Ilustrasi dari Scontent.

Ukhti, Kalau Hijrah Jangan Setengah Hati Dong

Hijrah itu bukan proses terakhir, namun proses awal kita menjajaki hidup yang baru. Kenapa dikatakan baru? Karena setelah berhijrah ada banyak hal yang berbeda dalam hidup kita, entah gaya hidup, cara berpenampilan, pergaulan, dan cara berpikir.

Ada banyak hal yang harus kita lakukan dalam proses hijrah agar kita tetap istiqamah dan tidak mudah tergiur untuk kembali ke masa lalu yang kelam. Apalagi para ukhti yang terlihat menonjol dalam penampilannya setelah berhijrah.

Ada banyak cerita di luar sana para perempuan menanggalkan jilbabnya karena turunnya iman. Orang yang dulunya berjilbab lama-kelamaan terjerumus pada jalan maksiat. Semoga kita tidak termasuk dalam golongan itu.

Lantas, hal apa saja sih yang harus kita lakukan setelah berhijrah agar bisa istiqamah?

Pertama, berikan jilbab dan pakaian pendek kita untuk orang lain.

Pernah dengar hijrah fashion atau musiman? Jadi hijrah ini disematkan untuk para perempuan yang mengenakan jilbab panjang bukan karena benar-benar karena Allah, namun hanya karena mengikuti trend. Coba cek dulu niat kita, sebenarnya selama ini sudahkah kita memakai jilbab lillahi ta’ala?

Keimanan itu bisa naik turun. Jangan sampai saat turunnya iman kita beralih kembali lagi memakai pakaian yang pendek atau ketat. Nah, caranya agar tidak kembali mengulang hal itu sumbangkan pakaian dan jilbab pendek yang memang benar-benar tidak layak lagi menutupi aurat untuk orang-orang yang membutuhkan dengan catatan carilah orang yang ukuran tubuhnya lebih kecil atau usianya lebih muda agar kita tidak salah sasaran.

Jangan sampai niatnya kita menyumbangkan jilbab agar bisa menghindari memakai jilbab pendek, tapi nyatanya kita malah memberikan celah kepada orang lain untuk memakainya. Bukankah nantinya kita juga ikut berdosa?

Terus nanti stok pakaian dan jilbab di almari jadi sedikit dong. Iya memang. Namun itu lebih baik, dari pada saat kepepet kita kembali lagi memakai pakaian pendek. Sekepepet apa pun, misalnya pakaian belum dicuci, usahakan untuk meminjam.

Kedua, permak baju dan jilbab lama agar bisa tetap digunakan setelah berhijrah.

Banyak yang bilang hijrah itu mahal karena harga jilbab panjang dan gamis yang melangit. Sebenarnya hijrah tidak menuntut kita untuk membeli pakaian yang baru. Tergantung bagaimana kita pandai memanfaatkan baju dan jilbab lama agar bisa tetap digunakan.

Misalnya saja jilbab segi empat pendek bisa dijahitkan dobel dengan jilbab pendek yang warnanya cocok. Ongkos untuk menjahitkan pun murah. Cara memakainya juga tidak dilipat ujung bertemu ujung, namun ujungnya diletakkan di tengah jilbab sehingga tetap terlihat panjang jilbabnya menutupi punggung.

Meski belum memiliki gamis, menggunakan kemeja yang biasaya dipakai pun tak ada salahnya. Asalkan kemeja atau kaos yang digunakan bukan dari bahan yang tipis dan ukurannya tidak lebih kecil dari ukuran tubuh.

Jika sering memakai kemeja dimasukkan ke dalam rok atau celana, mulai sekarang dibiasakan untuk dibiarkan memanjang saja tanpa harus dimasukkan agar tidak membentuk lekukan tubuh. Lalu jika ada pakaian tiga perempat bisa dipakai menggunakan handshock yang sekarang terjual murah dan banyak sekali di pasaran offline maupun online.

Sebenarnya hijrah itu tidak memerlukan banyak uang, namun memerlukan tekad yang besar. Karena dengan tekad kita mempunyai banyak cara untuk sampai pada tujuan.

Ketiga, tidak berhias berlebih-lebihan.

Masih ingat, hijrah itu ikhlas karena Allah ta’ala, bukan karena ingin dinilai cantik oleh manusia. Jika sudah berhijrah, kurangi berhias berlebih-lebihan mengikuti trend. Jika sudah kebiasaan terbawa mode, dikhawatirkan nanti kita akan mudah terbawa mode-mode terbaru. Bagaimana kalau hijrah sudah tidak lagi menjadi trend, apakah akan tetap istiqamah dengan hijrah?

Di sisi lain, hijrah itu bukan hanya soal penampilan, namun juga perubahan diri ke arah yang lebih baik. Jika setelah hijrah kita hanya sibuk menumpuk gamis dan jilbab panjang, tapi jarang ke kajian, sebenarnya kita mau hijrah atau mau ikut fashion show?

Poin penting dari hijrah itu kita menyadari bahwa sebagai perempuan yang dimuliakan dalam Islam, tidak seharusnya kita mengumbar kecantikan pada semua orang, bahkan laki-laki asing di luar sana. Setelah hijrah seharusnya ada rasa malu yang tumbuh jika terlihat oleh sorot mata laki-laki. Karena sejatinya jilbab itu menutupi kecantikan pada orang yang tidak berhak, bukan malah memperlihatkan kecantikan sebegitu mudahnya.

Keempat, tidak sering mengunggah foto perubahan penampilan setelah berhijrah ke media sosial.

Adanya media sosial pada masa kini membuat kita lupa dengan cara bersyukur yang benar. Sekarang rasa syukur dan rasa pamer itu sulit untuk dibedakan. Hanya kita dan Allah yang tahu niat yang ada dalam diri kita. Namun, sebagai manusia yang mudah ditipu daya setan, alangkah baiknya kita berhati-hati dalam berbuat.

Kelihatannya memang sepele, hanya mengunggah foto di media sosial. Namun nyatanya fitnah media sosial itu lebih hebat ngerinya. Bagaimana kalau banyak orang yang melukiskan jempol pada unggahan kita, bagaimana pula jika banyak laki-laki yang memuji cantik karena jilbab kita, akankah tetap karena Allah kita berhijrah?

Jangan sampai kita suka mengunggah foto dan memakai jilbab panjang hanya karena ingin dipuji oleh manusia. Saat akan mengunggah foto, coba tanya diri kita apa manfaatnya untuk orang-orang yang melihatnya.

Jika mempunyai niatan untuk menyemangati para akhwat yang sedang berhijrah pun tak harus mengunggah foto cantik kita, buat apa? Ada banyak cara untuk menyemangati dan berdakwah.

Oleh: Anik Cahyanik.

Tinggalkan Balasan