Kisah bagian pertama bisa kamu baca dulu, klik di sini.

***

Mendapatkan kesempatan untuk ta’aruf kembali adalah sebuah rezeki. Memang ini masih tahap perkenalan, dan aku pun tidak lupa, pernah empat kali ditolak saat melihat calon mempelai. Tapi, apa salahnya membulatkan tekad dan menyempurnakan niat?

Bismillah … mudah-mudahan ini yang terakhir. Jika benar berjodoh, maka akan kubuat cerita dengan judul Mengejar Cinta dengan Logawa.

Aku menertawai hal lucu yang baru saja melintas di kepala. Iya, memang aku suka membuat cerita dan tulisan itu kuposting di Facebook. Cerita tentang hal-hal sederhana yang ada di sekitar kehidupanku sih. Bukan cerita yang dikirim ke media koran atau majalah dan mendapatkan uang. Tulisan itu hanya untuk seru-seruan saja bersama teman.

Segala persiapan pemberangkatan mengejar cinta pun telah purna. Tiket, uang saku, juga restu dari Emak. Wanita yang telah lama merindukan mantu itu tak henti-hentinya tersenyum. Badannya yang semakin renta dimakan usia mendadak sangat segar. Dengan gesit, Emak membantu mewadahi oleh-oleh untuk Mbak Sri.

“Kanggo arek-arek di sana,” ucap Emak masih dengan suka cita. 

“Keretanya jam berapa?” tanya Paklik sembari mengencangkan ikatan rafia pada kardus.

“Jam satu kurang seperempat Paklik,” jawabku. “Kira-kira nanti kita sampai Kutoarjo jam empat lah.”

“Ya Wis, ayo mangkat.”

Aku pun bergegas mengemasi barang bawaan. Ah, repot benar ya ternyata. Padahal hanya dua hari saja tapi kok barang bawaan minta ampun banyaknya.

“Iki kardus apa si kok berat?”

Pertanyaan Paklik menyadarkanku. Ternyata banyaknya barang bawaan karena aku juga membawa serta buku-buku jualan. Mbak Sri pesan majalah anak lumayan banyak dan beberapa novel untuk bahan bacaan, katanya.

Walah ya ya, jadi pengen ketawa sendiri. Mau ketemu jodoh kok ya masih nyambi jualan juga. Hahaha ….

“Buku dagangan Paklik,” jawabku malu.

“Uapik ngene iki! Bakul sejati!” seloroh Paklik setengah mengejek.

Di halaman, adikku, sang calon hafidz, sedang memanasi motor agar dapat segera dipakai untuk menuju stasiun.

“Wis siap Mas,” ucap adik, ketika melihatku menenteng dua kardus di kanan dan kiri.

“Bantu iki loh!”

“Ya.”

Dua kardus pun diletakkan di depan dengan posisi di bawah stang agar tidak mengganggu jika motor berbelok.

“Gas, Mas!” ucap adikku lagi saat aku dan Paklik sudah siap di atas motor.

Aku pun mengucapkan salam dan langsung tancap. Wuzzz!

***

Empat jam perjalanan, empat jam dalam degup jantung yang semakin tak karuan. Piye ya pas pertama ketemu? Pikiranku ternyata lebih cepat dari laju kereta. Kubayangkan telah berhadapan dengan Si Dia.

Bagaimana ya, agar pembuka perkenalannya tidak biasa?

“Hai, aku Andy, kamu Yani kan?” Hmm … kayaknya biasa banget.

“Ane Andy, anti Bu Guru Yani, kan?”

Duh, kok malah kaku ya!

“Gue Andy, cuman tukang warung, tapi penghasilan kantoran insyaallah.”

Pada akhirnya aku terbahak. Menerka-nerka cara berkenalan saat bertemu nyatanya sangat aneh. Yang ada di pikiranku malah adegan dalam film romantis. Mirip-mirip Rangga dan Cinta yang begitu lama memendam rindu. Atau justru seperti perkenalan saat audisi SUCA, lucu dan wagu.

Ya Allah … kenapa malah jadi begini sih? Astaghfirullah …

“Jangan melamun, mending tidur!” tiba-tiba paklik menegur.

“Ndak bisa tidur e Paklik,” jawabku lesu.

“Halah! Grogi! Grogi!” Bukannya memberi solusi, Paklik malah meledek.

Kayak nggak pernah muda aja sih!

Kereta terus melaju, rasa deg-degan belum juga sirna. Sayangnya, jurus jitu membuang galau dengan membuka HP kemudian berselancar di sosmed tidak bisa kulakukan. Sinyal mendadak raib begitu kereta berjalan.

Maka, untuk mengurangi jenuh, beberapa kali kuabadikan momen di dalam atau pun di luar gerbong dengan kamera HP. Foto-foto itu, nantinya akan jadi obyekku menulis di sosmed. Berbagai caption pun telah kupikirkan. Stasiun Kenangan atau Kereta dan Perjuangan Mengejar Cinta.

Belum selesai memikirkan berbagai caption, tiba-tiba HP bergetar, ada pesan masuk. Hatiku pun langsung bersorak, Asik sinyalnya mbalik.

[Sampai mana?] Sebuah pesan melalui aplikasi Whatsapp masuk. Mbak Sri pengirimnya.

[Purwosari, Mbak] kukirim balasan secepat kilat. Rasanya tangan sudah gatal ingin bersosmed. [Dua jam lagi kurang-lebih]

[Oh, berarti nyampe Kutoarjo jam 4?]

[Nggih Mbak, Insyaallah]

[Kasih kabar aja ya kalau udah nyampe]

Chatting pun terputus. Aku manfaatkan sinyal yang sudah bersahabat untuk membuat tulisan yang tadi sudah kurancang dalam pikiran.

Logawa melaju, bersicepat dengan laju hatiku yang terus rusuh inginkan perjumpaan denganmu ….

Satu demi satu kalimat kutulis. Entah kenapa jari jemariku begitu lincah menekan-nekan huruf dan merangkainya menjadi kalimat indah. Andaikan bisa kugambar perasaan saat ini, tentulah warna-warni pelangi kalah elok.

Dengan segenap konsentrasi, akhirnya jadilah satu cerita pendek yang segera kuposting di media sosial.

Plong … bahagia rasanya bisa memindahkan debar dalam hati ke dalam tulisan. Tanpa terasa, telah dua jam bersibaku dengan keyboard HP. Batre pun mulai limit.

“Selamat datang di stasiun Kutoarjo” Corong pengeras suara memberikan informasi bertepatan dengan berhentinya roda kereta.

Berpuluh-puluh penumpang berduyun turun dari ular besi. Aku pun tak mau ketinggalan. Segera kutenteng dua kardus di kanan dan kiri. Sementara Paklik membawa plastik berisi oleh-oleh.

“Kancamu wis njemput?” tanya Paklik setengah berteriak menandingi gaduhnya suasana stasiun.

“Wis,” jawabku, dengan sedikit berteriak juga.

Aku jelaskan pada Paklik bahwa Mbak Sri akan menjemput di luar stasiun. Beliau memakai kerudung merah marun dengan motor biru dan helm berwarna putih.

“Beliau bilangnya begitu tadi.”

“Kamu tadi nelfon atau SMS?”

“Ndak.”

“La kok bisa tahu?” tanya Paklik belum yakin. Maklumlah orang tua, belum paham bahwa sekarang ada aplikasi Whatsapp.

“Tadi kirim pesan.”

“Katanmu tadi ndak SMS? Piyo ta?”

“Pakai terawangan,” jawabku sekenanya.

Paklik masih bingung tapi dia tidak bertanya apa-apa lagi. Kami berjalan bersisihan dan mempercepat langkah mengikuti arus penumpang lain yang juga akan keluar dari stasiun.

Di tengah ketergesaan, mendadak ada yang memaksa untuk keluar. Sesuatu hal yang jika ditahan tentu akan sangat mengganggu. Maka, kuputuskan berjalan melambat dan mengedarkan pandangan untuk mencari tempat buang hajat.

“Ngapo e kok mandeg?” tanya Paklik.

“Kebelet,” jawabku masih dengan pandangan mengitari seluruh stasiun.

“Kebiasanmu Ndik! Ndik!” gumam Paklik sambil geleng-geleng.

Aku menepi, menuju salah satu warung yang berjejer di sepanjang ruang tunggu. “Mbak, maaf, toilet di sebelah mana ya?” tanyaku pada penjaga warung.

“Oh, Mase belum pernah ke sini ya?” ramah penjual warung menanggapi.

“Iya, Mbak,” ucapku sambil nyengir. Sesuatu yang ditahan sudah mendesak-desak minta segera disalurkan. “Toiletnya di mana ya?” tanyaku lagi, tak sabar.

“Oh, iya, itu lurus aja bablas melewati jalur keluar. Nah di sebelah kanan ada plang, tulisanya toilet.”

“Makasih Mbak,” ucapku dilanjutkan berjalan cepat menuju toilet. Tak lagi kupedulikan Paklik yang memesan minuman dingin di warung tadi sembari menunggu dua kardus yang semula kutenteng.

“Tak tunggu di sini ya, Ndik.” teriak Paklik dari warung.

Tidak sampai lima menit, sampai juga aku di depan toilet. Waduh, ngantri! Padahal hajat yang kurasa sudah sangat mendesak. Ibaratnya udah di ujung, pastilah begitu dibuka langsung meluncur. Aku pun mondar-mandir sembari menahan-nahan agar si hajat tidak menjebol benteng pertahanan.

Grrrr … grrr ….

Rupanya Mbak Sri menelepon.

“Ya Mbak,” jawabku setelah menjawab salam.

“Bentar lagi.” Jawaban terakhir dengan nada sedikit sumbang ternyata menjadi bahan ledekan Mbak Sri di seberang. Apa katanya tadi, suaraku gemetar? Huh! Iya memang lagi gemetar. Tapi bukan karena kelewat grogi, tapi karena menahan pipis.

Empat orang yang mengantre satu persatu meninggalkan toilet hingga tinggal satu orang. Tahan! Tahan! Tahan! Mulutku merapal mantra.

Klik! Pintu dibuka dan akhirnya aku masuk dengan kelegaan.

Setelah perkara hajat yang cukup menguras rasa malu, akhirnya aku dan Paklik dengan langkah lebih tenang berjalan menuju pintu keluar. Rupanya air wudhu yang kubasuhkan tadi selepas buang hajat menjadi penyejuk bagi hatiku yang masih juga berdebar-debar.

Pandangan mataku awas memindai satu demi satu orang yang menunggu di luar pintu stasiun. Bapak-bapak dengan topi dan kumis melintang. Ibu sepuh berkacamata yang didampingi anak muda. Embak-embak berkerudung yang memandang ke arah stasiun.

“Eh, apa itu ya?” tanyaku kepada Paklik.

“Lha ya mbuh.”

Sekilas kulihat Mbak tadi memang mirip dengan foto yang pernah kulihat di wall facebooknya. Maka, kuayunkan langkah menuju wanita dengan kerudung marun.

Dari jauh, wanita yang kukira Mbak Sri itu tersenyum dan melambai.

Nah! Benar ternyata.

“Mas Andy, ya?” tanya Mbak Sri begitu aku sampai di hadapannya.

“Nggih Mbak,” jawabku canggung. “Ini Paklik saya.” Kuperkenalkan laki-laki sepuh yang ikut bersamaku. Jujur, aku sedikit lega, ternyata Mbak Sri datang menjemput seorang diri. Tidak mengajak serta calonku.

“Mas Andy bisa naik motor?”

“Bisa Mbak.”

Tiba-tiba Mbak Sri melambai pada seseorang yang lumayan jauh dari tempat kami ngobrol. Seseorang itu pun menuju ke arah kami dengan motornya.

Sekilas kulihat pengendaranya adalah seorang wanita dengan jilbab hijau lumut. Rasa grogi yang beberapa saat lalu sempat terurai, kini mendadak mengurungku kembali. Seakan ada magnet yang begitu kuat hingga hatiku kembali berdebar tak karuan.

Wanita itu menunduk, sama sekali tak tampak wajahnya karena ia menutupinya dengan slayer. Tapi, keanggunan langkahnya semakin membuatku bergetar.

“Nah, ini njenengan mboncengin Paklik pakai motorku. Aku tak mbonceng temenku.”

Temenya Mbak Sri apakah calonku? Hatiku berisik menanyakan hal itu. Tapi, urung. Aku hanya diam menelan seluruh gemuruh di hati.

Eh, ternyata … bersambung lagi ya … He-he-he ….

Oleh: Sri Bandiyah

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: