Ya Allah, Betapa Sakitnya Saat Kena Fitnah

Ilustrasi dari Google Image.

Ada yang pernah mengalami difitnah? Menjadi tertuduh dalam suatu kejadian yang padahal tidak dilakukan, atau mendapat dugaan negatif dari orang lain yang dengan serta-merta membeberkan pada publik prasangkanya tentang kita, tanpa ada proses tabayun terlebih dahulu. Bagaimana rasanya? Pasti sakit sekali, bukan? Bagaikan kehilangan muka dan separuh harga diri, kesal dan malu.

Seperti sebuah kejadian yang pernah menimpa saya. Entah bagaimana ceritanya, saya mendapat dugaan tak menyenangkan. Dulu, saya pernah tergabung dalam sebuah komunitas penggiat usaha kecil menengah yang bergerak di bidang perkulineran, khususnya makanan kecil seperti jajanan pasar dan berbagai jenis kue. Cukup banyak anggotanya. Mereka aktif mengikuti pertemuan dan latihan yang komunitas kami adakan, seperti belajar tentang tips dan trik dalam menaklukan kegagalan suatu resep, kemudian mengadakan demo resep dengan mengundang seseorang yang sudah ahli sebagai instruktur, dan mendatangkan pengusaha kecil yang sudah sukses sebagai pembicara untuk membagikan semangat bisnisnya. Terkadang, kami juga mengadakan lomba ataupun bazar yang berisikan jajanan yang dihasilkan oleh para anggota.

Cukup lama saya tergabung dalam komunitas tersebut. Dan kebetulan, saya dipercaya menjadi salah satu pengurus. Sebuah kehormatan bagi saya, karena komunitas kami cukup besar dan berpengaruh di daerah tempat kami tinggal. Kebersamaan antar sesama pengurus sudah seperti saudara, pun dengan anggota, sangat dekat dan saling menyemangati.

Tak jarang, kami pun pergi jalan-jalan bersama, atau sekadar kumpul-kumpul ringan; makan di rumah salah satu pengurus. Yang paling sering, tentu saja di rumah Ibu Ketua yang terkenal royal. Saya cukup dekat dengan beliau. Rasanya, sudah saya anggap sebagai ibu kedua, karena kebaikan dan kesabaran beliau dalam mengajari ketika saya menemui kesulitan.

Ternyata, suatu ketika saya mendapat tuduhan, hendak memecah komunitas. Saya akan mendirikan perkumpulan baru bersama beberapa teman. Entah dari mana berita tersebut awalnya bermula. Semakin hari, dugaan tersebut semakin menyudutkan saya. Konon, seseorang telah menunjukan bukti-bukti pembelotan saya kepada Ibu Ketua, dan saya merasakan, ada perubahan signifikan dari Bu Ketua terhadap saya.

Puncaknya, ketika sidang di suatu siang yang membuat dada saya bergetar hebat. Saya dikeluarkan dari kepengurusan komunitas, Wakil Ketua menyampaikan cukup banyak hal yang membuat saya merasa tidak terima, saya menolak mengakui tuduhan tersebut, karena saya tidak melakukannya. Beberapa pengurus yang dekat dengan saya, turut memberikan pembelaan, mereka percaya saya tidak mungkin melakukan hal tidak terpuji tersebut. Tetapi, keputusan telah dijatuhkan, dan tidak dapat diganggu gugat. Rekan-rekan tidak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya bisa membisikkan supaya sabar.

Entah mengapa saya tidak dikeluarkan dari komunitas, hanya dari kepengurusan. Sejujurnya, saya ingin keluar dari komunitas, saya sudah tidak punya muka. Beberapa dari pengurus yang mengetahui masalah yang menimpa saya, memandang sebelah mata. Ya Allah, sakit sekali rasanya. Tak jarang, saya curhat sama suami, “Apa yang harus saya lakukan?”

“Sabar aja, Bu. Mungkin Allah lagi menguji Ibu.” Suami dengan lembut mengusap-usap punggung, seolah ingin membantu mengusir kegalauan yang sedang saya rasakan. “Banyak-banyak berdoa, agar tuduhan yang menimpa Ibu segera terungkap kebenarannya dan nama Ibu bisa dibersihkan.”

Saya hanya bisa tergugu mendengarkan penghiburan yang diberikan suami, kata-katanya tak jauh berbeda dengan yang pernah disampaikan teman sesama pengurus di komunitas. Sakit sekali rasanya hati saya. Tak ikhlas difitnah demikian. Setiap kali sehabis salat, saya berdoa, agar ditunjukkan kebenaran, demi Allah saya tidak terima dengan tuduhan keji tersebut.

Tak pernah putus, saya selalu memohon pada Dzat Yang Maha Kuasa, pembolak-balik hati dan pemilik kerajaan di bumi dan di langit, “Tunjukkanlah kebenaran yang sebenar-benarnya, Ya Rabb. Hati hamba sungguh terluka.” Entah berapa banyak air mata yang membasahi mukena, hingga kelopak mata bengkak dan suara serak.

Saya kehilangan nafsu makan selama berhari-hari. Nutrisi yang masuk ke dalam perut ala kadarnya saja, hanya agar saya tidak pingsan karena kelaparaan. Saya menjadi pemurung; banyak merenung dan menangis. Tak ada lagi canda bersama buah hati dan suami. Hanya bersedih yang teramat sangat. Saya menolak setiap pesanan kue yang datang. Rasanya, tak ada semangat hidup. Terlihat lebay, ya? Tapi, begitulah yang saya rasakan ketika itu.

Saya sedih, karena perempuan yang semula saya anggap seperti ibu kedua, tiba-tiba cuek dan bersikap jutek. Tak menganggap kehadiran saya. Ya, sejak kejadian itu, saya masih menghadiri pertemuan bulanan rutin yang diadakan. Desas-desus tak menyenangkan tentang saya dari beberapa orang yang tak sengaja saya tangkap, membuat saya sangat sedih, tapi, saya coba bertahan.

“Kalau kamu keluar, takutnya tuduhan tersebut dikira benaran kejadian. Nanti, Ibu Ketua malah berpikiran kamu emang bener akan gabung sama saingan komunitas kita ini. Dan mereka yang sengaja menuduh, akan girang, karena umpan mereka kamu makan.” Salah satu pengurus yang sudah saya anggap saudara, menasihati. Karena dialah saya bertahan. Tetapi, semakin hari, rasanya saya semakin sakit.

Sebenarnya, saya tahu biang keladi dari semua kekacauan yang ditimpakkan pada saya. Semua berasal dari seseorang yang gemar cari muka pada Bu Ketua. Dia ingin menjatuhkan siapa saja yang dekat dan disayang Bu Ketua. Saya memilih tidak menegur apalagi melabrak orang tersebut, karena saya tidak mempunyai cukup bukti. Walaupun sendainya saya mau, mungkin saja bukti bisa terkumpul dengan beberapa bantuan teman yang tahu betul tabiat buruk orang tersebut. Tetapi, sepertinya Bu Ketua sudah terlanjur tak suka pada saya. Pembelaan diri yang saya ajukkan, sepertinya tidak akan diterima. Malah takutnya, saya disangka ingin menjatuhkan SK yang kini sangat dekat dengan Bu Ketua. Sudah menjadi rahasia umum, jika SK menjadi anak kesayangan selepas saya melepas jabatan sebagai pengurus komunitas. Akhirnya, saya memilih berdiam diri dalam marah. Hanya bisa berdoa, dan berdoa. Minta ditunjukkan jika saya ini tidak salah.

Berbulan-bulan berlalu, tetapi jawaban atas doa saya belum terlihat. Akhirnya, saya tidak pernah lagi menghadiri pertemuan yang diadakan komunitas. Demo resep, bazar, bahkan lomba yang diselenggarakan, saya tidak berpartisipasi. Lelah dan sedih mendengar bisik-bisik atau bahkan yang sengaja menyindir saya terang-terangan. Saya kasihan pada suami dan anak-anak yang akhirnya terlantar karena saya terus bersedih. Pelanggan saya pun tak jarang yang menyayangkan keputusan saya beberapa masa yang lalu yang memilih berhenti sementara waktu dari kegiatan berjualan kue.

Saya tidak bisa terus terpuruk! Saya harus membenahi perasaan dan menguburkan rasa sedih. Saya percaya, tidak ada ujian yang tak berkesudahan. Semestinya saya sabar sedari awal, dan bukannya protes pada kesulitan yang diberikan Allah. Bukannya malah tidak terima, dan meminta Allah menyegerakan mengabulkan permintaan saya, untuk membuktikan bahwa saya telah difitnah. Betapa tak tahu dirinya saya. Saya malu sekali, karena menjadi hamba yang manja. Diuji dengan sedikit kesulitan, langsung tersungkur, seolah langit ditimpakan di atas kepala.

Banyak-banyak istighfar, itu yang saya lakukan. Ikhlas dengan apa yang terjadi. Menata kembali kehidupan agar kembali normal, tidak melulu menangis. Ahamdulillah, perlahan, perasaan saya kembali lega. Hingga suatu hari seorang sahabat yang masih tergabung sebagai pengurus komunitas menghubungi saya. Dia mengabarkan bahwa SK telah dituduh menggelapkan uang komunitas. Ibu Ketua murka, merasa sangat kecewa karena telah terlalu percaya pada SK.

Sahabat saya menuturkan, berkali-kali SK membela diri, tetapi Ibu Ketua tidak mau mendengar. SK dipecat dari jabatannya sebagai bendahara. Konon, yang menggelapkan uang bukanlah SK, melainkan teman dekatnya, tetapi bukti dan tuduhan mengarah pada SK. “Ini karma buat SK. Dulu dia fitnah kamu, sekarang kena batunya.”

Seharusnya saya bahagia mendengar kabar tersebut. Orang yang pernah memfitnah saya, sekarang merasakan sakitnya menjadi tertuduh untuk perbuatan yang tidak ia lakukan. Saya sempat berpikir, Allah menjawab doa saya, meski setelah sekian lama. Tetapi, entah mengapa, saya malah merasa kasihan. Saya tahu betul, dia pasti merasa sangat sakit, terpukul. Ah, tapi saya bisa apa? Selain mendoakan dia agar tabah, dan sifat arogan dan cari mukanya sirna. Menjadi pribadi yang lebih baik, agar doa-doa baik terlontar padanya, dari orang yang pernah ia tolong.

Setidaknya, saya berusaha untuk tidak menertawakan apa yang menimpa SK. Saya pernah berada di posisi tersebut beberapa waktu lalu. Saya cukup bersyukur, secara tidak langsung, Bu Ketua sudah tak marah lagi pada saya, beberapa kali kami bahkan mengobrol. Itu cukup bagi saya.

Mungkin, nama saya telah bersih dari tuduhan, tapi, sakitnya tidak bisa saya lupa. Maka dari itu, kita harus selalu berhati-hati ketika menilai orang lain. Semoga Allah menjauhkan kita dari sikap su’udzon. Aamiin.

Oleh: Ranti Eka Ranti Kumala.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan