Walaupun Kami Dekat, Tetap Saja Ada Batasnya

Aku nyesel kenapa tadi aku diem aja. Padahal tes dadakan ini bisa menambah nilai ulangan harian. Teman-temanku yang peringkatnya di bawahku aja bisa, masa aku nggak dapat nilai? Miss Ratna kok gitu ke aku?

Pagi ini ruang kelas lengang. Kelas berukuran 9 x 8 meter yang berada di ujung lorong, belum terisi penghuninya. Aku sengaja berangkat pagi karena nebeng motor ayah yang juga mengejar waktu untuk ke kantor.

Syukurlah, aku bisa menikmati pagi hariku di sekolah yang selalu ramai setelah bel istirahat. Suara ketukan sepatuku meriuhkan lorong kelas bagian timur.

Sembari menaruh tas di laci meja, aku mulai mengingat ulangan harian Bahasa Inggris kemarin. Nilaiku sempurna. Bahkan, temanku yang nilainya di bawahku persis hanya bisa mencapai 86. Aku tersenyum bahagia saat ayah memujiku atas semua jerih payahku ini.

Pelajaran pertama hari ini Bahasa Inggris, aku semakin semangat mengikutinya. Dari SD, Bahasa Inggris sudah menjadi bahasa ketigaku di rumah. Selain Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa, aku terbiasa bercakap-cakap dengan tanteku yang tinggal bersama keluarga kami dengan bahasa asing ini.

Semua karena idolaku, boyband asal Irlandia. Aku pun belajar bahasa ini lewat teks lagu dan mendengarnya berulang-ulang. Sekarang, masa SMA pun aku masih suka mendengarkan lagu mereka.

Bel pertama berbunyi. Miss Ratna, guru bahasa Inggris Inggrisku, memasuki kelas.

“Good morning, students!”

Miss Ratna menyapa dengan senyum menyejukkan. Inilah khas beliau saat mengajar. Rasanya tak ingin meninggalkan kelas saat bel pelajaran beliau berakhir.

“Morning, Miss!”

Jawaban kami yang serentak menggemuruh. Membuat pagi ini terbakar api yang meluap di dada.

“Kita sudah melakukan ulangan harian kemarin. Bagaimana? Puas dengan nilainya?”

“Kurang, Miss!”

Sebagian besar teman-teman kurang puas dengan nilai mereka. Aku yang mendapat nilai sempurna, hanya bisa diam saja.

“Jadi begini. Karena banyak teman-teman kalian yang memiliki nilai di bawah rata-rata, Miss akan memberi tes dadakan hari ini.”

“Huuuuuuuuuuu ….”

Pengumuman tes dadakan membuat teman-teman menyeru bersahutan. Banyak yang kaget dengan pengumuman hari ini.

“Tenang, tesnya gampang kok. Kalau kalian belajar lagi hasil ulangan kemarin, kalian pasti bisa.”

Miss Ratna mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Melihat reaksi dari jawabannya.

“Hari ini tesnya pronunciation, ya? Pengucapan. Karena kalian sudah menghafal daftar vocabularies yang kemarin Miss kasih, Miss akan kasih tes lalu yang tahu cepat-cepat mengacungkan jari. Nanti Miss yang tunjuk. Miss akan ambil skornya untuk memberi tambahan nilai kalian nanti. Ready?”

Teman-teman yang sebelumnya tegang, mulai bernapas lega atas penjelasan miss Ratna.

“Okay, Miss!”

Satu per satu pertanyaan Miss Ratna diberikan. Setiap satu kata yang harus dijawab dengan terjemahannya diserbu oleh teman-temanku. Aku semangat mengikuti. Karena nilaiku, aku santai saja. Aku menunggu teman lain untuk menjawab. Toh aku bisa nanti-nanti jawabnya.

Hampir dua jam pelajaran tes dadakan dilakukan, kali ini aku mencoba menjawab. Namun, suara bel mengagetkanku.

Ah, kok pas giliranku malah selesai sih.

Aku memandang wajah Miss Ratna lekat-lekat. Mencoba bernegosiasi dengan mata yang memelas. Beliau memang mengenalku secara dekat. Aku sering menjadi murid kesayangannya karena nilai rata-rataku yang hampir sempurna. Dan kami sering ngobrol asyik di jam istirahat.

“Maaf, Na. Bel sudah berbunyi. Kenapa dari tadi kamu diam saja?”

“Bu, sekali ini saja ya. Aku belum dapat nilai,” pintaku sambil beranjak mengikuti beliau.

“Nggak bisa, Na. Kamu kehilangan kesempatan karenamu sendiri.”

Seketika aku mematung. Miss Ratna tak memedulikanku dan terus berjalan. Beliau mengejar kelas lainnya. Aku tak tahu kenapa aku jadi sangat kecewa dengan jawaban Miss Ratna. Orang yang aku kagumi dengan cara mengajarnya dan juga karena aku merasa mampu mengikuti pelajarannya, kini seperti tak mendukungku. Biasanya, aku selalu jadi acungan jempol atau murid tempat beliau memberi pujian.

Bel tanda akhir pelajaran berdentang. Teman-temanku bergegas mengepak buku dan alat tulisnya. Ada yang menghambur ke kantin dulu atau langsung mengajak yang lain untuk pulang bersama. Aku masih duduk diam di bangkuku. Rani, teman sebangkuku, menatapku sambil bertanya-tanya.

“Mi, kamu nggak pulang?”

Aku menoleh cepat dan menggeleng.

“Nanti aja.”

“Kenapa? Sedang ada masalah? Cerita aja kalau emang mau cerita.”

Rani memang sering kucurhati. Dia teman sebangkuku di semester ini, namun kami sudah belasan tahun bersahabat. Rani pasti tahu raut kegelisahanku tadi.

“Begini, Ran. Aku lagi sebel banget gara-gara kejadian tadi. Bukan salah Miss Ratna sih, tapi kok aku jadi marah sama beliau.”

“Gara-gara kamu nggak dapat giliran menjawab?”

“Iya.”

Rani duduk lagi. Dia membetulkan posisi kursinya dan kursinya diarahkan ke hadapanku.

“Mi, kamu sebel karena nggak bisa jawab atau karena bisa jawab tapi nggak dapat kesempatan?”

“Nggak dapat kesempatan.”

“Lalu kamu marahnya kenapa?”

“Ya, Miss Ratna kok nggak ngasih kesempatan di akhir. Kan bisa ngasih satu aja pertanyaan buatku. Cuma sebentar kok.”

“Mi, aku tau kamu dan Miss Ratna dekat. Tapi kan tadi lagi pelajaran. Miss Ratna itu guru. Sedekat apa pun kalian, saatnya beliau ngajar ya kudu profesional. Nggak boleh pilih kasih.”

Aku masih merenungi jawaban Rani tadi. Kami berpisah setelah ayah meneleponku bahwa dia sudah berada di gerbang sekolah. Sementara motor ayah melaju membelah jalanan, pikiranku ikut berkelebat. Sepertinya aku terlalu baper. Hanya karena aku dekat, aku meminta diperlakukan khusus. Hanya karena kami biasa curhat dan ngobrol, aku merasa menjadi orang yang istimewa. Apa-apa maunya dijadikan nomor satu. Ah, besok aku harus menemui Miss Ratna. Aku ingin meminta maaf atas kesalahanku tadi. Semoga beliau mau memaafkan dan kami bisa ngobrol seperti biasa di luar jam perjalanan.

Oleh: Dhita Erdittya.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan