UNTUK tahu sekontras apa kondisi ibu kota, cobalah sesekali datangi kampung-kampung pemulung di Jakarta. Di balik gedung-gedung megah yang pongah, rumah-rumah reot berdinding kayu triplek kombinasi terpal, kayu sisa, seng, bahkan kardus berdiri sekuat tenaga menerjang berbagai cuaca. Pemandangan seperti ini bisa kamu temui di kampung pemulung wilayah Jati Padang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Sudah dua kali saya mengunjungi kampung itu. Di kali kedua, reaksi saya masih sama dengan kali pertama menginjakkan kaki di sana. Bau menyengat! Bukan lho, ini bukan karena bau kampung itu, tapi karena sambutan pertama yang terlihat adalah gundukan sampah. Ya, kampung ini berdekatan langsung dengan TPA setempat.

Saya sempat heran, bagaimana mereka bisa bertahan hidup dengan menghirup aroma menusuk itu? Tentu saya tak pernah benar-benar melayangkan pertanyaan itu kepada mereka. Bahkan, saat mendatangi kampung itu, saya berusaha sebisa mungkin menahan rasa ingin menutup hidung. Saya takut mereka tersinggung. Namun, saya juga terpikir, gelagat saya seakan tak mencium bau pasti juga terlihat aneh. Ah, semoga mereka tak pernah tersinggung dengan sikap saya.

Hari itu, tahun 2016, saya sedang mencari anak-anak pemulung yang bisa jadi talent untuk konten yang sedang saya kerjakan. Bersyukur, seorang rekan satu kantor saya ternyata aktif di lembaga kemanusiaan untuk anak-anak pemulung. Dialah yang mempertemukan saya dengan anak-anak pemulung yang akan kami ajak mengikuti pengambilan gambar kala itu.

“Fiuuh… lumayan PR ya, Mas, buat ngarahin mereka. He-he,” ujar saya di tengah proses pemotretan yang belum menunjukkan hasil memuaskan.

“Ini udah mendingan, Mbak. Dulu mereka susah banget diajak komunikasi. Mereka kan awalnya banyak yang enggak sekolah,” terangnya.

Obrolan singkat itu membuka gerbang pembicaraan kami, tentang apa yang teman saya perjuangkan melalui lembaga yang turut dia dirikan itu. Dalam sekejap ceritanya mengalir, rasa kagum pun datang beriringan.

“Saya dulunya juga pernah berhenti sekolah, Mbak. Malah pernah jadi kuli bangunan juga. Makanya saya tahu rasa enggak enaknya putus sekolah. Masa depan pendidikan mereka kan, bisa jadi pemutus rantai kemiskinan keluarga.”

Saya tak pernah menyangka, teman saya ini dulunya pernah melewati masa lalu yang penuh rintangan. Saya selalu melihatnya sebagai sosok yang semangat, optimis dan berambisi. Ternyata, sosok ini dulunya adalah seorang yang memupuk asa dari hasil kerja kerasnya. Saya masih keheranan. Dia seakan tak meninggalkan guratan perjuangan yang berat dari masa lalunya.

Itu baru kesan saya di tahun 2016. Kala cerita-cerita tentang perjuangannya mulai saya ketahui. Sekarang? 2019? Dia sudah bertumbuh menjadi sosok pemimpin muda  berprestasi. Saya baru saja menemuinya di kota yang sedang dia coba taklukkan, Surabaya.

Sebentar. Mari kita kembali ke kisah teman saya, saat mendirikan lembaga khusus untuk anak-anak pemulung itu. Semua bermula di tahun 2013. Saat itu, dia masih kuliah di salah satu universitas swasta ternama di Jakarta. Awalnya, dia hanya memperhatikan anak-anak pemulung yang sering lewat di depan Masjid Al-Ikhlas, Jati Padang. Lalu dalam hatinya timbul keserahan, kalau anak-anak itu meninggalkan sekolah, bagaimana nasib mereka ke depan?

Dia pun berinisiatif mengajar anak-anak itu di taman Salam, Jati Padang. Awalnya, dia bergerak seorang diri, hingga pikiran tentang kelanjutan aktivitas ini mengusiknya. Dia tak mau kegiatan mengajar ini sirna seiring dengan kesibukannya kelak. Karena itu, dia mengajak beberapa teman di kampusnya untuk mengajar anak-anak pemulung itu.

Tak disangka, respon anak-anak sangat membahagiakan. Tiap hari, makin bertambah jumah anak yang mau belajar. Dari lima anak, terus bertambah jadi puluhan jumlahnya. Namun, hal itu tak seirama dengan kesiapan SDM pengajar. Sistem kerelawanan membuat jadwal mengajar kadang terisi, kadang tidak. Padahal, semangat anak-anak malah terus meningkat.

Hingga akhirnya, dia pun menggagas sekolah formal dengan mendirikan PAUD Harapan. Kali ini, sistem yang digunakan sudah profesional, sehingga anak-anak pun bisa terbina dengan baik, tanpa bergantung dengan relawan. Untuk menutup kebutuhan PAUD, teman saya dan timnya mencari sumber dana dari patungan dan donasi ke lingkungan sekitar.

Seusai pendirian PAUD, tercetuslah ide mendirikan yayasan untuk memudahkan tata kelola komunitas yang kala itu bernama KAISA (Komunitas Pecinta dan Pemerhati Anak Bangsa). Keseriusannya membawa KAISA ke arah lebih baik, membuat saya semakin ingin tahu, sebenarnya apa yang ingin dia perjuangkan ke depan?

“Bayangkan, Mbak, anak-anak pemulung itu kalau enggak sekolah, ya dipaksa harus jadi pemulung. Kadang mereka enggak berani pulang ke rumah kalau belum dapat uang. Kalau pun sudah di rumah, mereka juga enggak menerima kehangatan keluarga. Lengkap sudah, masa kecil anak-anak itu terenggut. Ditambah lagi masa depannya juga terancam suram.”

Sebelum saya bertanya kenapa masa depan anak-anak itu terancam suram. Dia, teman saya itu menambahkan, keluarga pemulung di kampung itu rata-rata sudah memulung dari turun temurun. Pola pikir mereka sudah terbentuk dari pendahulunya, pendidikan bukanlah hal terpenting untuk anak-anak.

Tapi, ini bukan menyamaratakan semua pemulung, ya.  Memang ada banyak tipe orang, termasuk di kampung pemulung itu. Ada yang bersedia menerima dengan tangan terbuka. Menganggap upaya teman saya dan lembaganya sebagai oase atas kondisi yang mereka hadapi. Namun, ada juga yang tidak suka, bahkan mengancam dengan senjata tajam.

“Saya pernah didatangi bos pemulung sambil bawa golok dan marah-marah karena saya mengajak anak-anak belajar, sampai mereka jadi enggak mulung lagi. Bos pemulung itu khawatir kalau penghasilan mereka berkurang.”

Ya ampun, enaknya diapakan, ya orang seperti bos pemulung itu? Anak-anak kan enggak seharusnya ada di wilayah bisnisnya. Anak-anak tugasnya ya bermain dan belajar, bukan mencari uang, apalagi dengan memulung sampah. Berapa kilometer yang harus mereka jalani demi upah tak seberapa? Betapa besar risiko yang harus dihadapi di jalanan, apa dia mau bertanggungjawab?

Sabar … sabar …. Lebih baik saya belajar sabar dari teman saya ini. Kepada yang menolak, dia dan timnya terus berupaya membangun dialog agar orang-orang itu mengerti tujuan baik mereka. Alhamdulillah, upaya itu membuahkan hasil. Mereka yang awalnya menolak dan mengancam, berbalik jadi mendukung.

Namun, tak semua dialog nasibnya sama. Dia pernah kesulitan mencari tempat belajar untuk anak-anak pemulung. Beberapa masjid yang dia hubungi menolak tempatnya dijadikan sekolah darurat. Alasannya, anak-anak pemulung itu membuat mereka tidak nyaman. Keras, kasar, kumuh adalah pandangan mereka tentang anak-anak pemulung itu. Ya, memang benar adanya seperti itu. Tapi, bukan berarti anak-anak itu bukan anak-anak yang baik. Mereka sedang di proses belajar. Butuh waktu untuk menormalkan kehidupan mereka seperti anak-anak pada usianya.

Belum juga semua cerita pahit yang dirasakan teman saya sudah tertumpahkan. Namun, rasanya sudah enggak sabar ingin tahu kisah manis dari perjuangannya selama ini. Adakah kisah semacam itu? Atau saya harus menelan kecewa, karena kisah semacam itu belum terwujud? Saya yakin sih, ada.

“Ada murid kami Namanya Fahrel. Dia anak pertama dengan tiga adik yang semuanya berbeda ayah. Ibunya beberapa kali nikah-cerai. Fahrel yang baru berusia delapan tahun pun harus jadi tulang punggung keluarga. Mau enggak mau, Fahrel harus tetap memulung, bahkan bisa sampai pukul 23.00 malam. Biasanya, dia mulung sehabis pulang sekolah,” terangnya, melegakan hati saya.

Saya melihat sendiri foto Fahrel di akun media sosial KAISA yang kini sudah berubah nama jadi Gemilang Indonesia. Di foto itu, saya melihat Fahrel memakai seragam merah putih dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Menurutnya, Fahrel selalu rajin sekolah, meski kadang dia tak bisa menahan kantuk di kelas.

“Fahrel selalu bilang gini ke kami, Fahrel harus jadi anak yang baik, tidak nakal dan berbagi kepada teman. Dia sendiri yang menegaskan sikap dan prinsip hidupnya. Kami tahu betul bagaimana Fahrel berusaha menjaga adik-adiknya, salah satu dengan beliin baju di bazaar kami. Kami salut dengan perjuangannya.” Lanjut cerita teman saya tentang Fahrel.

Saya lalu kepikiran. Bisa jadi selama ini saya pernah berpapasan langsung dengan bocah-bocah seperti Fahrel, bahkan dengan Fahrel sendiri. Tetapi, saya tidak pernah benar-benar bergerak, mewujudkan kepedulian lewat aksi nyata seperti teman saya. Meski dalam hati terdalam, ingin sekali rasanya bisa melakukan sesuatu untuk mereka.

***

Saat ini, Gemilang Indonesia tengah bertumbuh jadi yayasan yang semakin profesional. Di tahun 2018, mereka berhasil mengumpulkan dana sosial hingga 200-an juta dengan dukungan puluhan relawan dan empat tenaga profesional. GI tak lagi harus menumpang di masjid atau menggunakan taman umum untuk kegiatan belajar mengajar. Sebuah rumah yang nyaman bisa mereka sewa untuk kantor dan tempat belajar mengajar.

“Mas, gimana rasanya, Gemilang Indonesia sudah sampai sejauh ini?” tanya saya di sela aktivitasnya sebagai Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Timur di Surabaya

“Bersyukur dan bangga dengan kinerja seluruh tim saya. Kadang seperti mustahil. Bagaimana Allah menggerakkan semua hamba-hamba-Nya untuk sebuah niat kebaikan. Kami masih terus berjuang memperbaiki dan memperluas cakupan penerima manfaat. Semoga Allah meridai langkah kami.”

Sekarang, dia sudah melepas tanggungjawab utama sebagai pemimpin Gemilang Indonesia (GI). Akan tetapi, sosoknya tetap jadi napas perjuangan GI yang digerakkan anak-anak muda itu. Dia tak lagi tinggal di Jakarta. Beserta istri dan ketiga anaknya, mereka sudah pindah ke Surabaya. Amanah baru dari kantor membawanya menduduki puncak tertinggi kantor cabang Dompet Dhuafa Jawa Timur.

Dia, Kholid Abdillah, namanya. Usianya baru di awal kepala tiga. Dialah salah satu anak muda bangsa ini yang mengabdi dengan karya. Langsung berbuat, di saat yang lain masih sibuk melempar pendapat.

***

Oleh: Mariana Suci Swastika.

Ilustrasinya dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: