Refuse what you do not need; reduce what you do need; reuse what what you consume; recycle what you cannot refuse; reduce, or, reuse; and rot (compost) the rest.

Tolak apa yang tidak kamu butuhkan; kurangi apa yang kamu butuhkan; gunakan kembali apa yang kamu pakai; daur ulang apa yang tidak bisa kamu tolak, kurangi, atau gunakan kembali; dan busukkan sisanya.”

(Bea Johnson)

***

Hidup sederhana ternyata sangat positif bagi saya dan suami. Menguntungkan. Di balik semua cerita ketidakmampuan membeli semua keinginan, ada satu hal yang sangat saya syukuri. Sadar memilih. Saya bisa sadar kalau mau membeli sesuatu. Dengan dana yang terbatas, saya lebih memprioritaskan kebutuhan hidup. Dampaknya, itu menjadi angin segar buat sampah di rumah.

Pasalnya, sebelum menyadari ini, tempat sampah kami selalu penuh. Saat itu, kami–saya dan suami–cukup puas dengan prinsip tidak nyampah di sembarang tempat. Menghargai bumi adalah isu yang kami gadang-gadang. Sebenarnya sih, tetep ya karena dana kami cekak. Beli jajan pun mikir dulu, butuh enggaknya. Jadi, pas jajan ya, sedikit. Setelah itu sampahnya kami kantongi. Bawa pulang.

Kian lama, sampah menumpuk. Setelah itu apa? Tumpukan sampah menjadi sekarung dalam satu minggu. Kami cuci tangan dengan menaruhnya pada tempat yang tidak terlihat dari kami. Ya, petugas jasa angkut sampah yang bayar bulanan. Dengan menaruhnya kepada beliau, kami bebas dari pandangan sampah yang numpuk. Kedengarannya selesai, ya?

Namun suatu hari, kami kemudian pindah ke lokasi kontrakan yang tak ada akses membuang sampah (jasa angkut dan lahan membakar tidak tersedia). Mau tidak mau, kami harus membuang sampah ke TPA yang lokasinya cukup jauh. Kalau tanya pemilik kontrakan, sampah beliau dialirkan saja di sungai dekat rumah.

Tahukah ke mana sampah nantinya bermuara jika dialirkan ke sungai? Taruhlah itu dari sungai Code bermuaranya di Laut Selatan. Saya pernah loh melepaskan tukik (anak penyu) di sana, pengelolanya bercerita bahwa mereka makan sesuatu yang menyedihkan. Apa itu? Kresek yang terlihat seperti ganggang, makanan hewan laut. Dari mana kresek itu? Ya, bisa jadi dari kita. Sedih!

Saya jadi ingat, pertama kali sadar akan kehadiran sampah dari kebiasaan teman saya, Epi. Dia adalah orang yang tanpa sengaja mengingatkan bahwa kita bisa menghemat sampah yang dihasilkan. Kantong kresek yang dia punya di kos akan dia bawa ke mana-mana dalam tas ranselnya. Jadi, setiap teman yang butuh akan dia berikan.

Dari sinilah, saya merenung. Epi dan saya saat itu usia anak lulus SMA, kuliah jurusan sama. Ke mana-mana kami bareng, maka banyak kebiasaan dia yang saya selalu adopsi. Setelahnya, saya jadi banyak mengingat kebiasaan mencegah sampah orang terdekat saya. Kebiasaan Mbah Putri dari Ibu saya. Orang dulu banyak memanfaatkan tas dari anyaman dan dipakai berkali-kali saat ke pasar. Seperti itulah Mbah saya sampai sekarang.

Sekarang ini, kita kenal dengan gerakan atau kampanye tanpa kresek. Ketika kita tidak membawa tas belanja, bisa jadi kita akan dikenai charge untuk tiap kantong kresek yang digunakan. Atau biasanya, kita akan dapat tawaran membeli kantong belanja. Kalau diingat-ingat, sebetulnya kebiasaan memakai tas belanja sudah dilakukan oleh orang-orang dulu. Mungkin masa kakek-nenek kita, ya? Mereka cenderung membawa tas belanja kalau belanja.

Sekarang saya hidup dengan bermodalkan minim kresek. Sebenarnya sih lebih kepada kontrol diri dengan menolak membawa pulang kresek. Tidak hanya kresek, tapi semua produk dari luar yang sekiranya tidak bisa saya pakai kembali dan masa pakainya hanya sebentar saja. Asyiknya, rumah jadi tidak penuh akan kresek. Lama kelamaan saya mulai menyadari bau sampah sisa bahan makanan dan makanan.

Dari semua kejadian yang saya dan suami alami, saya tak serta merta mengerti apa itu sampah dan mengelolanya. Ternyata saya kurang memaknainya. Mbak DK Wardhani sudah mulai bergerak belajar zero waste atau nol sampah dalam bukunya. Saya yang sadar kurang ilmu belajar dengan menambah referensi saya dari buku berjudul Menuju Rumah Minim Sampah. Menarik bagi saya karena ada kata minim sampah.

Mbak DK Wardhani pada halaman 101 menyebutkan bahwa sampah hanya ada jika kita tidak bisa mengolahnya. Sadar dahulu kenapa sih kita butuh suatu barang menjadi pembuka dalam buku tersebut. Jika kita sudah memanfaatkan barang tadi, bagaimana tanggung jawab kita kepada barang itu sampai pembuangannya (bila ada sisa). Nah, sisa yang dibuang ini yang dinamakan oleh kita dengan sampah. Logikanya berarti, tak ada sampah jika kita bisa memanfaatkannya.

Jika kita belum bisa sadar sepenuhnya karena kendala anak kos, kita bisa belajar dari Annisa Firdaus. Secara tersurat pada halaman 172, Mbak DK Wardhani menceritakan bahwa Annisa mencegah datangnya sampah di kos dengan membawa botol minum ke mana-mana agar tidak membeli botol kemasan salah satunya. Selain itu, dia memilah sampah juga. Dari memilah, sampah akan terlihat nilai ekonominya dengan dijual kembali. Anak kos banget, ya?

Nah, kehidupan yang sadar akan sampah ini menjadikan banyak gerakan zero waste muncul. Maraknya zero waste atau nol sampah diinisiasi dengan diet plastik. Kenapa harus dari plastik? Menurut Mbak DK Wardhani pada halaman 34, plastik adalah bahan di dunia ini yang masa urainya paling lama.

Maka solusinya bisa dengan 3-AH, CEGAH, PILAH dan OLAH. Cegah paling gampang karena kita bisa menolak dulu kepada kresek (terurai 10-20 tahun), botol plastik (450 tahun), sedotan plastik (200 tahun), dan juga yang paling sulit terurai yaitu styrofoam dan tisu basah dengan masa sekitar berjuta-juta tahun penguraiannya (ada yang menyebutkan bahkan tidak bisa diurai oleh pengurai tanah).

Walau zero waste tampaknya mustahil, enggak mungkin juga kan kita enggak menghasilkan sampah, kita bisa memakainya sebagai proses hidup kita. Bukan hanya tujuan akhir.

Terkadang, kita dihadapkan untuk selalu menomorsatukan diri daripada makhluk lain. Padahal, kita hidup juga dari kehidupan mereka ya? Makan dari mana? Tumbuhan padi, kan? Sayurnya? Lauknya? Tapi, kok kita sekenanya mementingkan diri sendiri tanpa menghargai kehidupan mereka dengan memberi habitat dan makanan yang layak.

Dari mana mereka bisa layak? Ya dengan laut bebas sampah misalnya. Saya pernah melihat video penyu yang hidungnya berdarah setelah benda yang menyumbatnya dikeluarkan. Benda apa itu? Sedotan plastik!

Bahkan saya kaget membaca data milik Divers Clean Action tahun 2015, kelompok pemerhati lingkungan laut, pemakaian sedotan (termasuk sampahnya) di Indonesia mencapai 93.244.847 batang setiap harinya! Kalau direntangkan panjangnya dalam satu minggu, bisa 3 kali mengelilingi dunia! Akan berapa lama penyu yang hidup dan teman-tamannya dengan sampah sedotan?

Kalau hewan belum bisa jadi hal yang menggetarkan, maka saya akan ceritakan tentang bencana longsor di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Leuwigajah, Cimahi Selatan, Bandung sekitar tahun 2005. Dalam Koran Online Pikiran Rakyat 21 Februari 2017 berjudul 12 Tahun Berlalu, Tragedi Leuwigajah Masih Membekas disebutkan bahwa bencana dahsyat itu masih membekas bagi para korban yang ditinggalkan.

Sebanyak ratusan orang tertimbun longsor sampah dan meninggal. Anak-anak kehilangan orangtuanya dan sebaliknya. Karena apa? Ketidakpedulian kita mengelola sampah dan akhirnya menggunung. Suatu malam, hujan yang berhari-hari menyapa Leuwigajah dan sekitarnya membuat sampah di sana longsor. Padahal, jarak antara TPA ke pemukiman lumayan jauh, 1 km.

Kenapa sih kita harus mulai memilah sampah? Kenapa harus repot-repot, wong nyari makan aja susah. Kita bisa belajar dari warga dusun Gesik, Kasongan, Bantul. Dahulu mereka membuang sampah dengan memanfaatkan sungai di daerah mereka. Sungai di Yogyakarta bermuara di Laut Selatan. Nah, salah satu pemilik homestay yang sadar akan bahaya sampah di sungai mengedukasi masayarakat sekitar.

Hasilnya, masyarakat dusun Gesik jadi bisa mendapat tambahan penghasilan dari memilah sampah. Sampah botol, kertas, kardus yang tadinya dibuang begitu saja bisa dijual lagi ke pengepul sampah. Sampah datang, pilah doang, dapat uang, hati senang. Begitulah kira-kira quote-nya.

Sosok yang berperan dalam mengedukasi masyarakat ini juga menginspirasi saya adalah Pak Josh sekeluarga. Mereka sudah enam tahun bergaya hidup minim sampah di rumah dan homestay-nya. Tamu yang datang ke homestay harus membuang sampah dengan dipilah. Tidak boleh membawa kresek dan botol plastik. Tapi tenang, plastik dan botol akan dipinjamkan dalam bentuk tas reusable dan tumbler. Cerita tentang beliau lebih lanjut akan saya tuliskan pada tulisan selanjutnya. Namun, saya ingin memberikan satu inspirasi bahwa gerakan minim sampah itu dimulai dari kesadaran diri.

Kesadaran diri akan berat pula jika hanya sendiri. Maka dari situlah, Pak Josh dan keluarga mengokohkan ilmunya dan belajar dari alam. Seperti saya dan suami yang saling bersinergi. Mendapat teman yang satu frekuensi mengolah sampah akan terasa ringan karena bisa berbagi pengalaman. Apalagi sekarang marak tagar #zerowaste atau #belajarzerowaste yang bisa kita ikuti jika lingkungan sekitar belum peduli sampah.

Dan gini deh, balik ke manusianya. Sampah yang dulu pernah longsor di Leuwigajah sangat merugikan penduduk sekitar. Atau mau nunggu dulu TPA di sekitar kita memunculkan korban baru kita bergerak?

Gerakan kecil ini bisa kita kerjakan sekarang. Kecil tapi manfaatnya luar biasa. Bila berat, kerjakan yang paling ringan dahulu seperti teman saya, Epi kerjakan. Lambat laun, semoga kita akan terus rendah hati dengan membersamai alam yang tiada habisnya Allah kasih buat manfaat kita sehari-hari. Kalau bukan kita yang kelola, mau jadi apa bumi yang ditinggali anak cucu kita nanti saat kita tak ada? Semoga kita bisa lebih menjaga keturunan kita dari hal kecil ini.

***

Oleh: Dhita Erdittya.

Ilustrasi dari sini.

Referensi: DK Wardhani. 2018. Belajar Zero Waste: Menuju Rumah Minim Sampah. Pustaka Rumah Main Anak: Bandung.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: