Aku baru saja akan merebahkan badanku, saat langkah berat terdengar. Langkah yang sudah sangat kukenal. Sesaat langkah itu berhenti, kemudian mendekati kamarku. Berderit pintu kamar dibuka, sebentuk wajah masam muncul.

“Gak masak lagi, Na?” tanyanya mendekatiku.

“Apa yang mau aku masak, mas? ngak ada uang.”

“Kemarinkan sudah aku beri seratus ribu,” kilahnya.

“Kemarin kapan, itu sudah dua hari yang lalu, sudah habis buat beli beras, gula, susu, pempers.”

“Makanya Deri ngak usah pake pampers, boros, cari uang itu susah, kamu itu ngak becus pegang uang.” Pram mengucek rambutnya, wajahnya makin kusut

“Gak becus bagaimana ….” Suaraku tertahan, mendengar keributan kami Deri bangun.

“Ayah …..” rengehnya.

Melihat Deri mendekat, Pram bergerak meninggalkan kamar. Merasa diabaikan Deri berteriak menyusul ayahnya. Teriakan Deri membangunkan Nisa adiknya. Kaget bayi empat bulan itu pun menangis. Dua balita menangis, Pram entah ke mana. Duh, gusti aku hanya mampu mengeluh.

***

Aku tak menyangka kehidupanku akan mengalami fase yang tak pernah kubayangkan. Aku dibesarkan dengan limpahan materi. Ayahku seorang pekerja keras. Kemiskinan yang ia alami menempanya menjadi sosok yang ulet. Terbukti hanya dengan berbekal ijazah SMP saat ini ayah mampu memiliki bengkel mobil dengan karyawan lebih dari sepuluh orang.

“Nduk, cukup ayah saja yang rekoso, kamu harus sekolah tinggi, biar jadi orang,” kata ayah suatu hari. Ayah berharap besar terhadapku, apalagi aku mbarep. Ibuku pedagang, ibu biasa berjualan pakaian dan cinderamata khas Yogya di taman parkir Abu Bakar Ali.

Kesibukan ayah dan ibu membuat aku dan kedua adikku jarang berkomunikasi dengan mereka. Keseharian kami hanya ditemani bibi, adik dari ayah. Kemudahan yang aku dapatkan membuat aku tumbuh menjadi remaja yang manja, dan rapuh. Tidak ada tempat berbagi di rumah, membuat aku lebih suka menghabiskan waktu dengan teman-temanku. Selepas sekolah kegiatan rutinku nanton film, atau sekadar jalan-jalan di Mall. Sesekali ayahku menegur jika aku pulang agak larut, dan aku punya banyak alasan untuk itu. Aku juga tidak tahu kenapa ayah percaya begitu saja, mungkin dia juga sudah capek, jadi malas kalau mau kepo.

Di tengah hura-hura dengan teman-teman, aku merasakan kehampaan yang aku tidak tahu, apa sebabnya. Pernah aku merasa malas sekolah karena bosan. Hingga rasa itu hilang ketika suatu hari tanpa sengaja aku berkenalan dengan Pram. Sebenarnya aku dan Pram sekolah di satu lokasi, tapi sekolah kami beda, aku di sekolah musik, Pram sekolah di seni rupa. Ada even tahunan yang diadakan oleh sekolah-sekolah kejuruan, kebetulan aku dan Pram menjadi pengisi di even itu mewakili sekolah masing-masing.

Waktu itu, aku sedang kebingungan mencari kunci motorku. Di tas dan sakuku tidak kutemukan. Pram datang membantu mencari, dan akhirnya ketemu nyangkut di kaki kursi tempatku duduk. Mungkin aku terlalu panik hingga tidak melihatnya.

Sejak hari itu aku jadi bersemangat sekolah, Pram sering mampir di kantin depan sekolah, tempat aku dan teman-teman biasa makan.

“Udah pulang, Na,” tegurnya mengagetkanku. Tiba-tiba saja cowok itu sudah duduk manis di depanku. Ngak sopan banget tuh cowok tiba-tiba duduk diantara Ita dan Ria, membuat keduanya ngacir pindah meja. Hampir saja bakso yang aku sendok meloncat dari mangkuk. Aku tidak melihat kedatangannya, mataku fokus mengeksekusi bakso.

“Eh! kira-kira ya kalau nyapa, kalau sampai baksoku tumpah, kamu harus tanggungjawab,” kataku sewot.

“O … don’t worry, jangankan satu mangkuk untukmu, satu gerobakpun aku berikan untuk mu,” ujar Pram. Aku tersanjung. “Nih, untuk mu.”  Sebatang coklat bersanding manis dengan baksoku.

Kejutan demi kejutan Pram berikan untukku. Membuat aku makin terbuai. Hari-hari indah ku lalui dengan penuh gairah. Hari itu sepulang dari melihat pameran seni, Pram mengajakku ke rumahnya. Rumahnya sepi, ia hanya tinggal dengan ayahnya. Sejak bercerai dengan ayahnya, ibu Pram tinggal di kota lain. Hujan deras yang mengguyur waktu itu membuatku tertahan lama di rumah Pram. Hanya berdua kami di rumah, membawa kami pada sebuah petaka. Petaka yang membuat aku tidak mendapatkan haid pada bulan berikutnya. Ada denyut kehidupan yang tumbuh di rahimku.

Panik, tentu saja aku panik. Aku tidak berani memberi tahu orang tuaku. Hanya Pram yang aku beri tahu, karena dia yang harus bertanggungjawab. Pram juga tidak berani memberitahu oran tuanya. Aku selalu berpura-pura datang bulan saat ibu mengalami hal yang sama. Aku sedikit masih bersyukur tidak mengalami morning sickness, sebagaimana lazimnya orang hamil muda. Satu bulan, dua bulan masih aman, aku masih bisa bersikap wajar. Masuk bulan ketiga beberapa bajuku mulai sedikit sempit, termasuk seragam sekolahku. Aku memermak seragamku agar bisa nyaman aku pakai. Tapi sepandai-pandainya aku menyimpan, pada akhirnya terkuak juga.

Mbak Asih, pemilik konter pulsa, orang yang justru curiga dengan perubahan bentuk tubuhku.

“Na, kamu sehat,” tanyanya saat aku di konternya.

“Iya, mbak, kenapa?”

“Aku lihat, kok kamu lebih pucat ya?”

“Emm … aku sedikit agak pusing,” kataku asal.

“Sebaiknya kamu bilang ibumu, Na, tentang kondisimu.” Aku menatap Mbak Sri dengan kening berkerut. “Pinggang dan dadamu lebih berisi Na,” katanya menangkap keherananku.

Aku bingung, tidak mungkin aku bilang ke ibu, apalagi ayah. Tapi mereka harus tahu, tapi bagaimana?

Siang itu aku izin tidak mengikuti jam terakhir, aku merasa sangat pusing dan lelah. Aku terkejut saat membuka pintu ibu sudah duduk di ruang tengah sambil melihat tv.

“Tumben sudah pulang bu.”

“Kamu kok juga sudah pulang?” ibu balik bertanya

“Iya bu saya pusing.”

“Kamu sakit, Na?” Ibu memegang pelipisku, mengamatiku dengan seksama, membuatku risih. “Ya sudah, kamu tidur dulu, nanti ibu mau bicara.” Deg, jantungku berasa berhenti berdetak, apakah ibu sudah tahu keadaanku, aku gelisah. Aku tidak bisa tidur, pikiranku menerka-nerka, kira-kira apa yang akan terjadi jika orang tuaku tahu keadaanku. Aku tak tahan, aku harus bilang ibu. Segenap keberanian aku kumpulkan, menemui ibu.

Ibu masih menonton tv, tidak menyadari kehadiranku. Sedikit terkejut saat aku sudah duduk di sampingnya.

“Gak, jadi tidur, Na.”

“Ngak,” jawabku singkat.

Kami saling berdiam diri, sibuk dengan pikiran masing-masing. Ibu terlihat fokus melihat tv, tapi aku yakin pikirannya tidak di sana. Aku merasa sedang berhadapan dengan algojo yang siap mengeksekusi.

“Ehmm … ibu tadi, mau bilang apa?” Ku beranikan diri membuka pembicaraan. Ibu menatapku sesaat, lalu mengalihkan pandangan ke luar dengan hempusan nafas berat.

“Kamu sehat, Na,” tanyanya tanpa menatapku.

Ketakutan mulai menyergapku, Jari tangan dan kakiku terasa dingin. Aku sibuk memainkkan kancing bajuku.

“Kemarin ibu ketemu, Mbak Sri …” Belum sempat ibu menyelesaikan ucapnnya aku menghambur ke pangkuan ibu. Aku menangis di pangkuannya. Ibu tak bergeming.

Dan, malam itu ayah marah luar biasa. Hampir saja tangannya melayang ke mukaku, untung ibu mampu mencegahnya. Gelas yang ada di hadapannya hancur dilempar. Sehancur hatiku dan hati kedua orang tuaku. Aku tahu ayah sangat kecewa.

Ayah meminta pertangung jawaban dari Pram. Dua hari kemudian ayah Pram datang melamarku, tapi ayah tidak mau menemuinya, hanya ibu dan paman. Aku kecewa, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Hari pernikahku, telah ditentukan, yaitu setelah Pram menyelesaikan Ujian Nasional. Ya Pram dan aku selisih satu tahun. Ayah bersikukuh tidak mau jadi wali dalam pernikahanku.

Hari yang ditentukan tiba, ibu berhasil membujuk ayah, ia bersedia menikahkanku. Kehidupan baru aku masuki. Baju putih abu-abu yang baru satu setengah tahun aku kenakan terpaksa aku tanggalkan. Ayah masih berharap aku dapat melanjutkan sekolah setelah aku melahirkan. Pram, walau belum mengantongi ijazah, diperbolehkan kerja disalah satu gerai makanan cepat saji. Empat bulan setelah menikah aku melahirkan Deri.  Awalnya aku akan melahirkan di bidan dekat rumah dengan pertimbangan biaya lebih murah. Tapi karena panggulku sempit oleh bidan aku dirujuk ke rumah sakit. Tentu saja biayanya menjadi lebih besar. Ayah menanggung semua biaya persalinanku. Ya …. itulah ayah, walau dia sangat kecewa denganku tapi tak tega melihat aku menderita.

Kehadiran Deri menjadi pencair kebekuan hubunganku dengan ayah. Disaat hubunganku dengan ayah membaik, Pram menciptakan masalah baru. Pram sama sepertiku. Walaupun ia berasal dari keluarga pas-pasan tetapi ayahnya tidak mendidik Pram dengan baik. Pram tumbuh menjadi anak manja yang tidak memiliki daya juang. Pram berhenti bekerja, karena selalu di tegur atasannya. Alasan yang kekanak-kanakan bukan? Bukan hanya aku yang kecewa, ayah mertuaku juga kecewa. Mau makan apa kami? Selama ini kami masih dapat subsidi dari ayahku dan sesekali dari mertua. Belum lagi cicilan motor yang baru sebulan diangsur.

Sebulan Pram menganggur, kerjaannya hanya tidur. Dia jadi gampang marah, keributan demi keributan menjadi sering terjadi. Aku capek, aku lelah. Beberapa hari aku merasa tidak enak badan, pusing dan gampang capek. Aku jadi tidak bernafsu makan. Beruntung ada ayah mertua yang sesekali membantu menjaga Deri. Pram mengantarku ke dokter sore itu, dari hasil pemeriksaan dokter mengatakan aku hamil lagi. Deg … aku hampir pingsan mendengarnya. Deri baru berusia lima bulan.

Pram marah, ia menyalahkan aku yang tak mau ikut program KB, kata-kata kasar dan menyakitkan sering ia lontarkan. Perih … sering aku menyesali tindakan bodohku yang berujung pada penderitaanku yang tak berkesudahan, hari ini teman-temanku masih bergembira dengan seragam putih abu-abunya. Aku … ah … andai waktu bisa diputar ulang.

Ayah dan ibu sangat kecewa, harapan meneruskan sekolah pupus sudah. Kejutan kembali aku rasakan, menginjak bulan kelima, bidan meraba, ada dua detak jantung. Aku disarankan untuk ke dokter kandungan agar bisa di USG. Dan benar, aku mengandung anak kembar. Duh gusti ….

Menginjak bulan ketujuh aku mengalami kontraksi hebat, mungkin karena aku kecapekan, dan stres. Awalnya aku hanya bermaksud memeriksakan saja, tapi ternyata sudah pembukaan enam, aku langsung dirujuk di rumah sakit. Aku melahirkan bayi prematur hanya 1,6 kg jauh dibawah normal yang 2,5 kg. Satunya lagi meninggal karena organ tubuhnya belum berkembang sempurna.

Tiga hari aku opnam di rumah sakit. Hari ketiga aku diperbolehkan pulang, tapi tidak bayiku. Bayiku baru boleh pulang ketika berat badannya sudah normal, atau tubuhnya sudah mampu beradaptasi dengan lingkungan. Aku dan Pram bingung, biaya dari mana? Tak mungkin aku minta ayahku lagi. Ayah mertua juga tidak mungkin. Beruntung ada bantuan dari pemerintah yang dapat kami akses. Jampersal, menjamin semua biaya perawatan rumah sakit.

***

Jam baru menunjukkan angka 22.00, saat aku terbangun. Rasa haus menuntunku keluar kamar.

“Yah, aku sudah tidak tahan, aku ingin pisah dengan Nala.” Suara Pram jelas terdengar.

“Berpisah bagaimana?” tanya ayah mertua.

“Aku ingin cerai yah, biar Nala kembali ke rumah orang tuanya.”

“Pram hati-hati, bicara …”

Kepala seperti berkali-kali dapat pukulan martir, aku limbung, beruntung tanganku masih mampu menggapai meja. “Pram …” desisku, tega sekali. “Ya Alloh.” Aku tercekat. Alloh, berapa lama kata itu tidak aku sebut. Ya, Alloh berapa lama aku melupkanMu. Aku ingat, Aku menyebutMu saat masih berseragam merah-putih. Dulu bersama teman-teman aku rajin mengunjungi rumahMu. “Ya Alloh, ampuni hambaMu,” bisikku penuh sesal. Mungkin ini caraMu, mengingatkanku.

Oleh: Siti Nurhayati.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: