Ya Allah, Bisakah Aku Membuka Lembar Baru Dengannya?

Pukul 14.00.

Aku masih mengitari deretan toko di sebuah mall. Tiba-tiba, pandanganku tertuju pada sebuah blus berwarna putih tulang. Kupikir pencarianku hari ini akan segera berakhir. Segera kutuju tempat baju itu digantung. Kumasuki toko dengan disambut seorang pramuniaga, ia mengikutiku dan menawarkan bantuan.

“Silakan, Kak. Ada yang bisa saya bantu?”

“Saya suka baju ini. Boleh saya coba?”

“Pilihan tepat, Kak. Item itu sedang ada diskon 20%. Silakan, bisa dicoba di ruang ganti.” Katanya sambil menunjukkan ruang ganti di sisi kiri toko.

Aku beranjak dan mencoba blus pilihanku. Kutatap cermin di ruang ganti, badanku yang tak terlalu berisi terlihat cocok dengan balutan blus yang tidak telalu ketat di badan. Warna putih tulangnya pas, kulitku yang kata orang putih ini menjadi semakin bersinar. Tanpa pikir panjang, kuputuskan menukar dua ratus ribuku dengan blus itu. Hatiku riang, aku semakin percaya diri untuk menghadiri reuni SMA dua hari yang akan datang. Tak sabar untuk segera bertemu Mas Rendy.

***

Tiga bulan lalu, salah seorang teman menghubungiku melalui Facebook. Nadia, teman sebangku semasa kelas 2 SMA. Kebetulan, ia adalah panitia reuni akbar. Nadia meminta nomor ponselku untuk dimasukkan ke dalam grup Whatsapp. Aku diminta untuk membantunya mencari kontak teman sekelas agar mudah menyebarkan undangan reuni.

Setelah masuk grup whatsapp, aku disambut teman-teman panitia reuni SMA. Tidak disangka, mereka yang pernah bermusuhan denganku, kini menjadi baik. Nurma, anak guru Fisika yang dulu tak pernah akur denganku hanya karena bersaing untuk menjadi ketua ekskul mading sekolah juga menyambutku dengan gembira. Kami ngobrol di grup, mengingat betapa kami masih terlalu kekanakan saat di SMA.

Aku baru sadar, ternyata grup panitia reuni tidak hanya berisi teman seangkatanku. Pada saat yang sama, ada satu chat masuk ke whatsapp-ku.

“Hallo. Apa kabar? Akhirnya nemu kontak kamu.”

Aku bingung, foto yang terpasang tidak tampak jelas, hanya gambar siluet pria yang kelihatan sedang berdiri. Ragu-ragu kujawab,

“Hai. Maaf, ini siapa ya?”

“Fira, kamu nggak lupa kan, sama ketua OSIS-mu dulu?”

“Mas Rendy?”

Ia hanya membalas pesanku dengan emoticon senyum. Benar saja, itu Mas Rendy. Mantan pertamaku. Malam itu, aku menghabiskan waktu untuk chatting dengannya. Tidak kusangka, setelah hampir tujuh tahun tidak ada komunikasi, kami kembali saling bertukar cerita. Dulu aku sangat membenci Mas Rendy setelah kami putus, ia pacar pertama sekaligus orang pertama yang membuatku sakit hati.

***

Satu bulan berjalan, aku dan Mas Rendy semakin rutin berkomunikasi. Entah untuk alasan apa, Mas Rendy bahkan pernah menelponku sekali waktu hanya untuk menjelaskan hubungannya dengan Sari, teman masa kuliahnya. Perempuan itu adalah alasan mengapa kami putus. Meskipun sampai saat ini, aku tidak pernah mengenal rupa Sari.

Aku dan Mas Rendy berpacaran saat ia duduk di bangku kelas tiga, sedangkan aku kelas satu. Setelah lulus, Mas Rendy harus ke Malang untuk kuliah. Kami harus LDR Jogja-Malang. Saat itu kami hanya mengandalkan SMS, belum familier dengan aplikasi chatting masa kini. Pun ponsel kami sangat terbilang biasa, hanya sesekali di hari Minggu aku ke warnet untuk chatting dengan Mas Rendy melalui yahoo mail.

Hubungan kami berjalan sekitar delapan bulan, aku mulai galau ketika Sari rajin mengirimiku pesan. Ia rajin menanyai kabar dan bagaimana komunikasiku dengan Mas Rendy. Bahkan kadang tanpa kuminta, Sari memberi informasi tentang Mas Rendy. Tak jarang Sari bilang bahwa Mas Rendy genit dengan perempuan cantik di kelasnya. Aku tidak percaya hingga akhirnya memutuskan menanyai Mas Rendy. Mas Rendy selalu marah setiap aku menyinggung nama Sari, bahkan cenderung enggan membahasnya.

Sekarang aku tahu, dulu Sari menyukai Mas Rendy dan berharap aku memutuskannya. Kata Mas Rendy, dulu Sari banyak membantunya terutama urusan tugas kuliah. Mas Rendy yang dari masa sekolah sudah menyukai organisasi, di semester awal sudah mulai aktif berorganisasi. Akhirnya kuliahnya sempat keteteran. Mas Rendy bilang, Sari bahkan rajin memberikan catatan kuliahnya. Hal itu membuat Mas Rendy merasa bahwa Sari adalah sahabat yang baik dan tidak mungkin mengganggu hubungan kami. Sampai suatu malam menjelang ujian semester pertama, Mas Rendy mengirimiku SMS, meminta putus.

Kami sama sekali tidak pernah berhubungan lagi setelahnya. Entah, aku bahkan tidak tahu apakah Mas Rendy galau setelah putus denganku atau jadian dengan Sari. Tapi, kata Mas Rendy kemarin, ia tidak pernah jadian dengan Sari. Malah katanya, dia sudah tidak dekat setelah Sari menyatakan cintanya—seminggu setelah putusnya Mas Rendy denganku.

***

Sabtu, 7 Oktober 2018.

Cuaca tidak begitu terik pagi ini. Aku sudah berada di tempat makan berkonsep tepi sawah. Satu pendopo besar dihiasi dekorasi minimalis, berjajar kursi-kursi kayu untuk tamu undangan. Kabarnya Kepala Sekolah SMA-ku akan menghadiri acara reuni lintas angkatan ini. Di sekeliling pendopo, gazebo-gazebo bervariasi ukuran disediakan untuk duduk-duduk berlesehan. Tepat di depan gazebo, beraneka jenis makanan disuguhkan untuk menemani kami mengobrol santai, melepas rindu.

Setelah acara resmi yang berisikan sambutan-sambutan, kami dibebaskan menyantap hidangan sekaligus berkeliling mencari teman lama. Diiringi musik yang dimainkan homeband, aku berjalan menuju gazebo kecil, menyapa teman yang kukenal. Aku tidak begitu banyak ngobrol, memang dulu aku tidak punya teman dekat selain Nadia. Lagipula, tidak semuanya hadir, hitunganku hanya sekitar seperempatnya dari jumlah total alumni.

Bertukar cerita dengan Nadia artinya juga bergosip, sedikit menyinggung kabar beberapa teman lama juga termasuk Nurma. Nadia tahu bagaimana dulu aku bermusuhan dengan Nurma, pasti dia tahu bahwa berita tentang Nurma akan menarik bagiku. Nurma sedang melewati masa yang tidak menyenangkan belakangan ini, ia baru bercerai dengan suaminya–yang entah siapa suaminya.

Jelasnya, kini ia sedang mengasuh satu anak berusia dua tahun dan satu bayi yang masih berusia 5 bulan. Aku simpati mendengarnya, Nurma yang dulu kukenal sedikit tomboi, berani juga membangun rumah tangga di usia yang cukup muda. Obrolan kami berakhir ketika Mas Rendy datang menemuiku.

“Eh, ada yang mau nostalgia ya? Kalau gitu aku melipir deh,” Kata Nadia sambil melambaikan tangan dan berjalan ke arah pendopo.

***

Aku dan Mas Rendy kemudian berjalan menuju gazebo yang sedikit sepi di sisi kanan pendopo, aku ingat betul saat itu tengah mengalun lagu lawas berjudul Nostalgia SMA. Kami duduk bersebelahan, lalu diam sejenak. Sambil melempar jauh pandangan ke arah pendopo, kudengar Mas Rendy mengawali pembicaraan tanpa berbasa-basi.

“Kamu sudah ada rencana untuk menikah?”

Belum sempat kujawab ia meneruskan, “Kalau sudah, aku mau ajak kamu menikah.”

Aku kaget, tapi ada rasa bahagia dalam hatiku muncul tiba-tiba.

“Mas, serius?” Kujawab setengah tidak percaya.

“Iya, kalau kamu mau…” katanya, belum sempat kujawab ia meneruskan, “tapi, ada hal penting yang perlu kamu ketahui. Aku sudah punya anak.”

Kali ini aku benar-benar tak bisa menyembunyikan keterkejutanku, “Anak? Mas Rendy sudah menikah?”

“Iya dan sebetulnya kamu kenal dengan mantan isteriku.”

Mas Rendy melembutkan suaranya. Aku diam, mulai merasa kecewa. Jauh lebih kecewa dari masa putus dengannya dulu. Tapi aku juga penasaran, siapa mantan istri Mas Rendy dan sudah berapa lama mereka menikah.

“Aku menikah dengan Nurma dan kami sudah memiliki dua orang anak. Tapi kami sudah resmi bercerai tiga bulan lalu.”

“Nurma?” Aku masih tidak percaya.

“Kami menikah selama hampir tiga tahun, kami sudah tidak bisa lagi bersama. Sekarang, aku butuh seseorang untuk jadi teman. Aku berharap punya hubungan yang jauh lebih baik dari sebelumnya,” katanya, bernada memohon.

“Tapi, Mas. Bagaimana mungkin Mas tega dengan anak-anak yang masih kecil? Kenapa juga Mas tidak jujur sebelum ini?”

“Maaf, kalau aku jujur dari awal, bisa jadi kamu akan menghindar dari awal.”

“Sudah, sebaiknya Mas jangan hubungi aku dulu. Aku belum bisa menjawab. Maaf, aku pulang dulu.” Ucapku lantas bergegas pergi, tidak peduli acara masih berjalan.

Aku segera pergi dari acara reuni, kupesan taksi online dan beruntung, cepat sekali menemukan driver. Dalam perjalanan pulang, kuketik sebuah pesan singkat untuk seseorang,

Nurma, apa kabar? Semoga kamu selalu diberi kekuatan untuk membesarkan buah hatimu. Maafkan aku, tadi bertemu mantan suamimu. []

Oleh: Hapsari TM.

Tinggalkan Balasan