Walau Bokek, Anak Kos Tetap Bahagia Dong!

Duh, uang bulananku sudah habis. Ibu biasa memberiku uang saku tiap satu bulan sekali. Kata ibu, biar aku belajar mengatur keuangan.

Sayangnya, pantang bagiku meminta lagi jika uang bulanan habis. Selain aku takut meminta lagi, ibu pun tak akan memberikan kalau alasannya tidak mendesak. Pernah satu kali aku meminta uang saku di akhir bulan karena aku kehabisan, ibu hanya menghela napas.

“Uangnya kan sudah untuk sebulan ini,” kata ibu dengan maksud menolak permintaanku.

Aku memang tidak sedang membutuhkannya untuk sekolah. Salahku sendiri membeli makanan yang tidak sesuai jumlah uang saku. Dan membuat diri kelabakan. Akhirnya aku hanya makan sekali sehari dan tak mudik di akhir minggu. Itu semua karena ketidakdisiplinanku.

Walau kadang nggak enak, menjadi anak kos adalah kebahagiaan tersendiri bagiku. Uang saku yang ngepas sebulan membuatku sadar bahwa aku harus banyak bersyukur.

Karena apa?

Ada teman kos yang selalu menjadi keluarga kedua, pasti menjadi pahlawanku di saat bokek melanda. Entah itu roti bakar malam-malam, jajan pasar di sarapan pagi, atau malah makanan dini hari bernama mi instan.

Seperti di suatu malam yang dingin, aku beranjak dari tempat tidur. Hanya melongokkan kepala di pintu kamar sudah membuatku melihat ruangan kos secara keseluruhan.

Lorong kos dengan sisi kanan kirinya berupa kamar yang berhadapan memberi khas tersendiri. Sekitar 2 meter jaraknya dari pintu dan jendela kamar yang berseberangan. Lampu-lampu yang terlihat dari balik jendela menandakan sang penghuni kamar ada di kamarnya atau tidak.

Kuketuk satu pintu. Esti, anak kos berperawakan tinggi sedang dan berkulit putih. Matanya yang bulat sering mengingatkanku kepada adikku. Dia penggemar berat Ada Band.

Aku pede saja mengetuk pintunya, karena dari kamarnya mengalun lagu “Haruskah Ku Mati”. Suara khas Bang Doni menyelinap di telinga, membuatku tertarik untuk meminta sedikit rasa belas kasih Esti kepadaku.

“Es, belum tidur kan?”

Esti mendongak. Sebelum kupanggil, dia sedang asyik mashyuk menatap lembaran kertas berisi coretan tangannya.

“Eh, Mbak. Iya belum ini, masih belajar buat ulangan harian besok. Sini masuk, Mbak.”

Esti memang lahir setahun setelahku. Adik kelas namun beda sekolah ini memang sering kumintai pertolongan. Di kosku ini, tak hanya anak satu SMA saja denganku. Tapi ada anak dengan dua SMA lain.

Memang, di sebelah timur SMA-ku ada SMA 1 dan sebelah baratnya ada SMA 5. Walaupun dari sekolah yang berbeda-beda, kami tetap saling menyayangi. Mungkin bagi para perantau, senasib dan sepenanggunganlah yang membuat kami dekat. Bukan dari sekolah mana ia berasal.

“Es, kamu punya mie nggak? Aku laper nih tapi nggak punya uang, hehe.”

Aku nyengir sambil memainkan mataku. Berharap mataku selembut mata kucing yang sedang memelas.

“Ada, Mbak. Sebentar ya.”

Esti beringsut dari kursi belajarnya. Ia mendekatiku yang duduk di kasurnya dan menuju ke lemari. Lemari Esti memiliki empat pintu. Dua pintu bagian bawah yang panjang berisi pakaian sekolah dan pakaian sehari-hari.

Dua pintu lain, yang lebih kecil, berada di bagian atas. Isinya adalah bahan-bahan makanannya. Ada mie, sarden kaleng dan bahkan ada susu sachet.

Bagi anak kos, awal bulan adalah surga dunia. Kami biasanya belanja bahan makanan bareng-bareng. Kadang naik angkot oranye jika masih beroperasi.

Pernah juga kami patungan membayar biaya taksi. Minimal 5 orang yang akan bareng belanja baru kami berani menyetop taksi. Kalau tidak lebih dari 4, berat rasanya mengeluarkan ongkos taksi ini. Hehehe …

Kembali ke Esti, dia mengambil semua stok mienya. Dia menunjukkan semua varian yang dia punya kepadaku dan bertanya aku mau minta yang rasa apa. Ada rasa ayam bawang, rasa mie goreng, rasa bakso. Baik hati sekali adik kosku ini.

“Aku ambil yang ayam bawang aja deh. Nanti aku ganti ya, Es, kalau udah dapat uang saku lagi.”

Walaupun tadi niatnya meminta, aku rasa aku harus mengganti. Anak kos memang kudu bahu-membahu dalam urusan tolong menolong.

“Gampang mah, Mbak. Ambil aja dulu.”

Thank you, Cinta!”

Aku mendekap Esti sebentar, lalu lari cepat-cepat ke dapur umum. Aku takut dilempar buku sama Esti.

Tak hanya sampai di situ, terkadang ada saja anak kos yang meninggalkan makanan yang dibawanya dari kampung halaman di meja bersama depan TV.

Kadang ada peyek kacang, ada nopia, kadang camilan-camilan aneka rasa. Pernah juga kami ditraktir jajan oleh anak kos yang ulang tahun. Bisa berupa martabak manis, roti bakar, bahkan pizza!

“Temen-temen, Mbak Yuna ultah nih. Ayo keluar kamar!” pekik Mey yang menemani Mbak kos cantik membeli jajan untuk kami semua.

Tanpa basa-basi, kami pun menyerbu pizza panas extra large. Ada yang makannya cepat, ada juga yang lambat. Yang cepat bisa kebagian 2 potong. Yang lambat makannya ya hanya bisa menahan air liur, hahaha.

Apapun itu, kos adalah tempat yang membuat kami merasa kaya walaupun bokek menyiksa. Adanya teman-teman yang suka berbagi jika sedang punya harta lebih, membuat kami selalu sehat. Perut kenyang, hati pun senang.

Hidup anak kos!

Oleh: Dhita Erdittya.

Tinggalkan Balasan