ikhwan bermaksud untuk mengajak para perempuan berhijrah, ini terlalu lucu kedengarannya. Bagaimana tidak, mengajak kebaikan namun dengan cara yang salah. Bagaimana dia bisa mengajak orang untuk berhijrah kalau dirinya sendiri yang mengajak si perempuan pada jurang kemaksiatan?

Bagaimana kalau nantinya si perempuan berhijrah hanya karena menyukai si ikhwan, bukankah akan lebih kasihan? Lelahnya dalam memperbaiki diri tidak berarti apa-apa di mata Allah Swt.

Sungguh, membimbing kebaikan itu bukan dengan cara yang seperti ini. Hati perempuan itu terlalu lembut untuk disinggahi. Si ikhwan mengatasnamakan ini jalan dakwah, namun si perempuan mengira ada misi tersembunyi untuk perasaan si ikhwan.

Terlalu sadis kalau mengatai perempuan mudah baperan, tapi nyatanya ikhwan sendiri yang sukanya mengirim kode-kodean. Bagaimana sebagai perempuan tak mudah menaruh rasa kalau setiap hari si ikhwan tanpa sengaja melakukan praktik pencurian hati.

Hai ikhwan, jika ingin melihat para perempuan hijrah, tak perlulah menjadi pahlawan kesiangan yang setiap hari mengingatkan ibadah.

Tak perlulah memperlihatkan kepada para kaum hawa kalau kalian benar-benar paham agama. Jika kalian merasa ingin membantu para perempuan berhijrah, ajaklah para akhwat teman dakwah kalian untuk bergerak membersamai para perempuan itu. Bukan kalian sendiri yang gagah-gagahan bertindak sendiri yang nantinya malah memperburuk citra Islam.

Kalian pernah dengar suara banyak orang yang mengatai kalian ikhwan gadungan. Sukanya posting status dakwah, namun juga masih suka menggoda para perempuan. Kemudian banyak orang menyamaratakan kesalahan satu orang pada orang lainnya. Padahal sebenarnya, tidak semua ikhwan seperti itu. Masih banyak ikhwan di luar sana yang begitu menjaga dirinya dan diri perempuan. Namun yang lebih banyak terlihat adalah ikhwan-ikhwan seperti kalian. Sampai-sampai ada orang yang beranggapan laki-laki brandalan itu lebih baik daripada para ikhwan yang sukanya menebar pesona.

Karena laki-laki brandalan lebih jujur menjadi diri mereka sendiri, daripada para ikhwan yang menggunakan agama sebagai kedok. Jika kalian suka menebar kebaikan, tanamkan kebaikan juga pada diri kalian.

Untuk para akhwat, jadilah kaum hawa yang tidak mudah tertaklukkan hanya dengan gombalan.

Belum tentu laki-laki yang begitu perhatian dan peduli denganmu, semata hanya tertuju pada dirimu. Bisa jadi di luar sana ada beberapa perempuan yang juga sedang dia perlakukan sepertimu.

Tidak selalu laki-laki yang begitu ramai menanyakan kabarmu adalah dia yang sedang menaruh rasa, bisa jadi dia hanya menaruh iba kepadamu karena sesuatu. Jangan mengatai laki-laki suka modus, kalau ternyata kalian sendiri yang mudah percaya kepada mereka.

Jangan mudah untuk menanggapi chattingan seorang laki-laki sekali pun awalnya kamu hanya iseng atau untuk menemani kesepian. Tresno iku jalaran soko kulino (cinta itu dimulai dari kebiasaan). Siapa yang biasa chattingan, dia juga yang nantinya sayang. Jika tidak ingin terbakar, jangan bermain api. Jika tidak ingin patah hati, jangan bermain hati.

Perasaan cinta yang datang sebelum halal itu hanyalah ujian.

Sebenarnya, perlakuan orang lain kepada kalian itu tergantung bagaimana kalian memperlakukan diri kalian sendiri. Kalau dari awal kalian sudah menjaga diri dengan tegas, maka orang lain juga sungkan untuk menggoda atau iseng kepada kalian.

Hai para akhwat, jika ada ikhwan yang berhasil membuatmu patah hati, jangan sibukkan diri untuk mengumpat atau memarahinya, Coba tengok diri sendiri yang belum pandai menjaga hati. Natap cermin dulu yuk, selama ini kita sudah jaga diri atau teledor meletakkan diri. Seseorang tidak akan mudah masuk di kehidupan kita kalau kita tidak mempersilakannya.

Lalu, sebenarnya batasan chattingan seorang laki-laki dan perempuan itu bagaimana?    

Sebenarnya boleh kok chattingan. Asalkan alasannya syar’i, misalnya membicarakan hal-hal yang sangat penting dan hanya kepada satu orang itu kalian bisa memperoleh informasinya.

Kalau sebenarnya masih bisa mendapat informasi dari teman sesama jenis, ya jangan cari-cari kesempatan untuk menghubungi lawan jenis.

Sampaikan hal-hal penting saja, tidak perlu membumbui dengan ucapan-ucapan bercanda yang berlebihan sampai menjurus pada pembahasan yang tidak penting.

Lalu perhatikan waktu untuk menghubungi. Di atas pukul 9 atau 10 malam, jangan membalas pesan dari lawan jenis. Jika tidak darurat, besok pagi saja membalasnya.

Dan cara yang terakhir adalah tegas pada aturan yang telah kalian buat sendiri. Misalkan, kalian tidak ingin membalas pesan melebihi jam malam, jangan mudah mentoleransi dengan kalian tetap membalasnya.

Kalau kalian tidak tegas, maka lawan jenis akan mudah menyepelekan kalian. Serta saling mengingatkan, jika ada lawan jenis yang menyalahi aturan yang kalian buat, sampaikan dengan halus agar sama-sama menjaga diri dan menghargai.

Semua kebaikan itu diawali dari diri kita sendiri, yuk sama-sama belajar memperbaiki dan menjaga diri.

Oleh: Anik Cahyanik.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: