Ya Allah, Aku Hanya Ingin Menjaga Hatiku

“Ajari aku shalat, dong … “
Terdengar suara dari arah belakang saat aku sedang melipat mukena. Kutolehkan pandangan ke arah datangnya suara.

“A-jari sha-lat?” Tanyaku terbata.

“Kamu bisa shalat dengan benar, aku mau belajar, please …” Laki-laki itu memohon dengan suara pelan sambil menoleh mengamati sekitar

“Eh, tunggu. Maksud kamu apa? Kenapa aku?”

“Jangan banyak tanya. Kasih nomormu, nanti aku chat. Please, aku butuh diajari.”

Entah kenapa aku pasrah saja memberikan nomer ponselku, padahal aku masih kebingungan dengan permintaannya. Kenapa tidak minta diajari Pak Hasan saja yang jelas-jelas mengajar agama di sekolah.

Setelah mendapat nomorku, laki-laki dari kelas sebelah itu langsung berjalan cepat, keluar dari mushala dan menghilang, entah berjalan ke arah mana. Aku tidak terlalu memerhatikan, masih terus bertanya-tanya sambil mengemas mukena ke dalam ransel.

***

Keesokan harinya, mendung menyelimuti langit siang. Suasana sekolah menjadi sedikit gelap dan berangin. Aku merogoh tasku dan segera menyadari bahwa tidak ada payung dalam tasku. Seperti biasa, setelah bel pulang sekolah berbunyi, aku menuju mushala sekolah untuk melaksanakan shalat dzuhur.

Hari ini, mungkin aku akan lebih lama berada di mushala karena sudah mulai gerimis. Aku akan menunggu langit bersahabat, agar bisa pulang tanpa kehujanan.

Aku terbiasa melaksanakan shalat dzuhur di sekolah karena jarak rumah dengan sekolah tidak begitu dekat. Butuh satu jam perjalanan untuk sampai rumah, sementara pelajaran di sekolah usai pada pukul 13.15 WIB. Kalau sedang dalam kondisi macet, bisa saja aku akan sampai di rumah menjelang waktu ashar.

Mungkin, karena Ayah dulu sering marah ketika aku baru shalat dzuhur di rumah, padahal aku bisa melaksanakannya di sekolah. Itu membuatku merasa tidak nyaman, sampai ketika naik ke kelas 2 SMA, aku mengubah kebiasaan itu.

Akhirnya, sudah hampir dua tahun ini, aku selalu menjadi pengunjung rutin mushala sekolah yang sepi itu. Paling, hanya beberapa gelintir siswa saja yang shalat di sekolah. Sedangkan para guru, punya ruangan khusus di dekat ruang kantor.

***

Selesai menuntaskan empat rakaat shalat, murid baru itu ternyata juga ada di mushala. Sepertinya, sudah ada sejak tadi. Ia menungguku di tepi, tepat pada batas shaf laki-laki dan perempuan yang hanya ditutup oleh papan pendek yang tingginya tidak lebih dari satu meter.

Ya Allah, dia menemuiku lagi, benarkah aku harus membantunya? Aku bicara dalam hati, lalu mengela napas.

“Kamu enggak serius kan, kemarin?” Tanyaku padanya.

“Kamu sama sekali enggak chat aku, itu artinya kamu enggak jadi minta diajarin shalat.” Kataku menyambung, sebelum dia menjawab.

“Bukan begitu, aku masih minta tolong ke kamu. Kamu bisa, kan?”

“Oke, tapi kok aku? Kamu yakin mau belajar sama aku?”

“Aku lihat kamu selalu shalat, dari awal aku masuk sekolah, aku selalu lihat kamu rajin. Pasti kamu bisa ajarin aku.”

“Tapi kan … aku perempuan dan … Tapi gimana caranya? Kamu mau aku ajarin sekarang?”  

“Terserah kamu, enggak harus setiap hari. Sehari aja kalau aku sudah bisa juga cukup kok,” Kata murid pindahan itu

“Kamu kan juga bisa menuliskan bacaan-bacaannya di buku, nanti biar aku baca sendiri. Di sini kamu tinggal kasih tahu gerakan yang benar.”

“Hem … Oke.”

***

Aku mengeluarkan secarik kertas dan pulpen, kutuliskan bacaan-bacaan shalat. Tentu aku tidak menulis denga huruf Arab, tapi dengan bahasa Indonesia, pokoknya bunyinya begitu. Jelas, dia pun akan mudah membaca lalu menghafalnya.

Ketika aku sedang menulis, tiba-tiba seseorang masuk ke mushala. Ia melihat kami berdua lalu menundukkan kepala, kupikir itu isyarat maaf. Aku tahu, ia memang sopan dan tak banyak mau tahu urusan orang lain.

Begitulah Faisal, teman sekelasku yang setiap tahun selalu masuk rangking 3 paralel—rangking sekolah. Kalau di kelas, dia rangking satu terus. Kalau aku, ya beruntung pernah dapat rangking 8.

Seketika terpikir, kenapa bukan Faisal saja ya yang bantu anak baru ini untuk belajar shalat. Aku menunggu Faisal menyelesaikan shalatnya. Ketika dia beranjak lalu berjalan ke arah pintu, aku segera memanggilnya.

“Faisal … “ Panggilku sedikit ragu

Faisal menolehkan pandangannya, “Iya … “

“Boleh aku minta tolong sama kamu? Aku butuh bantuan.”

Insyaa Allah, kalau saya bisa bantu. Memangnya bagaimana?” Faisal kemudian mendatangiku

“Kenalkan dulu, ini murid baru kelas IPS-3. Eh, siapa namamu?” Aku memperkenalkannya dengan Faisal meskipun aku pun lupa bahwa aku sama sekali belum berkenalan dengannya.

“Aldy,” Katanya

Aku memberanikan diri untuk meminta bantuan dari Faisal, “Nah, Aldy ini mau diajarin shalat. Kamu bisa bantu? Aku kan … perempuan, enggak enak …”

“Oh begitu. Ya, boleh saja. Insyaa Allah saya akan bantu.” Faisal menjawab dengan mantap, tanpa bertanya atau terlihat curiga dengan permintaanku. Ia juga sama sekali tidak bersikap dingin pada Aldy, ia tidak juga mengejek Aldy karena ingin belajar shalat.

Ah, Faisal. Aku semakin nge-fans sama kamu!

***

Dua minggu berjalan.

Aldy sudah bisa melakukan gerakan shalat dengan sempurna, bacaan-bacaannya pun sudah hafal. Setiap siang, seusai pelajaran, Aldy menjadi makmum Faisal. Faisal membantu mengoreksi bacaan-bacaan shalatnya dengan sabar, bahkan mengajak Aldy datang ke rumahnya sekali waktu.

Aku hanya jadi seorang “pengaman” di mushala, mengikuti mereka ketika sedang belajar di mushala sekolah. Memastikan tidak banyak murid lain yang mengamati apa yang kami lakukan karena Aldy akan malu jika banyak yang tahu bahwa ia tak lancar melakukan ibadah. Padahal, sebentar lagi ia akan menempuh ujian praktik. Tentu, kami yang muslim diwajibkan untuk mempraktikan shalat wajib.

Oh ya, akhirnya rasa penasaranku terjawab juga. Aldy, sebetulnya sudah bisa shalat. Hanya saja, gerakan-gerakannya belum sempurna dan beberapa bacaan belum ia hafal. Aku bisa maklum. Ini semua terjadi karena faktor keluarga. Aldy anak tunggal dari orang tua yang bercerai, ayahnya menikah lagi lalu hidup di Sumatra. Sejak usia lima tahun, ia tidak pernah lagi bertemu Ayahnya. Bahkan ia tidak kenal keluarga besar dari Ayahnya.

Saat menginjak usia SMP, ibunya meninggal karena sakit. Kemudian sampai saat ini, ia tinggal dengan tantenya. Adik Ibunya yang nonmuslim. Aldy memang tak pernah dilarang untuk beribadah, tetapi tidak ada yang mengajarinya dalam urusan itu karena dia satu-satunya yang memeluk Islam, mengikuti ibunya yang mualaf setelah menikah dengan ayahnya. Aldy juga tidak pernah bersekolah di sekolah negeri sebelum ini. Tidak heran, ia benar-benar menjadi seperti memulai dari nol.

Faisal dan Aldy, bernasib sama meskipun berbeda. Faisal masih punya Ibu. Kupikir, ini alasan kenapa Faisal menjadi mudah akrab dengan Aldy.

***

Sore itu, hari terakhir Aldy belajar shalat. Aldy pulang lima menit lebih dulu. Sementara aku dan Faisal duduk di depan mushala menunggu hujan reda. Kami tidak membawa payung. Aku, dengan jantung yang berdetak tidak berirama mendahului percakapan.

“Sal, kamu enggak ada keinginan untuk cari pacar?”

“Pacar? Buat apa, Sof?” Jawab Faisal sambil tertawa ringan.

“Kamu kan pintar, baik dan pendiam. Kalau kata anak kelas sebelah, kamu cool. Ya, banyak kali cewek yang mau sama kamu. Kamu enggak berniat untuk membalas perasaan mereka?”

“Hahaha … Sofi, saya balas kok. Balas semua kebaikan perempuan dengan menjaga diri saya. Saya harus melindungi diri mereka juga. Kalau pacaran, saya berarti tidak bisa memberikan kepastian. Memangnya menjamin jodoh?”

Aku hanya tersenyum tipis. Jantungku berdetak semakin kencang.

***

Aku dirundung galau.

Sejak berteman dekat dengan Aldy dan Faisal, aku semakin menyukai Faisal. Sementara Aldy menyukaiku. Aldy mengatakannya dua hari lalu. Ia tidak memintaku menjadi pacarnya karena tahu, aku menyukai Faisal. Kenapa aku malah jadi sosok yang berbahaya bagi mereka? Aku sungguh bimbang dan merasa melakukan kesalahan.

Dalam kebimbanganku, aku ingin sekali berubah menjadi seseorang yang baru.

Akhirnya, di suatu hari Minggu, aku bertanya kepada Ibu.

“Bu, kalau aku pakai jilbab, aku cantik enggak?”

Ibu tidak menjawab, yang ibu lakukan hanya menggenggam tanganku dan membawaku ke depan cermin di kamarnya. Ibu memakaikanku kerudung bermotif bunga kecil. Lalu ia bertanya “Gimana, Nak? Cantik kan?”

Aku diam, hanya butiran bening yang menetes di sudut mata.

Ya Allah, aku benar-benar ingin menjaga diri dari perasaanku kepada Faisal. []

Oleh: Hapsari TM.

Tinggalkan Balasan