Ya Allah, Izinkan Kami Punya Momongan

Aku tersenyum memandangi anak-anak yang sedang bermain di halaman. Hal yang selalu memberikan kebahagiaan tersendiri untukku. Di usiaku yang sudah menginjak 27 tahun, Allah belum mempercayakan seorang anak ke dalam keluarga kecil yang kubangun 5 tahun lalu.

Aku dan suamiku tidak pernah berputus asa, kami terus berdo’a agar Allah memberikan kami amanat sebagai orang tua. Salah satu sahabatku pernah mengusulkan agar aku mengambil program bayi tabung saja, tetapi dengan tegas kami menolaknya. Kami yakin, Allah mempunyai rencana indah untuk keluarga kecil kami. Mungkin, Allah ingin agar kami lebih mendekat kepada-Nya, lebih mengingat-Nya, dan lebih bersabar dalam menjalani ketentuan-Nya.

Dan bukankah tidak pernah ada kekecewaan dalam bermunajat kepada-Nya? Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui atas apa yang ada di dalam hati hamba-Nya. Dengan bersujud kita akan lebih dekat dengan-Nya, dan dengan berdo’a kita bisa menghabiskan waktu penuh makna bersama-Nya.

“Dia (Zakaria) berkata, Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku.” (QS. Maryam 19 ayat 4)

Dan akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan semacam Panti Asuhan yang aku kelola sendiri. Aku menyebutnya sebagai ‘Rumah Berbagi’. Terhitung sejak resmi di buka 4 bulan lalu, rumah ini sudah di isi oleh 9 anak. Ada 6 anak perempuan dan 3 anak laki-laki, rata-rata umurnya 4-12 tahun.

Aku sangat bersyukur meskipun Allah belum menitipkan seorang anak padaku, tetapi Dia mengizinkan aku untuk bisa merasakan bahagianya menjadi seorang ibu. Kalau ada yang bertanya apa aku masih ingin memiliki keturunan? Tentu, kenapa tidak. Aku ingin menjadi salah satu orang yang dibanggakan oleh Rasulullah Saw di akhirat kelak, sebagaimana yang pernah aku baca dalam sebuah hadits riwayat Ahmad.

“Nikahilah ibu-ibu dari anak-anak (yaitu wanita-wanita yang ias melahirkan) karena sesungguhnya aku akan membanggakan mereka pada hari kiamat.”

Bagiku, tiada yang lebih baik selain daripada ketentuan-Nya. Bukankah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi, juga sesuatu yang terlihat dan tersembunyi? Allah telah mencukupkan segala sesuatu di dalam hidupku, meskipun aku belum meminta kepada-Nya. Pantaskah untukku mengeluh dengan segala keinginan yang belum bisa aku dapat, sedangkan Allah telah memberiku nikmat yang begitu banyak?

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?” (QS. Ar-Rahman 55 ayat 13)

***

“Bunda.” Seseorang berdiri di depanku. Tangannya memegang sebuah buku dongeng ‘Kisah Teladan Para Nabi’.

“Malam ini giliran kamar Hana kan yang dibacain dongeng?”

Aku tersenyum, mengambil buku di tangan Hana dan mengajaknya pergi ke kamar. Setiap malam, aku selalu menceritakan sebuah dongeng pada anak-anak. Satu kamar di tempati oleh 3 orang anak, jadi aku membuat jadwal membacakan cerita bergantian setiap malamnya.

Setiap kamar mendapat 2 cerita di setiap minggunya dariku, sementara satu hari yang tersisa akan dihabiskan dengan mendengarkan cerita dari Mas Farhan—suamiku—di ruang keluarga. Biasanya Mas Farhan bercerita di hari Sabtu, karena besoknya dia libur.

Dengan perlahan aku membuka pintu kamar berukuran 4×4 meter itu. Ada dua ranjang dan tiga buah lemari plastik dengan tinggi satu setengah meter milik masing-masing penghuni kamar. Serta satu buah meja belajar untuk di pakai bersama.

“Loh, Aira sama Naura belum tidur juga?” Tanyaku pada dua gadis yang sedang duduk di ranjang sambil mengobrol.

“Kan kita mau dibacain dongeng dulu, Bunda.” Kata Hana. Gadis berusia 4 tahun dan baru masuk di sekolah PAUD.

“Ya udah, ayo cepet ke tempat masing-masing.”

Aira, Hana dan Naura pun berbaring di ranjangnya masing-masing. Aira yang berumur 9 tahun tidur sendiri di ranjang pertama, sedangkan Naura tidur di ranjang kedua bersama Hana.

“Ayo baca do’a sebelum tidur dulu.” Perintahku.

“Bismikallāhumma ahyā wa bismika amūt. (Dengan menyebut nama-Mu, Ya Allah, aku hidup dan dengan menyebut nama-Mu aku mati).”

“Nabi Dawud AS terkenal dengan suaranya yang merdu. Kalau beliau sedang berdzikr atau sedang melantunkan Zabur, terkadang burung-burung dan gunung-gunung ikut berdzikr pula bersama beliau. Suatu ketika beliau sedang duduk di mushala sambil menelaah Zabur, tiba-tiba terlihat seekor ulat merah melintas di tanah. Nabi Dawud berkata kepada dirinya sendiri, “Apa yang dikehendaki Allah dengan ulat ini?” Aku menjeda ceritaku, melirik sekilas pada ketiga gadis kecil itu. Mereka masih terjaga dan asyik mendengarkan kisah yang aku baca.

“Ternyata Allah memberikan “ijin” kepada ulat tersebut bisa berbicara dengan bahasa manusia, untuk menerangkan keadaannya kepada Nabi Dawud. Ulat tersebut berkata, “Wahai Nabiyallah, apabila siang datang, Allah mengilhamkan kepadaku untuk membaca: Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illallah wallaahu akbar, sebanyak seribu kali. Dan jika malam datang, Allah mengilhamkan kepadaku untuk membaca: Allahumma shalli ‘alaa Muhammadan nabiyyil ummiyyi wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam, sebanyak seribu kali…”

Naura terlihat sudah menguap, Aira sudah mengerjap beberapa kali seperti sedang menahan kantuk, sementara Hana sudah terlelap.

“Nabi Dawud terkesima dengan ucapan ulat tersebut. Sang ulat berkata lagi, “Lalu engkau, ya Nabiyallah, apa yang akan engkau katakan agar aku memperoleh faedah darimu!!” Nabi Dawud menyesal telah meremehkan ulat tersebut, kemudian menangis penuh rasa takut kepada Allah, bertobat dan berserah diri kepada Allah.”

Tepat saat ceritaku berakhir semua sudah terlelap. Aku meletakkan buku dongeng itu di meja, mematikan lampu kamar sebelum meninggalkan kamar.

“Udah selesai, Dek.”

Aku terkejut mendapati Mas Farhan berdiri di belakangku. “Astaghfirullahal’adzim, Mas Farhan ngagetin aja.”

Mas Farhan tertawa pelan, “Maaf dek.”

Aku mengambil alih tas kantor berwarna hitam di tangan Mas Farhan dan mencium tangannya. “Aku siapin air hangat dulu ya, Mas.”

Mas Farhan mengangguk. Aku pun berlalu ke kamar terlebih dulu untuk meletakkan tas kerja Mas Farhan, setelah itu memasak air untuk Mas Farhan mandi.

“Mas Farhan udah makan?” Tanyaku setelah menyalakan kompor.

“Belum, Dek. Kamu juga pasti belum, kan?”

Aku mengangguk. Aku memang selalu menunggu Mas Farhan pulang, agar kami bisa makan bersama di sela kesibukan kami. Menceritakan hal-hal yang terjadi sepanjang hari dan terkadang saling bertukar pikiran. “Mau aku masakin apa, Mas?”

“Apa aja, asal kamu yang bikin pasti enak.” Ucapnya membuatku tersipu. Aku berlalu sambil menutup pipiku yang mungkin merona seperti kepiting rebus.

***

“Hmmn … dari aromanya aja udah enak.” Kata Mas Farhan yang sudah berada di sampingku, “mau di bantuin apa, Dek?”

“Gak usah Mas, udah mateng ko.” Tukasku sambil mengambil sebuah piring. Aku pun memindahkan nasi goreng yang aku buat, namun tiba-tiba perutku terasa mual dan sakit. Aku segera berlari ke kamar mandi.

“Huekk ... huekk ....”

Mas Farhan ikut masuk dan memijat tengkukku, “Kamu kenapa, Dek?”

Aku menggeleng, “Gak tahu, Mas. Mungkin masuk angin.” Jawabku lirih. Tenggorokanku rasanya pahit dan sakit, berjalan ke kamar pun harus dipapah Mas Farhan.

“Aku suapin kamu ya.” Mas Farhan menyodorkan sendok berisi nasi goreng buatanku tadi. Aku menggeleng pelan. Entah mengapa melihatnya saja membuatku ingin muntah.

“Ya udah, kamu istirahat ya.” Mas Farhan menutup tubuhku dengan selimut. Aku menurut. Mungkin aku kelelahan jadi tubuhku protes ingin diistirahatkan.

***

Aku dan Mas Farhan keluar dari ruangan dokter dengan senyum kebahagiaan. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari kabar yang dokter itu sampaikan kepada kami beberapa saat yang lalu.

“Selamat … Ibu Nisa positif hamil, usia kandungannya baru memasuki 3 minggu jadi harap di jaga ya, Pak.” Ucap dokter yang memeriksa keadaanku.

Mas Farhan mulai menyiapkan acara syukuran atas kehamilanku. Ia mengadakan acara pengajian dan mengundang 100 anak yatim. Mas Farhan bilang, Allah telah berbaik hati menitipkan seorang janin ke dalam rahimku dan menghadirkan kebahagiaan yang tak terkira untuk keluarga kami, jadi apa salahnya jika kita juga membahagiakan Allah dengan berbagi kepada anak-anak yatim?

Aku tersenyum, bersyukur karena Allah memberiku seorang suami yang insyaallah bisa membawaku sampai ke surga-Nya kelak. “Terimakasih, Ya Allah. Hamba bersyukur memiliki suami seperti Mas Farhan. Lindungilah keluarga kami dari siksa api neraka. Amin.”

Oleh: Novi Ahdiyah.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan