Untukmu Lelaki yang Tak Tampan dan Jauh dari Mapan

“Mbak cariin calon istri donk,” ujar seseorang padaku suatu ketika.

“Boleh,” jawabku. “Kirim biodata ya!”

“Mmm … tapi ….”

“Kenapa Mas? Seruis nggak to?’

“Serius Mbak, tapi aku malu.”

“Karena?”

“Aku itu laki-laki biasa Mbak. Wajah pas-pasan, harta pun tiada.”

Seketika aku tertawa, tapi buru-buru kuhentikan sambil berucap, “Asal amalan ibadahnya jangan ikut pas-pasan Mas. Insya Allah ada perempuan solihah yang bersedia jadi istri Mas.”

“Iya Mbak ini sedang terus berusaha memperbaiki diri.”

Wajar, sangat wajar! Jika wanita itu inginnya dapat suami yang: Tampan, mapan, dan beriman. Tapi ingin itu, kadang berlainan dengan kenyataan.

Tahu kenapa? Karena stok laki-laki yang seperti itu kebanyakan sudah beristri. Nah loh! Apa ya mau jadi yang kedua, ketiga, atau keempat? Ow, ow! Hahaha …

Biasanya sih ada:

  1. Tampan dan mapan, tapi kurang beriman. Diharapkan melamar untuk menikah, eh malah ngajakin pacaran. hmm ….
  2. Tampan dan beriman, tapi belum berpenghasilan. Yah, masa iya perempuan mau dijadiin istri, sementara si laki-laki tidak ada usaha agar berpenghasilan? Mau minta nafkah sama orangtua? OMG, No!
  3. Mapan dan beriman, tapi wajah pas-pasan. Nah yang ini sebetulnya si perempuan mau. Tapi oh ternyata sudah beristri. hehehe

Ehem! Saya teringat tentang kisah sahabat Nabi Saw. Namanya Julaibib. Siapakah dia? Mari kita simak kisahnya,

Suatu hari selepas salat berjamaah, nabi memanggil Julaibib.

“Julaibib,” nabi memanggil dengan lembut.

“Ya, Rasulullah,” jawab Julaibib.

“Tidakkah kau ingin menikah?” tanya nabi.

Julaibib tersenyum. Senyum yang tulus dari hati yang ikhlas menerima takdir. Ia tahu bahwa keadaan fisiknya yang kurang tampan (hitam dan pendek) juga silsilah keluarga yang tidak jelas membuatnya cukup sadar diri.

“Ya Rasulullah, adakah yang mau menikahkan putrinya denganku?”

Pertanyaan yang sama nabi ajukan tiga hari berturut-turut dengan jawaban yang sama pula. Hingga pada hari ketiga, nabi menggandeng Julaibib. Membawanya masuk ke rumah seorang Anshar.

“Wahai si fulan, aku ingin meminang putri kalian,” ucap nabi.

“Alangkah barokahnya, alangkah indahnya,” jawab ayah sang gadis bersuka cita. “Ini akan menjadi cahaya yang akan menerangi rumah kami.”

“Tapi bukan untukku,” lanjut sang nabi.

“Lalu?”

“Untuk saudaraku, Julaibib,” tukas nabi

“Apa? Julaibib?” tanya sang ayah setengah terpekik. “Saya akan meminta pendapat istri dulu ya Rasulullah.”

Nabi pun meninggalkan rumah orang Anshar tersebut. Sepeninggal nabi, sang ayah pun meminta pendapat istrinya. Tentu sudah bisa ditebak, sang istri jelas-jelas tidak setuju.

 “Julaibib? Tidak, tidak, tidak! sampai kapan pun tidak!” jawab istrinya lantang. “Ia tidak bernasab, tidak berkabilah, tidak berpangkat, tidak berharta, juga jelek wajahnya.”

Belum selesai urusan pertimbangan orangtua, sang gadis yang dilamar mengeluarkan suara dari balik tirai. “Siapa yang mengajukan lamaran?”

Ayah dan ibunya pun menjelaskan.

“Apakah kalian akan menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, jika Rasul yang meminta, tidak aka nada kehancuran dan kerugian,” ujar sang gadis mantap. “Kirimkan aku padanya,” ujarnya lagi setelah ia membaca firman Allah surat Al-Ahzab ayat 36.

Sang gadis pun menikah dengan Julaibib. Meskipun di malam pengantin Julaibib memilih pergi berjihad hingga syahid. Allah Swt lebih menyayanginya dan para bidadari lebih merindukannya.

Mungkin di antara kita ada yang akan berkata, “Ah itu kan zaman nabi! Zaman sekarang mana ada perempuan mau sama laki-laki tidak tampan dan jauh dari mapan!”

Wah, kalau sampai kita bicara seperti itu artinya kita tidak yakin dengan kuasa Allah Yang Maha Membolak-balikkan hati.

Lantas apa yang harus kita lakukan?

Seperti halnya Julaibib yang menjadi mulia di mata Allah Swt karena kesungguhannya dalam cinta pada Allah dan nabi, maka kita pun harus demikian. Julaibib selalu berada di baris pertama saat jihad juga saat salat. Adakah kita sudah demikian?

Kau yang disebut laki-laki,

Pernahkah kau berpikir, bahwa ada hal yang lebih penting dari sekadar mengambil hati wanita pujaan hati?

Pernahkah kau merenung, bagaimana caranya agar hidupmu beruntung bersanding dengan wanita bertudung nan anggun?

Atau pernahkan kau mencoba, mencari wanita shalihah yang siap berjuang bersama?

Jawaban dari semua inginmu adalah dengan taat dan dekat pada-Nya, sang pemilik hati wanita. Ketika taat itu kau ambil tanpa mengukur rasa suka dan tidak suka, maka saat itulah, pintu-pintu langit terbuka dan menjawab doa dan pintamu.

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (Terjemah surah Al-Ahzab [33] ayat 36)

Bagaimana wahai lelaki?

Taat, taat, dan taat.

Taat dalam proses penjemputan jodoh sesuai tuntunan dan taat dalam kewajiban mencari nafkah sebagai kewajiban laki-laki yang hendak memikul tanggung jawab hajat sang istri.

Jika itu kau lakukan, maka tidak akan ada lagi laki-laki yang tidak tampan dan tidak mapan yang ada hanyalah laki-laki idaman, Insya Allah.

So, tunggu apa lagi?

Oleh: Sri Bandiyah.

Tinggalkan Balasan