Sebait rindu yang tak kusengaja bertuliskan namamu, apakah itu salahku?

Ada yang bilang, salah perempuan, saat dia berharap pada laki-laki yang memberi harapan palsu padanya. Apa kamu juga berpikir begitu, Mas? Bukankah, Allah memang menciptakan kami—kaum perempuan—cenderung mengedepankan perasaan daripada logika? Lalu letak salah kami di mana, jika kami punya perasaan khusus pada mereka yang khusyuk melambungkan harapan-harapan kami? Meski akhirnya hal itu justru membuat kami terluka parah.

Aku tak bermaksud menyalahkanmu, Mas. Tidak. Kasus kita berbeda. Kamu, bukan laki-laki PHP (Pemberi Harapan Palsu) yang ramai dibicarakan orang. Akulah perempuan baper yang tidak mau disalahkan atas lukanya sendiri. Sebab nyatanya, aku tak pernah sengaja melukai hatiku. Aku hanya tak menyadari bila telah keliru meletakkan hati di tempat yang terlalu tinggi. Hingga kini, hatiku jatuh, terlempar jauh ke dasar.

Folder yang menyimpan kenangan tentang awal mula kita bertegur sapa, masih mudah sekali kubuka dalam pikiran. File-nya tersusun rapi, tak ada yang kurang sama sekali.

Pada suatu Senin pagi lima tahun lalu, di sebuah warung yang tak jauh dari kampus, aku menghabiskan sarapan, sendirian. Tak jauh dari tempat dudukku, ada seorang laki-laki berkacamata, mengenakan kaus berlogo AC Milan dan celana olahraga berwarna biru tua, juga tengah sibuk melahap makanannya.

Iya, dia adalah kamu, Mas. Apa kita langsung kenalan waktu itu? Tidak, kita cukup malu bahkan untuk saling sekadar melempar senyum. Atau bisa jadi sama-sama tak peduli. Aku selesai sepuluh menit lebih dulu darimu. Dengan percaya diri aku menstrarter motor. Tak mau menyala, entah mengapa. Aku mencoba mengengkolnya. Duh … tetap tak ada tanda-tanda berhasil.

Kamu memandangku dengan raut muka yang tak bisa kujelaskan. Mungkin ingin membantu, tapi sedikit ragu. Selesai membayar di kasir, kamu mendekat.

“Motornya mogok, ya, Mbak?” katamu melihat iba padaku yang belum berputus asa mengengkol.

Dalam hati, aku mendengus kesal. Apa Masnya ini benar-benar butuh jawaban dari pertanyaannya? Huft …. Tetapi sebisa mungkin aku menyembunyikan rasa sebalku.

“Hehe … iya nih, Mas. Enggak tahu kenapa.”

“Boleh saya coba bantu?” Kamu menawarkan bantuan.

“Oh, monggo, Mas!” Kupersilakan kamu menggantikanku mengengkol.

Kira-kira hampir satu jam kita berusaha menghidupkan motor. Hasilya nihil. Ia tetap diam tak mau sedikit pun mengeluarkan suara. Kamu juga sepertinya lelah. Terlihat beberapa kali mengusap peluh. Lalu, tiba-tiba kamu bertanya sesuatu yang membuatku cengar-cengir malu.

“Atau jangan-jangan bensinnya habis, Mbak?”

Allahu Rabbi … aku bahkan lupa kapan terakhir kali mengisi bensin. Bersamaan senyum yang sangat kupaksakan, “Hehe … apa iya, ya, Mas?” jawabku.

Kubuka perlahan jok motor, apa yang terjadi? Aku tak tahu harus menyembunyikan mukaku di mana. Setelah membuatmu bersusah payah cukup lama, ternyata tangki bensin benar-benar kering kerontang. Kamu meresponku dengan sebuah senyum. Senyum yang sampai kapan pun tak dapat kuterjemahkan.

“Tunggu sebentar, biar saya belikan bensin, kayaknya di sebelah sana tadi ada yang jual,” katamu menunjuk arah kanan kita.

Aku cuma bisa menggigit bibir menahan malu. Sedangkan kamu, beranjak membeli bensin. Tak butuh waktu lama untuk bolak-balik dari warung penjaja bensin, aku tahu tempatnya. Hanya saja, aku terlalu tidak peka pada motorku yang ternyata kelaparan.

Kamu pamit pergi tanpa memperkenalkan diri usai memastikan mesin motorku bisa dinyalakan. Aku juga tak sempat bertanya. Yah, bagaimana mungkin aku meminta kenalan? Tentulah aku sibuk memohon maaf dan mengucapkan terima kasih padamu.

Sampai di indekos, kupasang raut muka masam semasam-masamnya. Tidak bisa terima, pagi ini aku sungguh mempermalukan diriku sendiri. Beruntunglah kita baru sekali bertemu dan kemungkinan berinteraksi lagi sangat kecil. Kalau iya, apa mungkin aku bisa berpura-pura tak terjadi apa-apa? Hemh … lagi-lagi aku mendesah sebal.

“Hei … what’s going on?”

Airin—teman satu indekosku—datang ke kamarku. Dia yang sering mengingatkanku untuk jangan lupa ini, itu. Tetapi pagi ini, dia menemani Kakaknya yang sedang libur kuliah untuk lari-lari di Stadion Manahan. Jadi kami tak sarapan bersama.

“Entahlah, aku error tadi. Malu-maluin, beneran deh.”

“Emang ada apa, sih?” desak Airin penasaran.

Aku menceritakan apa yang terjadi barusan. Aku sudah bisa memprediksi reaksi Airin. Dia ngakak lebar, menertawakan kesialanku. Bukan, bukan kesialan, tapi kebodohan. Aaah … apa yang kamu pikirkan tentang aku, Mas?

“Hahaha … jadi, hahaha … kamu, hahaha ….” Setiap Airin mau bicara, selalu terjeda gelak tawa.

Meski kesal, aku memakluminya. Sebab, aku pun akan merespon dengan cara yang sama jika berada di posisi Airin.

“Udah dong, ketawanya!”

“Hahaha … habisnya kamu lucu. Serius. Ciee … ketemu malaikat penolong. Hahaha ….” Airin masih terus mengejekku. “Yaudah, yaudah … lupain! Eh, gimana kalau besok nemenin aku nonton sama sepupuku? Biar kami enggak cuma berdua aja,” ajak Airin.

“Mau nonton apa? Kamu tahu sendiri, kan, aku lebih suka nonton film di laptop. Hemat.”

Iron Man. Tenang, kali ini gratis, Kakakku kan kuliah sambil kerja, jadi enggak apalah sekali-kali traktir kita,” ucap Airin.

“Serius? Okelah, aku ikut aja yang gratis-gratis gini. Hahaha ….” Akhirnya aku mengiyakan ajakan Airin.

***

Seperti rencana, keesokan sorenya, aku dan Airin pergi ke bioskop. Sungguh aku tak sampai berpikir ada kebetulan sekebetulan kita, Mas. Ternyata, orang yang kemarin membantu saat motorku mogok adalah sepupu Airin, kamu. Ya Rabb … aku tak menikmati filmnya. Rasanya pengin buru-buru kabur dari sana. Airin yang menangkap kecemasanku, bertanya kenapa. Aku tak bisa menjelaskan karena segan padamu.

Alhasil, terjawab saat kamu cerita, kita sudah bertemu dua hari lalu di dekat kampus sepulang kalian lari pagi. Airin pun dengan cepat menyimpulkan, kamulah superhero yang kemarin membuatku tersipu konyol.

Sejak hari itu, Airin suka menjodoh-jodohkan kita. Sering kali dia menceritakan kebaikan-kebaikanmu dengan bangga. Aku yang memang kata orang baperan, tanpa sadar memasukkanmu menjadi daftar orang penting di hatiku. Mendoakan kebaikan untukmu setelah doa-doa untuk keluarga dan sahabat tercinta. Dan memohon pada-Nya agar menyatukan kita dalam ikatan halal. Aku ingin berjodoh denganmu.

Perempuan mana yang tidak ingin menjadi pendampingmu, Mas? Laki-laki dengan segudang prestasi. Selain kuliah, kamu juga merintis usaha rumah makan yang berkembang pesat dalam rentang tiga tahun. Dan justru semakin maju saat kamu tinggal pergi ke Malaysia untuk melanjutkan study.

Iya, Mas, aku jatuh cinta padamu bukan karena rayuan atau modus-modus yang bisa saja kamu lakukan. Kita memang punya kontak masing-masing, tapi tak pernah iseng chat tidak penting. Tak ada komunikasi di antara kita selama lima tahun belakangan. Kita sama-sama sibuk merancang masa depan. Aku sendiri memilih lanjut kuliah di Universitas Sebelas Maret Surakarta sambil mengajar di kampus lama.

Namun, Airin tak pernah berhenti membicarakanmu. Bahkan setelah kamu merampungkan pascasarjana dua minggu lalu, Airin menggebu-gebu bilang kalau kamu akan datang bersilaturahmi ke rumah. Kali ini, apakah aku salah lagi, Mas? Jika menantimu bersama bunga-bunga di hati yang kian bermekaran. Huft … barangkali memang salah, karena akhirnya, hanya Airin yang datang. Membawa kabar yang sama sekali tak ingin kudengar.

“Kak Rama enggak bisa datang melamarmu, Nad. Maaf, Budeku enggak setuju kalau kalian menikah. Katanya, kalian pasangan jilu (Siji jejer telu). Kamu dan Kak Rama sama-sama anak pertama, dan kebetulan Bude juga anak nomor satu. Dia dijodohkan dengan orang lain,” ucapnya tertunduk lesu tak mau menatapku. “Katanya, akan ada kemalangan kalau kalian tetap memaksa menikah,” lanjutnya.

Mendadak dunia terasa gelap. Impian-impian yang kurangkai runtuh seketika. Kenapa baru sekarang, Rin? Kenapa tidak kamu katakan lima tahun yang lalu, saat aku belum meninggikan harapan separah ini? Banyak tanya yang ingin kuajukan pada Airin. Namun, tak sepatah kata pun keluar dari mulutku. Rasanya ada yang mencekat di tenggorokan.

Kalimat-kalimat Airin tak dapat kutelan. Ia berhenti di kerongkongan, membuatku sulit bicara dan bernapas. Mataku juga tak mau diajak kompromi. Ia terus melelehkan air yang tak bisa kutahan.

Bagaimana bisa ibumu meyakini hal itu, Mas? Bukankah cara memilih pasangan dijelaskan secara gamblang dalam agama kita? Dan aku tak pernah mendengar ada aturan seperti itu. Mungkinkah ini satu petanda dari-Nya, bahwa kita memang tak ditakdirkan untuk satu sama lain? Betapa kini hatiku hancur berantakan.

“Sebenarnya Kak Rama ingin sekali menikah denganmu, Nadira. Tapi, dia tak mungkin menentang ibunya.” Airin berusaha menghiburku tapi gagal. Akan lebih baik jika hatiku saja yang patah. Mengetahui kamu juga menaruh harap padaku, malah kian menyesakkan.

Namun, sebisa mungkin, aku akan menggunakan akal sehat untuk menghadapi kenyataan yang baru saja kuterima. Tangisku memang belum selesai, Mas. Tetapi tidak apa, aku akan sembuh. Insyaallah. Kini yang perlu kulakukan hanyalah mengubah doaku. Aku tak akan lagi meminta untuk berjodoh denganmu. Sekarang, aku memohon kelapangan hati agar ikhlas, merelakanmu berbakti padanya. Surgamu, yang Allah turunkan di dunia.

Terima kasih ya, Mas, untuk lima tahun ini. Mencintaimu adalah cara Allah menjagaku dari cinta-cinta sesat di luar sana. Maaf, bila sebelumnya, aku meminjam namamu untuk kudiskusikan dengan Rabb-ku. Maaf, sebab diam-diam aku mengajukanmu menjadi separuh hati yang akan kutemani sampai hidup setelah mati. Meski ternyata, Dia tidak menyetujuinya.

Selamat berpisah, untuk kisah yang selesai sebelum kita mulai. Aku akan tetap mendoakan kebaikan bagimu, Mas Mujahid Ramadhan, sebagai satu nama pertama, yang pernah kuinginkan menjadi yang terakhir.

***

Oleh: Fitri Ayu Mustika.

Ilustrasinya dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: