rahasia pertolongan Allah

Usahaku Memahami Perlindungan Allah

Kabar buruk itu menyergap. Positif sudah, dia menggelapkan setoran jamaah. Buat bisnis rintisan, nilai 180 itu sangatlah besar.

Dua staf lainnya terdiam di hadapan saya. Saya menekuk kepala, menahan perih, kesal, marah, kecewa. Lalu-lalang suara meriung di kepala. Laporkan polisi! Sita barang apa pun di rumahnya! Tempeleng dulu! Dan saya masih diam menekuk kepala.

Maafkan saja. Sudahlah. Perbaiki saja mekanismenya ke depan. Jadikan pengalaman. Ayolah, buat apa kau repot benar lapor polisi, nyita barang orang, kau tak membutuhkannya. Ingatlah, ingatlah, ini telah ditakdirkanNya terjadi padamu di akhir tahun ini.

Saya memejam, menyebut namaNya tanpa henti, di antara riung kanan kiri itu.

“Bagaimana baiknya ya, Pak?” suara satu staf membuat saya mengangkat kepala.

“Kalian pulang saja dulu, ya. Saya kabari lagi nanti.”

***

Saya mulai mengaji ketika hilir mudik bayangannya yang amat saya kenal baik melindap-lindap di antara bayangan-bayangan masa lalu saya. Saat saya mancing, mandi di sungai, mainan sepeda, lalu masa mondok, lalu masa kuliah, ke mana-mana jalan kaki, pula masa buku yang saya tawarkan dibanting seenaknya oleh seorang pedagang buku di shopping.

Saya sudah menemukan apa yang harus saya lakukan. Saya tutup al-Qur’an, lalu pergi ke kafe, ngopi dan berjumpa sejumlah kawan. Hingga sore. Dan, sesuai janji, ia datang ke rumah dengan langkahnya yang pincang, wajah pucat, dan menunduk-nunduk.

Setelah saya persilakan meminum air yang saya suguhkan, ia mulai berkata dengan diawali permohonan maaf dan janji akan mengembalikan uang yang ditilepnya dengan cara mencicil. Saya menyimak dengan tatapan dalam ke wajahnya yang kusam. Hidup yang penuh dusta nampaknya telah mengusir cahaya-cahaya dari wajahnya.

Saya lalu mengangkat suara, “Ada sisa berapa sekarang uangnya?”

“Tak ada lagi, Pak ….”

“Sama sekali?”

“Ii … ya ….”

“Begini. Apa yang panjenengan lakukan pada saya sangat jahat, tega, kejam, dan dzalim. Dampaknya luar biasa pada masa depan tim. Kasihan mereka. Bertobatlah ya, mumpung panjenengan masih punya waktu. Jangan pernah lagi melakukan hal itu, pada siapa pun ….”

“Injih, Pak, saestu ndalem nyuwun pangapunten ….”

“Pasti panjenengan telah tahu betapa setetes darah yang bersumber dari uang haram di tubuh panjenengan akan membuat panjenengan semakin jauh dari Allah, sehingga dampaknya semkin dekat pada maksiat dan keburukan. Darah haram akan menyulitkan hidup panjenengan.

Mustahil Allah bohong ketika mengatakan bahwa orang dzalim akan dihancurkan. Mustahil! Sekali lagi, obatnya harus dimulai dari bertobat. Tobat dari dalam hati. Selamatkanlah hidup panjenengan sendiri. Di dunia dan akhirat.”

“Injih, Pak, saya janji akan menyicilnya sama Bapak ….”

“Njeh, sudah, ya, silakan pulang saja. Saya berharap suatu hari mendengar kabar panjenengan sukses, itu tanda nyata panjenengan telah benar-benar bertobat. Jika itu benar terjadi, panjenengan akan berjumpa saya lagi, insya Allah ….”

Tubuhnya menghilang di balik pagar. Saya masih duduk dengan mata menerawang. Ada Allah di mana-mana. Sebuah mobil hitam tanpa ampun ditabrak truk yang blong remnya. Remuk. Sampai terguling. Pengemudi mobil itu tak sadarkan diri, berhari-hari. Suatu pagi, ia membuka mata. Terasa berat semua badannya. Bahkah kelopak matanya pun terasa pedas benar. Lamat-lamat, ia saksikan kaki dan tangannya digip, diperban, tak bisa digerakkan. Istrinya menyeka kelopak matanya yang berair dengan mata berkaca-kaca.

“Syukurlah, Yah, kamu sadar, kamu selamat ….”

“Apa yang terjadi?”

“Kamu kecelakaan hebat. Mobilmu hancur, sudah di bengkel. Penabraknya mati. Ya Allah, Yah, alhamdulillah kamu selamat. Aku gak mau anak-anak secepat ini jadi yatim ….”

Air matanya tumpah. Genggamannya terasa sangat erat di jari-jarinya.

Lama ia terbaring di rumah sakit. Hari-hari begitu membosankan. Tak ada kopi. Tak ada kawan-kawan yang ngakak. Tak ada teman-teman masjid yang menyenangkan. Hanya tidur, bangun, bosan, lelah, tidur, bangun, dan terus begitu.

Ia baru bisa pelan-pelan menyetir lagi lima bulan kemudian. Perusahaan-perusahaannya menjadi menurun kinerjanya. Maklum, perannya tak berjalan selama lima bulan itu. Istrinya pada suatu hari berkata padanya bahwa biaya perawatannya di rumah sakit dan perbaikan mobil menghabiskan sekitar 180 juta ….

Saya mengisak. Ya Allah, ya Allah, ya Allah, alhamdulillah Kau sayang pada saya selalu, Kau selamatkan saya dari imaji kecelakaan itu dan menterjadikannya dalam bentuk lain yang tak perlu membuat saya terbaring membosankan di rumah sakit sekian lama, sehingga saya tetap bisa ngopi, jumpa kawan, terbahak, jalan-jalan, ke masjid, dan sebagainya yang saya sukai.

Saya berkirim whatsapp ke staf, “Soal kasus penggelapan dana jamaah itu, tak usah direpotkan lagi. Semua jamaah berangkat. Cukup gitu, ya.”

Kepada istri, saya berkata, “Allah menjagaku dari kemungkinan petaka besar yang akan buat kita nestapa melalui kejadian penggelapan itu. Alhamdulillah, kita harus bersyukur ini.”

Ia tersenyum. Lalu ngajak saya tidur. Ia memang telah sepenuhnya tahu saya.

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Sumber ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan