Ilustrasi dari republika

Ya Allah, Aku Ikhlaskan Dia Untuk-Mu

“Nduk, Mamak mau ngomong sesuatu,” sapa Mamak sore itu mengagetkanku.

“Ada apa ya Mak, kok tumben sepertinya ada hal serius yang mau Mamak sampaikan?” tanyaku penasaran.

Sore itu aku seperti dihadapkan pada sebuah sidang. Sidang yang khidmat, penuh kehangatan, tidak ada ketegangan atau ketakutan. Bahkan entah bagaimana bisa, hatiku rasanya mendadak bahagia. Jantungku, wajarlah deg-degan seperti menantikan sesuatu yang amat penting bagiku. Namun, anehnya aku saat itu merasakan bahagia, lain daripada hari-hari biasanya.

Mulai dari Bapak, Mamak, Mbak Indah, Kang Imran, Kang Ilham, dan si bungsu Fadhil ada di ruangan itu bersamaku. Semua tampak memerhatikanku dengan pandangan yang lucu. Mereka semua menyunggingkan senyum kepadaku. Rasa penasaran masih menggelayutiku. Belum ada suara lagi setelah perkataan Mamak di awal tadi kecuali sahutanku membalas sapaannya.

“Nduk, Kakangmu (Kakakmu) ini beberapa hari yang lalu matur sama Bapak,” giliran Bapak memecah konsentrasiku. “Kamu tahu kan Kakangmu ini usianya sudah kepala tiga. Sementara sampai sekarang calon pendamping hidupnya masih belum tampak. Kamu ingat kan dulu pernah Kakangmu mengajak seorang gadis dari Jawa Timur ke rumah ini. Kalau tidak salah waktu itu kamu juga di rumah kan? Namun, setelah aku dan Mamakmu mempertimbangkan masak-masak Kakangmu Aku larang melanjutkan hubungannya.”

“Bukannya Aku dan Bapak tidak suka, tetapi kalau ada yang lebih baik lagi siapa tahu Gusti Allah ngijabahi to Nduk?” Mamak menambahi. “Putri Kiai dari Magelang itu sebenarnya juga pilihan yang baik. Dia itu hafidzah, sayangnya, dia tidak mengenyam bangku pendidikan formal. Padahal Kakangmu itu kan ya sarjana dari universitas terkemuka pula.”

“Iya, Mak, Bapak. Semua tadi benar. Semoga Kang Imran segera mendapat jodoh yang sesuai dengan harapan Bapak, Mamak, dan seluruh keluarga ini, aamiin,” kataku memberanikan diri merespon perkataan Bapak dan Mamak.

Kang Imran yang sedari tadi ikut dalam “sidang” ini hanya terlihat diam. Kalem sekali. Entah apa yang dia rasakan. Aku yang berposisi seperti tersangka saja merasa nyaman dengan keadaanku saat itu, namun entah mengapa justru Kang Imran yang sedari tadi merasa gelisah. Mungkin karena sejak tadi dialah topik utama “sidang” ini.

“Nah, Nduk, sekarang Bapak mau bertanya, kamu sebenarnya sudah ada calon belum? Beberapa hari yang lalu Bapak matur kepada Rama Kiaimu. Intinya Bapak menanyakan kira-kira siapa calon yang tepat untuk Kakangmu, Imran. Beliau memberi gambaran, bahwa jodohnya adalah orang sudah dekat dengan Imran, bahkan dengan keluarga sini. Lha siapa lagi kalau bukan kamu, Nduk?”

Perasaanku bercampur aduk. Antara senang, namun aku bingung. Antara takut, namun aku seakan mendapat jawaban atas doa-doaku selama ini. Angan-angan mendapatkan suami yang sholeh adalah dambaan setiap wanita. Tak terkecuali aku. Impianku dapat membina rumah tangga dengan orang ayng selama ini aku cintai, selangkah lagi akan terwujud. Aku mencintai lelaki itu, meski aku tidak tahu apakah dia mencintaiku. Doa-doaku setiap waktu, kini ada jawabannya. Meski bukan dari mulutnya sendiri, namun ini malah dari perkataan Bapak dan Mamak. Alhamdulillah Ya Allah.

Aku mulai mengenal keluarga itu saat SMP. Ketika aku dilatih untuk mandiri oleh kedua orang tuaku. Aku mengaji di sebuah pesantren dekat sekolahku, sembari kos di sebuah rumah. Kos dan rumah keluarga itu berhadapan dipisahkan jalan besar. Mbak Indah adalah kawanku se pesantren. Kawan yang sering aku ajak bahu membahu dalam organisasi pelajar putri yang bernafaskan Islam.

Saking dekatnya dengan Mbak Indah, membuat aku dekat pula dengan dengan keluarganya. Mamak, Bapak, Kang Imran, Kang Ilham. Fadhil, bahkan dengan dua kakak yang jarang pulang pun aku sudah sangat mereka kenal.

Kedekatan kami awalnya aku rasakan sebagai kedekatan sebuah kelarga. Aku sangat nyaman berada di tengah keluarga itu. Aku dianggap anak dan bagian dari keluarga itu. Bapak dan Ibuku amat senang aku mendapat keluarga baru di tengah masa belajar dan mengajiku. Kedekatanku terus terjalin meski aku telah kuliah dan berpindah pesantren.

Mbak Indah adalah alasannya. Usiaku makin bertambah, aku mulai mengenal cinta. Kang Imran yang sudah kuanggap kakakku sendiri adalah pribadi yang sangat luar biasa. Dia adalah anak lelaki satu-satunya yang telah meraih gelar sarjana, dari universitas terkemuka pula. Ilmu agamanya tidak diragukan lagi. Dia adalah lurah di pondokku dahulu. Aku hanya berani mengaguminya, secara rahasia pula. Sering aku melamun, bermimpi, berangan menjadi pendamping hidupnya. Namun, mana mungkin Kang Imran mau?

Sampai saat itu tiba. Dalam sidang yang membahagiakan aku mendapat jawaban atas doa-doaku. Aku segera pulang dan mengabarkan kepada Bapak Ibu di rumah bahwa aku dilamar. Bahkan selang beberapa hari kemudian Bapak dan Mamak serta Kang Imran datang ke rumah. Beliau mengkhitbahku secara resmi. Tiada yang tahu kehendak-Nya. Aku teramat bahagia.

***

Dari musyawarah keluarga disepakati bahwa akad nikah akan dilangsungkan setelah aku selesaikan studiku. Aku saat itu sudah masuk dalam tahap penyelesaian tugas akhir. Sudah masuk pada bab pembahasan. Jadi, menurutku menunggu barang 6 bulan bukan waktu yang lama.

Aku semakin termotivasi untuk segera menyelesaikan tugas akhirku. Semangatku semakin melonjak, apalagi kini Aku “mempunyai’ Kang Imran yang ternyata adalah imam yang luar biasa. Nasihat, visi, kesholehan, dan masih banyak lagi hal baru yang kau dapatkan setelah beliau mengkhitbahku.

Ketika aku akan menghadapai ujian kenaikan kelas di pesantren Kang Imran pasti selalu mengajariku via online. Segala pertanyaan dan keluh kesahku selalu aku dapatkan jawaban dan solusi darinya. Dia adalah guruku, dan tentunya calon imamku.

***

Di tengah keasyikan menyelesaikan tugas akhir sembari menunggu datangnya hari bahagia Allah menunjukkan kuasaNya. Sebuah pesan masuk ke Hpku. “Nduk, ke rumahnya. Kang Imran kangen kamu.”

Mbak Indah mengirim pesan kepadaku malam itu. Aku jawab, bahwa besok pagi aku akan ke rumah mbak. Namun aku merasa aneh, kenapa kangen saja harus lapor ke orang lain. Dan kenapa juga malah orang lain yang menyampaikan. Padahal malam itu aku dan Kang Imran bersenda gurau via dunia maya tidak membahas bab kangen sama sekali. Aneh.

Paginya aku ke rumah Kang Imran. Aku kaget, karena beliau tidak bekerja, bahkan terbaring sakit. Tidak terlihat sakit yang serius, bahkan senyum dan candaanya tetap hadir menyambutku.

“Sakit apa Kang? Kenapa semalam nggak bilang kalau sakit? Kenapa harus Mbak Indah yang minta aku ke rumah? Huft!”

“Hehehe, sabar to Nduk. Aku tidak sakit apa-apa kok. Cuma asam lambung kumat ini. Kecapean kerja, plus kecapean pikiran mikirin kamu, hehehe!”

“Kang Imran itu harus jaga kesehatan. Makan yang teratur. Istirahat teratur. Kalau malam misal sudah capek atau ngantuk ngobrol sama aku ya bilang to. Aku nggak mau njenengan sakit seperti ini!”

Tiga hari beliau terbaring, lalu sempat masuk kerja selama dua hari. Setelah itu beliau terbaring sakit lagi. Keluhannya masih sama, asam lambung. Kang Imran memang sulit untuk makan teratur. Pagi jarang sarapan, makan seadaya.

Aku berharap kelak jika sudah resmi menjadi istrinya aku dapat mengubah pola hidupnya agar lebih sehat dan teratur. Sayang Allah berkehendak lain. Sakitnya kali ini mendadak serius. Seminggu terbaring di rumah kesehatannya mulai menurun. Berobat ke dokter spesialis dekat rumah sudah dilakukan. Hanya anemia katanya.

Keadaan Kang Imran makin menurun, akhirnya keluarga memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit. Di awal kedatangan di rumah sakit keadaanya masih stabil. Komunikasi masih normal, namun untuk sekedar bangun apalagi berjalan memang tidak bisa beliau lakukan. Dua hari di rumah sakit keadaanya mulai menurun. Komunikasi mulai terganggu, bicaranya menjadi gagap, bahkan tidak ada satu kata pun yang bisa keluar dari mulutnya.

Sehari berselang beliau hanya memejamkan mata, namun masih bisa merepson kata-kataku dengan tetesan air matanya. Sudah lima hari di rumah sakit, Allah menjemput beliau kembali ke pangkuan-Nya. Orang sholeh calon imamku itu telah pulang ke rahmatullah empat bulan menjelang pernikahan kami. Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun.

Sungguh berat ketentuan-Mu ini Ya Allah, namun aku yakin, ini adalah yang terbaik bagiku, baginya, dan bagi kami. Aku ikhlaskan semuanya Ya Rabb. Aku yakin, akan ada hal yang lebih indah yang telah Kau persiapkan untukku.

Oleh: Wawan Murwantra.    

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan