Sudah lama saya tidak berjumpa dengannya. Biasanya kami ngurus proyek pengadaan naskah bersama (naskah pesanan penerbit), tapi tiba-tiba dia menghilang.

Setelah nyari info dari beberapa teman, akhirnya saya mendapatkan kontak terbarunya. Kami pun janjian untuk bertemu. Alhamdulillah, kami pun bisa bertemu lagi. Betapa kagetnya ketika saya bertemu dan mendapat cerita darinya saat itu.

“Penghasilanku sekarang 5 juta per bulan, Mas,” jelasnya.

Wah, penghasilan 5 juta per bulan di Yogyakarta tahun 2015 itu keren banget. Apalagi UMR saat itu ya kisaran 1,5 jutaan. Bahkan seorang manajer BPR saja gajinya masih 3,8 per bulan.

Apalagi dia cuma ngetik di rumah saja, dan baru lulus kuliah lho. Tapi, awalnya penghasilannya dari menulis masih 1 jutaan per bulan. Kemudian dia menulis lebih banyak lagi dan stabil mendapatkan transferan lima kali lipat itu.

Itu satu kisah. Masih ada kisah lainnya? Ada.

Teman lainnya, dulunya dia bekerja di sebuah percetakan. Kalau dilihat dari pekerjaan sehari-hari, sama sekali tidak terlihat kalau dia bakal jadi penulis beken dengan penghasilan puluhan juta. Saat bekerja di percetakan itu, per bulan dia bisa bawa pulang 1,2 juta. Namun setelah belajar menulis, penghasilannya melesat cepat.

Karena tidak punya komputer—apalagi laptop, dia nekad menulis naskah buku dengan tulisan tangan. Ya, dia menyerahkan naskah buku (tulisan tangan) itu ke sebuah penerbit! Jelas saja naskahnya ditolak. Pertama, karena penerbit tidak menerima naskah tulisan tangan. Kedua, tulisannya benar-benar masih jelek.

Tak mau menyerah, dia pun berkeliling belajar menulis dari satu penulis senior ke penulis senior lainnya. Tak lupa juga dia berusaha menabung untuk membeli komputer. Tekadnya sudah bulat, dia ingin menjadi penulis buku. Alhasil, perjuangannya tak sia-sia. Penerbit yang dulu menolak naskahnya, akhirnya menerbitkan naskahnya yang lain.

Dari buku pertama itu, dia semakin percaya diri untuk terus menulis naskah buku. Akhirnya, dia pun resign dari tempat kerjanya dan ngetik naskah setiap hari. Kini, buku-bukunya pun sudah tersebar di berbagai toko buku nasional.

Dulu, fisiknya kurus, tak bisa tersenyum pula, tetapi sekarang segar bugar dan senyumnya lebar sekali. Apalagi sebabnya kalau bukan karena royalti dari penjualan bukunya sudah mengalir deras ke rekeningnya.

Itu kisah kedua ya. Masih ada kisah lainnya? Ada.

Memang sejak awal, dia tekun sekali menulis cerita. Hingga akhirnya dia fokus menjadi novelis. Tetapi, rupanya menjadi novelis tidak begitu menghasilkan. Dia pun mencoba usaha lainnya. Dia buka usaha kuliner bersama suaminya. Hasilnya lebih parah. Jangankan laba, bahkan modalnya pun tidak pernah kembali.

Setelah diskusi dengan suaminya lagi, dia pun kembali menekuni naskah novel. Karena menurutnya, menulis adalah satu-satunya keterampilan yang dia kuasai. Sang suami pun terjun menjadi penulis. Keduanya menjadi penulis meski beda genre. Satunya novelis, satunya lagi … rahasia. Hehehe ….

Tak lama mereka berjuang menjadi penulis dan berhasil! Akhirnya dia bisa memposting sebuah foto di akun Facebooknya dengan tulisan, “Meski kecil, akhirnya kami bisa membeli rumah dari menulis.”   

Itu kisah ketiga ya. Masih ada kisah lainnya? Banyak.

Terlebih lagi dunia semakin datar (dunia online, bumi tetap bulat ya, tapi dunia bisa datar, hahaha), banyak sekali peluang untuk menjadi penulis. Sangat terbuka untuk siapa pun, dan jika mau serius, tentu saja peluang untuk mendapatkan penghasilan begitu besar.

Oleh Mursyid, dalam bukunya yang berjudul Be a Writer Librarian, menuliskan: profesi sebagai penulis merupakan profesi yang paling fleksibel.

Artinya, profesi ini bisa dikerjakan oleh siapa pun dan di mana pun. Cukup bermodal laptop seharga 2,5 juta saja, seorang penulis bisa menghasilkan uang puluhan juta. Bahkan tidak sedikit penulis yang mengawali kariernya dengan meminjam komputer temannya!

Bahkan secara terbuka, Pak Bambang Trim—seorang praktisi perbukuan—pernah menulis di jejaring sosialnya, bahwa seorang writerpreneur itu mampu mengubah satu rim kertas senilai Rp30.000 menjadi uang Rp30.000.000!

Maka wajar bila sekarang saya menemui beberapa teman yang bertekad sukses sebagai penulis. Masih berjuang dengan mulai menulis dengan fee/honor puluhan ribu dulu, lalu naik ke ratusan ribu, hingga akhirnya bisa mendapatkan jutaan rupiah dari menulis. Bahkan benar-benar menjadi penulis, alias tidak punya pekerjaan lainnya.

Tapi kalau mau dijadikan sambilan juga bisa. Anggaplah paling sederhana ya, setiap hari Senin sampai Jumat bekerja di kantor seperti biasanya. Kemudian pada hari Sabtu dan Minggu bisa menulis. Biar menghasilkan uang, bukalah jasa menulis.

Misalnya satu tulisan—sebanyak 2.500 kata—dihargai 250.000, maka bisa mendapatkan tambahan penghasilan 1 juta per bulan bila menulis 10.000 kata.

Itu kalau setiap bulan cuma ngetik empat tulisan, kan? Kalau totalitas jadi writerpreneur dan setiap dua hari bisa menulis 2.500 kata, maka dalam 30 hari bisa mendapatkan penghasilan Rp3.750.000.

Kerjanya santai, ngetik di kafe, tiap hari ngetiknya maksimal tiga sampai empat jam saja, dan sisa waktu bisa buat memanjakan diri. Happy writing!  

Note: Sengaja saya kasih contoh penghasilan penulis yang segitu saja. Kalau yang penghasilan sudah puluhan juta? Ada.

Apakah writerpreneur hanya sebatas itu saja? Tidak.

Masih ada pilihan lain selain menawarkan jasa menulis, yakni berkarya dengan menulis buku. Berbeda dengan metode yang pertama tadi (menawarkan jasa menulis), kali ini menulis bisa menjadi sumber passive income. Kalau jasa menulis kan sekali menulis sekali dibayar. Kalau yang passive income ini sekali berkarya ya bisa berkali-kali dibayarnya.

Menulis apa? Bisa buku, dan bisa juga novel. Karena dari menulis buku/novel itulah seorang penulis akan mendapatkan royalti selama buku/novelnya terjual. Tiap buku, besarnya royalti bervariasi antara 8%-12% tergantung kebijakan penerbit buku/novelnya.

Silakan dihitung sendiri ya. Bila seorang penulis dari satu buku/novelnya bisa mendapatkan royalti rata-rata Rp 3-6 juta per semester, berapa juta yang ia dapatkan bila buku/novelnya ada 10 judul?

Note: Itu kalau rata-rata royalti Rp 3-6 juta per semester, padahal ada juga royalti yang mencapai Rp 25 juta pada bulan pertama. Lalu buku/novelnya cetak ulang lagi, lagi, dan lagi!

Tak heran bila Ahmad Bahar, dalam buku Meraih Passive Income dari Menulis, menuliskan bahwa sebuah tulisan bisa menghasilkan uang berlipat ganda. Itulah yang dia sebut sebagai prinsip passive income. Tidak sekali bayar, melainkan berkali-kali bayar.

Karena itu pernah saya posting di Facebook, bahwa bekerja sebagai penulis itu hanya sekali dibayar saja, tetapi kalau kita berkarya akan berkali-kali dibayar.

Nah, kabar baiknya buat siapa saja yang masih bekerja di kantor, jadikan passive income ini sebagai tabungan. Anggap saja gaji bulanan dari kantor buat membayar kebutuhan sehari-hari, sedangkan hasil (passive income) dari menulis tersebut untuk membeli motor, mobil, rumah, emas, umrah, haji, dan bahkan menjadi tabungan masa pensiun (diwariskan)!

Jadi, writerpreneur itu cuma jual jasa menulis dan menulis buku/novel saja? Tidak.

Menjadi writerpreneur tidak terbatas pada proses menulisnya saja, melainkan sikap profesionalnya juga. Itu menjadi satu kesatuan. Tidak mungkin seseorang yang jago nulis sekalipun bakal sukses menjadi writerpreneur bila sikap-mentalnya buruk.

Meskipun proses menulis bisa dikerjakan dengan santai, bukan berarti menjadi writerpreneur itu tidak butuh kedisiplinan.

Karena sangat mustahil seseorang bisa berkarya kalau sikapnya ogah-ogahan dan suka menunda pekerja. Maka bagi writerpreneur, soal komitmen dan konsisten dalam berkarya itu tidak bisa ditawar lagi.

Sebab, bagaimana bisa writerpreneur menghasilkan buku/novel per tahun 6-8 judul bila tidak memiliki kedisiplinan?

Maka, sehebat apapun teknik menulis yang dikuasai, seseorang tidak akan menjadi writerpreneur sejati bila sikap-mentalnya masih manja.

Nah, akhir-akhir ini, writerpreneur pun sudah semakin meluas. Salah satunya dengan memiliki usaha penerbitan buku indie. Setidaknya buku/novelnya sendiri yang diterbitkannya dan dijual bebas via online. Tak lagi ilmu menulis yang dipelajari, melainkan juga ilmu pendukung lainnya: produksi dan marketing. Hasilnya? Sangat keren.

Writerpreneur naik level. Seorang writerpreneur dalam sebulan bisa mencapai omset Rp 90 juta/bulan dari berjualan bukunya melalui jejaring online. 

Tidak sekadar menjadi penulis, melainkan punya usaha penerbitan—meski masih skala kecil. Atau, bisa juga dengan memiliki media seperti majalah atau blog/website. Passion menulisnya tetap jalan, bahkan semakin lancar, dan dari media tersebut bisa menghasilkan uang lagi. Dobel penghasilan.

Pada level ini, writerpreneur sudah menjadi dunia-usaha tersendiri, bukan lagi sekadar profesi.

Maka, bila tidak memahami dunia writerpreneur secara utuh, wajar bila seorang penulis hanya berhenti pada posisi ‘jualan tulisan terus-menerus’. Karena, baginya ya menulis itu jualan jasa saja, tidak lebih dari itu.

Namun, apapun pilihannya ya, yang penting happy. Karena pada setiap pilihan tetap harus tahu keuntungan dan risikonya. Supaya tidak menjadi writerpreneur yang merugi, dan tidak menjadi writerpreneur yang putus asa. He-he-he ….

Lantas, kamu termasuk writerpreneur pada posisi mana?

Oleh: Dwi Suwiknyo.

Ilustrasi dari sini.

 

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: