Wanita Single hingga Tutup Usia, untuk Siapa Hartamu?

“Hai buat apa kamu cape-cape bekerja? Suami tidak ada, anak juga tidak ada? Terus untuk siapa harta yang kamu kumpulkan itu?” Beberapa pertanyaan seperti ini biasanya dilontarkan kepada seorang wanita yang masih single.

Kalau diperhatikan benar juga pertanyaan ini. Seorang wanita single yang mempunyai pekerjaan dengan pendapatan yang lumayan besar pastinya juga bingung menghabiskan uang ini. Jika kamu dilontarkan pertanyaan seperti ini apa kamu harus baper di pinggiran jalan. Karena bingung mau menghabiskan harta yang selama ini kamu kumpulkan.

Tidak perlu bingung pastinya, jika nyawa masih dikandung badan, jantung masih berdenyut, badanpun sehat tak ada penyakit. Harta itu bisa kamu sedekahkan kepada pihak-pihak yang memerlukan. Semoga saja harta ini menjadi salah satu amalan yang tidak terputus walaupun ruh sudah terpisah dari jasad.

Terus jika wanita single ini ternyata harus meninggal sebelum bertemu jodohnya apakah harta dia akan sia-sia. Kehidupan wanita single yang sebatang kara ini tidak menjadikan malaikat Izrail menunda tugasnya untuk mencabut nyawa wanita ini.

Malaikat Izrail tidak perlu bertanya apakah calon mati ini sudah menikah ataupun belum. Malaikat ini akan tetap melaksanakan tugasnya tanpa kecuali. Ketika ajal sudah saatnya datang tidak ada alasan apapun untuk menundanya.

“Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya).” (Qs. Yunus ayat 49)

 Kematian tidak dapat ditangguhkan. Datang di saat yang tepat sesuai dengan ketetapan-Nya. Kematian yang datang lebih awal dari pada datangnya jodoh, meninggalkan harta yang sudah dikumpulkan selama hidupnya. 

Lantas siapakah yang berhak menjadi ahli waris dari seorang perempuan single ini?

Para pembaca sekalian mari kita ulas untuk siapakah harta yang wanita single ini. Anggota keluarga yang berhak atas harta peninggalan wanita singel ini adalah orang tuanya. Jika orang tuanya tidak ada maka ahli warisnya adalah saudara-saudaranya.

Hubungan anak dengan orang tuanya memang tidak ada batasan. Orang tua rela menyerahkan apa saja demi kecukupan dan kebahagian anaknya. Maka sangatlah wajar jika apa saja yang dimiliki oleh anak ada hak orang tuanya. Orang tua memang orang yang paling dekat dengan anak-anaknya. Namun selain orang tua saudara kandung juga menjadi bagian terdekat, karena dilahirkan di dalam rahim yang sama.  

Hubungan saudara memang tergolong hubungan yang istimewa. Baik itu adik ataupun kakak. Sosok saudara mempunyai kisah tersendiri di dalam kehidupan kita semua. Saudara terkadang menjadi penyemangat, terkadang juga menjadi lawan kita bertengkar. Namun sosok saudara memang mempunyai makna sepesial di dalam hati kita semua.

Ada empat cara mewariskan harta seorang wanita single. Tergantung pada ahli waris siapa saja yang ditinggalkan:

  1. Apabila seorang wanita meninggal dunia, dengan meninggalkan orang tuanya, maka bagian ibunya 1/3 dari harta warisan. Ayahnya mendapatkan seluruh sisa harta warisan anak perempuannya (ashobah). (Ketentuan ada di Surah An-Nisa ayat 11).
  2. Apabila seorang meninggal dunia dengan meninggalkan seorang saudara laki-laki seibu atau saudara perempuan seibu, maka masing-masing akan mendapatkan 1/6 bagian. (Ketentuan ada di Surah An-Nisa ayat 12).
  3. Apabila pewaris meninggalkan beberapa saudara laki-laki dan perempuan seibu, maka mereka akan mendapatkan bagian 1/3 secara bersama-sama. (Ketentuan ada di Surah An-Nisa ayat 12).
  4. Bagian untuk sanak saudara kandung ini ditentukan oleh Allah sebagaimana bagian anak laki-laki dan anak perempuan, yaitu jika dia hanya seorang saudara perempuan maka dia akan mendapatkan setengah dari harta yang diwariskan. Jika dia saudara perempuan dua orang atau lebih maka bagiannya adalah 2/3 dari harta warisan. Jika saudara ini laki-laki dan perempuan maka dia akan menjadi ashobah. (Ketentuan ada di surah An-Nisa ayat 176)

Beginilah kewarisan seorang wanita single. Saudara- saudaranya bisa mendapatkan warisan dengan catatan pewaris tidak memiliki anak dan ayah. Jika masih memiliki anak dan ayah keduanya lebih berhak untuk mendapatkan harta warisan.

Sebagaimana yang telah penulis sebutkan di atas bahwa Allah Swt lebih mengetahui batas kedekatan hubungan saudara. Hubungan orang tua dan anak masih lebih dekat dibandingkan dengan saudara. Namun jika seseorang sudah tidak memiliki anak dan ayah, maka saudaralah yang terdekat dengannya.

Oleh: Aulia Muthiah.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan