Saat-saat seperti apa yang paling memalukan untukmu?

Begitu banyak kejadian yang mewarnai hari kita. Ada tawa bahagia, sedih, kecewa, dan bahkan rasa malu tak tertahan. Hal yang mungkin terjadi saat kamu terlambat sekolah dan dihukum berdiri di depan kelas. Atau kamu lupa membawa pekerjaan rumah yang membuatmu harus mengerjakannya di pelataran kelas seorang diri.

Namun, kalau kamu bertanya padaku, satu jawabannya; saat bertemu seorang wanita paruh baya yang sangat kukenal dengan penampilan berantakan. Dia yang senang bicara sendiri dan membuat kerusuhan di muka umum. Saat itulah, aku ingin menyembunyikan mukaku dari siapapun. Atau lenyap tak bersisa dari muka bumi ini.

Siang itu aku dan teman-teman sedang latihan drama untuk pentas di acara class meeting esok pagi. Aku bukan pemeran utama hingga tak banyak dialog yang perlu kuhapal. Selembar kertas naskah kugenggam di tangan kiri. Aku sedang sibuk melihat ke luar jendela dan suara yang sangat kukenal tertangkap telinga.

“Minta enam juta. Cuma enam juta!”

Aku menggigit bibir begitu keras. Suara yang sangat kukenal itu berasal dari kantor guru yang letaknya hanya disekat lorong—berisi majalah dinding, dari kelasku. Mendadak diri ini diliputi rasa takut jika tebakanku benar. Diam-diam aku mengintip dari balik pintu. Jantungku seketika hendak runtuh dengan degupnya yang begitu rapat dan cepat. Kedua kaki rasanya tak sanggup menompang badan. Aku berlari secepat mungkin menuju kursi pojok belakang di mana tempat dudukku berada.

“Via, Nenekmu ada di kantor. Dia bikin kerusuhan. Gimana ini?”

Ana, tetangga sekaligus temanku sejak kecil berbisik di samping telinga selepas kulihat dia berlari tergopoh-gopoh ke arahku. Wajahnya nampak pias. Dia pasti khawatir kejadian sewaktu sekolah dasar terulang kembali. Seketika itu, wajah Bram yang mengejek dengan tawanya yang terbahak terlintas dalam ingatan. 

“Dasar cucunya Nenek Juminten!”

Satu kalimat itu yang ke luar dari mulutnya tiap kali dia mengata-ngataiku. Dan aku selalu saja tersinggung, merasa malu juga marah besar tiap kali ada yang menyebut nama nenekku. Semua anak satu kelas tahu, nenekku sudah lama kehilangan kewarasannya.

Orang-orang mengatakan nenek gila. Dan beberapa kali keluargaku sudah berusaha mengobati sakit nenek dengan membawanya ke rumah sakit jiwa. Namun, tiap kali nenek sembuh dan dibawa pulang, tak lama kemudian sakitnya kambuh. Hingga akhirnya bapak membuatkan nenek rumah dari kayu yang tak jauh dari rumah kami.

Kami sekeluarga selalu berusaha memberikan nenek yang terbaik. Tiap hari kami memberinya makan tiga kali dengan minuman yang cukup. Kami juga memberinya pakaian untuk ganti meski seringkali tidak digunakan hingga kadang tercium bau pesing dari tubuhnya. Namun, sungguh mengecewakan ketika kami tahu nenek seringkali berkeliaran di jalanan. Terkadang, mampir di rumah beberapa orang yang dilewatinya. Meminta-minta, entah itu uang, makanan, atau bahkan mengambil jemuran pakaian di pelataran orang tanpa bilang-bilang.

Aku pernah usul agar nenek dikurung saja atau diikat tangan dan kakinya. Dan kamu tahu apa yang terjadi ketika keluargaku melakukan itu? Nenek teriak-teriak dengan begitu keras. Dia melakukan segala macam cara untuk memberontak agar dilepas. Seakan-akan kami tidak manusiawi. Atau memang benar, kebencian di dalam diriku telah menjadikanku cucu yang kejam? Namun, gara-gara nenek, banyak teman satu kelas yang menghindariku. Mereka bersama Bram dengan begitu tega membully-ku tiap saat hanya karena nenek sakit jiwa. Ya Allah, dosakah jika aku membencinya?

***

“Kupikir banyak orang punya uang. Tapi mau sekaya apapun di sini, kalian pasti nggak mau ngasih!” teriak nenek yang dapat kudengar dengan jelas sebelum satpam membawanya pergi.

Aku menangis sesenggukan. Banyak anak yang mengelilingi. Memintaku berhenti menangis dan tenang. Namun, semakin mereka bersuara, tangisku makin menjadi, makin pecah. Ana kalang kabut. Dia berhenti mengelus punggungku dan pergi entah ke mana. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan pada teman-teman jika mereka nanti bertanya tentang nenek. Malu sekali rasanya. Bagaimana jika nanti banyak di antara mereka yang tak mau berteman denganku lagi? Seperti dulu.

Benar-benar sial saat nenek menyebut namaku saat aku bersama Ana mengintip lewat jendela perihal apa yang dia lakukan. Sontak membuat semua mata yang sedang menontonnya dengan tatapan aneh bercampur  heran memandang ke arahku dengan sorot penuh tanya. Aku yang mati kutu saat seseorang meluncurkan rasa ingin tahunya yang dalam. Dia menanyakan siapa nenek itu kepadaku, dan saat itu air mata ini tak bisa kubendung lagi.

Aku ingat jelas acara pengajian tahun baru islam di musola dekat rumah terakhir kali. Bagaimana semua orang enggan duduk di dekat nenekku hingga yang lain terpaksa harus berdesak-desakan di beberapa sudut musola yang kurang luas itu. Nenekku yang terus mengajak bicara siapa saja dengan kalimat-kalimat yang tidak jelas juntrungannya.

Nenekku yang terus berisik sendiri dengan potongan-potongan lirik solawatan yang dinyanyikannya secara acak dan tak beraturan. Suaranya yang keras sungguh tak karuan di dengar telinga. Namun, tak ada yang mengusir nenek atau sekadar menuntunnya untuk pergi. Dan ibu serta bapakku sendiri tak datang ke pengajian itu.

Aku tenang-tenang saja melihat penampilan nasyid sebelum ceramah dimulai. Acuh tak acuh dengan ketidaknyamanan yang diciptakan nenek. Hingga pada akhirnya, ketika acara inti hendak dimulai seseorang memanggil namaku. Dia meminta tolong agar aku membawa nenek pulang.

Nenekmu mengganggu, katanya. Dan aku tidak tahu bagaimana cara melakukan itu; membawa nenek pulang. Aku hanya mengangguk, tanpa pernah melakukan apa yang dia minta. Aku yang justru begitu saja berlari pulang dengan pipi yang basah oleh air mata.

***

Seorang wanita muda dengan balutan kain biru di kepala merengkuhku siang itu.

Ana kembali ke kelas bersama seseorang. Sepertinya, dia baru saja mencari pertolongan. Wanita itu tak mengatakan apapun selain mengajakku ke ruangannya. Dia merengkuh kedua pundakku dan membawaku pergi dari kerumunan. Dan aku masih terisak.

Menangislah jika itu membuatmu lega, Via, bisiknya di telingaku begitu lembut. Kami menuruni beberapa anak tangga kemudian berbelok melewati ruang TU dan memasuki salah satu pintu di samping ruangan itu yang di depannya bertuliskan: RUANG BIMBINGAN KONSELING.

Dia mendudukanku pada sebuah sofa dan dia duduk di sampingku dengan masih merengkuh pundakku.

“Itu tadi nenekmu?” tanyanya yang kusambut dengan sebuah anggukan kecil.

“Ini pasti hari yang buruk untukmu, ya?” tanyanya lagi, dan aku kian terisak.

“Aku tidak tahu kenapa nenek bisa sampai di sini. Aku begitu membencinya!” Aku berkata lirih dengan penuh penekanan.

“Boleh Ibu tahu kenapa kamu begitu membenci nenekmu?”

Pertanyaan itu entah bagaimana membuatku berpikir dan bertanya-tanya dalam hati kecil; kenapa aku membenci nenekku sendiri? Seseorang yang begitu baik di masa aku kecil. Dia yang tak lupa membelikanku jajan tiap kali pergi ke pasar. Dia yang menghiburku saat ibu melarangku hujan-hujanan, atau main pasir bersama teman-teman.

Aku terbangun dari lamunan saat sesuatu menyentuh  kepalaku dan mengelusnya lembut. Dia melakukan itu beberapa kali. Membiarkanku lelap dalam kesedihan. Hingga akhirnya dia berujar,” Ibu mengerti perasaanmu. Kamu pasti malu pada teman-temanmu kan?”

“Ya,” jawabku pendek,”Ibu harus tahu, nenekku gila, dan karena itu aku diejek oleh teman-teman,” kataku beberapa saat kemudian.

“Nenekmu tidak gila, Via. Allah hanya mengambil nikmat kesehatan jiwanya.”

“Apa bedanya, Bu? Semua orang menyebutnya gila.”

“Ya, mereka memang menyebutnya begitu. Tapi, Via tahu nggak ketika seseorang Allah ambil nikmat kesehatan jiwanya, semua perilaku dan perkataannya yang buruk tidak akan dihitung sebagai dosa?”

Aku mengangguk. Kini tangisku mulai mereda.

“Bagaimana pun keadaan nenekmu saat ini, dia itu orangtua ibumu. Ketika sehat dulu, dia yang melahirkan dan membesarkan Ibumu. Sekarang nenek sedang sakit, Via. Kalau Via saja sebagai cucu malu mengakui dia sebagai nenek dan tidak peduli, bagaimana dengan orang lain? Via, jika sakit jiwa merupakan aib, Via harus tahu semua keluarga juga punya aib.

Bedanya, Allah masih menyembunyikan aib-aib mereka. Jadi, Via nggak perlu malu. Mereka yang mengejek Via atas penyakit yang diderita nenek hari ini belum tentu memiliki keluarga yang lebih baik dari keluarga Via. Allah hanya belum memperlihatkan aib-aib mereka saja, Via. Via percaya kan sama Ibu?”

Lagi-lagi hanya sebuah anggukan kecil yang bisa kugunakan untuk menjawab. Sesak sekali rasanya dadaku. Aku sayang sama nenek, kasihan sama nenek, tapi ejekan teman-teman sewaktu sekolah dasar telah membutakan hatiku. Membuatku benci sekali dengan nenek, bahkan enggan mengantarkan makanan ke gubug kayunya. Ya Allah, maafkan hamba. Beri hamba mental yang kuat untuk merawat nenek yang sakit.

***

Oleh: Nunuk Priyati.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: